Kakak Dokter yang Baik Hati itu

16Mei11

Kalau berbicara tentang SMA Negeri 2 Tinggimoncong, atau kami sering menamakan dengan Smudama aslinya singkatan dari SMU Dua Malino maklum sekolah kami 7 km dari Malino ibukota Kecamatan Tinggimoncong, tak kan habis waktu untuk menceritakan bisa jadi lebih dari sebuah kisah Mahabrata  atau lebih dekat dengan kebudayaan kami Sureq I La Galigo, manuskrip terpanjang sedunia yang penuh dengan kisah menarik yang everlasting tidak hanya selesai di sekolah tapi berlanjut hingga akhir hayat.

Siapa tidak sangka, bisa bertemu dengan manusia-manusia muda dan hebat Sulawesi Selatan di sekolah ini suatu impian yang menjadi cita-cita kala SMP. Bukan hanya kepintaran otak tapi kebaikan dan kerendahan diri yang dimiliki oleh mereka. Maaf kalau berlebihan, karena itu hal yang saya rasakan waktu itu.

Oh iya saya ingin bercerita dari sekian banyak babak kehidupan dari cerita everlasting ini, yaitu tentang salah seorang kakak kelas saya.

Saat (MOS) Masa Orientasi Sekolah, sebagian besar (maklum jumlah siswa di sekolah kami tidak banyak) kakak kelas sebagai panitia dan pengurus OSIS yang menjadi teamtank acara tersebut. Awalnya saya selalu berfikir kegiatan orientasi demikian ini seperti kegiatan yang memberikan kerjaan banyak menyiksa buat junior yang masuk sebuah sekolah baru.

Biasanya juga salah satu hal wajib dalam kegiatan MOS ini membubuhkan tanda tangan para pengurus di buku catatan kami tujuan mulianya adalah untuk lebih mengakrabkan hubungan antara kakak kelas dan adik kelas, juga sebagai sarana mendapat ilmu dari kakak.

Nah ada seorang kakak nih, yang tinggi semampai dengan rambut panjangnya dan dia selalu tersenyum kepada adik-adiknya. Waktu minta tanda tangannya pun kakak kelasku ini dengan lembut suaranya menyambut kami, menyapa dengan kerendahan hatinya. Memberikan tandatangan dengan mudah, beda dengan beberapa kakak kelas lain yang meminta untuk memenuhi persyaratan sebelumnya.

Seketika anggapan awal saya berubah, bayangan kakak kelas itu kejam, ngerjain, yah semau-maunya luntur sudah. Sepertinya memang kakak kelas kita itu baik hati dengan keramahan. Walau dengan perjuangan berat, saya menikmati ntah apa karena  saya juga mendapat beberapa wildcard dari panitia.

Yang saya ingat selalu dari dia adalah senyum khasnya yang tak berbeban, keluar apa adanya, tak melihat siapa kita. Semuanya diberikan senyum manisnya dengan indah di wajahnya  entah itu dia dalam keadaan lara, karena kami tak pernah terlihat dia bersedih di depan kami.

Setelah mengikuti hari-hari sekolah, hidup berdampingan di asrama ternyata senyum itu tak pernah luntur kepada adik-adiknya, selalu memberikan kesejukan, seperti sejuknya udara Malino. Beberapa kali menyapa, beberapa kali menjawab pertanyaan kami yang sedang membingungkan suatu hal, tapi dengan jawaban penuh makna disertai senyum khasnya itu kami puas. Beberapa kali makan bersama di ruang saji asrama, berkegiatan ekstrakulikuler, dan kegiatan lainnya yang bejibun di sekolah.

Oh iya, dia kelas III, saya masih kelas I saat itu. Yang enaknya di sekolah saya itu, walau beda angkatan dua tahun tak ada jarak memisahkan kami-kami. Bahkan setelah luluspun, selisih berapa tahunpun angkatan kami juga tak jadi masalah senantiasa akrab.

Akhirnya dia lulus dari sekolah, dan menempuh pendidikan dokter di Universitas Hasanuddin Makassar. Dari sekian banyak kakak kelas saya, rata-rata senang biologi, salah satunya kakak kelas saya. Mungkin saja dokter menjadi salah satu cita-citanya yang akhirnya terwujud.

Selang beberapa waktu kemudian setelah lulus kuliah, saya mendengar dia sudah menikah. Namun sayang, Tuhan memberikan jalan lain, usia pernikahan yang masih muda sang Suami duluan mendahuluinya ke-Haribaan Yang Maha Kuasa. Duka mendalam yang turut kami rasakan sebagai adik maupun sahabat memahami kepergian itu.

Setelahnya saya hanya bisa berteman lewat facebook, dengan alasan kesibukan walaupun berteman kadang masing belum bisa menyapa akrab sama kakak saya satu ini. Berita-beritanya pun hanya segelitir dari kawan-kawan seangkatannya.

Sore ini, saya membaca timeline twitter yang ditweetkan @smudama : “Smudama berduka..sahabat, saudara, kakak kita Dr Naila Karina berpulang ke SisiNya”

dr. Naila Karina biasa dipanggil (kak) Ina (Naila) itulah kakak, sahabat kami terkasihi, di usianya yang belum genap 30 tahun ternyata sudah duluan mendahului kami.

Almarhumah yang sudah kembali mendapatkan pasangan hidup yang sedang mengandung meninggal saat keadaan sakit, walaupun diagnosisnya belum dipastikan jelas, sahabat dan keluarga mengatakan bahwa Alm  sedang dalam keadaan ngidam berat (hiperemesis gravidarum berat) ditambah dengan penyakit Malaria serta Tifoid.

Sangat disayangkan seorang dokter dan di usia muda pula, tapi itu takdir Tuhan untuk manusia sebaik Almarhumah siapa yang mampu menolak KuasaNya. Tak sempat bertegur sapa lagi walaupun sudah ada sosial media yang telah menjaring kami-kami.

Sore mendung di atas Malino, Duka mendalam smudama untuk kakak sahabat kami. Semoga amalan ibadah, kebaikan dan senyum yang selalu menghiasi wajah beliau menjadi jalan lapang menuju tempat terbaik di sisi Allah SWT.. amiin….

dari kami yang berduka

* Jadi merenung, sudah berapa amalan kebaikan di dunia untuk dibawa ke akhirat kelak?



27 Responses to “Kakak Dokter yang Baik Hati itu”

  1. *merenung*
    tulisanmu dalem banget

  2. Turut berduka cita yg sedalam-dalamnya. .😦

  3. turut berduka mas Arul. semoga amal bu dokter diterima di sisi Nya. amin.

  4. semoga amal ibadahnya diterima di sisiNya.. amin

  5. innalillahi wainnailaihirroji’un.. semoga amal dan ibadahnya diterima allah.. aminn..

  6. awalnya saya kira tulisan semacam laskar pelangi, eh endingnya kok sedih sih kakak..
    *ambilin tisu*

  7. ikut merenung, dan di akhir ikut terenyuh. Nyawa ada di tanganNya, tak ada yang tahu kapan kita akan meninggal.
    Innalillahi wainnailaihi rojiuun… Ikut berduka cita

  8. Turut berduka mas atas meninggalnya dr. Naila Karina, semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan..🙂

  9. Ya Allah, dua kali postingan kamu soal kedukaan rul😦
    Sad … kita gak tau umur kita sampai kapan … hope for the best for all her family😦

  10. wih terharu sob..jadi pengen anangis saya

  11. Terharu bacanya.
    Memang umur tidak bisa ditebak ya.
    Mari kita sama-sama mengisi hidup ini dengan kebaikan agar banyak orang yang mendoakan kita saat harus pergi…

  12. turut berduka cita sob. semoga amal ibadah dr. Naila Karina diterima disisihNYA, amiiin.

  13. turut berduka cita, umur manusia itu sebuah misteri tidak muda tua atau anak-anak hanya TUhan yang tahu kapan kita akan kembali padanya…

  14. saya ingin mencari dokter yang baik hati

  15. Turut berdukacita, bro..

  16. ini sebenernya mas Arul mau ngasih kode apa sih, koq 2 kali berturut2 membuat sedikit ngangkat bulu2

    setelah ini jangan posting semacam ini lagi ya, Rusa atut kakak😦

  17. Turut berduka cita yah, Mas Arul😦

  18. obituari yang sangat menyentuh. turut berduka cita😦

  19. yang lalu biarlah berlalu, ditelan dingin malam…. Ya sulit memang melaksanakan muhasabah diri *menghela🙂

  20. Arul dua kali bikin postingan mengenaskan mulu.😦

    Turut berduka buat keluarga Kakak dokternya ya…

  21. Postingan yang memberikan pelajarn hidup, makasih kakak🙂

  22. Subhanallah, terharu bacanya.
    Katanya, orang baik lebih dulu berpulang karena Yang Kuasa lebih mengasihinya.
    Turut berduka cita, Rul, semoga keluarga yang ditinggalkan tetap kuat.

  23. Turut berduka ya Rul. Semoga dilapangkan…

  24. Innalillahi wa innailaihirojiun…..

  25. Innalilahi wa inna illaihi…
    Orang baik selalu pulang duluan ya….

  26. Turut berduka cita..


  1. 1 Fisika itu Asyik? « Insan Perubahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: