Jakarta

15Agu10

Yah ada kesempatan beberapa waktu lalu berkunjung ke ibukota negara Indonesia ini untuk kesekian kalinya, dan lagi-lagi hanya untuk keperluan tertentu dan tidak sempat lagi untuk menikmati megapolitan ini secara mendalam dan meluas, dan sampai sekarang pun saya masih belum menguasai jalan-jalan di Jakarta tentunya.

Berkunjung ke Jakarta waktu itu disertai dengan pemberitaan di TV bahwa Jakarta lagi macet parah dimana jalur busway lagi disterilkan dan tentunya wacana pemindahan ibukota dari Jakarta.

Wajah kemacetan tetap menghiasi kota ini, hal yang lumrah di sebuah ibukota negara, walaupun dampaknya bisa membuat stress selalu dihinggapi dengan kepadatan kendaraan maupun kepadatan polusi yang selalu mengancam nyawa perlahan-lahan, lambat tapi pasti.

Kalau di kota-kota kecil, pemerintahnya berpikir dan merumuskan strategi bagaimana membangun kotanya sehingga tingkat perekonomian maju dengan bangunan toko, pasar, dan pusat-pusat perekonomian di mana-mana, Sedangkan di Jakarta pemerintahnya sibuk mengatur dan menata kelebihan pembangunan yang ada. Perbedaan yang sepantasnya ada, ya ndak?

Eh bukan hanya kemacetan kendaraan bermotor, namun juga kemacetan manusia juga terjadi, terutama di terminal keberangkatan Soekarno-Hatta (Soetta), apalagi yang terjadi di terminal non internasional, bejibun orang tumpak blek di sana. Namun kadang ada juga tidak tau-menahu arti antri itu selalu menyerobot. Padahal dalam persepsi saya, orang-orang di Jakarta lebih tau arti antri karena mereka lebih pintar, lebih sadar karena setiap saat disuguhi dengan antrian, tapi mungkin karena tingkat stress yang cukup tinggal sehingga mereka melakukan hal tersebut kali ya. Untungnya kejadian kemaren sehari setelah terjadinya flip listrik 1,7 detik yang mengakibatkan penumpukan manusia luar biasa di bandara, sehingga antriannya sedikit lebih teratur.

Untuk masalah pemindahan ibukota, pendapat JK mungkin ada benar bahwa memindahkan ibukota sama saja dengan memindahkan kemacetan jikalau nantinya terjadi perpindahan ibukota tanpa adanya sistem transportasi integralistik, terpadu, dan rapi di ibukota yang baru kelak. Atau tidak perlulah memindahkan ibukota, cukup dengan memperbaiki sistem transportasi yang ada sekarang, tapi jangan perbaikan itu (baca : penggunaan busway) menimbulkan konsentrasi kepadatan kendaraan baru. Perlu sistem transportasi massal, cepat, nyaman, ramah lingkungan, serta terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Pemindahan ibukota jika dipertimbangkan cost & benefitnya lebih baik dengan perbaikan sistem transportasi.

Namun sayang ke sana, cuman ada kerjaan jadi tidak sempat jalan-jalan, tidak sempat bersua kangen dengan sahabat-sahabat dan satu yg tidak sempat juga berfoto-foto ria… *halah*… fotonya yg di atas aja dari jalan tol  tengah kota menuju bandara😀

Ah sudah cukup sekian saja saya menulis di antara banyak gejolak pemikiran di kepala, maklum saya ini bukan orang Jakarta, cuman kebetulan beberapa hari di sana melaksanakan tugas. Nanti malah saya sok tau dibanding orang Jakarta asli yang sudah lumutan tinggal di Ibukota itu. Tulisan ini cukup sebagai pembuka untuk menulis hal yang remeh temeh lainnya, hal-hal yang tidak penting, yang tentunya membuat saya berpikir dan sampai saya menuliskan dalam blog ini.



18 Responses to “Jakarta”

  1. walopun sudah sangat padat, dan macet dimana2, teteeep aja banyak orang2 urban yg datang ke jakarta nyari rejeki. kalo gini aku bersyukur hidup di surabaya masih lumayan longgar.

  2. Setiap kali ada lowongan pekerjaan yang cocok buat saya kok tempatnya selalu di Jakarta. Penyerapan tenaga kerja di daerah kayaknya memang kurang

  3. @fahmi : iyah mas gitu deh ibukota, pusat segalanya.. tapi surabaya ancene everlasting city lah pokoknya😉 hehehe
    @dony : iyah mas don, seharusnya menciptakan lapangan pekerjaan di daerah ya, tapi tetap pusat di jakarta keknya lebih menjanjikan dan ketat jg serta penuh tantangan😀 hehe

  4. Sistem transportasinya seperti Maglev? Wah jalan2 kesana lagi kalo dah jadi aja transportasi teraturnya ..

  5. ide pemindahan ibukota itu sudah ada bahkan sejak jaman pak karno lho pak dhe arul.. kalo kekeh dengan pendapat JK rasanya ndak akan ada solusi apa-apa..

    macet adalah bagian dari kehidupan warga ibukota yang dinamis.. :))

  6. @draguscn : iyah bisa jadi, hehe tapi entah lah semakin byk ide tanpa direalisasikan yah jadi debatable aja😀
    @budiono : pendapat JK hanya sampai di “memindahkan ibukota sama saja dengan memindahkan kemacetan” sisanya yah pendapat saya.
    Emang dari pernyataan itu tidak menelorkan solusi koq😛 hanya membayangkan saja ke depannya😉
    yah sepakat emang mas, dimanapun ibukota negara manapun yah tetap macet bos cuman kadarnya aja beda dan itu memang wajah ibukota😉

  7. Saya kangen banget sama Jakarta… setelah 2,5 bulan meninggalkan kota metropolitan tercinta. Meski macet dan kriminal nya tinggi, gua tetap suka sama Jakarta🙂

  8. nice article gan…
    salam hot selebritis

  9. ada yg bilang 60 % APBN saat ini cuma muter di jakarta..jadi ya percuma kalo pindah ibukota (pusat administrasi) tok..jadi kaya US yg dari new york pindah ke washington DC,, ya new york nya tetep ja rame bin sesek.. jadi ya bagusnya lebih mengutamakan pemerataan daerah baik infrastruktur,transportasi,lapangan kerja,dll

  10. MERDEKA!!!
    salam hangat berita hari ini

  11. Bagi saya Jakarta itu tempat ketemu temen temen, tempat ketemu saudara, tempat untuk singgah sementara, tapi yang jelas bukan untuk tempat bekerja dan hidup selamanya disana😀 belum membayangkan dan tidak mau membayangkan, saya sudah cukup bahagia di Surabaya, dan masih ingin menaklukkan Surabaya dulu, baru luar negeri, hehehehe *ngarep kejauhan*😀

  12. pemikiran yang kritis. btw, met ibadah puasa mas..

  13. siip dah gan…
    salut gan…
    salam kisah malam

  14. 14 b43r

    beuh emang jakarta tuh… -_- udah macet,orangnnya pada egois semua :d hahaha

  15. ngomongin ibukota gag ada abisnya pak..:)

  16. 16 iskar

    coba geser sedikit ke arah Depok dan sekitarnya….

    manteb….. masih banyak yg hijau2 apalagi kalo mampir ke hutan UI…..

    maknyuzzzzz ditengah hutan beton ibukota

  17. @iskar : halo pak iskar, wah lama ndak bercakap2 di kolom koment😉 wah coba ketemu ya di jakarta.. pasti asyik… kapan2 deh😉

  18. Arul telah kembali menulis..betapa senangnya.

    Ya tulislah yang remeh temeh aja, yang tak membuat alis berkerut, anggaplah seperti cerita sehari-hari, supaya tetap bisa menulis.
    Saya akui, tulisanku juga cuma remeh temeh, yang penting terus menulis ya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: