Oknum

03Apr10

Kesalahan berfikir dalam beropini

Sampai hari ini kasus Gayus Tambunan (bukan Gayus Lumbun Anggota DPR RI yang dulu anggota Pansus kasus bailout Bank Century) masih marak dibicarakan dan mungkin saja hari ini sudah pamuncaknya, karena telah tertangkap oleh aparat polisi. Selanjutnya isu ini akan ditinggalkan dan memunculkan isu lainnya yang lebih panas dan heboh. Entah siapa yang sering bermain dalam isu ini, namun memang terlihat sedang terjadi perang isu entah mau menenggelamkan isu lainnya, atau mengangkat isu lainnya, ingin menjebak ini dan itu, serta semuanya itupun hanya sebatas opini pribadi.

Setelah membaca opini dan tulisan terkait kasus ini, saya mencoba membuat pandangan sendiri berdasarkan pola pemikiran dari pemberi opini berita kasus penyimpangan pajak. Ada banyak pernyataan bias selama terjadinya kasus ini, menjadikan beberapa bagian terlihat overgeneralisasi bahkan terlihat ada beberapa juga pernyataan yang keluar dari fokus kasus ini.

Kesalahan berfikir atau ngawur dalam artian sederhananya sering terjadi dalam fragmen kehidupan kita. Baik itu disengaja ataupun tidak, kesalahan berfikir atau Fallacy berasal dari bahasa Yunani dan Latin yang berarti ‘sesat ’. Fallacy didefinisikan secara akademis sebagai kerancuan  yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja.

Salah satu kesalahan berfikir yang terjadi dalam memandang kasus ini adalah yang dikenal dengan nama Fallacy of dramatic instance (FoDI) atau overgeneralisasi. Istilah dapat diartikan sebagai berikut :

Fallacy of dramatic instance (FoDI) berawal dari kecenderungan orang untuk malakukan over generalization, yaitu, penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general/umum.

Memang kesalahan ini akan menjadi sulit dibantahkan dengan cara mengumpulkan argumen-argumen lain misalnya pengalaman tetangganya juga pernah cerita kasus demikian, akhirnya dengan hanya beberapa kasus telah disimpulkan bahwa di DJP itu terjadi penyimpangan pajak. Penggunaan istilah oknum menjadi salah satu yang tepat dalam menanggapi permasalahan ini. Salah satunya adalah dengan kalimat “Oknum pegawai pajak yang melakukan penyimpangan pajak, harus ditindak”.

Salah satu contoh pemikiran dan gerakan sehingga terjadi kesalahan berfikir adalah gerakan untuk memboikot membayar pajak. Perlu kita ketahui bahwa yang melakukan tindak kejahatan tersebut hanyalah oknum, dan bisa jadi ada beberapa oknum lain, yang tentunya tidak untuk mengeneralisir semuanya. Kesalahan FoDI.

Contoh lain kesalahan berfikir untuk masalah Gayus ini adalah ketika yang disoroti adalah penyimpangan pajak, namun orang-orang mengatakan bahwa “kasus century yang patut dulu diselesaikan baru kasus penyimpangan banyak ini”. Nah seperti itu juga terjadi bias, seharusnya dan sepantasnya kedua kasus ini diselesaikan, bukan mana yang duluan. Kadang kita tidak fokus dalam sebuah permasalahan, namun yang dilihat adalah permasalahan lain.

Atau contoh lagi “Kenapa kita sibuk-sibuk ngurus pornografi, tapi masalah HAM aja tidak terselesaikan”. Kita sedang membahas satu fokus tapi dialihkan ke fokus lain.

Walaupun tidak menjugde DJP, namun demikian tetap harus ditindak oknum tersebut seperti pepatah mengatakan karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Bagaimana menurut anda?

Ilustrasi : http://www.smokeback.com



18 Responses to “Oknum”

  1. wakz posting ini ditulis saat Gayus ditangkap, telat banget publishnya.
    sekalian sy belajar utk tidak melakukan kesalahan berfikir, tapi kadang kesalahan berfikir ada gunanya lho…
    apakah di sini saya melakukan kesalahan berfikir? hmm

  2. hmmm begitu tajam lidah media masa yang menyayat dan memasak fokus pikiran kita untuk suatu isu/topik yang masyarakat belum tahu persis kebenarannya. pemberitaan juga sering tidak mencerdaskan, tapi menggiring publik untuk sebuah justifikasi ke suatu objek. contoh saja Susno yang sebelumnya dicemooh karena kasus Bibit-Candra dan Century, sekarang malah banyak yang memberikan pujian karena pengungkapan kasus yang sudah menjadi rahasia umum soal makelar kasus…

    hmmmm????mending lihat birding saja rul, ditambak jadi tenang, ngobrol sama penjaga tambak soal tangkapan udangnya hari ini yang disiapkan buat uang saku anaknya…tidak ada kecurangan disini, mereka jujur dengan alam, begitu pula sebaliknya…

  3. @satrio : wah bagus juga idemu bro, kapan liat birding di makassar? ayok…. hehee

  4. tulisan pertama setelah menjadi seorang sarjana😀

  5. Setuju. Intinya harus fokus ke satu masalah dulu. Perihal ga bayar pajak, saya malah merasa kasihan ke Ditjen Pajaknya.😀 Jangan2 ini malah dijadikan momentum sebagai “alasan ga bayar pajak” oleh orang2 yang niatnya emang pengen ngemplang pajak.😦

  6. sori bro, salah tulis bukan “liat birding” tapi “birding” aja…

    wah pingin banget birding di Wallace, dari Taloud sampai Rote, bakalan keren pastinya

  7. Inductive reasoning, sesuatu yang khusus digeneralisasi ke semuanya, itulah sebabnya matematika mengajari kita tuk selalu berpikir deduktif & mengharamkan berpikir induktive karena berpikir induktive sering menimbulkan fallacy seperti yang kamu tuliskan

  8. 8 Nurie FN

    Bginilah org yg habis cuti menulis, skali nulis langsung tajam2.. hahaha..
    Miris juga melihat peran media yg begitu besar kini..mengupload isu sampai segitunya, memfokuskan selama bbrp minggu, membiaskan, kemudian mencari berita lain yg lebih dahsyat utk ditonton masyarakat.. Benar2 praktek thd teori fallacy / kesesatan dalam dunia hukum yg dipakai lawyer utk memenangkan kasus persidangan di negara Civil Law.. kadang sampai berfikir siapa sih bos2 di belakang media, begitu hebat peran mereka menguasai pemikiran masyarakat.. Apa yg ingin mereka menangkan, apa tujuan mereka? mereka kini lebih berkuasa di negara kita.. daripada presiden, drpd anggota DPR, tapi saya berharap mereka punya tujuan besar utk menangkap dan menghukum koruptor di negara kita supaya sedikit2 demi sedikit pejabat ketakutan menerima uang selain gaji dan tunjangan..hahahaa…

  9. pernah baca yang lebih kumplit di blognya fertobhades

  10. ya..kesalahan dlm penarikan kesimpulan yg digeneralisasi tak jarang terjadi..perlu menelaahnya dari pendekatan deduktif atau induktif…ketika bicara fenomena sosial ekonomi yg tak mudah diukur…maka sering dijumpai adanya kesalahan berpikir dan berkesimpulan…misalnya hemat itu bagus…namun bisa menjadi paradoks ketika semua penduduk dalam kurun waktu cukup panjang berhemat dengan mengurangi pengeluaran konsumsinya,,,apa yg bakal terjadi pd fenomena perekonomian?…pasti pertumbuhan ekonomi melambat diikuti dengan bertambahnya pengangguran dst….

  11. 11 akbareza

    sepakat bang dengan overgeneralisasi yang di ungkapkan di tulisan di atas..
    sepakat juga ama penyelesaian masalah century dan gayus bukan bicara soal yang mana yang mesti diselesaikan duluan karena 2 dua adalah masalah yang harus diselesaikan, idealnya bersamaan.

    soal pajak, nampaknya opini publik skrg bener2 makin kebentuk lantaran media2 pesenan (no offense) nan ngawur. DJP=sarang korup..
    sabar yang JAK!^^

  12. blue suka gaya tutur artikelmu,kawan
    p cabar
    salam hangat dari blue

  13. keren bro artikelnya
    salam kenal

  14. kalau gerakan membayar pajak benar2 mampu menghapuskan pajak…apa jadinya indonesia ya? yang skr aja pajak ditarik tapi blom mampu membangun secara keseluruhan *dengan dalih pajaknya banyak di korupsi* tapi tetep aja kan?😛

  15. dasar ya pemerintah.. ntar muncul problematika apalagi ya? trus yang century kelanjutannya gimana lagi itu??? dasar…….
    salam kenal mas….

  16. 4 Siddiq Basid : hahaha baru sempat nulis diq lagi…😀

    5 Asop : Intinya semua masalah harus diselesaikan…😉

    6 agussatriyono : ayok.. kapan? hehehe

    7 Aria Turns :wah orang matematik sudah ngomong nih😉 iyah betul banget kita harusnya deduktif bukan induktif😉 dan selalu jadi alasan pembenaran orang2 dengan mengambil kesimpulan yang setengah2 matang.

    8 Nurie FN : hahaha begitulah nurie entah pengen nulis lagi aja.
    ternyata kita sepemikiran nurie, namun kita hanya penonton dibalik itu semua… dan tentunya rakyat semakin bingung dengan permainan teori fallacy yg digunakan oleh elit2 partai untuk mendukung entah juga menjatuhkan.
    namanya demi kekuasaan kali yah semua itu dilaksanakan.. makanya saya menulis seperti ini biar kita tidak ikut terbiaskan dalam konflik2 mereka.
    anyway keknya saya perlu banyak belajar tentang fallacy sama dirimu😉

    9 budiono : iyah boz, itu fallacy dijelaskan secara gamblang, kalo saya hanya menilik dari kasus gayus tambunana bro…

    10 sjafri mangkuprawira : wah pak prof ngomentar di blog saya🙂
    wah contoh paradoks yang kadang kita tidak sadari prof. Permainan kalimat/kata membuat kita kadang terpengaruh makanya saya menulis seperti ini biar tidak bias😉

    11 akbareza : saya blum tau ya, media itu pesenan apa ngak, yang jelas kita mustinya tau kalo berita2 itu tentu ada biasnya, lah wong orang ngomong aja kadang berbias ke mana2 tidak terselesaikan masalahnya dulu…

    12 bluethunderheart : makasih, kabar baik aja nih…

    13 iwan : salam kenal jg, makasih ya

    14 Ria : hehehe, saya tidak membahas masalah pajak sih, yang jelas permasalahan ini harus selesai….😉

    15 arfi : salam kenal jg, nah itu yang harusnya dikawal sama media dan masyarakat… dan kita hanya seperti penonton yg diombangambingkan ke sana kemari sama elit2 pengatur berita dan isu di negara ini😉

  17. wah menarik nih. jadi inget tulisan gunawan rudy yang jdulnya “sesat logika dalam berpikir”, ehmm.. atau “sesat berpikir dalam logika” ya?:mrgreen:

    yang pasti menurut saya “Fallacy of dramatic instance” inilah yang dimanfaatin para pembuat isu agar isu-isu baru bisa menutupi yang sudah basi. makanya yang ngerti hati-hati aja, karena nggak semua yang diberitakan di media itu bisa dipercaya.:mrgreen: *komen saya ini keknya udah termasuk “sesat” nih*:mrgreen:

  18. FoDI itu istilah lain dari “akibat nila setitik, rusak susu sebelanga” ya? hehee


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: