Sebuah Catatan Perjalanan di Rapih Dhoho

06Sep09

Beruntung rasanya mengalami sendiri menggunakan jasa transportasi massal, kereta api yang hanya ada di Jawa-Sumatera ini. Kereta api salah satu bukti kesenjangan antara Jawa dan Luar Jawa (kecuali Sumatera) pada umumnya, kesenjangan masalah transportasi yang rasanya sampai sekarang belum terselesaikan.

Apalagi dengan kereta ekonomi yang bisa menemukan banyak pelajaran dan hikmah dalam perjalanan itu, apalagi jika dilalui dengan seorang diri dan kemudian menemukan manusia-manusia lain.

Rapih Dhoho menghubungkan Surabaya-Blitar melalui Kertosono, salah satu kereta yang sudah barang kesekian kalinya saya menggunakannya. Namun perjalanan saya kali ini menuju Tulungagung, lagi-lagi menghadiri acara bahagia sahabat-sahabat terbaik saya.

Kali ini saya berangkat sendiri, karena berangkatnya weekend, jadi konsekuensi harus padat dan betul-betul padat, semua kursi terisi penuh bahkan seluruh lorong di semua gerbong terpenuhi dengan penumpang yang berdiri, dan hanya cukup ruang untuk bernfas doang, sedang ruang untuk bergerak tidak ada sama sekali. Katanya sudah seperti keadaan ketika lebaran saja, karena gerbongnya dikurangi 2 yang biasanya 7 jadi 5 gerbong saja. Alhasil berdirilah saya sampai Jombang.

Oia salah satu yang saya simpulkan dari peristiwa ini adalah, permasalahan di pulau Jawa adalah permasalahan transportasi massal, yah sudah barang tentu dengan jumlah penduduk yang sangat padat belum lagi dari pendatang, Peningkatan kualitas dan kuantitas transportasi massal sudah sangat tepat untuk dijadikan program pemerintah. Tapi entahlah apakah hal tersebut dilaksanakan?

Bagaimana dengan permasalahan di luar Jawa? tunggu kesimpulan saya berikutnya.

Jombang, kata seorang ibu yang ketemu di kereta sama-sama berdiri dan akhirnya duduk ketika sampai di stasiun Jombang ini mengatakan bahwa banyak masyarakat Jombang yang ke kota untuk bekerja. Wah betul juga yah, hampir sebagian besar orang luar kota di Surabaya berasal dari Jombang. *Check This Out*

Eh Ibu itu, berumur sekitar setengah baya, masih memakai lengkap dengan seragam kantornya. Ibu memberikan banyak pengalaman dan cerita menarik dari beliau, dari semenjang berdiri sampai menemukan tempat duduk bercerita banyak.

What the great talking….. Semua yang saya suka, dari namanya politik, pemikiran masa depan, dan lain-lainnya dibahas… tidak cukup 4,5 jam di kereta tanpa tidur untuk menghabiskan waktu berdialog dengan beliau….

Dari masalah pileg, pilpres, teroris, internet, yang paling saya heran ketika dia mengatakan setelah membaca dari detik.com, what a great mother, ibu yang bekerja senin-jumat di Surabaya, akhir pekan pulang menemui suami dan anak-anaknya, betul2 seorang great mother. Inti pembahasan sih ngak perlu saya tuliskan, saya semakin tau bahwa apa yang saya baca ternyata benar adanya, dan apa yang saya dengarkan kadang tidak sesuai dengan kenyataan tentang politik dan semuanya.

Ada satu kesimpulan lagi dari dialog kami di antara beberapa fokus pembicaraan kami yang bagi orang lain mungkin mengatakan masalah berat, bahwa permasalahan di luar Pulau Jawa masalah listrik. Di Jawa-Bali-Madura sistem sudah terinterkoneksi, ketika ada yg byar pet, masih ada pembangkit lain yang menalangi listriknya. Tidak demikian halnya dengan di luar Jawa masih mengandalkan pembangkit yang tidak seberapa gedenya di Jawa karena memang kebutuhan listrik nasional di Jawa-Bali-Madura kata dosen saya adalah 80 % kebutuhan nasional. Kalo mati yah sudah tunggu giliran diperbaiki.

Tidak bisa dipungkiri dengan adanya listrik, pendidikan bisa maju hal tersebut dirasakan oleh ibu itu ketika listrik sudah masuk desa di Jawa, pendidikan semakin maju dan ilmu pengetahuan bertambah apalagi dengan adanya media informasi. Pembangunan infrastruktur yang mendukung berkembangnya masyarakat juga seiring sejalan dengan kebutuhan listrik.

Itulah salah satu bukti kesenjangan antara Jawa dan Luar Jawa, yang akhirnya berujung pada kesenjangan masalah pendidikan, energi, pembangunan infrastruktur. Bukan untuk mendikotomikan, tapi sebagai perbandingan bagi pemerintah dalam memprioritaskan pembangunan negeri ini.

Sungguh kali ini saya sungguh merasakan nikmatnya perjalanan kereta api.
Sesampai di stasiun Tulungagung, saya hanya menitipkan kartu nama saya, berisi no telpon dan alamat blog saya, siapa tau beliau nyasar dan bisa bertukar fikiran lagi dengan beliau.

Akhirnya ketika beranjak pulang kembali ke Surabaya, saya ketemu dengan beliau. Hanya berpapasan di stasiun yang akan menaiki kereta yang sama pula Rapih Dhoho, namun tidak segerbong lagi.

Sebuah perjalanan menarik…

Iklan


13 Responses to “Sebuah Catatan Perjalanan di Rapih Dhoho”

  1. Sebenarnya tulisan ini sudah ada di note Facebook saya, tapi pengen aja nampilin jg di blog 🙂

  2. Satu hal yang aku bingungkan dalam pembangunan infrastruktur transportasi masal adalah begitu derasnya perkembangan jalan tol, dan begitu lambatnya pembangunan rel kereta. Padahal jalan tol harus membebaskan tanah sekian ribu hektar, sedangkan rel tidak, tanah sudah ada, satu trip kereta api bisa membawa lebih banyak penumpang.

  3. lebih enak lagi naik Sember KENTJONO….
    whus….whus…whus….

  4. salam kenal daeng

    chandra kalsel

  5. gak entuk kenalan ya percuma rul..

  6. 6 ibnuahmadalkurauwi

    Salam ziarah,
    Salam Ramadan al-Mubarak. Teruskan menulis.

  7. Ya benar, saya juga miris karena kesenjangan infrastruktur antara Jawa dan luar Jawa. Untuk sebuah negara yang maju, ciri khasnya adalah pembangunan yang merata dan kita nampaknya masih jauh dari itu. Namun tantangan kita memang luar biasa besarnya, apalagi negara kita adalah negara kepulauan. Untuk pulau2 yang kecil dan terluar nampaknya memang sangat sulit sekali. Namun begitu, seyogianya untuk pulau2 yang besar2 seharusnya pembangunan sudah bisa lebih merata. 🙂

  8. 8 matinu

    Hmmm..kesenjangan jauh bang dengan JAWA, apalg kalo bang asrul maen2 ke Kalimantan. Mungkin bang asrul bisa maen2 ke blog saya…untuk melihat betapa mirisnya disalah satu propinsi (KalTim) yang dibilang kaya.

  9. @galihsatria : emang saatnya pembangunan transportasi massal seperti kereta, tidak seperti tol yg ujung2nya yg punya duit juga yg manfaatin yang mengorbankan tanah-tanah orang yg tak mampu.
    @luxsman : udah pernah naik, dan tabrakan beberapa kali, sampe kaca depan pecah, ngak bisa tidur apa lagi ngobrol lbh byk nyumpah2in 😛 hahaha
    @soulharmony : salam kenal jg, hehehe kitakan sudah ketemu di buka bareng 😛
    @detx : berbedalah misi kita 😛
    @ibnuahmada : iyapz, sama2 🙂
    @Yari NK : seperti yg saya jelaskan di atas pak, kalo di jawa butuh transportasi massal, kalo luar jawa butuh listrik, saya rasa kedua pokok permasalahan rakyat itu jika terselesaikan pemerataan tentunya akan segera terwujud 🙂
    @matini : iyah, benar sekali. oh iya blognya apa ya?

  10. Pasti lagi antar kawinan teman ya?

  11. Belajar dari sebuah perjalanan… Manteps kang…

  12. jadi teringat perjalanannya Bunda Dyah bertemu dengan seorang wanita luar biasa di umur yang tidak muda lagi 80-an.

    kita ga bakalan tau ya akan bertemu siapa karena itu setiap perjalanan pasti akan ada kenangannya.

  13. @gajah_pesing : tepat banget…
    @frenavit putra : yoi 😀
    @Ria : iya benar banget dan hal ini patut dicacat 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: