Pencemaran Nama Baik

12Jun09

Antara Kedudukan/Pengaruh dan Momentum

low-voc-paint-1Kasus pencemaran nama baik menjadi bahan gosip paling sip untuk di sisipkan dalam perbincangan. Kasus Manohara Odelia Pinot, Kasus Prita Mulyasari atas email keluhan terhadap Rumah Sakit Omni International, dan beberapa kasus lagi yang menyita perhatian media dan sudah barang tentu oleh masyarakat Indonesia yang mau tidak mau ikut apa kata media.

Bagaimana dengan kita menyikapi hal tersebut, sebagai warga negara Indonesia yang baik, seorang blogger yang tentunya harus senantiasa memberikan informasi berupa citizen jurnalism, atau sebagai seorang konsumen yang patut memberikan apresiasi terhadap suatu produk yang kita gunakan?

Saya mencoba membahas dalam perspektif pemikiran saya sebagai seorang awam yang menggunakan teknologi internet tentunya berupa blog, email, sosial network service maupun jenis-jenis fasilitas yang disediakan internet untuk berinteraksi dengan publik. Walaupun terlambat, memang sengaja terlambat supaya saya bisa mempelajari lebih dalam kasusnya sehingga bukan karena mencari sensasi SEO saja menulis di blog.

Okelah kita mulai berbicara tentang pencemaran nama baik.

Pencemaran nama baik itu bagi saya mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai fakta, kenyataan terhadap orang lain, pihak lain, perorangan maupun kelompok, atau perusahaan. Nah itu secara ringkasnya bagi saya. Fitnah istilah lainnya.

Walaupun kadang benar suatu pernyataan kita terhadap orang lain, kadang hal tersebut bukan hak kita untuk menyampaikan ke orang lain atau publik. Misalnya rahasia perusahaan, walaupun tidak bekerja lagi di perusahaan tersebut, secara etik kita tidak boleh membocorkan. Atau dalam Islam sendiri kita tidak boleh memceritakan rahasia, cacat orang itu ke orang lain.

Tapi kadar pencemaran nama baik itu juga beda tingkatannya. Misalnya saja, saya misuhi presiden di depan teman-teman sepergaulan saya, yah tidak berarti apa-apa karena yang saya hadapi juga orang-orang yang tidak berhubungan.

Atau rakyat kecil setelah melihat tayangan, kemudian menghina-hina pemerintah tidak berhasil menjalankan roda pemerintahan sesuai keinginan yang disampaikan ke teman-teman yang duduk di warung kopi. Lah siapa yang mau tuntut dia telah melakukan perbuatan pencemaran nama baik? Lah wong orang biasa-biasa aja.

Atau misalnya kita mengatakan hal jelek teman seangkatan kita yah ndak apa-apa karena diartikan bercanda. Coba yang bilang itu orang berada di bawah tingkatan kita. Lah yah bisa berabe, bisa jadi si adik akan diberanguskan.

Atau misalnya sang order cangkem, Butet Kertarajasa mengkritisi pemerintahan akan terlihat dan akan diberitakan dengan hebohnya oleh media-media dan dikomentari oleh pengamat politik sebagai upaya yang tidak sesuai nuansa damai dalam Kampanye Pilpres Damai kemarin yang diadakan oleh KPU.

Sehingga kesimpulannya pencemaran nama baik itu akan terjadi dan diproses karena orang yang mengatakan hal tersebut memiliki kedudukan atau pengaruh dan  momentumnya tepat atau tidak.

Jadi Manohara Odelia Pinot mencemarkan nama baik TT (Tengku Tumenggung) Fakhry dari Kerajaan Kelantan tentunya akan heboh karena Manohara sudah terkenal oleh marketing isu yang dibuat sama ibunya. Seandainya Manohara hanya orang biasa-biasa saja, yah ngak digubris la yau…. Tapi ndak mungkinlah Manohara jadi orang biasa, bening gitu 😀 hehehe.

Seperti halnya kasus Prita Mulyasari, sebenarnya sih agresifitas dari RS Omni (yg ternyata bukan internasional itu, cuman nama doang) tidak perlu memperkarakan kasus ini, secara melihat prinsip pencemaran nama baik seperti yang saya sebutkan di atas ada dua itu yaitu orang yang menyebarkan itu memiliki kedudukan dan pengaruh serta momentumnya tepat.

Sayang sikap berlebihan itu, akhirnya menyebabkan dua faktor pemcemaran nama baik itu akan berbuah proses dan menjadi besar serta meluas, Prita jadi terkenal dan berpengaruh serta momentumnya menjadi tepat.

Butet Kertarajasa memiliki dua prinsip itu ketika menyampaikan teatrikal monolog Kampanye Pilpres Damai kemarin. Oh iya tapi saya belum mengkategorikan sebagai pencemaran nama baik, namun berupa sindiran, saudara dekatnya lah.

Bagaimana bersikap?

Selanjutnya cara kita bersikap dan belajar dari kasus-kasus tersebut, bagaimana?

Saya mencoba merujuk berita Depkominfo mengatakan Prita Tak Bisa Dijerat UU ITE. Isi pasal yang dibebankan (ditambahkan oleh Jaksa Penuntut Umum sehingga mengharuskan Prita harus dimasukan bui tersebut) adalah

Pasal 27 ayat 3 UU No. 11/2008 tentang ITE “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”

Jadi jelas-jelas bahwa yang dimaksud tersebut adalah “dengan sengaja dan tanpa hak”, padahal sebagai konsumen dari RS bisa dan berhak menyampaikan keluhan atas penanganan sakitnya. So jelas-jelas tidak menyentuh pasal tersebut.

Banyak koq yang tersebar di internet yang disengaja dan bukan haknya menyebarkan data elektronik berupa pencemaran nama baik, tapi belum terdeteksi. Jadi ndak usah khawatir untuk menulis dan terus menulis selama itu kita memiliki kebenaran dan ada hak kita di situ, dan tidak melanggar hak orang/pihak lain.

Momentum yang tepat dan Blogger yang memiliki kedudukan/pengaruh mungkin belum kita miliki, tapi dengan adanya internet dengan segala fasilitasnya, hal yang mungkin terjadi dua prinsip itu akan ada pada diri kita ketika melakukan pencemaran nama baik, sehingga kita harus berhati-hati.

Bagaimana dengan anda?

Iklan


9 Responses to “Pencemaran Nama Baik”

  1. pencemaran nama baik sama dengan memfitnah ya kan……….
    nice post …….
    salam kenal 🙂

  2. pencemaran nama baik
    ehm, kalo namanya jelek mah ga apa2 kali ya 😀

    Sahabat,
    Kunjungi:
    http://miejanda.com

  3. ehmm…. memang harus lebh d cermati untuk kasus ini …
    semoga kasus ini tdk membatasi blogger utk berkreasi 🙂

  4. ah dasar pihak rs itu saja yg memang tidak profesional … masak sih orang mau protes atau kasih komentar gak boleh … seburuk apapun kan ada media tanya jawab yang dapat dipakai … menjawab keluhan pasien jauh lebih baik dan manis daripada langsung main hantam dengan hukum … jadi kesannya sangat tidak manusiawi …
    banyak kasus yang lebih parah lagi tetapi berbagai pihak dapat saling menahan emosi dan mau menggunakan hak tanya jawab mereka …

  5. mmmm…terkadang hukum yang menghukum tidak tau jelas seperti apa bentuk hukup itu sendiri. bahkan aparat hukumpun terkadang buta hukum…:D
    so kalau sudah begitu masak yang disalahkan orang lain…aneh ya 😀

  6. Kayaknya sih dalam kasus “pencemaran nama baik” ini perlu dituntut kebijaksanaan dan kedewasaan pemikiran dari kedua belah fihak. Yang dikritik harus bijaksana karena hal tersebut bisa jadi dapat merupakan feedback yang tak ternilai harganya bagi perbaikan dan kemajuan performansi yang dikritik di masa mendatang. Sedangkan si pengkritik juga harus bijaksana. Ia harus fokus kepada masalah yang dihadapinya, jangan melebar dan jangan menyangkut hal2 yang berbau pribadi dan subyektif. Kritiklah yang tajam, singkat tapi fokus dan tepat sasaran…. 🙂

  7. ato suarakan kebenaran

  8. kalau pencemaran nama baik di FB ?

  9. beda tipi s dgn fitnah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: