Rosihan Anwar : “Senior” yang “Sombong”

16Apr11

https://i2.wp.com/media.vivanews.com/images/2011/04/14/108883_rosihan-anwar.jpg

H. Rosihan Anwar, akrab dipanggil Pak Ros, dilahirkan di Kubang Nan Dua, Sirukam, Kabupaten Solok, 10 Mei 1922 seorang wartawan sejak jaman penjajahan Belanda hingga akhir hayatnya. Sering menuliskan identitas diri sebagai “wartawan senior” setiap akhir tulisannya.

Pada tanggal 13 Mei 2007,  Rosihan Anwar yang ikut mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta pada 1946 mendapat penghargaan Life Time Achievement‘ dari PWI Pusat.

STOP!!

——————————————-

Kok tiba-tiba saya menuliskan tentang obituari beliau yah? seperti beliau sering menuliskan tentang obituari tokoh-tokoh Indonesia yang telah mendahuluinya. Pun kalau saya melanjutkan menulis walaupun mengambil sumber-sumber yang berbeda tapi tulisan di atas hampir mirip dengan isi dari Wikipedia, yang menuliskan kalau negara kelahiran Pak Ros  adalah Hindia Belanda, sungguh terlalu! Walaupun itu memang kondisi rill sejarah bangsa ini saat itu masih bernama Nederlands(ch)-Indië atau Hindia Belanda.

Rosihan Anwar, saya tidak mengenal dia dari tulisan bukunya secara menyeluruh atau dari berita-berita kontekstual sejarah yang mengungkapkan kesaksiannya hidup dari jaman Indonesia diduduki oleh Belanda hingga jaman sekarang ini. Tak ada komentar saya yang meyakinkan untuk memandang sebagus atau sejelek apa tulisan tokoh satu ini.

Namun satu hal yang selalu saya tunggu dari beliau adalah tulisan tentang obituari tokoh Indonesia. Beliau selalu mengambil bagian dari sejarah jurnalisme menuliskan kisah manusia yang terkenal di Indonesia dengan gaya bahasa netral tak tendensi ataupun terkait dengan pandangan emosional terhadap tokoh.

“Wartawan senior” ini menggambarkan tokoh dengan apa adanya sepertinya beliau ikut hidup berdampingan sampai mengetahui sejarah hidup dengan tokoh yang dituliskan obituarinya. Termasuk biografi Soeharto, walaupun surat kabarnya ikut dibrendel jaman orde baru.

Kemudian saya mencoba mencari tulisan beliau di google namun sayang berita wafatnya menjadi dominan, akhirnya saya mengatur settingan waktu artikel pencaharian google mundur setahun untuk mendapatkan tulisan beliau maupun tulisan orang lain yang lebih netral terhadap beliau.

Perhatian saya tertuju pada sebuah tulisan lama dari Ibrahim Isa yang mengkritisi tulisan beliau sebagai saksi sejarah Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag 27 Desember 1949. Dalam tulisan itu, menganggap bahwa Rosihan Anwar hanya menuliskan hal positif tentang hasil dan proses perjanjian Pemerintah Belanda dengan Pemerintah Indonesia saat itu. Tak menyinggung bagaimana betapa tertekannya Indonesia dalam KMB sampai harus membentuk negara boneka berbentuk federasi.

Sampai permasalahan utang-utang Bangsa Indonesia kepada Belanda juga diatur dalam perjanjian itu. Kita kadang terkecoh tak mengetahui hal tersebut, Pun sampai sekarang masih banyak yang menginformasikan bahwa kita masih membayar utang gulden hasil keputusan KMB itu sampai detik ini.

Dengan alasan apa sampai penulis artikel itu menuliskan tentang hal tersebut? Tentunya kita bertanya-tanya, apakah beliau sedang memihak dan tidak ingin menjatuhkan Belanda ataukah beliau tidak ingin meninggalkan jejak sedih bangsa ini yang telah dipermainkan oleh Belanda? Biarkan urusan ini diselesaikan oleh pemerintah, rakyat memikirkan bagaimana memajukan bangsa ini dengan caranya sendiri.

Demikian dengan setiap obituari yang ditulisnya tanpa membawa sekat kejam atau jahatnya tokoh yang dituliskan. Biarkan hal tidak baik dari tokoh itu menjadi pupus, dan kebaikan saja yang selalu ditiru (maksudnya tidak sampai ke penokohan).

Selanjutnya saya membaca artikel menarik yang dituliskan oleh Chappy Hakim mantan KSAU dalam personal situsnya. Pak Chappy menuliskan tentang kenangan dan kesan beliau terhadap almarhum. Seperti saya, tak mengenal-mengenal amat Pak Ros, tapi Pak Chappy mengetahui tentang Rosihan Anwar yang “sombong” baik dari cerita maupun dengan pengalamannya langsung bertemu almarhum sepertinya dicuekin habis. Namun ternyata Pak Ros ini bisa meresensi buku Pak Chappy ini tanpa tendensi.

Saya mencoba menerka-nerka apa sikapnya tanpa ekspresi, pun sampai dikatakan sombong itu merupakan bagian dari sikap dirinya yang tak ingin menjadikan bahasa komunikasi kasih-sayang itu menjadi bagian yang tak menetralkan diri dan tulisannya dari sugesti emosional?

Seperti halnya pelabelan dirinya di setiap akhir tulisannya dengan frase “wartawan senior“. Walaupun kesannya sombong, tak ingin disamakan, ingin terlihat lebih di atas atau terkesan pandangan primodialisme yang tinggi, namun sepertinya bukan kesan itu yang timbul melainkan kata “wartawan senior” ini malah memberikan kesan yang tegas karena lebih berpengalaman dan lebih tinggi derajatnya tak mampu didomplengi oleh hal lain serta netral sebagai pewarta yang tak dapat dibeli dari beritanya.

Entahlah, bisa jadi seperti itu, saya hanya mengetahui beliau dari pembacaan sekilas tulisan obituari yang dibuatnya dengan sedikit membaca profil beliau yang ditulis banyak di internet.

Anyway, Selamat Jalan Pak Ros, apapun itu Bapak sudah menjadi bagian sejarah dan inspirasi bangsa ini. Semoga senantiasa didoakan dan mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Tuhan.

Sumber foto : Media vivanews.com



69 Responses to “Rosihan Anwar : “Senior” yang “Sombong””

  1. Saya kurang mengikuti tulisan Pak Rosihan Anwar. Deepest condolence for the country who lost one of its senior journalist

    • Sama, seperti yg saya tulis, saya mengenal beliau dari tulisan2 obituarinya di koran-koran, yah hanya bisa melihat dari sisi situ sang almarhum🙂

  2. ….saya termasuk orang yang beru dengar ada tokoh Pak Ros ketika beliau meninggal…😐

    • saya sudah lama dengar, tapi saya sebatas mengenal dengan tulisan2 di koran terutama tulisan obituarinya

    • iya, sama.
      pernah selintas mendengar namanya tp kukira dia sastrawan kuno gitu…

      #ehkemanajague

  3. saya pun tidak begitu tau tentang Pak Ros ini, sama seperti bang Arul, saya hanya tau beliau dari sedikit tulisan-tulisannya, tidak semua tulisannya pernah saya baca. Saya bahkan tidak pernah baca soal pelabelan ‘sombong’ pada diri Pak Ros dari orang2 yang bang Arul sebut itu, hanya saja dari tulisan beliau yg pernah saya baca, tulisan Pak Ros memang cukup netral. Tapi, turut berduka cita untuk wafatnya Pak Ros.

    • iya dari tulisan2nya menurut saya terlihat netral, tak mengunakan emosi menceritakan seakan-akan beliau mengetahui hidup yang telah mendahului dia.

  4. mungkin hanya orang2 tertentu yang berkutat dengan dunia jurnalistik yang tahu ttg bapak satu ini, saya pun baru tahu setelah lihat berita meninggalnya beliau, may he rest in peace…

    • amin…

  5. orang hebat..

    • salut sama beliau…

  6. buat saya sih, melabeli diri, jika memang sesuai dengan kualitasnya, nggak ada masalah. Mungkin benar, senior yg dimaksud adalah keindependenannya dari hal-hal yang “negatif” yg melekat pada generasi juniornya.

    • itu yang saya maksudnya dalam postingan ini, senior menunjukkan bahwa dia sudah menjadi wartawan tulen tak mudah dipengaruhi, tetap independen

  7. melabeli dirinya dengan `wartawan senior`…hmm saya suka pak ros…selamat jalan pak…

    salam🙂

    • semoga diberikan tempat yg lapang🙂

  8. Jujur kurang seberapa tahu tentang dunia wartawan mas, baru tahu belia ya dari berita wafatnya beliau kemarin.. hehe..

    • wah sama kayak jeng ana dong

  9. Kira-kira kalau dicari di arsip kerjanya beliau itu sudah mempersiapkan obituari buat dirinya sendiri gak ya Rul?

    • kuasa manusia mana bisa menuliskan takdirnya sendiri, tak ada manusia om, tapi bisa jadi dia menuliskan profil hidupnya yang bisa dijadikan obituari

  10. Yang jelas saya suka gaya tulisan beliau yang “apa adanya”..bahkan beliau jadi panutan ku, bisakah saya sampai usia tua masih terus menulis dan berpikir jernih seperti beliau?

    • ah cita-cita yang saya harapkan juga bu, semoga blog ini bisa bertahan, tak perlu buat buku yang penting konsisten menulis di blog saja sudah cukup ya bu, akan abadi sampai internet berkubang tanah…

  11. selamat jalan Oom Ros

    • Rest in peace

  12. Mungkin beliau tidak ingin orang lain membaca tulisan-tulisan yang mencerca secara individu/fihak walaupun mungkin di mata pembaca individu itu salah. Toh, “paling sedikit” beliau tidak juga membela individu/fihak yang salah, biarlah para pembaca yang menilai individu/fihak tersebut. Beliau mungkin hanya mengabarkan apa yang terjadi saja, sementara penilaian pribadi beliau serahkan kepada para pembaca seperti dalam kasus KMB yang diceritakan di atas.

    Walau bagaimanapun juga tidak ada gading yang tidak retak. Terlepas dari apa kekurangan seseorang, banyak teladan dari beliau yang patut diteladani…

    • iyah pak seperti itu yang saya maksudkan. Saya mencoba mencari tulisan beliau untuk memberikan apresiasi selain dari obituari yg biasa saya baca di koran2.

  13. 26 Anugrha13

    ya walaupun pegimana beliau tetap pernah melegenda dengan tulisannya…ga etis pulak org yg telah tiada dipergunjingkan kejelekannya…so wise dude ….

    • dipergunjingkan? wah kayaknya perlu lagi membaca tulisan saya di atas.

  14. 28 Kurology

    saya salut dengan tulisan2 beliau. runut + lengkap. beliau orang yg kritis pula. RIP buat Pak Ros

    • betul banget, dari tulisan obituarinya terlihat jelas, walaupun sy tidak membaca buku2nya.

  15. Selamat jalan pak wartawan senior…semoga kelak banyak pengganti orang sepetimu yang totalitas terhadap pekerjaannya sangat tinggi🙂

    • amin🙂

  16. saya juga memuat artikel pak Ros, tidak dari sisi obituari…

    • sip… sudah baca

  17. wah banyak blogger juga yah yang menulis ttg bapak rosihan anwar ini….selamat jalan buat beliau.

    • iya begitu pak, jaman mungkin berbeda. tapi saya tetap salut sama beliau.

  18. Rasanya orang boleh berlaku sombong asalkan yang disombongkannya itu akan kemampuannya yang memang baik dan diakui orang banyak, seperti halnya Rosihan Anwar yang kalau saya simak dari perkataan orang-orang disekitarnya memang patut dijadikan teladan terutama didunia jurnalistik. mungkin di Indonesia tidak akan ada lagi wartawan yang seperti Rosihan anwar…

    • iyah betul banget, seperti yang saya maksudnya di tulisan saya di atas kan.

  19. wah..ternyata banyak yg tidak mengenal beliau ya..?
    wajar sih, pada beberapa titik beliau ini lebih banyak berjuang dalam sepi meski juga tidak seluruhnya seperti itu

    apapun itu, kita kehilangan sosok tokoh besar seperti beliau

    • berjuang dalam sepi. iyah sepertinya demikian lebih banyak bermain di belakang layar ya daeng.
      Sebatas mengenal beliau dari tulisan obituarinya untuk tokoh2 Indonesia

  20. sebagai orang solo say ajadi malu karean baru tahu kalau PWI dulu dirikan di surakarta🙂
    selamat jalan pak ross, semoga amal ibadanya diterima di sisi Tuhan YME

    • amin

  21. saya juga baru tau klo ternyata banyak yang tidak ‘kenal’ sosok Rosihan Anwar
    karena yang saya tau almarhum lumayan sering wira wiri jd berita, narasumber di mana-mana, bahkan di beberapa film pun beliau sempat muncul, tapi mungkin concern setiap orang berbeda2 ya🙂

    paling tidak, dengan berpulangnya beliau, dan dengan semakin banyak yang menulis tentang beliau seperti ini, tentunya semakin banyak pula yang mengenal dan mengetahui keberadaan almarhum di bumi pertiwi ini yang sumbangsihnya tak perlu dipertanyakan lagi🙂

    • betul, demikian ada juga ternyata tak mengenal beliau, seperti yg anda bilang concern masing-masing orang beda.
      Inspirasi dari beliau yg patut ditiru adalah netral dalam menulis, berharap bisa meniru hal2 baik dari beliau

  22. semoga arwah beliau di terima oleh yang maha kuasa.
    Jasa-jasa beliau terhadap perkembangan media di indonesia sangat luar biasa

    • amiin

  23. Kurang kenal sih saya, tapi saya ikut menyimak. Btw, trut bela sungkawa

    • ok

  24. Nice Info ya gan

    • ok eh orang yang sama dg @flanel ya? koq ngomentnya sampai dua kali? apa kunjungan ke blog kalian meningkat ya gara2 sering ngoment?

  25. selamat jalan pak ros,, semoga segala amal dan ibadahmu diterima oleh Tuhan YME..

    • amiin ya

  26. IMHO. Wartawan sebagai ujung tombak pewartaan sebaiknya harus mandiri, bebas financial mungkin. Agar bisa sombong, agar bisa objektif dan tidak terjebak menjadi Wartawan Bodrex.

    Selamat Jalan. Semoga Pak H. Rosihan Anwar mendapat tempat yg terbaik di sisiNya.

    • Iya benar sekali mas danoe, seperti itu yang selalu menjadi jati diri wartawan seutuhnya.

      Amin untuk doanya🙂

  27. semoga semangat perjuangannya di dunia pers tidak ikut terbawa mati,dan semoga semangatnya tetaphidup dam menular bagi generasi penerus bangsa ini.

  28. nama bapak rosihan anwar ini tidak asing jika sering melihat berita di TV. Jurnalis senior memang

  29. tetaplah ia bagian penting dari bangsa ini, indonesia harusnya tetap berbahagia dengan kadar jurnalistiknya yang tinggi mampu menceritakan sejarah tanpa tendensi pribadi. ke-‘sombong’-an karakternya menurut saya bagian dari sentimen emosional yang terjaga demi sebuah ‘tanpa tendensi’ tadi.

    bagi saya, beliau tetap tak terjangkau, dan pastinya ‘luar biasa’.

  30. Istilah “wartawan senior” ini kan penghalusan saja. Arti sebenarnya ya “wartawan tua”. Bukan begitu?:mrgreen:

    Soal liputan KMB itu, saya tak tahu pasti situasi saat Rosihan Anwar menuliskan liputannya. Tapi sepertinya kurang tepat menerapkan situasi pers sekarang ke dalam masa-masa sulit itu. IMO, saat itu kondisi RI sedang sulit. Sebagai negara muda yang belum lama merdeka, harus habis-habisan juga berperang mempertahankannya hingga akhirnya berhasil memaksa Belanda duduk di KMB. Buat bangsa Indonesia saat itu, memaksa Belanda duduk di perundingan yang membuahkan pengakuan kedaulatan dari Aceh sampai Maluku (mengingat pada perjanjian2 sebelumnya wilayah RI yang diakui Belanda jauh lebih sedikit) sungguh2 merupakan prestasi besar, apapun juga bentuk negara yang diakui, atau beban yang ditimbulkan. Apalagi (kalo tak salah) Indonesia juga mendapat hibah aset2 militer Belanda yang ada di Indonesia. KMB menghentikan perang dengan Belanda dan memberikan pengakuan barat kepada RI. Secara politik itu sukses sekali. Jadi kupikir gak ada salahnya kalo tulisan yang disampaikan juga bernada positif. CMIIW😉

    *sori OOT bro*

  31. asrul, maaf kalau komentar saya ngga nyambung…. saya mampir kesini karena ulasan tanda tanya… kamu diundang juga toh? saya juga hanya saja tidak bisa hadir karena lokasi di malang dan undangan ngga disertai akomodasi haha

  32. itu bukan sombong tapi disiplin gan

  33. kita kenang jasanya bagi jurnalistik kita

  34. RIP Rosihan Anwar

  35. salut …

  36. good article and good jobs

  37. Sangat bagus dan inspiratif

  38. Artikelnya menarik untuk disimak

  39. Lam kenal
    ijin Singgah ya OM

    Lagi Blogwalking ni

  40. Beliau telah tiada
    Tapi karyanya ada

    Moga amal kebaikannya terbalaskan dengan indah🙂

  41. semoga semangat perjuangannya di dunia pers tidak ikut terbawa mati,dan semoga semangatnya tetaphidup dam menular bagi generasi penerus bangsa ini.

  42. @mas asrul.
    Kunjungan lagi ke blog ini.
    Sejak saya sering ke blog ini, usaha saya jadi maju Mas.
    Sekarang bisnis online saya meningkat. Dari Jual Bra sama baju sekarang Homestay.
    Pokoknya terima kasih buat mas asrul.
    Bukan kunjungan yang membuat blog saya moncer, tapi ada………., yang saya dapat dari blog ini.
    Terima Kasih Mas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: