Nasib si Miskin

29Okt09

100_6533

Suatu sore saya berjalan di pinggir sungai entah itu sungai kecil atau hanya selokan besar, intinya ada aliran air di situ dari suatu tempat menuju tempat dia bermuara untuk selanjutnya sebut saja sebuah sungai. Saya tidak perlu menjelaskan detail tempatnya di mana, yang jelas ada kejadian di situ yang membuat saya berfikir dan merenung sejenak, sampai akhirnya saya menuliskan dalam blog ini.

Dari kejauhan terlihat seorang bapak tua, kurus, kulit gelap umur sekitar hampir 70 tahun mandi dengan seenak dirinya dengan kondisi tanpa sehelai benangpun di tubuhnya juga tanpa menutup kelaminnya asyik menggosokkan sabun di badannya. Walaupun ada saja orang yang berlalu lalang di sana, ada dua anak pemulung sedang memikul hasil buruannya seharian, beserta bapaknya juga mengarahkannya. Yah termasuk saya juga melewati jalan itu.

Bapak tua itu tinggal di sebuah gubuk, yang ukurannya sekitar 2×2 m dan tinggalnya juga hanya setinggi kepala yang ditundukkan. Letaknya tidak jauh dari sungai tersebut. Entah kalau malam dapat listrik dari mana soalnya saya hanya berani lewat sana siang hari, malam takut banyak hewan liar yang melintas dalam gelap.

Bapak itu mandi di pinggir sungai, airnya memang bukan dari sungai itu, namanya juga saluran air sehingga penuh dengan kotoran dan bahkan juga eceng gondok liar tumbuh di sana, sungguh tidak layak untuk dipakai mandi, tapi  pernah saya melihat ada yang sedang menggunakan air tersebut buat mandi, bahkan kadang ada yang suka mencari ikan di sana dengan menenggelamkan seluruh tubuhnya sehingga bercampur dengan kotoran dan lumpur yang baunya luar biasa menusuk.

Lantas sumber airnya si kakek tua itu mandi dari mana?

Dari lubang kecil Pipa besar  PDAM berdiameter 20-30 cm yang melintang di atas sungai tersebut. Lubang itu dengan prasangka yang negatif sengaja dibocorkan selebar pipa kecil 1-5 cm. Tapi kalau sudah digunakan tentukan akan ditutup lagi dengan tutup sebatang kayu. Namun selama mandi air tersebut terus mengalir derasnya.

Kalau kita berfikir dari orang mampu a.k.a. orang kaya (bolehkan saya mengatakan orang kaya) bahwa dia telah merugikan telah menghambat jalur air ke rumah sehingga mengecil. Juga bisa dianggap telah mencuri air, karena telah mengambil air PDAM dengan tidak benar tanpa melalui alat ukur.

Namun coba kita berfikir dalam sosok bapak tua itu, yah bolehlah saya mengatakan sebagai orang miskin, bahwa kebutuhan air dia juga tetap butuhkan sedangkan air bersih tersedia tidak ada hanya mampu mengambil seberkas air dari pipa PDAM yang menjulur di atas sungai.

Mungkin seperti itulah cara orang miskin menghidupi hidupnya, yag tidak mampu membayar dan tidak mampu membiayai instalasi air bersih ke tempatnya, boro-boro, rumah aja masih bentuknya gubuk.

Air, yang katanya merupakan hajat hidup orang banyak yang dikuasai oleh Negara digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat, namun apa nyah, hanya orang tertentu saja menggunakannya, eh ngomong-ngomong ayat dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 tersebut masih tetap ngak yah?

Kesenjangan antara miskin dan kaya selalu menjadi topik pembahasan seakan-akan itulah yang menyebabkan Negara ini tidak berkembang. Si miskin dianggap menjadi penghambat pembangunan, sedang si kaya dianggap rakus menguasai uang rakyat.

Sebenarnya keduanya merupakan potensi yang bisa dikembangkan oleh pemerintah sebagai pengatur negara, bagaimana memberdayakan orang miskin dan bagaimana menggunakan orang kaya untuk berinvestasi. Kebutuhan juga akan terjadi simbiosis mutualisme antara keduanya, yang bukan dari pemerintah saja, tapi dari kedua belah pihak.

Itu pendapat saya, bagaimana dengan anda?



31 Responses to “Nasib si Miskin”

  1. agenda baru tuh buat anggota DPRD baru, program air bersih buat masyarakat ngga mampu ..

  2. Rakyat miskin harus di dahulukan karena mereka hanya bisa senang kalau ada yang memperhatikan, bayangkan saja dengan orang kaya, diperhatikan saja masih belum senang, bener g?

  3. kayakx sy knal t4x deh……….

  4. @chic : betul, selain itu yang diperlukan jangan sampai tempat air dikuasai oleh orang lain😀
    @aziz Hadi : betul….. nah sekarang sih intinya bagaimana bisa mengjangkau seluruh elemen masyarakat🙂
    @siddiq : hehehehe, bukan tempat jadi fokus di tulisan ini😀

  5. *manggut-manggut*

    ya begitulah kondisi masyarakat kita rul, ada gap yang sangat lebar antara si kaya dan si miskin

  6. yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin yo mas….

  7. setuju Rul…. harusnya ada akses ke air bersih untuk semua orang… tapi kalau orang kaya yang mencuri air PAM, itu baru keterlaluan….

  8. 8 tary

    ironis sekali….pejabat gajinya naik, sementara rakyat hidup dalam kemiskinan….salam kenal yah…

  9. Meski demikian adanya, hendaknya ‘kemiskinan’ bukan menjadi pembenaran akan perilaku yang merugikan.. ini jelas adalah tamparan keras bagi pemerintah setempat yang sudah mestinya mengurusi hajat hidup orang banyak apalagi kalangan mereka yang tidak mampu.

  10. Orang disebut kaya karena ada yang miskin.
    Sebaliknya orang disebut miskin karena ada si kaya.

  11. Susah….. tidak tahu siapa yang harus bertanggungjawab atas masalah ini?? Pemerintah?? Atau karena kita sendiri juga yang terlalu “mendewa2kan” mempunyai keturunan (apalagi keturunan yang banyak!). Mengenai kualitas hidup si keturunan?? Wah… itu sih nomer 10 juta, yang penting punya keturunan dulu. Sungguh ironis, negara berkembang seperti Indonesia penduduk malah terus membengkak, sementara negara yang makmurnya luar biasa seperti Swedia, penduduk malah berkurang!! Padahal sudah digenjot dengan imigrasi dari negara2 terbelakang, eh, berkembang!! Jadinya ya begitu, yang kaya semakin kaya, yang miskin bukannya semakin miskin sih, tetapi kemajuannya jauh lebih lambat dari si kaya, akibatnya tetap saja jurang menganga semakin lebar!

  12. Jadi pingin nyanyi lagu Rhoma, yang miskin makin miskin yang kaya makin kaya, tak ting gendang dut… tak ting gendang dut… tak ting gendang dut…

  13. hukum rimba masih berlaku di zaman modern ini.

  14. gimana lagi dengan mereka yang kekurangan dan tidak berada di dekat sumber air yah *merenung*

  15. 15 eliabintang

    baru2 ini warung2 deket rumah saya juga digusur. dan pemda ga nyediain kesempatan kerja yg baru. mereka kan jadi bingung harus idup dari mana..

  16. perihal yang menarik mas…menarik sisi lain dari kehidupan orang kota🙂 iy gt ktauan orang PDAM mungkin g berkutik dan iba kali y..

  17. air sumber kehidupan…

  18. air bersih rakyat sehat

  19. semoga indonesia bisa bersatu antara si miskin dan si kaya.

  20. satu postingan dengan 2 pemikiran berbeda.
    oke rul…katakan lah aku orang kaya pasti aku kesal…tapi ketika aku menjadi si miskin aku hanya mampu berkata “habis gak bisa bayar”

    dan tentunya pemerintahlah yg seharusnya menyebarkan hajat hidup orang banyak itu aka si air ke pelosok negri ke rumah2 gedung sampai dengan rumah gubuk…😉

  21. ngenes, sementara pejabat pada ribut mobil dinas

  22. Yah… itulah potret negeri ini. siapa yang harus disalahkan?
    pemerintah? orang kaya? orang miskin?
    semuanya tidak akan selesai jika selalu mencari kesalahan. bukan hanya tugas pemerintah yang harus menyediakan air bersih. bisa saja pemerintah beserta orang kaya (swasta) menyediakan air bersih itu. tapi yang terpenting bukan hanya itu, pribadilah yang harus kita bina. melalui ilmu dan kesadaranlah kita berusaha untuk memikirkan hajat hidup orang.mengusahakan agar tercapai kemakmuran. walaupun hanya kecil.

    nice blog prend.. seneng bisa berbagi pikiran di blog ini.,

  23. semoga indonesia bisa bersatu antara si miskin dan si kaya.

  24. semoga pemerintah melek

  25. kurangi saja anggaran pemerintah utk jalan2 dan dana aspirasinya

    http://www.akhmad06.student.ipb.ac.id

  26. kasihan sekali ya…

  27. ini juga merupakan akibat dari ketidakpedulian kita terhadap masyarakat sekitar. semoga tulisan anda bisa menginspirasi kami semua utk berbuat lebih banyak lagi bagi kepentingan bersama, tidak melulu utk kepentingan pribadi.

  28. berbagai cara yang dilakukan oleh kaum terpinggir untuk dapat survive.. artikel yang bagus.. dilanjut mas

  29. kadang saya berpikir juga mas, sebenarnya hakikat apa sih mas manusia diciptakan kok senjang kaya dan miskin banyak, bukankah kita diciptakan untuk berbagi. Regards

  30. nice post

  31. kasian yaa…miris liatnya dibandingkan pejabat yg foya-foya pakae uang rakyat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: