Pemimpin yang Tidak Peka

08Sep10

Bahasan di posting kali ini hanya menyikapi terhadap sikap ataupun bisa dikatakan kebijakan pemimpin-pemimpin kita sebagai tinjauan seorang rakyat biasa memandang atasan eh pemimpinnya. Jadi mohon maaf saja jikalau hanya dari satu sisi saja saya memandang persoalan ini.

Mari kita menyimak kejadian beberapa saat terakhir yang menguras emosi rakyat menanggapi pemberitaan entah di media massa mainstream atau media jurnalisme warga. Banyak protes yang terjadi karena ucapan, tindakan ataupun kebijakan dalam melakukan sesuatu atau menyelesaikan permasalahan kenegaraan maupun kedaerahan.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan menyambut lebaran 1431 H ini mengedarkan kartu lebaran beserta fotonya, yang konon bernilai 1,7 milyar tersebut. Di saat rakyat sedang mengalami kesusahan, namun seorang pemimpin dengan seenak saja mengeluarkan kebijakan kartu lebaran tersebut.

Pidato sang Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono terkait sikap Indonesia atas konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia yang berawal dari penangkapan 3 petugas Dinas Kelautan dan Perikanan setempat di Riau, namun awalnya bukan hanya dari permasalahan tersebut, masalah yang cukup berlarut-larut yang semakin saja diasah setajam parang oleh media massa dan sejumlah oknum. Pernyataan yang seakan-akan tetap membela Malaysia dan posisi Indonesia tidak kuat , semakin membuat sebagian rakyat tidak puas dengan pidato tersebut, padahal SBY bertujuan meredakan emosi bangsa Indonesia (dan mungkin juga bangsa Malaysia) atas konflik yang terjadi ini.

Kebijakan pembangunan gedung baru buat wakil rakyat kita membangun dengan dana yang sangat tinggi 1,6 trilyun rupiah dan fasilitas yang WAH sekaliber kelas hotel ini dengan berbagai alasan yang mengemuka seperti penambahan staf ahli, gedung yang sudah miring, fasilitas keamanan gedung, untuk dijadikan obyek wisata (alasan ini yang membuat saya berfikir, kantor tempat beraktivitas dijadikan tempat wisata, entahlah sekarang semua tempat bahkan bencanapun dijadikan obyek wisata di Indonesia) serta alasan-alasan lain yang belum masuk di akal rakyat Indonesia. Melihat kondisi bangsa ini yang belum sebagian besar belum sejahtera dengan permasalahan ekonomi yang masih cukup tinggi, mengeluarkan kebijakan seperti ini menjadi ironi tersendiri bangsa ini.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh kejadian di negara ini menjadi konsumsi yang debatable di publik, mulai dari hal tingkat pusat sampai dengan ke daerah. Dan semua ini menjadikan emosi bagi rakyat Indonesia, entah senang, berduka, dan ikut bertarung wacana sesama mereka.

Kebijakan pengadaan kartu lebaran Gubernur Jabar adalah hal yang lumrah, bisa anda bayangkan berapa besar duit yang digelontorkan untuk memasang billboard di tengah kota oleh para kepala daerah dengan kampanye dengan embel-embel iklan layanan masyarakat di mana foto sang kepala daerah ikutan nangkring di sana. Belum lagi publikasi dengan foto sang kepala daerah di berbagai media. Itu nilainya lebih dari sekedar kartu lebaran 1,7 milyar rupiah itu. Yah ini terjadi karena sang kepala daerah kurang sensitif alias tidak peka terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Kebijakan yang bisa jadi bumerang bagi dirinya sendiri, apatah lagi disangka akan menjadi sokongan yang kuat untuk pemilukada selanjutnya. Akhirnya kartu lebaran itu jadi pisau bermata dua.

Atau demikian pula dengan pidato SBY yang kurang ngena alias tak menyentuh hati rakyatnya sudah geram dengan tingkah Malaysia yang asal caplok entah itu wilayah ataupun kebudayaan Indonesia. Seharusnya (pandangan saya dalam kapasitas sebagai rakyat Indonesia) memberikan ketegasan dalam pidatonya tak memberikan kesempatan kepada rakyat Indonesia untuk berfikir-fikir dan atau memandang sebelah mata pidato SBY tersebut. Di mana politik pencitraan SBY selama ini yang disangka paling jago dan manjur untuk bangsa ini, yang menjadikan beliau mendapat kembali posisi tertinggi di negara ini.

Demikian halnya dengan pembangunan gedung DPR baru, sudah sangat lumrah, namun moment yang tidak tepat, kurang pekanya orang-orang di atas terhadap moment dan kondisi masyarakat saat ini yang sudah sangat kritis.

Dari ketiga contoh di atas dan beberapa kebijakan kasuistik yang lain, kesemuanya ini terkait dengan kesensitivitasan pemimpin yang juga berelevansi dengan teknik  pengemasan komunikasi untuk dikonsumsi publik  memberikan pencitraan yang dapat mengundang simpati rakyat Indonesia. Seandainya sang pemimpin itu dapat berfikir “What people want to this case” tentunya kebijakan, ungkapan, penjelasan dan perilaku pemimpin akan disesuaikan.

Kepekaan yang dimaksud di sini bukan berarti ada apa-apa langsung curhat ke rakyat, tapi kemasan yang lebih elegan, tegas dan berwibawa sebagai pemimpin. Sebagai contoh Gubernur Jabar bisa saja tetap menggunakan kartu lebaran tersebut dengan tampilan yg lebih elegan, tanpa dominasi fotonya. Percayalah bahwa selembar kartu lebaran dengan foto secuilpun yang menerimanya pasti bahagia.

Kepekaan pemerintah atau pemimpin bangsa ini terhadap perilaku masyarakat tentunya dapat mengarahkan rakyat ini ke satu tujuan bersama yang akan mudah terwujud, karena dengan kepekaan rakyat akan merasakan perhatian pemimpinnya dan pemimpinnya memberikan influence (pengaruh) kepada rakyatnya.

Tapi apakah semua itu strategi pemimpin buat rakyatnya sendiri? entahlah yang jelas ketidakpekaan pemimpin bangsa ini dalam mengeluarkan kebijakan masih dominan.

*ilustrasi gambar : http://www.simoneharvey.com



12 Responses to “Pemimpin yang Tidak Peka”

  1. hahaha ngoceh politik seadanya sebelum lebaran… ah saya terkadang telat menanggapi kasus di negara ini…😉

    tapi itu semua cuman terlintas aja dalam fikiran untuk dituangkan dalam blog ini🙂

  2. asyik bang😀

  3. Semoga tulisan ini menjadi kado ultah buat pak beye🙂 9/9/10

  4. bukannya ga peduli, tp sekarang merasa lelah atas permasalahan negeri ini. saya yakin sebenarnya para pemimpin disana m’punyai konsep yang lebih bagus ketimbang saya atau rakyat biasa yang ala kadarnya untuk membangun indonesia yang lebih baik,. karena disana ada pakar ekonomi, hukum, dll.tp kenapa belum dilakukan? itu yang menjadi tanda tanya bagi sy.. kepentingankah? atau takut sama ancaman,. aku sama sekali tidak mengerti, karena saya merasa diombang-ambingkan dengan ketidakjelasan…

  5. mungkin pemimpin jaman sekarang kurang bisa “mendengarkan” amanah dari orang yg membuat dia bisa jadi pemimpin.. berharap abis lebaran ini mereka bisa mendengarkan dan menjalankan amanah yg diberikan padanya…

  6. Begitu banyak persoalan di Negeri ini, begitu banyak PR yang harus dikerjakan. Pemerintah dalam hal ini Presiden tidak bisa bekerja sendiri. Kalau staff di bawahnya melenceng dari aturan bersihkan saja, karena ini merupakan virus yang akan menjangkiti semua.

  7. Iya betul sekali, masih banyak pemimpin yang kurang tegas di negeri ini. Yang paling saya sayangkan yaitu renovasi gedung wakil rakyat yang jelas-jelas masih layak pakai.

  8. kompleksnya masalah yang dihadapi bangsa inilah yang membuat segalanya terasa tidak ada kemajuannya, sebab yang memperbaiki kondisi ini hanya beberapa orang sedangkan yang merusaknya ratusan ribu orang sehingga tujuan kita untuk menjadi bangsa yang makmur agak sulit tercapai…….

  9. Senang sekali membaca artikel kepemimpinan seperti tulisan diatas… terima kasih…
    salam

  10. bagus artikelnya

  11. Kata PEKA hanya untuk seniman, wanita, penulis dan orang yang sedang patah hati. Tidak untuk pemimpin…………..

  12. artikel yang menarik ga ad habisnya membahas ttg itu🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: