Jakarta Jahat?

17Des10

Secuil Jakarta dalam hitam putih

Beberapa hari lalu saya berkunjung di sebuah kota kesekian kalinya untuk sebuah urusan, namun saya masih merasa asing terhadap kota ini, saking luar biasa besarnya dan tak bisa menyelami lebih dalam kali ya. Separuh bahkan seperempat kota ini pun tak mampu saya mengenalnya lebih jauh. Tak sama Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Solo, Malang, Makassar, Gresik, Sidoarjo, Tulungagung dan beberapa kota lain yang cuman sekali kunjungan sudah merasa mengenal kota tersebut.

Seperti Surabaya, kota metropolitan yang penuh kenangan tempat kuliah ini tentunya sudah sangat kenal dengan seluk beluk kota pahlawan ini. Dulu, sebelum saya ke kota ini, tentunya pandangan orang-orang kota ini sangat keras, banyak kejahatan di dalamnya. Banyak hal negatif yang selalu dijejali ke dalam fikiran saya oleh orang-orang sebelum saya ke kota ini, yang cukup mengkhawatirkan diri saya dan keluarga. Tapi nyatanya, tak separah itu, yah walaupun ada juga benarnya, namun tak sampai seperti itu.

Pernah suatu saat di dalam lyn aka angkotnya di Surabaya sedang menuju Pasar Turi untuk mencari mesin pesanan Om saya. Suatu tragedi hampir terjadi di angkutan itu, ada seorang pria dihimpit kakinya oleh orang lain, ternyata mereka ada bertiga. Niat mencurigakan sudah terbaca ingin merampok orang tersebut. Padahal diri saya juga sedang membawa duit lumayan banyak. Di dalam hati, sudah siap mengeluarkan ilmu karate yang masih tersisa dan melihat sekeliling mana saja bisa digunakan untuk meloloskan diri. Akhirnya, saya memilih cepat turun dari lyn itu.

Kembali lagi ke kota itu, yah kota megapolitan itu Jakarta. Gara-gara masih asing, saya pun tak bisa mengetahui jalan-jalan di Jakarta,  belum mampu mengetahui arah utara, selatan, barat, dan arah timurnya. Yang akhirnya menghubungi teman untuk menjelaskan alur angkutan umum menuju tempat yang saya tuju. Dan tak lupa pula disisipkan sms pemberitahuan, “hati-hati, jakarta itu jahat, harus bertampang sangar, kalo ndak kita akan ditipu” *kutipan dimodifikasi, smsnya sudah terhapus*.

Jadi teringat kala kunjungan di Cebu, Philipina beberapa tahun lalu ketika ada program Sit In Class di University of San Carlos. Suatu waktu kami mahasiswa yang sedang mengadakan pertukaran mahasiswa ingin mengetahui seluk beluk kota yang kita kunjungi ini dan mencari ciri khasnya tentunya. Kita pun ingin berjalan-jalan sendiri tapi tak perlu ditemani oleh pihak kampus, ingin merasakan sendiri kota ini. Namun dari pihak kampus sempat melarang kami, apalagi kalau jalan-jalannya di downtownnya, mereka sangat mengkhawatirkan diri kami orang-orang baru di kota ini, katanya banyak pencopet dan hal-hal jahat lainnya.

Akhirnya kami dengan percaya diri tetap melakukan perjalanan menggunakan jeepney, angkutan umumnya orang Philipina sejenis angkot dengan kecepatan tinggi. Alhamdulillah tak menemukan seperti apa yang dikatakan orang kampus lho, walaupun suasana padat di downtown banyak pusat pertokoan, banyak orang lalu lalang berjualan atau sekedar lewat saja yang memang bisa berpotensi aksi kejahatan dilakukan.

Atau anda cobalah berjalan-jalan ke Makassar. Apakah bisa membuktikan praduga anda tentang kota ini hanya berdasarkan berita-berita di media cetak maupun visual tersebut yang terkenal dengan aksi demo dan entah tawurannya juga. Kota yang giat-giatnya membangun ini, sampai kadang ikut merusak lingkungan bahkan situs sejarah, seperti Pembangunan Waterboom yang merusak situs Benteng Somba Opu itu. Sebenarnya kota ini cukup ramah buat anda, anda bertanya di pinggir jalan ketika anda tidak mengetahui jalan di kota ini, dengan senang hati warga akan memberitahukannya. Jadi bisa ndak kekhawatiran itu dijawab dengan tantangan berkunjung ke Makassar?

Kadang kekhawatiran itu perlu, sebagai bentuk pertanggungjawaban kita terhadap diri, tapi kita juga tentunya sudah memiliki strategi perlindungan diri ketika menghadapi masalah di jalan, atau sedang berada dalam kondisi padat yang bisa jadi potensi kejahatan muncul, secara tidak langsung pun kita mempunyai prosedur pengamanan diri, prinsip kehati-hatian, menjaga barang milik kita, dan atau mempersiapkan ilmu bela diri sedikit-sedikit atau  minimal strategi melarikan diri sekencang mungkin😀

Sama halnya keberadaan saya di Jakarta 12 jam saja kali ini, dan beberapa kunjungan saya juga sebelumnya masih dalam batas aman-aman saja, jauh dari yang dikhawatirkan teman saya itu. Bahkan lebih, saya mendapat orang Jakarta itu ramah-ramah dan baik hati. Kernet bus/metromini dengan baik dan ramah menjawab pertanyaanku karena tentang arah jalan, ibu-ibu yang duduk di sampingku saat di bus pun dengan ramahnya menjelaskan alur jalan yang perlu saya lalui, Jadi Jakarta itu jahat atau Jakarta Ramah ya?



58 Responses to “Jakarta Jahat?”

  1. Aduh keknya berantakan banget nih tulisan, tapi dipublish aja ya, daripada basi dan mengendap jadi draft tulisan tak kunjung terbit😀 hehehe😀

  2. Masih ramah bandung daripada jakarta🙂

  3. 3 sibair

    Emang si baik.. tapi kadang klo metromininya udah balapan itu loh -_- serem…

  4. iyah ris keknya bandung lebih ramah, sy belum tau juga jakarta itu ramah atau tidak, musti harus tinggal dalam waktu yang agak lama biar mengetahui, kalo sekedar beberapa hari belum akan ketahuan😀 hehe

  5. @sibair : hahaha itu hiburan tersendiri kata mantan kyai, mustinya kita bayar lebih hahaha😀

  6. Eh, Jakarta nggak pernah jahat sama aku, atau emang soalnya aku gak pernah naik angkot ya ? Atau sebenernya maksud dari postingan ini kalo kita naik angkot ada kemungkinan dijahatin ?O_o

    • saya juga insyaAllah masih aman2, mungkin belum menetap lama jadinya belum kerasa. Yah intinya sih banyak kekhawatiran atas sebuah kota, yah memang ada potensi kejahatan di situ, tapi kita tetap harus lewati dengan kehati2an🙂

  7. wah perlu hati-hati ne klo k jakarta..
    kunjungi juga blog saya mas..

  8. mas arul hijrah ke jakarta ta?? ikut nonton indonesia gak kemarin??

    • Resiko mas, kalau ada di kota besar..

    • perasaan sy bilang di tulisan sy cuman 12 jam di jakarta, jadi ngak sempat nonton…

  9. Dulu sempat berpikiran seperti itu, menakutkan. Tapi tak terasa kini sudah 5 tahun mencari nafkah di Jakarta, meski hingga kini saya tetap berpikiran Jakarta bukanlah tempat yang cocok untuk tinggal, Jakarta hanya untuk mencari nafkah. Alhasil setiap pekan saya pulang ke Bandung, tempat tinggal ternyaman menurut saya🙂

    • hmm… blum bisa membayangkan berdomisili lama di kota Jakarta, entahlah mungkin masih terasa asing aja. Semoga aman2 aja ntar🙂 enak dong mas indra, bisa pulang weekend di rumah🙂 hehe

  10. wah…. setuju tuh tantangannya… visit Makassar🙂

    • iyah tantangan nih, ada yg berani ngak… ijal juga harus siap memberikan keramahan toh😉

  11. Welkom to Jakarta oom. Walau hanya 12 jam…:mrgreen:

    • semoga nanti ngak sekedar 12 jam aja hahaha

  12. salam sahabat
    berkunjung silaturrahmi

    • salam, terima kasih kunjungannya

  13. jogja juga ramah, ramah-ramah sadis terutama kalo kena palak warung lesehan, hehe…

    • wah kalo jogja mah emang ramah2 gung, emang ada palakan juga di yogya? hmmm….. kuliner yogya itu yg paling keren hehe🙂

  14. Pandanganku jakarta Oke..tuh banyak Artis Artis Heheheh Kunjungan perdana sob,,,

    • artis? ngak mikir sy kalo itu

  15. Setiap tempat punya risiko masing-masing. Ada bagusnya kita selalu sadar, baik sadar dalam arti berani menghadapi maupun untuk tidak berani.🙂

    • iyah om, harus seperti itu, yah kalo berani siap2 bertarung, tapi kalo takut siap2 lari hehe🙂

  16. Yang penting waspada dan selalu safety mode on tiapkali naik metromini/angkot/bus dan berjalan-jalan di keramaian (pasar Tanah Abang contoh ekstrimnya). Jangan pernah memperlihatkan barang berharga, jangan bermain HP/BB di dalam metromini. Kalau di Jogja atau Surabaya kita masih bisa percaya orang yang ramah dan tak dikenal, di Jakarta mendingan dianggap angkuh dan sombong daripada dirampok.

    Mungkin saya terlalu paranoid yah, tapi kalau mengingat pengalaman pernah nyaris dipalak dan dicopet waktu masih hidup 2 minggu di Jakarta, saya memilih waspada dan lebih berhati-hati. Jakarta punya segalanya – dimana ada orang sangat kaya sekaligus sangat miskin, demikian juga…. Jakarta yang baik, sekaligus Jakarta yang jahat

    • wedeh betul2 sangat safety mas, tapi ada betulnya juga utk menyiapkan langkah berhati2 seperti itu. Saya juga sudah menerapkan seperti itu, tapi utk HP tetap online mobile hehe, tapi maklum hape jadul aja sih😀

  17. iya jakarta dah sumpek jelas aja kriminal semakin meningkat.

    • padatnya kota bisa jadi salah satu penyebab kriminal

  18. Wah di Jakarta katanya macet kalau lagi rame ya.

    • ya iya lah

  19. Jakarta macet apa ga?

    • ya ya lah

  20. 34 Harapan

    Pernahka dipalak di depan MARI, 3 orang bawa badik T_T

    • wedeh separah itu juga ya, alhamdulillah belumpa dapatki yg begitu. tapi tempat ramai begitu masa main badik? hmm

  21. Saya betah di Jakarta…tapi saya lebih betah lagi kl di Makassar.😛

    • iyah lebih enak di rumah sendiri sih😀

  22. safety first aja men!!!..xixiixi

    • yoi, siapin helm dan baju pelampung

  23. jakarta ohh jakarta…andai kau bisa menjerit

    • temannya rodes ya? ini pada mau SEO situs kampusnya ya?

  24. benar sekali, mas Arul. dan meskipun sempat mengalami kejadian tidak enak oleh HRD suatu perusahaan di sana. saya merasa Jakarta malah dekat dengan saya meski hanya dalam jangka waktu dua hari. apalagi saat merasakan Transjakarta, rasanya semua orang meninggalkan kastanya masing², melebur jadi satu, berdesakan. ada nenek² tua yang berhimpitan dengan seorang pria eksmud, tanpa adanya perasaan risih. Subhanallah🙂

    • kalo saya masih asing ghan, kalo utk ramahnya sih dapat, yah utk hal yang lain juga sedikit2 dapatlah🙂 mungkin harus berdomisili di sana dulu juga baru bisa merasakan kehidupan sesungguhnya, dan kita tidak boleh lengah begitu saja🙂

  25. Tapi.. emang kalo lihat berita di tipi, demo mahasiswa selalu berujung rusuh, dan kesannya mahasiswa sana brutal.😦

    Surabaya tetep palng nyaman buat saayaaa!😀

    • asop itu hanya sebagian koq, bisa dibuktikan lho, berani terima tantangan? hehehe
      Surabaya yah sudah menjadi rumah kedua saya🙂 sangat ngangenin🙂

  26. Salam kenal mas,
    enakan hidup dikampung, adem…

    • iyah benar banget enakan di kampung adem ayem, salam kenal balik

  27. jakarta, seperti halnya kota2 lain di dunia yang sudah mengarah ke kota megapolitan, mas arul. selalu saja menyajikan banyak peristiwa; ada ketragisan hidup, ironi, kekerasan, tapi pada saat yang lain menjanjikan syurga buat mereka yang diuntungkan.

    • pak sawali benar sekali, pandai-pandainya kita memanfaatkan kesempatan dan juga berhati2 utk setiap langkah kita🙂

    • Setuju. Akupun waktu SMA pernah ditawarinpindah ke Jkt, ngikut Ortu yg sdh duluan tinggal disana. Tp aku gak tertarik krn dr sisi psikologi, aku merasa bahwa Jakarta terlalu melelahkan.

      Sampai sekarang pun, kalo suami berandai2 bgmn kehidupan kami jika dia dipindah ke Jkt, aku selalu ogah. Diajak berandai-andai aja udah ogah! Hehehe…

  28. 51 Yulia

    Walaupun belum sebagai warga tetap Jakarta, aku dah sering melanglang buana di kota besar ini menggunakan kendaraan umum khususnya busway. Cz klo naek metromini, kopaja, dll, msh blum brani n blum diijinin ma kakak, takut ada apa-apa….
    Klo slama aku hidup disini c, baru sekali kecopetan itu pun ditempat keramaian di Tanah Abang n yg ngalamin bkn aku, tp kakakku. Klo akunya, so far so good, msh aman terkendali gk ada aksi copet mencopet dsb (jgn sampe). Cuman, untuk perasaan was-was, slalu ada n gk ilang2.

    Tapi tetep mas, Balikpapan n Surabaya is the best🙂

  29. sudah dua kali ke makasar, rul, aman-aman aja

    di jakarta, meski sempat lihat penembakan, penodongan dan penganiayaan depan mata, tapi nggak jadi trauma. karena sudah jadi kota pilihan, ya harus dijalani.

  30. Numpang woro-woro….Terjelek dari yang paling jelek tapi tetep buatan anak bangsa, “The Jampang” kaosnya Jakarta bisa jadi alternatif pilihan kaos buat kamu-kamu, bisa buat oleh-oleh dari Jakarta, bisa buat nimpuk orang yang kamu cintai dengan memberikan kaos ini, silakan kunjungi http://www.thejampang.com.

  31. wah, kaaaak…. ak sudah tak sanggup lama2 deh netep di jakarta.. ckckc..jakarta dah ga jelas bentuknya,, macetnya ga kira2.. =((

  32. Saya bukan orang Jakarta, tapi pernah menginjaknya dan sebenarnya Jakarta itu keras. Wong saya sendiri aja ngga betah ko’!

  33. menurut saya belum tentu semua perkataan org itu benar…
    jakarta itu ramah kok….

  34. 57 tablet advan

    jahaaaattttt
    goo.gl/F1Xu81

  35. jahaat bangeeeett


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: