Mendengar dan berbicara

29Jan11

https://i0.wp.com/farm1.static.flickr.com/25/92038203_5d8d68f920.jpg

Mendengar dan berbicara merupakan bagian dari komunikasi. Dua hal yang selalu ada dan saling berhubungan ketat. Dan lagi-lagi komunikasi menjadi bahasan saya di blog ini, dan tema ataupun tujuan tulisan inipun hampir sama dengan beberapa posting blog saya ketika menyadari kemampuan berbicara sedang berkurang.

Sekarang saya lebih banyak mendengarkan, untuk lebih memahami maksud suatu permasalahan yang sedang dibahas. Dan beruntung sekali jikalau permasalahan itu bisa dicerna dengan baik bahkan dapat menyimpannya dalam satu bagian piringan keras (baca : harddisk) kepala saya. Dan syukur-syukur apa yang saya dengarkan dapat terinformasikan dengan baik.

Mendengarkan juga merupakan proses yang sangat sulit, kita tidak serta merta harus mengambil perkataan orang lain itu dari A sampai Z, karena kapasitas lubang telinga tak sampai berdiameter 1 cm untuk dilewati dan tentunya kapasitas otak yang mesinnya sedang berjalan. Jadi harus dipilih! Apakah cukup inti pembicaraan yang harus ditanggap atau bagian-bagian yang bukan inti namun menarik. Namun sering juga terjadi ada salah interpretasi gara-gara keliruan mengambil inti sebuah perkataan.

Ada satu lagi, mendengarkan juga tidak seharusnya mengambil semua apa yg diperdengarkan. Namun berdasarkan pengalaman dalam menilai baik buruknya sesuatu selama kita hidup. Hal tersebut menjadi filter dari pendengaran yang kemudian nanti suatu saat kita ucapkan untuk memberitahukan kepada orang lain atau khalayak sudah sesuai  dengan konsistensi pemikiran kita, sehingga ketika kita sudah mengatakan A, kemudian hari juga tetap A.

Mendengarkan merupakan hal terbaik saat ini untuk saya lakukan, ketimbang untuk berbicara lebih banyak, karena sebenarnya saya tidak tahu. Mendengarkan adalah proses saya untuk menjadi tahu dan suatu saat ketika saya ditanya akan menjawab bahkan menjelaskan apa yang saya ketahui, dan tentunya kadang berlebihan, sampai mulutpun berbusa-busa tiada henti kalau memang saya memahami serta mengerti suatu permasalahan, sampai titik pun entah sampai tak terhingga.

Ah ini semuakan hanya pemikiran saya saja, jadi tidak mutlak juga menjadi bagian dari metode mendengar anda. Kalau mau lebih teoritis ke ahli manajemen diri lebih mantap konsepnya.

Atau anda punya cara tersendiri? Sharing dong 😉

Ilustrasi Foto : Are you listening?

Iklan


47 Responses to “Mendengar dan berbicara”

  1. akhirnya ngepost blog lagi, sebenarnya tulisan ini hampir sama dg tulisan blog sy yang dulu2 kalo lagi merasa tak mampu berbicara/berdiskusi dg intens 😀

  2. 2 monsterjelly

    hehe.. komunikasi itu ada dua bung arul.. komunikasi verbal dan nonverbal.. komunikasi verbal itu bisa lewat mulut.. dan juga bisa lewat tulisan seperti blog nya bung Arul ini.. 🙂 tetap semangat menulisnya ya bung.. udah ribuan orang yang tercerahkan setelah membaca blog bung Arul..

    ah iya.. yang non verbal tentunya udah tau ya.. body language 🙂 hehe..
    sst.. ternyata culture itu sangat mempengaruhi body language lho bung.. nanti kapan2 kalo ketemu aja saya cerita2.. 🙂

    ayo makan soto bareng lagi yooo..

    • saya setuju dengan komentar Anda…

  3. Diam memang kadang2 menjadi jalan terbaik… 🙂

  4. 5 THIS IS SPARTAAAAAAA

    buat saya, mendengarkan tidak bisa sepotong-sepotong, setengah-setengah atau sambil lalu. kadang, saya baru menemukan keindahan bahasa dan makna yang dalam ketika mendengarkan kalimat-kalimat yang sama untuk ke sekian kalinya. telat banget itu namanya 😐

  5. Yah, saya setuju. Mendengarkan memang lebih baik daripada berbicara. Karena kita hanya diberi mulut satu, sedangkan telinga dua..

  6. Sebenarnya lebih mudah mendengarkan tetapi orang lebih suka berbicara..

  7. Klo saya si orangnnya emang pendiem mas.. jadi lebih suka ndengerin aja 😀

  8. ya, ya, menjadi pendengar yang baik agaknya butuh latihan juga, mas arul. itulah sebabnya dalam bahasa indonesia pun ada keterampilan menyimak alias mendengarkan. konon, aktivitas ini tak hanya sekadar melibatkan aktivitas indra telinga, tetapi juga perlu melibatkan konsentrasi otak. meski demikian, tdk lantas berarti berbicara menjadi tidak penting, loh, mas. jenis keterampilan ini bisa menjadi sarana jitu utk mengekspresikan pikiran dan perasaan kita kepada orang lain. kalau cenderung diam, mana mungkin orang lain tahu isi hati kita? *doh, kok jadi sok tahu saya, haks*

  9. kalau memang merasa tidak mampu berbicara dengan intens, menulis memang cara terbaik karena bisa bebas dari distorsi. saya pun kadang canggung kalo ngomong depan banyak orang sehingga lebih banyak mendengar dan pendapatnya dituangkan lewat tulisan.

    mendengar memang bijak 😀

  10. 11 bloggeramin

    Mendengar kayaknya lebih mudah daripada berbicara…tentunya dalam hal ini berbicara yang baik dan mengandung arti yang luas dan berbobot. Mendengar cenderung yang aktif adalah hati yang haur dapat mengendalikan hati sebagi respon terhadap apa yang didengarkan. sedangkan berbicara…disamping dengan menggunakan hati juga otak, kali…

  11. 12 fera

    memang bagi sy mendengar lebih baik dibanding bicara,,,krn kalau kita mendengar mendapatkan suatu ilmu tp ketika kita bicara harus dpt mempertangungjawabkan apa yang kita bicarakan.:))))

  12. Kalo kata teman saya, jika tidak bisa memberikan saran kepada seseorang, lebih baik mendengar saja dengan sepenuh hati. Kadang orang hanya perlu didengarkan 🙂

    • Benar… Setuju. Itu lebih baik daripada berbicara tak jelas yang malah bisa memperkeruh suasana …
      😎

  13. Iya, saya rasa memang lebih enak mendengarkan. Entah kenapa saya sejak SMA lebih bisa mengerti sebuah pelajaran kalau diterangkan. Daripada membaca sendiri di buku, lebih baik diterangkan atau mendengar dari teman yang jago. 😀
    Dan anehnya, kalo saya udah ngerti pelajaran tersebut, saya akan dengan senang hati menerangkannya kembali ke teman2 yang masih belum ngerti. Jadilah saya berbicara pula. 😆

  14. Setuju… karena tuhan menciptakan telinga kita 2 dan hanya menciptakan mulut kita cuma satu.. tak lain tak bukan supaya manusia lebih banyak mendengar dari pada ngomong yang tak berguna.. ^^,

  15. “Mendengarkan” 2.0 bisa berarti membaca kan ya? Soalnya saya lebih sering membaca saja tanpa berkomentar (“berbicara” 2.0). Hehehe…

  16. dengerin dulu,.. kalo udah paham, baru ngomong

  17. Mantabs nich infonya. Jadi lebih tau tentang ini. Thanks for sharing ya…

  18. paham dulu baru ngomong heheheh

  19. nice info..sukses selalu..

  20. 22 Deny Setiyadi

    🙂
    Bingung mau komentar apa.

  21. memang banyak omong belum tentu kita benar. lebih baik diam dan mendengarkan lalu kita mengambilnya yang terbaik..

  22. saya termasuk orang yg suka mendengar dari pada berbicara.
    Itupun kadang menjadi masalah, karena mendengar saja itu membuat berbicara menjadi sulit 😦

  23. Wow.. Keren nich informasinya. Menarik untuk dicoba. Thanks.

  24. artikel yg bermanfaat sekali…
    bisa untuk sebuah pedoman nih…
    terima kasih gan infonya…

  25. Sipp dah infonya.Nambah lagi nich pengetahuanku. Makasih dah bagi-bagi ilmunya.

  26. Menarik banget artikelnya. Bener2 menarik untuk dibaca dan jadi renungan dalam hidup. Thanks.

  27. nice post…
    menari bgt….^_^

  28. if you want to understand, listen..
    🙂

    itu tagline dari film BABEL-nya Innaritu..

  29. great post..! thanks for sharing,,,!

  30. nice..
    sempatkan mengunjungi website kami
    sukses selalu!

  31. wah, kadang kita lupa pada proses mendengar dalama sebuah komunikasi ini,
    nice post.. 😀

  32. aku nggak denger mas, aku moco. (mbaca)
    hehe
    wahh lama udah ga mampir blog ini.
    dulu bukannnya pake template yg semuanya item ya?

  33. Selamat datang di ibukota, arul ^^

  34. yang pernah saya denger sich: qta diberi dua telinga dan satu mulut… jadi kuantitas mendengar dengan dua telinga diarahkan menampung lebih banyak ketimbang “menyerocos” dengan satu mulut…salam kenal ^_^

  35. seeb bang, lama ga ngepost neh, udah di tunggu2 post berikutnya 🙂

  36. Daripada tidak tau dan sok tau, diam dan mendengarkan adalah pilihan terbaik..

  37. permisi
    ijin nyimak + nebeng link gan :D~

  38. memang lebih baik mendengarkan terlebih dahulu lalu berbicara 😉 tetap semangat

  39. lebih enak mendengar donk :))

  40. dua telinga dan satu mulut sudah menjadi tandanya.. kita harus lebih banyak mendengarkan daripada bicara..
    nice post…

  41. saya membaca dan memahami 🙂

  42. saya lebih suka jadi pendengar, tinggal manggut manggut. yang penting bikin orang senang. tul ngga..?

  43. I am very lucky to find your web site. This is very interesting. God bless you

  44. setuju.karena mendengarkan lebih baik dibandingkanberbicara.

    seperti apa yang dikatakan orang saya, kita itu harus banyak mendengar di bnding berbicara.

  45. terlalu banyak mendengakan karena terlalu banyak yang dikatakan ke telinga kita malah kadang gk masuk atau malah bikin ngantuk..kalo saya suka medengarkan point2 penting saja….kalo perlu dicatat biar gk lupa..:D.uhmm kadang bicara setelah mendengarkan penting..karena kita akan tau sejauh mana kata2 tadi masuk ke otak dengan mengatakannya kembali/merespon apa yang dikatakan ke kita..CMIIW


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: