Menulis butuh Kritik

14Apr11

http://www.ics.uci.edu/~dramanan/teaching/ics139w_fall09/writing_man.jpg

Sepakat, setuju ataupun kata menarik.

Kata-kata pujian itu merupakan bagian dari apresiasi ketika membaca sebuah tulisan. Saya sering melakukan hal tersebut ketika mendapati sebuah tulisan tak sekedar tulisan tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat saya terkagum. Kalau perlu ikut juga disebarkan supaya yang lain ikut memberikan apresiasinya atau pun minimal ikut terinspirasi.

Terlepas dari apresiasi menyenangkan tersebut, tulisan itu juga butuh dicari tahu kebenaran maupun kesesuaiannya dengan fakta, ilmu pengetahuan, kondisi aktual, kadang perasaan bahkan dengan dengan keyakinan kita. Dengan kata lain butuh masukan, kritik, ataupun saran.

Tulisan-tulisan ilmiahpun masih perlu diperjelaskan dan didebatkan di depan sebuah forum konferensi ilmuan, layak tidak menjadi sebuah teori atau hanya sekedar hipotesis belaka. Termasuk karya sastra dengan keindahan penyusunan kata demi kata maupun kesempurnaan kalimatnya. Walaupun keindahan itu tentunya milik masing-masing pembuat dan segelitir orang yang sepaham sehati dengan karya sastra itu. Tetap, karya sastra juga perlu dikritisi.

Apalagi dengan sebuah blog, blog sebagai laboratorium menulis tentunya masih perlu banyak kesempurnaan dalam mempraktekkan ilmu tulis-menulis. Baik itu keliru kata, keliru pengejaan, keliru menggunakan pilihan kata, ataupun kekeliruan dalam menyimpulkan, apalagi yang berhubungan dengan aturan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Terus terang tulisan saya masih jauh dari kaidah EYD dan tata bahasa Indonesia, yang penting semangat menulisnya pertama kali ketika menjejakkan tangan di keyboard untuk mengisi blog ini.

Menulis di blog ini, walaupun ecek-ecek, tetap saja butuh sampai tiga kali membaca untuk kemudian menekan tombol Publish (Terbitkan). Itupun kadang masing ada kesalahan tanda baca, kurang atau kelebihan huruf (okkots orang Sulsel bilang), salah penempatan kalimat, salah penyusunan antar kalimatnya bahkan antar paragraf, repetisi kata maupun kalimat, bahkan hal yang menurut saya tidak menarik secara perasaan kadang butuh dikoreksi, serta anda punya alasan tersendiri juga.

Nah penemuan kekeliruan itu, kadang bukan hanya dari saya sendiri tapi orang lain ikut mengingatkan. Baik di kolom komentar di blog ini maupun lewat PM maupun sosial media.

Kalau hanya kesalahan kecil cukup dikoreksi di tulisan, tapi kalau sudah agak banyak menjadi sebuah kalimat biasanya koreksi di kolom komentar.

Kalau kekeliruannya fundamental, maka saya melakukan posting ulang atau mereview kembali tulisan saya sebelumnya dengan tulisan baru, seperti tulisan ini tanpa menghapus jejak tulisan sebelumnya. Nah untuk hal-hal mendasar seperti ini tentunya saya masih perlu belajar banyak tentang pengetahuan, keilmuan, ataupun dasar keyakinan. Hal seperti ini sepertinya perlu pengingat atau pemberi saran yang cukup tinggi.

Saya tak mengira bahwa ternyata banyak juga yang membaca tulisan di blog ini. Itu saya tau ketika kita bertemu, atau bertegur sapa baik di dunia nyata maupun di media online lainnya  tak melalui komentar. Mungkin kesempatan dan kemampuan internet hanya mampu membaca tak bisa mengomentari tulisan di blog ini.

Kadang juga tak menyangka ternyata tulisan ini, dijadikan inspirasi tersirat dalam artian orang-orang tak menyebutkan secara langsung bahwa mereka terinspirasi dengan beberapa tulisan ini, namun menyampaikan itu setelah waktu lama atau melihat perubahan penyampaian yang dulunya bertentangan pada akhirnya kadang sudah sejalan pemikiran saya.

Karena itulah, sekecil apapun tulisan dibuat di Internet tentunya akan menjadi bahan bacaan bagi semua orang entah mau dijadikan model ideal mereka atau bahkan hanya sekedar bahan cacian tulisan tak mutu di sini.

Saya hanyalah manusia biasa, yang memanfaatkan kesenggangan untuk sebagai sarana saya untuk belajar dan mempelajari tentang hidup, ilmu pengetahuan, alam, masyarakat maupun tentang Tuhan. Selain dari keinginan peningkatan kualitas pribadi terutama kemampuan menulis walaupun hanya sekedar menulis di blog, belum di  sebuah buku, tentunya melatih diri menulis merupakan keinginan untuk berubah dan meningkat.

Terlepas dari semua itu, tentunya menulis bahkan di blog salah satunya harus memikirkan apa dampak tulisan tersebut kepada pembacanya sebelum menekan tombol publish. Dan saya pun belajar!

——————————————————–

Ilustrasi foto :

 



40 Responses to “Menulis butuh Kritik”

  1. 1 jarwadi

    wah, kalau untuk tulisan tulisan saya di blog, saya tidak semendalam mas arul, saya sepakat dengan mas arul, blog adalah lab penulisan kita, bagi saya sekaligus museum bagi saya, saya sengaja tidak memperbaiki kesalahan kesalahan dalam menulis di blog, sehingga secara tidak sengaja, kebodohan saya itu terdokumentasikan, saya sendiri sering merasa senyum senyum dan menepot jidat “aku ki pancen goblog banget”, hehehe

    • wah betul museum, bisa jadi pustaka kita kadang melihat kembali isinya melihat apa yg pernah kita tulis dan membandingkannya, ternyata ada beberapa peningkatan kadang kemunduran.
      go blog (gym)

  2. Saya tak terlalu memikirkan apa yang akan terjadi dengan tulisan saya nanti, bagi saya yang penting nulis. Untung-untung bagi sebagian orang tulisan saya dianggap penting.🙂
    Satu lagi yang penting, bagi saya berani menulis berarti berani ditanya tentang tulisan kita, dan di situ kita mulai beajar..

    • siplah kalo begitu. seperti yang saya bilang di atas semangat menulisnya untuk belajar. Demikian juga tentang diksi dan pilihan kalimat yang digunakan. Terkesan ribet sih, tapi di sini saya benar-benar menjadikan blog sebagai laboratorium buat saya pribadi.

  3. Untuk mendapatkan hasil terbaik, memang perlu kritik. Karena apa yang menurut kita sudah maksimal, belum tentu dalam pandangan orang lain, dan kritik bisa memperbaiki celah-celah itu😀

    • iyah betul sekali, memperbaiki celah-celah di kemudian hari bisa lebih baik lagi. Betul-betul laboratorium

  4. Selamat belajar..:D
    mari kita sama2 belajar..:)

    • ayo daeng, saya belajar dari kita saja🙂

  5. Sama mas,, saya juga masih belajar… hehehehe

  6. belajarnya bareng-bareng ya,,,

  7. Sepakat juga apa yang dikatakan mas giewahyudi..

    • karena tiga akun blog oleh satu orang, jadi jawabnya dirapel juga….
      sinau…

  8. kalau saya kadang memang ta teliti dulu sebelum nekan tombol publish, berhubung emang dasarnya ngga pinter nulis yg saya periksa bukan tulisanya seperti apa, tapi huruf2nya ada ygn kurang ngga ya🙂

    • wahahaha, lucu juga😀
      itu sih pilihan utk melihat kembali, tapi asyik aja sebuah tulisan itu dilihat sebelum dibaca orang🙂
      seperti orang dandan sebelum ke acara🙂

  9. “sepakat” eh … :p

    Kalau soal kritik, bagiku blog kamu bakalan jauh-jauh dari kritik aku, soalnya ya secara blog kamu jauh lebih intelek dari punyaku :p

    • kalo masalah selera masing2 kita beda, tapi kadang ada beberapa hal prinsipil yg keliru, kadang hal ini dibiarkan dan tidak dikritik hehehe😀
      harapannya sih yg membaca blog saya, memberikan pencerahan itu, soalnya tak selamanya apa yg sy tulisan itu benar, bisa jadi didominasi emosi maupun pengetahuan yang sempit😀

  10. saya selalu senang mampir ke blog ini karena pasti akan menemukan tulisan yang nuansanya satu: rendah hati😀

    dan saya suka kalimat: blog adalah laboratorium menulis; itu berarti kita mempunyai semangat bahwa tulisan kita suatu saat harus dipraktikkan di dunia yang lebih besar dari blog (dalam konteks saya: menulis buku).

    terima kasih atas sharingnya. hangat, as always😀

    • wah makasih opa, padahal kadang saya melihat ada kesombongan dalam tulisan saya loh:mrgreen:

      Iya benar, menulis buku opa, kadang pengen banget, tapi yah itu saya blogger abal2 tak segmented topik2 yang saya sajikan, mau bahas ini, mau bahas itu tapi koq ya ndak dalam dan spesial.
      Pernah bikin fiksi eh tapi koq masih datar-datar saja, mau nulis yang nonfiksi kurang dalam eh kurang data juga😀

      Anyway makanya saya suka ngeblog, nulis di blog setidaknya tidak dituntut terlalu perfect tidak semisal buku. Tapi untungnya bukan seleblog jadi aman-aman aja kalo saya nulis tapi keliru:mrgreen:

  11. Karena tulisan tangan saya jelek .. tulisan di blog saya juga tidak rapi ..
    Gak apa-apa ya Arul

    • tulisannya pak iksa keren-keren, apalagi foto-fotonya ajarin dong om🙂

  12. mksh ya,

    • ma sama

  13. Yupz… sepakat banget bang. karena kritikan itu bagian dari pembelajaran, dan dari proses belajarlah orang menjadi lebih dewasa dan menjadi besar… Salam…

    • Sip terima kasih komentarnya agung, saya selalu ingin belajar jadi komentator yg baik seperti dirimu, membaca tulisan ini dengan baik🙂
      Saya butuh kritik juga lho, bukan sanjungan juga😀

  14. Nah! Setuju sama Mbak Fenty. Paling tidak, blognya Bang Arul isinya beragam dan lebih “berisi”.😀

    • wah kalo berisi tapi hanya sekedar numpang lewat koq.blum berisi-isi amat😀 hehe

  15. Justru kritik membangun, yang memberikan solusi yang kita tunggu dalam tulisan kita. Kita tak perlu banyak komentar datang, namun hanya sambil lalu, yang sekedar agar kita menengok tulisannya, tapi saya sangat menghargai komentar yang datang, dari teman yang memang membaca isi tulisan. Arul termasuk teman yang seperti ini…makasih ya Arul…karena memberi komentar yang sesuai tak mudah, mesti membaca isi tulisan, mengerti apa yang dimaksud dalam tulisan tersebut.

    Dan sebagai manusia tak sempurna, tulisan yang sudah dibaca berkali-kalipun sering masih salah dalam eja an atau bahkan salah ketik.

    • iyah bu kritik sangat dibutuhkan apalagi ngeblog, tak selamanya apa yg dituliskan benar, ada yg perlu diluruskan atau ditambahkan🙂

      terima kasih juga bu kunjungannya, saya selalu berusaha untuk menyempatkan membaca, kalo sekedarnya kadang akhirnya tak berkomentar, apalagi kesibukan akhir-akhir ini hanya sanggup membaca sebagian blog🙂

  16. aku suka sekali baca tulisan orang diblog (blog walking) kalo yang asyik dikomentarin yach aku masuk ke komentar, buat aku tulisan orang lain bisa menjadi inspirasi dalam berbagai hal yang kadang aku sendiri gak sangka, tapi aku belom berani buat bikin tulisan sendiri meskipun niat dihati ada, masih suka bingung kalo mo nulis mesti mulai dari mana….

    • trus di linkmu itu bukan tulisan mu sendiri ya?

  17. Iya betul, kita harus butuh kritik dari orang lain agar kita lebih baik..

    • tentu saja

  18. kritik tapi yang membangun jangan kritik yang negative2 aja,soal’a biar penulis yang kritik biar bisa lebih berkembang & maju

    • betul sekali, tak jarang ada orang hanya bisa mengkritik tapi tak solutif. Seharusnya demikian.

  19. hebat jarang sekali menemukan orang seperti mas ini…
    saya belum bisa ber kometar karna belum begitu ngerti masalah blog..
    salam kenal aja.D

  20. Mas ARUL adalah orang yang menginspirasi saya. Lewat tulisan, pribadi dan bahkan kehidupan OnLine OffLine-nya. Terimakasih Mas🙂

    • apalagi saya, saya benar2 terinspirasi dengan sosok @inidanoe🙂
      terima kasih pembelajarannya selama ini masbro🙂

  21. 38 ikhwanalim

    setuju,mas. menulis tanpa ditanggapi oleh orang lain ibarat bicara tanpa lawan bicara😀

  22. wah keren postingan ini mas.. saya juga masihs ering salah tulis, kelebihan atau kekurangan huruf pada sebuah kata… Mari belajar sama-sama mas.. di luar sana banyak orang yang bisa kita jadikan contoh sebagai penulis hebat.. dan semoga kita bisa menyusul mereka😀

  23. Kritik itu memang penting demi kemajuan dan skill menulis.. tentunya disertai solusi2 yang membangun🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: