Hati-hati menonton Film Tanda Tanya “?”

08Apr11

Rabu (6 April 2011) lalu saya berkesempatan nonton Film Tanda Tanya “?” satu film terbaru dari sutradara Hanung Bramantyo. Dua hari sebelumnya mendapat email undangan dari pihak penyelenggara untuk ikut nonton di Gala Premier Film Tanda Tanya ini. Sempat ragu juga datang karena saya tidak mengenal siapa yang mengirimi email, dan judul filmnya juga tidak dicantumkan.

Karena penasaran akhirnya saya memenuhi undangan tersebut, yang belakangan saya tau judul filmnya adalah Tanda Tanya setelah melihat postingan daeng rusle di milist Angingmammiri (lagi malas googling mencari judul filmnya), Di email itu juga cuman dideskripsikan filmnya tentang anggota semimiliter Banser NU yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan sebuah gereja dari serangan bom Natal.

Setelah tiba di Djakarta Theater XXI, venue acara Gala Premier Film ini, terlihat beberapa artis, seperti Zaskia Adya Mecca yang ternyata mention saya di twitter, padahal saya ndak mention langsung dia, cuman si @revolushei yang me-RT tweet saya yang langsung me-mention dia.

Zaskia Adya Mecca

Dia mereply tweet saya tentang kekhawatiran pulang telat dan terkuncikan pintu rumah gara-gara filmnya baru diputar jam 10 padahal undangan jam 9. Tweet ini sebelum tweet saya yg mengatakan dia cantik lho, berarti dia membaca timeline saya. Zaskia ngak seperti artis kebanyakan yang me-RT tweet2 yang mengagumi dirinya sendiri.

Oh iya ada beberapa artis lagi seperti Tika Panggabean sama Ujo dan teman-temannya. Ada juga Tio Pakusodewo gandengan dengan istrinya. Ada artis yang bule, ngomongnya Inggris, tinggi, tapi saya kurang tau namanya. Terakhir saya lihat Marsella Zalianty, wajah cantiknya Indonesia, tak semenor seorang artis (tak tau namanya) yang sudah pake tanktop, rok mini banget, dan pakai high heel puluhan centi, jalannya sudah terseok-seok, masih pede ya jalan di depan umum.

Dan para artis lain yang tak saya kenal dan undangan telah hadir termasuk wartawan tentunya. Terlihat Sutiyoso sepertinya tak menonton penuh film ini. Dari jauh terlihat mobil RI 31 (Menteri Pendidikan Nasional RI) dan RI 34 (Menteri Pariwisata dan Kebudayaan RI) di parkir depan pintu masuk XXI.

Selasa sebelumnya sudah ada Gala Premier di Planet Hollywood, dan ini hari keduanya. Saya pun mendapat kesempatan di sesi keduanya jam 22.00 malam.

Sebelum nonton saya bertemu dengan panitia yang mengundang saya dan mempertanyakan hal ihwal mengapa saya diundang. Katanya saya termasuk dalam list blogger-blogger yang aktif ngeblog dan kunjungan ke blognya yang katanya tinggi * Ah masa sih, I dont think so about it*. Oh iya yang diundang lewat email itu memang beberapa blogger yang di ranah maya saya kenal tapi saat event tak ketemu mereka.

Selintas terdengar Hanung Bramantyo yang sedang diwawancarai media, bahwa film ini juga berkisah tentang seorang Muslim yang pindah agama. Mendengar pernyataan itu saya bersiap kalau-kalau film ini sensitif. Sempat saya tweetkan dan plurkkan pernyataan hanung ini.

Akhirnya nonton dengan segelas coca-cola dan popcorn gratis. Dan setelah menonton, takjub secara teknis dan sepertinya esensi utama yang diinginkan Hanung bisa tersampaikan dalam fikiran sempit saya kala itu. Tentang teknis film dan sedikit pesannya bisa dilihat review saya di sini.

Namun saya mencoba mengingat-ingat film ini lagi, mencoba memahami dari berbagai sudut pandang orang, dari sisi personal dan keyakinan saya. walaupun dalam komentar saya di tulisan ini, memang sempat mengkhawatirkan saya bahwa ada sisi-sisi yang kurang saya setujui dalam pembuatan film ini.

Film ini menarik yah menarik orang penasaran menontonnya karena membawa isu-isu sensitif tentang agama dan perbedaannya, di luar dari tujuan bisnis untuk meraup untung mengangkat isu yang sensitif ini. Yang mengedepankan pluralisme, yang sepertinya menyatukan keyakinan-keyakinan itu dalam satu wadah padahal tak sama.

Beberapa hal yang sebenarnya ilmu saya belum cukup memahaminya, entah itu sudah berhubungan dengan akidah agama saya, maupun juga agama yang ditampilkan dalam film ini.

Sebenarnya saya sepakat dengan esensi yang dibawa film ini bagaimana berperilaku yang baik dalam kehidupan yang berbeda agama. Namun ada beberapa nilai-nilai yang disampaikan dalam film ini sepertinya sudah sangat dalam  menyerempet ke masalah akidah masing-masing agama. Itu cara pandang saya sebagai awam.

Toleransi yang diberikan dalam film ini, sepertinya sudah masuk lebih sensitif ke ranah-ranah yang sudah jelas boleh tidak dalam agama saya, entah agama yang lain demikian juga adanya *CMIIW*. Seperti mudahnya meleburkan keyakinan dengan cara sutradaranya ataupun penulis skenarionya. Kebablasan bisa dikatakan demikian.

Saya jadi bertanya-tanya ustad, pendeta, romo, atau biksu mana yang dijadikan referensi dalam membuat film ini? Tak diberitahukannya apa yang sepantasnya disajikan dan layak untuk ditampilkan.

Jadi ingat film Ayat-ayat Cinta yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo juga, bersumber dari Novel laris Ayat-ayat Cinta karangan Habiburrahman El Sirazy. Bagian akhir film ini tidak sama dengan novel, Kang Abik menyamarkan akhir hidup maria dalam novelnya yang tak sevulgar yang ditampilkan Hanung dalam filmnya.

Kembali ke Film “?” tanda tanya ini, nilai-nilai mana saja yang telah dilanggar oleh film ini? Hmm masing-masing keyakinan tentunya punya macam tersendiri.

Ada tanggapan menarik dari rekaman Dr. Adian Husaini di youtube (link dari fajarembun). Sepertinya beliau habis menonton film ini di hari yang yang sama dengan saya, terlihat dari latar belakang tempat diwawancarai.

Mau dibilang saya akhirnya berfikir pragmatif yah itu hasil telaahan pemahaman saya lebih lanjut, setidaknya bisa melihat kembali dan mengevaluasi bagaimana cara berfikir saya sebelumnya.

Pesan saya, hati-hati menonton film ini. Jikalau anda belum memahami jelas agama masing-masing, tentunya anda akan mengambil semua perilaku yang dicontohkan oleh para pemain dalam film ini, padahal tidak demikian adanya.

UPDATE :

Tanggapan KH. Kholil Ridwan (Kesesatan Film “Tanda Tanya”)

“Setelah menyaksikan langsung film yang disutradarai Hanung secara utuh, saya mendapatkan kesan, aroma pluralisme agama yang sangat menyengat dalam film ini,”

Menurut Cholil, pluralisme yang dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme sosiologis. Itulah yang dikenal dengan pluralitas. Misalnya saja umat Islam sudah semestinya hidup berdampingan dengan orang Kristen dan umat agama lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya.

Jadi yang namanya kerukunan dan toleransi itu tidak boleh mengorbankan keyakinanya,” tukas Kiai Cholil mengingatkan.

Ini cuplikan video rekaman wawancaranya

Iklan


144 Responses to “Hati-hati menonton Film Tanda Tanya “?””

  1. posting berbau-bau narsis dan sepertinya rada-rada curhat :mrgreen:

  2. jd penasaran kaya apa filmnya… 😀 *tauwwa… katabba me tu artis muwita aka’*

    • bagi yang tidak mampu melihat pandangan agamanya masing2 dengan lebih dalam, baiknya tidak usah nonton lho.
      *waduh kebetulan ji jal* 😀

  3. saya baru liat trailernya sekali udah tertarik pingin nonton k’.. *curious*

    • curious tapi… tapi tu…. baca bagian2 akhir tulisan ini 😦

  4. 6 guntur0406

    sayang pevita tdk hadir 😦

    • wah byk yg cantik-cantik malam itu, tapi keknya ngak ada hehehe, guntur lost of focus nih 😛

  5. tau latar belakangnya Dr. Adian Husaini belum? hehee

    • nah itu blum @fajarembun, cuman tau jabatannya beliau. Walaupun belum kenal beliau dari kalimatnya memang ada benarnya.
      Dia sepertinya tidak langsung menghakimi tetapi melihat film tersebut dulu, dan akhirnya memberikan komentar-komentarnya. Itu yg saya salut dari dia.

    • ada disini link nya tentang beliau http://kampuskehidupanmaya.wordpress.com/2011/04/11/tanda-tanya-menuai-kritik/

  6. setuju, kita harus menonton film ini dengan filter 🙂

    • nah tuh kan, opa sendiri yang berbeda keyakinan dengan saya mengatakan demikian, saya percaya dari keyakinan opa ada hal sensitif yang ada di film ini sepertinya tidak sesuai.

  7. beuh….mantap mentong kak Arul ^^

    *jadi iri…..

    • duh lost of focus, kayaknya salah mengambil opening tentang nonton ini 😀

  8. 15 zakkiy

    memang begini komentar sy yang belum nonton filmnya, seakan terkesan (‘makanya nonton doong”) tapi kan kita’ sudah memilih kan video komentar kak, yang mengomentari dengan “menarik” film itu Kak, masih banyak ilmu2 yang lebih bermanfaat yang menuju surga, syari’at2 wajib, sunnah2 Rosul, yang belum kita ketahui dalam agama ini, saya jadi takut sendiri karena miskinnya pertahanan (ilmu) sy dalam hal ini, apalagi menyarankan untuk menontonnya, namun kenapa masih banyak yang jadi tambah penasaran ingin nonton yah?????

    terimakasih kak, atas peringatan ta’ buat para pembaca dan adek2 ta’ ini, barokallahu fiyykum,

    • afzal… terima kasih komentarnya. Nah komentar-komentar seperti ini saya butuhkan, tak sekedar mengiyakan. Menulis itu butuh kritik, apalagi menulis di blog yang abal-abal ini masih banyak hal-hal yang patut dipertanyakan.

      Sukron afzal atas kunjungannya dan peringatannya 🙂

  9. Filmnya susah dicerna.
    Jadi mau nonton ulang. Abisnya penuh Kontroversi sih.

    • kalo mencerna sih cepat, cuman coba nonton kembali pasti ada sesuatu yang janggal dalam film ini.

  10. postingan ini harus dibaca pelan2 deh.. 🙂

    • waduh kepanjangan ya kak? soalnya saya menulis aja mengalir, tapi pembukaan tulisan ini sepertinya panjang juga dan narsistik 😀

  11. hihi, iya, narsis nih. 😉
    filmnya sendiri belom kebayang seperti apa.
    Kalau undangan nonton gala gini, ada gudibeknya nggak, Kaka? ;p

    • duh fokusnya pasti di awal2 tulisan ini, kalo gudibek ngak ada kakak…. sayakan ndak mencari gudibek 😛

  12. Mulai salah fokus karena di awal banyak artis yang direnteng jadi satu, jadi ber”?’-“?”, bertanya-tanya maksudnya..
    Mas Arul ini siap jadi artis kayaknya.. 🙂

    • iya nih, kebiasaan nulis apa adanya, mengalir, eh koq ya nyerempet2 ke artis pula.
      *ngak berharap jadi artis, jadi manusia yang menulis blog aja yang biasa-biasa aja deh

  13. Wah saya belum nonton juga nih ….

    • coba baca akhir tulisan ini om 🙂

  14. 27 rizkianto

    nda bisa komentar karena belum nonton

    • tak menyarankan utk menonton lagi lho ya..

  15. 29 jarwadi

    rabu kemarin saya pengin nonton, tapi sampai sekarang belum kesampaian, jadi makin penasaran saja. meski saya selalu under estimate dengan film – film Hanung 😀

    • sebenarnya sih bukan mengunderestimatekan person sutradara, tapi karena mengangkat tema kali ini yg sudah masuk ke dalam akidah masing2 agama

  16. Oke, saya akan hati-hati. 🙂

    • tak menyarankan menonton lho

  17. jadi makin penasaran buat nonton. Pengen tau apa kejanggalan-kejanggalan film ini (thinking) 🙄

    • tak menyarankan, siapkan filter utk menonton

  18. *bengong* mau ngasih komen belom nonton, mau komen juga belom nonton..
    😀

    • kalo bang almas sih tentunya sudah ngerti yg saya maksud

  19. 37 kukuruyuk

    Hanung bramantyo emang kontroversi. yang lalu melecehkan pesantren lewat film Perempuan Berkalung Sorban, sekarang lewat film “?”. Kalo sudah jadi agen liberalisme ya seperti ini lah… Pluralitas itu di agama sudah diajarkan sejak lama, tapi pluralisme yang menganggap semua keyakinan itu benar itu jelas salah…. hanung mempermasalahkan sesuatu yang selama ini tidak ada masalah…

    • kalo film Perempuan Berkalung Sorban, hmm sy no comment. Untuk film ini dalam pandangan saya sudah terlewat masuk ke dalm akidah masing-masing agama dengan mencampurbaurkan masing2 agama. TOleransi yang ditampilkan di sini sudah melewati beberapa batas akidah.

  20. Rusa uah berpikir mas Arul pasti dapat undangan neh
    secara cepat banget
    dan beberapa blogger lain post hal yg sama 🙂

    selamat mas
    emang banyak koq review film yg larinya ke blog ini 🙂

    • oh yah, koq bisa lari ke blog ini? hmm 🙄

  21. 41 Deny Setiyadi

    Wah dari judulnya saja, pasti film ini sudah mengundang banyak pertanyaan pada saya. 🙂 Tapi kurang pas rasanya kalo ngga nonton langsung.

    • semoga bisa difilter dengan baik

  22. 43 ruben

    hati-hati.. toleransi bukan berarti menomorduakan keyakinan. film ini sangat beresiko membelokkan pemikiran org lain. jujur saya kurang suka dengan tokoh ‘rika’.. menurut saya karakternya terlalu berlebihan dan kontroversi.

    • Benar, tak boleh menomorduakan keyakinan, dan benar juga film ini bisa membelokkan pemikiran, dan seperti itu harus hati2. Tokoh rika akan menjadi kontroversi karena salah satubagian sensitif dalam film ini

  23. awalnya aku gak terlalu nanggepin Film ini, tapi setelah baca di berbagai blog tentang film ini yang umumnya pro dan kontra jadi penasaran pengen nonton seperti apa filmnya, tapi yang pasti film kalau sudah menyangkut tentang agama pasti akan selalu menimbulkan kontroversi….

    • bukan tentang agamanya yg kontrversi, film yg mengangkat tentang agama sih ok2 saja, apalagi tentang toleransi, tetapi toleransi yg disampaikan dalam film ini sudah melampaui batas akidah masing2 agama.

  24. Vcd bajakanya udah keluar belum ya.? Males ke bioskop..

    • waduh kalo itu saya kurang tau

  25. Wow mantap kok emang daeng ini… BTW daeng mungkin apa yang menjadi pertanyaan dan uneg-uneg daeng ini adalah kenapa film ini dikasih judul tanda tanya.. karena setiap orang yang nonton pilm ini pasti akan bertanya2 dan punya pikiran masing-masing akan pilm ini.. CMIIW

    • untuk ukuran film Indonesia ini sebenarnya menarik tapi untuk makna dan beberapa pola perilaku di dalam film ini telah melanggar akidah masing2 agama..
      coba dibaca beberapa paragraf2 akhir dari tulisan ini, bukan tanda tanya yg seperti yg kamu maksud drex…

  26. Alhamdulillah belum nonton 🙂 lho

    • 😀 sebaiknya sih mikir-mikir untuk menonton 😀

  27. 53 Anugrha13

    hmmm jadi makin penasaran kek apa filmya…
    *telpontemendijakartasuruhcaridiglodog*

    • wah kalo di glodok, kembali ke pribadinya ya 😛

  28. Ini ulasan film yang menurut saya bagus sekali. Tanpa mengenyampingkan undangan nonton yang mungkin bisa buat orang akan menulis yang baik-baik saja ttg film ini, reviu di sini sangat terbuka dan apa adanya sesuai pemikiran bloggernya. Great post! 🙂

    • terima kasih atas apresiasinya, cuman ingin menjadikan pemikiran apa adanya, ada juga lho tulisan saya yg lain tak sekedar memuji tapi melihat sisi kekurangannya 😀

  29. film ini memang lama menjadi perdebatan panjang di LSF sebelum akhirnya kita menerima undangan launching itu Rul 😀
    masalahnya ya itu, sensitif.

    saya sempat menonton versi unsencored sebelum undangan launching itu datang. beruntung ada yang berbaik hati memberi saya undangan menyaksikannya duluan sebelum masuk bioskop. nonton versi unsencored butuh kepala dingin dan hati yang lebih lapang lagi tampaknya 😆

    sebenernya saya pengen nonton versi bioskop. pengen tau bagian mana saja yang dipotong sama LSF. sayangnya saya tidak bisa menghadiri undangan gala premier itu kemarin. selain karena kemalaman (undangannya jam 9 malem aja gitu 😥 ), ya saya emang udah nonton sih yaaaaa :mrgreen:

    • Kalau secara pemikiran sih perlu menyiapkan hati atau berhati-hati menonton film ini. Kalau mencari esensi film ini dapat, cuman ada bagian2 tertentu yang membuat film ini berlebihan, melebihi batas masing-masing agama. Selain melapangkan hati juga menyiapkan hati yg kuat 😀

      oh iya, padahal mencari blogger yg saya kenal koq pada ngak ada ya 😀

  30. 59 baguštejo

    wah…. tiket VIP nih.

    belum nonton mas, akhir2 ini memang santer berita tsb di media elektronik. film² hanung memang berbau kontroversi, sebelum ini yang perempuan berkalung serbet juga menuai kritik, meski ga sesanter sekarang. apa karna dia penganut ‘paham’ tertentu ya mas? memang sengaja melempar isu sensitif. :mikir:

    • Kalo menganut paham sih, saya kurang tau. Tapi entah motifnya apa dibalik semua ini walaupun Hanung secara positif ingin mengangkat tema toleransi, tapi ternyata kebablasan ke ranah kaidah yang masing-masing agama sudah jadi prinsip.
      Kehati-hatiannya di situ.

  31. sudah nonton kemarin…film pertama hanung yang bikin saya nangis….
    pas hendra nanya ke ustadz : apa itu islam? islam adalah penyerahan diri secara utuh bla bla… udah gak konsen ma filmnya…nangis terus..hahaa..

    • Ada memang bagian film ini dramatis dan menarik. Masing-masing agama sih diberikan kekurangan dan kelebihan. Tapi yah itu sudah masuk ranah akidah yang sepertinya tak melalui studi agama masing-masing.

  32. 63 Deny Setiyadi

    Ah seminggu lagi UN jadi kayanya mau nonton minggu ini ngga bisa deh huuhuu

    • Semoga UNnya dilancarkan 🙂

  33. saya belum nonton tapi saya sudah mencari tahu duluan tentang film ini, katanya ada tokoh yg pindah agama gitu ya? wah bener2 harus kuat iman kalo emang mau nonton ini yaa..

    • iyah ada pindah agama, nah bagian ini no comment ya. Berhati-hati aja sih, soalnya ada pluralisme yang kebablasan, seharusnya toleransi itu wajar dan semestinya, tapi tak mengorbankan keyakinan masing-masing.

  34. saya sebenarnya juga agak ragu sih ketika melihat adegan yang gak sesuai dengan hati saya. Ada beberapa adegan yang menurut saya tidak boleh dilakukan dalam agama saya(islam). tapi secara keseluruhan film ini bagus ko. ada pelajaran penting yang bisa diambil diari film ini yakni semua umat manusia memiliki tujuan yang sama dalam hidup yakni Tuhan. (cmiiw)

    • iyah memang ada hal menarik dalam film ini, seperti yang saya jelaskan di atas. Tapi sudah masuk dan melewati batas akidah masing-masing agama. Toleransi yang diinginkan sebenarnya bagus, cuman kebablasan.

  35. Saya kebetulan nonton minggu kemarin, pesan toleransinya bagus, tapi kok kayak dipaksakan ya. Setuju sama arul, hati-hati pas menontonnya. All in all, Hanung masih salah satu sutradara terbaik di tanah air.

    • Nah kayak dipaksakan itu yg kayaknya menjadi cirikhas Hanung 😀 toleransinya benar, cuman sudah kelewat masuk ke ajaran masing-masing agama yang tak seharuskan dikorbankan.
      Iya kalo saya sih Hanung memang dari teknis sutradara menarik, tapi utk mengambil tema-tema sensitif no comment deh 😀

  36. well…
    salah satu alasan kenapa saya sampe sekarang belum tertarik untuk nonton..:)

    • hehehe iya daeng, ada yg perlu diperhatikan lebih lanjut tentang film ini, sesaat memang menarik, tapi ditelusuri lebih lanjut yah ada kelewatan dalam penyajian toleransinya.

  37. saya sangat suka film bertemakan pluralisme seperti ini…dan saya sangat suka dengan ulasan tentang film ini diatas….hanya saja saya belum mendapatkan kesempatan menonton….terima kasih ulasanya..tulisannya menarik…

    salam 🙂

    • terima kasih apresiasinya, semoga menontonnya dengan hati yang kuat dan tentunya keyakinan yg mantap.

  38. Saya malah penasaran….berarti memang membuat tanda tanya di benak penonton? Berarti memang itu yang dimaksud oleh sutradaranya, agar kita masing-masing bertanya-tanya….

    • bukan bertanya bu, tapi memberikan jawaban kira2 judulnya film ini apa 😀
      saya tak menyarankan menonton film ini, karena walaupun esensi yg diinginkan menarik utk menjaga toleransi, tapi ada beberapa pengubahan akidah yang bagi umat yg berkeyakinan mempertanyakan hal tersebut sudah melewati batas akidahnya.

  39. saya mau nonton dulu, nanti balik lagi sini 😀

    • sip ditunggu reviewnya juga 🙂 semoga hati-hati ya

  40. menonton film ? dengan hati terbuka:).Itu cuplikan dari pernyataan ibu Yenni Wahid.
    Sementara Gus Ipul menyarankan para generasi muda untuk menyaksikan film ini.

    Namun semuanya dikembalikan kepada para hati para rekan.
    ada cuplikan di filmnya : ” tidak ada iman yang runtuh karena sebuah drama (film)”

    terimakasih sudah datang ke premier kami, terimakasih juga untuk ulasan di blognya.

    salam,

    film tandatanya.

    • Hati tetap terbuka menonton film ini, tapi tetap juga hati untuk diberikan tameng agar menyaring yang mana baik dan tidak perlu diamalkan dalam film ini.

      Generasi muda yang sudah berkeyakinan teguh tentunya tak masalah menonton film ini, namun bagi generasi yang lemah imannya sebaiknya diberikan penjelasan, karena pencampurbauran agama tak elok. toleransi yg diajarkan yg bersifat sosiologis bukan yang sudah mengorbankan keyakinan masing-masing.

      Memang tak ada iman yang runtuh dari film ini, tapi perilaku-perilaku dalam film ini yang perlu diwaspadai karena semua gambaran baik dalam film ini belum tentu baik dalam akidah masing-masing agama.

      Terima kasih undangannya, tidak kapok2 ngundang saya, walaupun review saya harus mengkritisi 😀

      salam balik
      -arul-

  41. Ah ini yang mas arul di mention zakia ya 😦 bikin iri.. wah ko bisa dapet undangan si.. mau mas.. 😦

    • ye elah bair, kan posting di atas dijelaskan kenapa sy bisa dapat undangan 😛

  42. lohh..loh..loh.. kak arul di jakartaa niihh.. *telat*

  43. lohh..loh..loh.. kak arul di jakartaa niihh.. *telat* hahaha

    • yoi….. :mrgreen:

  44. saya cenderung menolak prasangka buruk sebelum tahu itikad faktual si pembawa pesan. banyak diantara kita memulai dengan prasangka buruk sebelum menimbang fakta..:p

    meski blum nonton, saya brprasangka baik bahwa si Hanung sedang berusaha menngkompromikan semua hal yang kontradiktif….

    • tak ada prasangka buruk sih daeng di sini, setelah melalui pemahaman berbagai sudut pandang dan memahami kembali keyakinan masing-masing seperti itu memang, esensi toleransi yang menarik utk disampaikan ataupun pluralitas kehidupan seharusnya bersifat sosiologis tapi ternyata dalam film ini mengorbankan keyakinan.
      Seharusnya sperti kata KH Kholil sewajarnya hidup damai dengan umat lain, tapi tak mengorbankan keyakinan.

      Dua tokoh yg saya cuplik kalimat dan wawancara di atas, keduanya saya liat adil, mereka melihat film ini langsung bukan sepotong2 dari youtube dan memberikan komentar akhirnya.

      Ada bagian dari scene film ini yang sepertinya dibenarkan padahal dalam segi akidah hal tersebut tidak sesuai.

      Semoga daeng rusle menonton, penasaran komentar selanjutnya 🙂

  45. Saya sih kalau nonton film cuma buat hiburan aja, tidak perlu dimasukin di dalam hati dan fikiran apalagi diadopsi MENTAH2 menjadi jalan hidup kita. Yang penting buat saya jangan buat kekerasan atau intimidasi dengan alasan apapun, cukup itu. Mereka berhak menjalankan ibadahnya, kitapun berhak menjalankan ibadah kita. Mereka tidak berhak menghentikan ibadah kita, kita juga tidak berhak menghentikan ibadah mereka. Itu saja.

    NB:
    Saya belon nonton filmnya. 😀

    • kalo orang sepintar pak yari sih ngak masalah ya pak 😀 bisa memfilter, tapi coba yang memiliki keyakinan masih separo2, adegan2 tertentu yg diyakini baik, padahal belum sesuai nilai2 keyakinan masing-masing.
      Seperti kata ustad di atas, toleransi seharusnya, tapi tak mengorbankan keyakinan 🙂

  46. jadi pingin nonton filmnya

    • silahkan menonton dengan hati yang terjaga ya 🙂

  47. Kebanyakan film diindonesia merusak moral generasi muda dengan marak’a film betemakan Horro Mesum,tapi ada juga film indonesia yang bagus

    • iyah ada yang bagus, makanya sebaiknya filter diri juga barus untuk menyaksikan film2 tersebut

  48. Banyak kritikan yang muncul dari film ini. Saya sendiri belum sempat nonton, tapi dari beberapa tulisan yang saya baca (misalnya http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/04/12/14103/catatan-untuk-hanung-film-gambaran-toleransi-yang-ngawur/) mengatakan “kecewa” dengan film ini.

    Tapi sepertinya saya tetap tertarik untuk bisa menonton film ini. Apakah benar aroma pluralisme di film ini terlalu menyengat? #menyiapkan mental

    • iyah banyak kritik dan banyak pujian terlontar, kalo secara teknis film ini menarik,kelas hanung lumayan tinggi kalau di Indonesia, walaupun belum bisa disamakan sutradara keren dari hollywood.

      Namun dari sisi cerita, awalnya tanpa kita sadari sih termaktub mantap dalam diri, tapi setelah memperhatikan dengan baik, ada beberapa adegan maupun keinginan yang tak sesuai akidah masing-masing agama, bisa diperhatikan beberapa paragraf2 akhir dari tulisan ini 🙂

  49. belum sempet nonton jadi belum bisa memberi komentar tuh

    • ok ditunggu tanggapannya

  50. belum nonton, tapi ingin nonton karena penasaran.
    semoga masih sempat utk nonton

    • jadi sudah nonton mi? 😀

  51. ane baru nonton barusan gan..

    secara teknis filmnya bagus, tapi endingnya agak payah..

    soal toleransi emang hal itu kembali ke kapasitas dan sudut pandang masing2 y.. tapi menurut ane ga ada yg crossing the line.. nyeleneh sih iya..

    btw.. ane juga langsung nulis pendapat ane tentang film ini di blog ane..

    lam kenal y

    • sip mantap, kalo secara teknis dibanding film2 hanung sebelumnya ini yg terbaik, dan dibanding sutradara Indonesia, Hanung salah satu yg terbaik. Hal yg crossing line masalah keyakinan, tidak mengorbankan akidah tetap menjaga kerukunan seharusnya seperti itu, kalo tidak menonton dg filter tentunya ada bagian-bagian di masing-masing agama yang perlu diluruskan

  52. 102 Erma

    film bagus kayak gitu kok di komplain… kenapa justru film yang berbau seks malah adem ayem aja!!!

    • 103 Fitri

      menurut saya soalnya Ka Arul diundangnya ke premier film ‘?’, bukan film berbau seks 🙂

  53. Hanung Bram, He..he. Mang filmnya bagus kok, tetep semangat mas, tema2 perbedaan agama memang kudu ditingkatkan, kalau gak bahaya mas, bahaya laten mengancam

  54. Idem kaya mas adam aja dah saya. Memang bagus film ini, bermutu, ga kaya pemokat keramas, eh, Suster Keramas ding

  55. 106 rhya

    Menurut saya, film ini bagus ditengah film2 “ga jelas” yg beredar di pasaran saat ini, saya tertarik bgt kalo ada film yg mengangkat ttg agama…yah, meski emg kudu harus punya benteng keimanan yg kuat bwt nonton’y..

  56. 107 ardath

    makannya aku ndak mau nonton lebih baik nonton filem yang berbau perjuangan tahun 45 biar lebih bisa menumbuhkan cinta tanah air dan mempererat persaudaraan walaupun berbeda-beda

  57. 108 princezz tsa

    saya juga baru nonton kemaren tentang film ini, sebagai orang awam..memang btuh filterisasi yg cukup kuat untuk mencerna maksud dari pluralisasi di film ini..
    apalagi jika saya yg belum terlalu dalam ilmu agamanya ini masih harus mencari tahu sebatas apa pluralisasi yang di anjurkan umat islam kepada agama lain.
    karena melihat film ?, menurut saya hal yg di tokohkan mereka di film tersebut bisa di amini banyak umat muslim.
    maka kekeliruan yg ada di film ? membuat saya semakin ingin mendalami islam dengan segala kandungan toleransinya.

  58. hmm gini yaa? menurut saya film ini bagus kok. yang penting kita kuat dengan iman kita. serius deh film ini bikin saya terharu yah itu menurut kaca mata saya sebagai orang awam 🙂

  59. Jadi penasaran mau nonton. Asik ketemu selebriti.

  60. Saya seorang muslim. dan saya salut film mas hanung bramantyo ini.
    Terlepas dari kontroversinya, bagi saya film ini mendidik kok untuk mengedepankan kerukunan antar umat beragama.
    bukannya gimana, akhir-akhir ini memang nama islam dipertanyakan karena oknum2x teroris yang bom bunuh diri, fpi yang gemar kerusuhan, dll,
    jadi ada bagusnya untuk mengajarkan toleransi antar umat berugama.
    saya juga punya sahabat orang dari kristen kok. dan kami rukun-rukun saja tanpa harus mempersoalkan keyakinan yang berbeda
    dan alhamdulillah saya tetap percaya sama islam.

  61. 112 hasian manalu

    Susah hidup di negara ini. Serba ribet padahal orang2nya gak pinter tp keminter. Kreasi orang di sangkutin ke agama. Emang lu ngerti agama? U tau arti surga? Modal jangut ama sorban aja pada belagu lu pade

  62. 113 adi vedder

    ya memang begitu ramalannya, islam akan kembali terasing
    saya ga gt ngerti islam, yg baca jg ga gt ngerti islam, yg nulis jg ga gt ngerti islam
    padahal semuannya agamanya islam :D, la terus mau apa 😀

  63. 114 mesa

    Belum nnton piLm’nya,,awal2 cZ gAg kebagian tiket trz..
    bikin pusing niy baca coment temen2 ttg piLm’nya,,ad yg ngedukung,,ad yg kontra..na buat sy yG asli polin-plan niy jD tambah deg2an klo mw nnton??kira2 toleransi ky p lg c yG disuguhin hanung x niy?????
    bismillah,,sekali lg semua tergantung iman dan keyakinan masing2..^^

  64. 115 mesa

    Belum nnton piLm’nya,,awal2 cZ gAg kebagian tiket trz..
    bikin pusing niy baca coment temen2 ttg piLm’nya,,ad yg ngedukung,,ad yg kontra..na buat sy yG asli plin-plan niy jD tambah deg2an klo mw nnton??kira2 toleransi ky p lg c yG disuguhin hanung x niy?????
    bismillah,,sekali lg semua tergantung iman dan keyakinan masing2..^^

  65. sudah nonton film ini, sinematografinya serta pada khususnya sudut pengambilan gambarnya sangat fotografis, sangat baik, ciamik. cerita film ini juga menarik dari esensinya, terlepas dari beberapa kalangan yang tidak menyukai film ini, membuat film seperti ini sangatlah tidak mudah. masa kecil saya ditahun 1980 juga mengalami hal ini, dipanggil cina, sipit, dan dikeroyok oknum pemuda, menjadikan saya mengerti bahwa sutradara hanung telah berhasil menyibak sisi sisi getir minoritas ditahun tahun sebelum Gus Dur yang berani merubah bagian tatanan masyarakat SARA yang sensitif. Mengenai pesan pesan yang mungkin dibuat terlalu jelas, sangat saya pahami karena film ini dibuat untuk ditonton oleh orang indonesia. Hal penting adalah film ini kurang cocok (rawan) ditonton oleh orang yang pragmatis, low educated people, (yang cenderung sensitif). Film ini cocok untuk ditonton mahasiswa atau orang yang teredukasi dengan baik.

  66. 117 aloysius andre

    sebelumnya minta maaf dulu, menurut saya ini adalah sebuah film yang tergolong bagus. mengangkat cerita mengenai pluralisme. saya sebagai kaum yang minorotas untuk di indonesia juga pernah mengalami hal-hal yang demikian. terkadang berbeda menjadikan suatu hambatan yang besar, padahal menurut pandangan saya pribadi, mengapa manusia terkadang meributkan hal-hal yang sepele, kita hanya berbeda dalam hal CARA, tetapi memiliki tujuan, maksud, dan arah yang sama. butuh pengetahuan yang lebih untuk dapat memahami film ini agar tidak timpang sebelah dalam memaknai film ini. salah satu dialog yang saya suka dalam film ini adalah ” Tuhan Mengajarkan CINTA Dalam Setiap Agama Yang Berbeda”.

  67. Filem nya bagus baget….sesuai kehidupan di indonesia…filem ni punya kata kiasan ….yg makan cabek ya terasa pedas nya……semua juga tau siapa yg paling suka konflik,…..hehehehe…..ini filem harus di kasi jempol..jng di hujat

  68. menurut logika nya filem ini…memang menceritakan semua kehidupan nyata..di indonesia…rata2 teroris dari onum,di mana2 suka jadi biang perusuh,tak melihat kemitraan polisi…macam negara kita tidak ada Hukum aja……aku akan kasi jempol 100 untuk kesuksesan filem ini…..terima kasih banyak buat Sutradara : Hanung Bramantyo…yg sudah mau angkat..filem ni.

  69. 120 zhyzcha

    keRen.. cemBuru ka ..

  70. 121 Penonton Tanda Tanya

    Jangan Salah Kaprah… Menurut Saya Film ini di buat dari 3 sudut pandang.. Tidak hanya menyangkut sudut pandang islam… tetapi menyangkut sudut pandang agama lain.. Saya Mengerti Pesan dari film ini adalah.. Hargailah Semua Orang jika mau dirimu berharga di mata orang! Kebaikan bukan berasal dari agama… tapi dari diri sendiri bagaimana menilai sikap itu baik atau buruk.!

  71. 122 haps

    mas, numpang ngambil britanya ya bwt di-share. makasih

  72. btw, salah bukan mas tapi daeng/karaeng. daeng/karaeng, ijin ambil brita bwt di-share ya… syukran

  73. 124 concern

    Saya telat banget baru nonton film nya… saya juga sudah baca ulasan di atas dan komentar2 yang diberikan.
    Saya lihat banyak yang pro dan kontra. Saya pribadi sangat suka dengan tema yang diangkat dan menganggap ini salah satu film ttg pluralisme terbaik.
    Soal isu sensitifitas, saya rasa sudah saat nya bangsa ini dewasa. Tema nya mungkin memang sensitif, tapi itu “tamparan” yang bagus untuk bangsa yang sombong ini. Kalau memang tidak bisa diberitahu dengan cara berbisik, ya mesti berteriak toh…

    Soal ada tokoh yang digambarkan pindah agama, apa yang salah dengan itu? Kan digambarkan kalo dia wanita dewasa yang mengambil keputusan itu secara sadar, bukan dipaksa.
    Soal isu minoritas, saya rasa penulis blog berasal dari kaum mayoritas, agak sulit bagi kaum mayoritas untuk mengetahui/mengakui adanya masalah yang berhubungan dengan kaum minoritas karna bukan kaum mayoritas yang merasakan.\
    Soal isu akidah, di komen2 awal penulis blog selalu menyebutkan ada akidah yang dilanggar, boleh dituliskan secara jelas bagian mana yang dimaksud?

    Saya muslim, tapi keturunan tionghoa. Bisa dikatakan saya memliki sedikit dari tiap sudut pandang yang diceritakan.
    Yang ingin saya katakan adalah, suka tidak suka, diakui atau atau tidak, memang ada masalah soal pluralisme di negeri ini, yang mungkin tidak dirasakan sebagian besar orang, tapi bukan berarti sebagian kecil yang merasakan masalah tersebut dapat diabaikan begitu saja. Menjadi mayoritas bukan suatu hal yang patut disombongkan, justru itu tantangan yang besar untuk membuktikan bahwa ajaran yang si mayoritas yakini memang rahmat bagi sekalian alam, bahwa setiap orang bisa hidup damai berdampingan dengan kalian.

    • terima kasih komentarnya, pertanyaan apa yg dilanggar, bisa diliat di dari video yg saya kutip di atas, ungkapan yg beberapa hal menjadi isu sensitif.
      Sekali lagi, saya menekankan hati2, artinya perlu filter yang bagus utk menonton film ini.

  74. dengar-dengar film ini dicekal sekarang… 😐

    salam kenal kak, Vela e48 ^^

  75. film lebay. . .
    ga usa dtonton!!!

  76. 128 Anti hanung

    Hanung rupanya jadi jebolan Pluralis & Liberalis yg mengatasnamakan Seni dan kebebasan. akidah hanung perlu dipertanyakan!

    hati-hati bagi para pengagum Hanung & Zaskia.
    rupanya hanung sdh jadi diperalat kaum liberalis.

    hancur minah agama Islam dibuatnya.

  77. wah…hati2 para sutradara jangan mementingkan duit, lalu kerukunan umat jadi terganggu…

  78. saya belum nonton.. 😦
    ntar cari filmnya ah……

  79. 131 harry

    bagus mas,s7 bngt

  80. 132 harry

    bagus mas,s7 bngt mudah mudahan bermanfaat

  81. film tanda tanya ini menurut gue …termaksud film yang sangat bagus ,,,,terserah pendapat orang maw sesat atw tidak yang jelasx film ini good…….islam itu bukan agama orang bodoh …….jadi klw loe bilang ni film sesat maka loe yang bodoh….

  82. plural bagi islam memang diperbolehkan tapi bukan pluralisme
    plural disini maksudnya adalah hidup menghargai keyakinan orang lain dan bertetangga dengan orang lain
    tapi kalo pluralisme itu menganggap semua agama benar, itu yang g boleh

  83. aq sdh nonton film ini, ga terlalu bagus2 amat kok…

  84. 136 meliantha multi

    ndeg ndeg ndegan bgt tp seru q gw lhtnya
    so jgn terlwt ya”””””””””’good luck haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhaaaaaaaaaaaa

  85. 137 anita

    Dr Adian Husaini lebay deh ah .. latar belakang anda muslim, sepertinya perkataan anda itu hanya karena kurangnya pengetahuan anda mengenai agama lain. dari kata-kata anda itu sudah jelas memojokkan agama lain lho .. percuma deh anda ngomongnya seperti itu maaf ya cukup kasar. dari ekspresi anda terlihat sekali kebencian 🙂 pikirkan lagi deh kepercayaan orang trhadap argumen anda, dari perkataan saja tidak menunjukkan “kasih dan toleransi” terhadap sesama. hehe .. maaf yee saya to the point 🙂

  86. jadi penasaran ingin liat filmnya…

  87. filmnya gak rasional dalam semua agama yang ada di dalam film, terlebih menurut pandangan Islam, lebih2 gak rasional

  88. Hanung Bramantyo, Sutradara Jogja, filmnya emang bagus, apalagi Sang Pencerah, bener2 apik. Kok dia ga buat film yang go international ya mas


  1. 1 Film “?” Tanda Tanya : masih pentingkah kita berbeda? « Insan Perubahan
  2. 2 Hati-hati menonton Film Tanda Tanya “?” (via Insan Perubahan) « _I Call It Love_
  3. 3 Menulis butuh Kritik « Insan Perubahan
  4. 4 undangan pernikahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: