Interkoneksi Media

25Des10

https://i2.wp.com/api.ning.com/files/vRWi3e17RGoRCtihytGK9a28QLPsZDMXFmuntriID9HwfIpujlWkzWxUwWtjSvt5qjzMOBH8yDtlUz225TeH0azIz-jEZBD-/logo_kaskus.jpg“Liat dari kaskus ya?”

Itu ungkapan teman ketika melihat tampilan profil facebook saya dengan susunan potongan foto yang sinkron seperti yang saya kisahkan di sini.

Tergelitik karena sumber saya berbeda, sejurus kemudian saya jelaskan bahwa tampilan itu saya lihat dari teman FB saya, lalu saya googling dengan keyword “profile facebook new” akhirnya mendapatkan 10 Creative Uses of The New Facebook Profile di nomor 1 google.

Kisah lainnya sebuah stasiun televisi memutarkan pemeringkatan atas sebuah kejadian atau benda, landmark dan sejenisnya. Alih-alih ternyata saya sudah pernah membaca di kaskus. Entahlah juga apakah kaskuser yang membuat pemeringkatan itu berasal dari sumber media lainnya.

Atau berita kompas.com berdasarkan pada kicauan Anas Urbaningrum dari twitternya :

“Tinggal kita ngluruk ke KL. Mari kita jadikan KL menjadi terasa di Senayan. Saatnya Merah Putih berkibar penuh martabat di Malaysia. Bisa!” tulis Anas di akun Twitter, Minggu (19/12/2010) malam, tak lama seusai Indonesia mengalahkan Filipina.

Ketiga catatan di atas menjadi permulaan tulisan saya kali ini. Berbicara tentang media tentunya tak ada habisnya, dimulai dari filosofi sampai aplikasinya, bahkan setiap hari berkembang progresif dan pandangan masing-masing orang tentunya berbeda-beda. Termasuk sumber berita.

Yah banyak sih klaim-klaim yang sering terjadi ada yang menyebutkan sumber dan kadang ada juga tak mencantumkan sumbernya. Masing-masing klaim sebenarnya tergantung sejauh mana kita itu menyukai sesuatu. Seorang kaskuser tentunya lebih mengandalkan menyebarkan sumber dari kaskus, seorang blogger tentunya lebih mengandalkan blogger. Gimana kalau ikut kesemuanya, yah tentunya paling pertama diketemukan dan dibacanya atau kadang mana media yang paling disukai.

Media mencari berita juga selain dari narasumber aslinya juga bersumber dari media lainnya. Apatah lagi selain penyuka berita televisi dan pembaca koran juga sebagai pegiat internet, saya tentunya mengikuti beberapa forum-forum online, sosial media, komunitas online, milist, serta situs-situs menarik lainnya. Seperti Kompas, kompasiana, kaskus, detik, sosial media misalnya twitter, facebook, plurk, koprol, terakhir daftar di ciduh. Sumber berita dari manapun.

 

Interkoneksi Media

Saya jadi ingat kuliah saya di elektro dulu tentang interkoneksi jaringan listrik, terutama Sistem Interkoneksi Jamali (Jawa Madura Bali) yang sudah saling support satu sama lain, ketika satu ada yang blackout (padam) atau maintainance, maka yang lain yang menjadi sumbernya. Teorinya seperti itu, Terinterkoneksi!

Jadi inti dari tulisan ini adalah masing-masing media, forum atau apapun sumber berita itu menjadi sumber berita untuk yang lain, sosial media kepada media mainstream, media citizen jurnalism atau  jurnalisme warga menjadi sumber bagi media mainstream. Forum-forum online mendapatkan dan menjadi sumber bagi media lainnya.

Semua tentang bagaimana perputaran sumber berita itu saling terkoneksi satu sama lainnya. Tak bisa dilepaskan satu sama lain. Sumber berita saling mengisi dan memberikan materi beritanya.

Kicauan twitter dari seorang selebriti bisa menjadi berita di media mainstream, menjadi biang gosip di infotaiment. Ingat foto Rahma Azhari bersama Simon McMenemy, Pelatih Philipina, jadi berita heboh. Sebaliknya berita-berita di infotaiment disebarkan di blog dan atau twitter untuk dikicaukan dan dikomentari bareng-bareng.

Namun ada juga kadang salah kaprah dengan sistem interkoneksi ini, dengan mengklaim bahwa media inilah yg sumbernya kemudian disebarkan melalui media massa ataupun jejaring sosial media, padahal jikalau ditelusuri lebih dalam ternyata sumber dari media lainnya.

Seperti posting Kristupa Saragih di Kompasiana setahun lalu, tentang Etika pemakaian foto untuk blog, tentang menggunakan foto tanpa ijin untuk sebuah buku, yang melibatkan seorang blogger yang mencantumkan foto dalam tulisannya tanpa ijin pemiliknya. Inilah dampaknya sistemik jika tak mencantumkan sumber foto/berita.

Pokoknya sih cantumkan sumber ketika menuliskan berita, lebih bijak dan lebih menghargai sang penulis berita pertama.

Yah itulah sedikit catatan untung dan buntungnya interkoneksi media. Bagaimana menurut anda?

—————————-

Foto :

Link terkait :



8 Responses to “Interkoneksi Media”

  1. Masih pengen menulis banyak, tapi biar berdiskusi di kolom komentar saja aja🙂

  2. hmmm….

    acap kali saya baca artikel yang bagus, yang membuat saya tertarik, namun ketika saya membaca tulisan paling bawah, artikel tersebut hanya kopipes dari situs lain. masih mending jika sumbernya disertakan, lebih parah jika kopipes bulat-bulat tanpa menyertakan sumber.
    kalau dicermati pun, kebanyakan artikel sharing di kaskus misalnya, juga merupakan saduran dari artikel lain. sayang sebenarnya kalo hal hal seperti ini terlalu sering terjadi. informasi yang tersebar di internet jadinya redundant, bertumpuk2 dengan isi yang sama persis.
    mungkin alangkah baiknya jika yang dilakukan cukup mencuplik saja, disertai opini dari penulis yang bersangkutan🙂

    *NB : Pertamax :P*

    • Nah benar sekali rizkianto, itu yang sangat kadang saya sayangkan. Tapi bukan hanya kaskus, blog-blog juga demikian, mengambil seluruhnya hanya sekedar untuk nangkring di google, siapa yg paling pertama di halaman google disertai dengan judul yang bombastis ala media.
      Dan orang-orang malah kadang menyebarkan link yg bukan aslinya… dengan bangganya kadang ini dari situs ini, dari situs itu, padahal yah cuman kopipaste aja ternyata.
      eh gung coba nulis tentang ini di blogmu, kayaknya kamu tau banyak… pasti menarik🙂

      *selamat ya pertamax, hahaha siram sama pertamax:mrgreen: *

  3. Postingan yang menarik , berguna dan kreatif. 

  4. pada era global seperti sekarang ini, dunia terasa makin menyempit, mas arul. bahkan, para netter seperti berada dalam sebuah perkampungan global akibat makin masifnya jejaring media yang makin bejibun jumlahnya.

  5. waduh, saya banget tuh yang keseringan gag nyantumin sumber

  6. Banyak sekali pembelajaran yang harus diambil dalam hasil diskusi dan pembedahan dalam setiap postingan di dunia maya ini. Apa lagi seperti para newbie seperti saya dalam dunia maya yang baru saya geuti beberapa tahun ini.

    Masukan yang sangat bagus, sebagai kritikan yang membagus untuk selalu berkarya dengan menggunakan hasil karya pribadi.

    Dengan mengatasi permasalahan yang kecil; maka, kita dapat mengatasi permasalahan yang besar.

    Salam

    “Ejawantah’s Blog”

  7. Yapz, banyak bgt yg seperti itu. Nggak nyantumin sumbernya. Jelas ini menyebabkan kerugian >,<


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: