Tarwih dan Hasrat Seorang Anak

01Sep10

Entah ini tarwih ke berapa saya di masjid ini, masjid termegah yang ada di kota ini. Sudah sejak saya lahir di kota ini menjadi terbesar dan sampai sekarangpun tak ada yang mampu menyaingi kebesaran dan kemegahannya. Tahun ini merupakan tarwih untuk pertama kalinya saya di masjid besar ini tapi itupun baru sempat bertarwih di hari ketiga Ramadhan. Walaupun sudah banyak kali tarwih di masjid indah ini, saya masih saja selalu berdecak kagum atas pahatan kaligrafi yang tersayat indah di kayu yang menempel erat di dindingnya.

Malam ini yang ke 20 tentunya, sebelum besok orang akan beramai-ramai ittikaf bareng menunggu datangnya malam lailatul qadar yang katanya jatuh di malam ganjil kesepuluh terakhir Ramadhan ini.

Ada yang selalu menjadi fokus perhatian saya, buka dari ceramahnya, namun dari aktivitas bertarwih seorang anak. Sebenarnya saya mengenal anak itu, namun sebaliknya dia masih mengenal saya ngak ya? Yah ndak perlu tau bagaimana saya mengenal anak itu, cukup anda tau kalau saya memperhatikan tingkah laku anak itu.

Satu hal yang menyebabkan saya memperhatikan anak itu adalah karena dia selalu duduk dan shalat di samping orang tuanya, tidak sama dengan anak-anak lain yang bertaburan dan bikin kegaduhan. Biasanya anak kecil setelah shalat Isya langsung kabur keluar masjid dan mencari temannya bermain, bahkan bermain petasan yang tentunya bikin jantungan. Namun tidak seperti dengan anak ini, tinggal serius memperhatikan ceramah yang mengisi tauziah tiap selesai isya.

Eh saya memperhatikannya karena membayangkan diri saya sebagai anak itu banyak tahun silam, ketika saya seumuran dia. Saya juga dahulu demikian, selalu duduk di samping bapak bersama saudara saya. Kami duduknya dipisah oleh bapak, satu di sebelah kanan satunya di sebelah kiri bapak. Demikian pula anak itu, dia duduk terpisah dengan adiknya, dipisah dengan bapaknya berada di tengah mereka berdua.

Ah persis banget ketika saya masih merasakan tarwih bareng bersama bapak, dan saudara saya waktu itu. Hal lain yang saya membayangkan dia adalah diriku di waktu kecil adalah dia selalu memperhatikan sekelilingnya, melihat setiap titik dari masjid ini, melihat setiap wajah orang-orang yang mendengarkan ceramah tarwih. Ah pokoknya persis, titik.

Satu lagi bahwa posisi shafnya selalu berada di shaf kedua, maklum masjid ini walaupun besar, namun jamaahnya juga besar. Pernah sih saya melihat sekali berada di shaf belakang, mungkin dalam keadaan terlambat (masbuk).

Namun malam ini anak itu terlihat sendiri, berada di samping salah satu tiang masjid megah itu. Saya menengok ke depan dan beberapa arah mencari keberadaan bapaknya dan saudara lelakinya yang lain. Ternyata masih tetap di shaf yang sama di tarwih-tarwih sebelumnya, shaf kedua di sebelah kanan imam. Namun sang bapak tetap menengok ke belakang memperhatikan anaknya tersebut.

Saya pun hanya bisa menebak, anak tersebut ingin keluar dari zona yang sekarang dilalui, ingin sendiri dengan kata lain bebas dari pegangan tangan orang tuanya. Hasrat ingin mengespresikan diri yang tidak melulu berada di samping ketiak orang tuanya. Itu hanya tebakan, dan mungkin saja itu persis yang dia alami atau pernah juga dirasakan oleh teman-teman sekalian.

Memang anak seumuran dia, ingin mencari jati diri walaupun tidak selevel orang yang sedang puber, namun mereka ingin bersama teman-temannya entah bermain atau bercerita tentang apa yang selalu diobrolkan yang sepantas dengan umur mereka.

Namun anak seumuran mereka tidak lantas dibebaskan begitu saja, dibiarkan ke manapun dia inginkan, karena salah satu pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan seorang anak adalah teman sepergaulan. Yah anak-anak seusia mereka sepantasnya tetap diamati dan dijaga, tapi bukan dengan genggaman tangan erat, namun genggaman tangan yang bersahabat😉

Yang menjadi pelajaran dari pengamatan saya itu adalah bagaimana mendidik anak. Bukan berarti saya di sini ahli atau tau banyak tentang mendidik anak, lah wong belum punya anak apalagi nikah. Hanya saja terbelesit dalam akal dan nurani saya bahwa memang benar kata orang-orang peliharalah anak seperti sedang bermain layangan, ketika ingin bebas, talinya diregangkan, namun ketika sudah akan jatuh ditarik, dieratkan kembali. Artinya? Kalianpun sudah pada tau bukan….

Mendidik anak itu, sama halnya menjadikan dia sahabat. Seperti dalam bukunya Dee – Filosofi Kopi “”Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring”.

Isn’t it?

*Ditulis malam ke-20 Ramadhan, baru sempat dipublish sekarang*

*ilustasi gambar : http://santriw4n.wordpress.com/*



19 Responses to “Tarwih dan Hasrat Seorang Anak”

  1. akhirnya posting juga setelah ngendong beberapa hari, hanya sekedar bercerita saja hal yang ringan2😉

  2. sahabat yang menjadi penyelamat di hari akhir nanti..🙂

  3. Arul, cerita dan filosofinya ngena banget. Cool post!!!!

  4. Fotomu bagus Arul…ini di masjid mana, terlihat megah dan bersih sekali.
    Saya membayangkan anak-anak itu seumuran SD kelas akhir sd SMP..masa yang buat anak laki-laki masa ingin melepaskan diri namun masih takut-takut.
    Bahkan saat anakku mulai SMP, oleh psikolog diberi tahu, bahwa setelah umur 12 tahun anak lelaki sebaiknya lebih dekat kepada ayahnya.

    Hal ini beda dengan anak perempuan, yang lebih suka menempel ke mama nya, bahkan sampai besar..menjadi sahabat, walau kadang tetap bermain bersama teman-temannya.
    Genggamlah tanganku, jangan terlalu kuat, karena masih perlu bernafas…namun jangan terlalu ringan agar tak terlepas….

  5. astaghfirullah…

  6. Aku malah sering tarwih ma teman-teman. Pernh muter-muter kampung untuk nyari tempat baru buat shalat. Eh, pas nyampe mesjid satunya, dah sholat. Balik ke mesjid awal, dah shalat juga. gak jadi tarwih! Ayyah.

  7. mantap mas artikel nya,,,,skalian bwt inget yg jarang traweh,,,

  8. 8 sibair

    ahhh saya belom pernah nyobain masjid besar yang disana bang😀
    eh nanti tpc iktikaf bareng di masjid agung😀 kesini aja bang :)) hhahaa

  9. Pelajaran yang berharga… kelak semoga aku bisa mendidik anak ku nanti…

  10. semoga hikmah ramadhan, termasuk shalat tarawih, bisa terus menyatu dalam jiwa kita secara istiqamah, mas arul.

  11. Satukan tangan, Satukan hati
    Indahnya silaturahmi
    Di hari kemenangan kita padukan keikhlasan
    untuk saling memaafkan
    Selamat Iedul Fitri
    Mohon Maaf Lahir Batin

  12. salam kenal bro ;D

  13. cerita ringan yang mengena…

  14. *membayangkan k’arul waktu kecil*:mrgreen:

  15. wah kecilnya alim gitu apalgi gedenya yah…

  16. udah bisa jd bapak, bang arul!

  17. Jarang ada anak yang mendengarkan ceramah di masjid, saya salut dengan anak kecil itu. Iya betul sekali mas, memang anak-anak mempunyai dunia sendiri dunia yang penuh keceriaan bersama dengan teman-temannya. Kita sebagai orang tua harus selalau mengawasi dan mengontrol.

  18. jadi teringat masa lalu,semangat ikt tarawih krn bisa kumpul n maen ma temen2😀
    ga pernah dengerin ceramah tp asik maenan sendiri.

  19. alangkah bahagianya yang jadi orang tuanya punya anak soleh eperti arul.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: