Takut

10Jun11

Hari ini saya tidak ikut kuliah agama lagi, sudah beberapa kali dalam bulan ini. Rasa malas yang menjadi-jadi membuatku tak sempat menyisakan waktu dua jam dari seratus enam puluh delapan jam yang ada setiap minggunya.

Padahal banyak ilmu, tak sekedar bagaimana menjadi diri yang baik, namun bagaimana kita bisa menjalin hubungan indah dengan Tuhan, bagaimana hidup antar sesama manusia, terhubung dengan erat tanpa sekat.

—-

Di sudut ruang senat mahasiswa jurusan Akuntansi, saya masih saja sibuk dengan ketikan press release Aksi Hari Pendidikan besok yang tak kunjung kelar, masih hapus sana hapus sini, ganti sana ganti sini, mencari kata-kalimat yang tepat,  untuk memenuhi kaidah 5 W + 1 H.

Tiba-tiba seseorang datang, wajahnya cerah menerawang awang barangkali gara-gara di sekeliling wajahnya dibungkus kain berwarna gelap membuat kulit wajahnya terpancar sendiri merona. Ah syahdu nian.

Hei sibuk sendiri saja nih” dia ngangetin dengan memukulkan buku kuliahnya di bahuku.

Eh iya….” menjawab sekenanya.

Ngetik apa lagi bapak satu ini?” tanyanya dengan ganjen sambil menaruh buku-bukunya di atas keyboard komputer.

Yah gitu deh…. ugh buku-buku ini bikin sakit bahuku” jawab seadanya dan sambil megang bahu sok sakit.

Ealah segitu aja, belagu” senyum simpulnya menumbuhkan bunga-bunga di hati.

Eh tadi kuliah yah?” tanyanya lagi dengan perhatian.

Ah pertanyaan ini lagi, pertanyaan yang tidak saya tunggu-tunggu, kalau bisa dihindari. Sudah malas ditanya tentang kuliah.

Ngak“, sambil saya menghela nafas panjang.

Kenapa?

Akhir-akhir ini banyak urusan di senat ini, tau kan. Pas mau kuliah ada aja urusan, kadang ada juga yang minta tolong. Yah gitu deh, ini aja belum kelar, kudu kelar sejam lagi buat diperbanyak” sambil menunjukkan ketikanku di layar komputer memberikan alasan sok logis.

Tapikan cuman dua jam atau bahkan cuman sejam lebih, masa ngak sempat sih untuk kuliah ini” mencoba menggali informasi dari saya.

Hmm….hehehe  sebenarnya saya sungkan eh takut sama dosennya, udah beberapa kali ngak masuk, ntar dia ngomong apa gitu. Udah jarang masuk, bandel lagi, udah ngak pinter ngaji, huruf hijaiyah masih aja salah baca” jawabanku agak ngikik.

Ooohh” mengangguk-angguk tapi sepertinya dia memasang wajah muram mungkin tak bisa menerima alasanku itu, kurang memuaskan barang kali.

Hmm… sebenarnya saya sungkan juga nih sama dirimu, takut!” mencoba mencari alasan lain atau cara lain, setidaknya menggantikan muram di wajahnya dengan senyuman manisnya.

Takut?” dia memasang wajah datarnya.

Yah sebenarnya takut ketemu kamu, saya udah beberapa kali janji untuk masuk mata kuliah ini, komitmen untuk menyelesaikan kuliahku tak menunda-nunda waktu lagi tapi nyatanya ngak, maaf ya” saya memelas sambil senyum kecut.

Saya menghela nafas panjang merasakan kelegaan sesaat, minimal saya sudah minta maaf kepadanya, kepada wanita pujaan saya. Oh iya dicatat ya, masih pujaan bukan gebetan atau pacar tapi berharap suatu saat jadi pendamping hidupku.

Setidaknya juga jawabanku itu menjadi benteng bela diri buat saya untuk tetap di dekatnya sebagai pria jantan yang mengakui kesalahan. Kesalahan tidak menepati janji komitmen walaupun belum menjadi apa-apanya dia.

Dia tersenyum, entah bahagia mendengar penjelasan terakhirku, penjelasan yang menunjukkan bahwa lelaki ini seorang pemberani yang mengakui kesalahannya sendiri, tak perlu ditunjukan janjinya apa, tapi langsung mengakuinya. Pantas suatu saat jadi pendamping hidupnya. Saya berhasil membuatnya tersenyum kembali.

“Takut sama saya?” masih saja tersenyum.

“Mad, kenapa kamu takut dengan saya? kenapa kamu takut sama dosenmu?” mengulang lagi untuk meyakinkan dan tentu saja masih tersenyum, sambil mengambil kursi untuk duduk di sampingku.

“Takut itu sama Tuhan. Yang ciptakan saya, yang ciptakan dosenmu itu semua atas kehendakNya”

Lihat sekelilingmu, liat komputer di depanmu ini, secanggih itu dibuat manusia tapi otaknya dikasih siapa? Lihat langit di luar ruangan ini, lihat matahari yang bersinar terik, semua ini bakalan ngak ada, kalau Tuhan Yang Maha Kuasa itu tak menginginkannya”.

“Ngapain kamu takut saya, takut manusia, wong saya, dosenmu, orang tuamu aja takut sama Tuhan. Yang nentuin nasibmu, jalan hidupmu bukan saya, bukan dosen, tapi Tuhan yang memberikan petunjuk, bukan saya”.

“Eeeee…..” saya bergumam tak bisa berkata-kata, kata-katanya makjleb, menohok tajam di hati.



22 Responses to “Takut”

  1. lagi iseng belajar bikin cerpen lagi, kalo ada kritik saran diterima lho🙂

  2. Wow Si Saya rupanya mengagumi dosennya. Gak nyangka. Ah endingnya menggantung ya, bikin penasaran sama jawabannya..🙂

  3. oh ini cerpen tho, kirain kisah nyata (pengalaman pribadi), bingung juga kok masih kuliah agama😀
    endingnya dibiarkan terbuka ya, mengajak pembacanya bikin kesimpulan sendiri.
    Bagus, lanjut gan!

  4. Sukses selalu dengan karyanya.
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  5. Awal baca sampe akhir saya kira ini kisah pribadi. Baru ngeh pas baca “Filed under: Fiksi”. Kecele deh saya…😆

    • iyo arul iki, kukira pengalaman beneran loh!😆

      “penjelasan yang menunjukkan bahwa lelaki ini seorang pemberani yang mengakui kesalahannya sendiri, tak perlu ditunjukan janjinya apa, tapi langsung mengakuinya”

      maaaantaaap! berani mengakui kesalahan itu mantap number 1. bisa berubah, itu mantap number 2😀

  6. 7 Kurology

    Oh iya dicatat ya, masih pujaan bukan gebetan atau pacar tapi berharap suatu saat jadi pendamping hidupku

    saya sudah mesam-mesem merepet, membaca romantisme macam ini. sayang, komentator pertama merusak senyum saya😆

  7. Mulai ngga percaya ini cerpen .. *siul-siul*

  8. Menggugah sekali….

  9. ah saya sudah ga bisa bikin cerpen lagi..😦

  10. Ajeeb! Bahasanya emang bener2 nusuk ya mas😀
    Btw, kalo aktif di senat ya itu salah satu resikonya, waktunya mesti dibagi2😀
    Salah2 gak lulus2.
    (ada lho yang kayak gitu)😀

  11. ikut menyimak gan..

  12. oooh, cerpen. Pantes aneh, setauku mas arul jurusan elektro, kok jadi Akuntansi😀 “Wajahnya dibungkus kain”, ciyee, si saya suka sama yg kerudungan ya?🙂

  13. Boleh lah ditag fiksi, tapi based on pengalaman pribadi, apalagi ada kata2 senat segala wekekeke…
    Nice daeng, ayo lanjot! (rock)

  14. hahahah itu seperti kita kena jurus kunci waktu gulat ya mas arul.. udah gak bisa jawab deh klo udah ngomongin ituh… hehhe

  15. Teruskan mas aRuL endingnya bikin penasaran.. hehehe.. 8D

  16. 17 Aan Subhan

    ditunggu cerpen berikutnya…?

  17. Tihan itu yang menciptakan kita jadi jalankanlha perintahnya dan jauhilah larangannya.

  18. Berasa sekali cerpen yang dibuat ini…kena dihati mas….mantabb

  19. Lanjtkan Mas,,,kerennnnn!

  20. ternyata berbakat juga bikin cepen mas Arul ini🙂

  21. sukses selalu iya kak, dengan semua karyanya
    amin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: