Hikayat Siti Mariah

Horda!
Prin!

Ingin merasakan bagaimana keadaan bangsa Indonesia di zaman kolonial Belanda? Ah atau mungkin kita sudah terfasihkan dalam kehidupan barat sehingga kita sudah tidak mampu lagi merasakan bagaimana bangsa ini pernah merasakan kekejaman bangsa Belanda dan antek-anteknya dalam merampas hak dan menjadikan gundik-gundik yang tak lebih hanya hanya dimanfaatkan selebihnya. Bagaimana para pribumi penjilat bangsa sendiri menjura terhadap Wong Londo.

Salah satu caranya adalah menikmati karya sastra lama ataupun novel sejarah yang sebenarnya banyak dijual baik bentuk hikayat atau sekedar cerpen masa lalu. Buku Tetralogi Pulau Burunya Pramoedya Ananta Toer menjadi salah satu referensi menarik untuk mengetahui kondisi kolonialisme dan tanam paksa yang diterapkan di Indonesia. Dan satu lagi yang Hikayat Siti Mariah.

Buku ini menceritakan kondisi Indonesia Pra kebangkitan nasional 1830-1890, menceritakan tentang romansa dan pertikaian yang diceritakan dalam pabrik gula dan tebu yang selalu menjadi objek cerita dalam setiap kisah-kisah pra kebangkitan nasional. Menggambarkan kejamnya kolonialisme dan kejamnya jongos pribumi yang memakan daging rakyat sendiri. Namun tidak serta merta juga menceritakan semua Belanda totok itu jahat, ada juga diceritakan  dengan perilaku baik seperti halnya Multatuli yang mengkritik Pemerintahan Hindia Belanda dengan sistem tanam paksanya untuk menggunakan politik balas budi.

Kisah Siti Mariah yang juga bernama Urip, Mardi, Jongos Salimin, Babu Salimah, Nyonya Janda Esobier menjadi fokus utama cerita yang berlika-liku dengan sebagian serba kebetulan adanya dibuat oleh Haji Mukti yang dalam buku ini juga menjadi salah satu tokoh. Novel ini juga dieditori oleh Pramoedya Ananta Toer menceritakan banyak kisah pergundikan bagaimana para Belanda menjadikan mereka Nyai hanya untuk dipiara. Bagaimana mereka harus lebih patuh pada Belanda totok.

Naskah asli hikayat ini yang bagian sastra pra-Indonesia adanya di Leiden, Belanda dikumpulkan oleh Pram kemudian disatukan, pernah diterbitkan dalam cerita bersambung dalam salah satu harian Medan Prijaji 1910-1912 kemudian diterbitkan ulang dalam Lentera. Namun sayang ada beberapa bagian hilang, namun tidak memutus alur pemikiran kita terhadap jalan ceritanya.

Kisah ini berawal dari Wongsodorno menjual Urip anak tirinya bocah 11 bulan kepada Joyopranoto dengan mengatakan bahwa ibunya telah meninggal. Urip akhirnya besar bernama Siti Mariah menjadi gadis cantik yang indo, ternyata anak dari Bupati Kedu yang Belanda totok menghamili Sarinem seorang Nyainya. Akhirnya dipiara (dijadikan gundik) oleh Kontrolir Pabrik Gula Henri Dam melahirkan Sinyo Ari dengan penuh lika-liku yang akhirnya menikahi Belanda Totok Lucie, padahal menyayangi Siti Mariah dan Sinyo Ari yang dijampi oleh Pemilik Pabrik Gula tersebut yaitu Nyonya Van Holstein. Sampai mereka dipisahkan, berganti nama, dan menjalani hidup sebatang kara. Tergambar jelas dalam hikayat ini.

Masing-masing tokoh saling berkaitan sama lain, ada yang bersaudara dekat namun tidak satu ibu, dan berwajah indo demikian salah satu penerapan pergundikan di zaman cultuursteelsel (tanam paksa). Tanggal-tanggal penting dalam cerita ini tercacat dengan jelas oleh penulisnya sehingga dengan mudah mengetahui periode terjadinya kisah dalam hikayat ini yang bisa jadi merupakan penggalan kisah nyata dari penulis yang menjadi saudara tidak seibu dari Siti Mariah, tokoh sentralnya.

Jika dibandingkan dengan cerita jaman sekarang, mungkin seperti sinetron panjang lebar yang sering tampil di TV, namun karena ceritanya di tahun sebelum abad 19 jadi bisa diakui keorisinalitasannya. Ada pertentangan, perceraian, percintaan, perbudakan, pembunuhan, kekejaman, perebutan harta, kekuasaan, jatuh miskin, jurang antara kaya-miskin, perbedaan antara bangsa inlander dengan kolonial tercampur aduk. Termasuk beberapa bagian kita mampu tertawa, ada saat kita akan mengecam salah satu tokoh di ceritanya, dan kadang di bagian lain kita bisa terharu merasakan peristiwa dalam hikayat ini.

Salah satu pantun yang romantis misalnya :

Kalau kandar di Pantai Sintang
Terlempar ombak hingga terlentang
Mariahku manis tanpa tandingan
Di Banyumas disebut Bintang

Di sisi lain ditemukan hal yang serba kebetulan dan terkait satu sama lain di hikayat ini, karena Allah Yang Maha Kuasa. Namun kekuatan supranatural (jampi-jampi dan kekuatan keris) dan kepercayaan animisme-dinamisme tetap ada dalam cerita ini walaupun dalam cerita sudah memeluk agama.

Itu menurut saya, kalo anda? Silahkan menbaca sendiri bukunya 😀

NB :
Hikayat Siti Mariah oleh Haji Mukti
Editor oleh Pramoedya Ananta Toer
Cetakan ke-4 oleh Lentera Dipantara 2003.
Buku ini sebenarnya sudah dibeli tahun lalu saat ingin menikmati karya sastra Indonesia tapi sudah berada di rak buku murah. Namun baru sempat menyelesaikannya sekarang :mrgreen:

Diterbitkan oleh aRuL

blogger, netizen, engineer wanna be, sometimes as a trainer, and maybe a consultant for anything

27 tanggapan untuk “Hikayat Siti Mariah

  1. jd ingat kmrn baru baca bukunya pramoedya yg judulnya perempuan dlm cengkeraman militer (punya tmn siyh)
    bukunya pram bgs siyh, cm kdg2 agak susah bacanya….
    bahasanya jg seperti bahasa jurnalis gt……
    tapi, keren koq aplg yg judulnya bumi manusia….hehehe
    mungkin kpn2 saia hrs baca buku ini ya….. 🙂

  2. emang bukunya pramodya keren2 kok.. eehhhmmm.. sepupuku ada yg koleksi bukunya pramudya dari tulisan pertamanya, sampe tulisan terakhirnyaa.. huaaaaaa.. rasanya pengen banget baca semuanya.. tapi keburu males duluan.. 😀

  3. Mungkin setiap karya sastra pada zaman tertentu punya kekhasan tersendiri sesuai dengan latar belakang keadaan sosial, ekonomi dan politik **halaah** pada saat itu, sehingga bagi peminat sastra setiap kekhasan tersebut punya keindahan tersendiri sehingga seringkali karya2 sastra tersebut diburu.

    Namun begitu, ada juga sebuah karya sastra seperti ini diadaptasi menjadi sebuah sinetron (misalnya) dengan settingan masa kini, tetapi berdasarkan karya sastra tersebut. Hasilnya?? Kalau di tangan para pembuat sinetron Indonesia (ini bukan mendeskreditkan para pembuat sinetron di negeri kita ini lho ya!) seringkali hasilnya malah mengecewakan! Terasa lucu nggak jarang juga terasa aneh dan nggak pas! :mrgreen:

  4. pdfnya saya ngak punya, cuman buku…
    kalo dikasih nilai saya kasih 8,5 (0-10)
    saya suka sekali dengan buku cerita masa lalu, bisa mendalami sejatinya bangsa ini seperti apa…

    benar pak yari, kadang tidak sesuai ekspektasi kita sih, tapi itu mungkin persepsi masing2 dalam memberikan pembaharuan ide atau setting lokasi 😀

  5. Ping-balik: agunan
  6. Ping-balik: kta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: