UU Pornografi dan Polisi Tidur

04Okt08

Anda taukan polisi tidur? Anda juga taukan apa fungsi dari Polisi Tidur itu? biasanya banyak di kompleks perumahan, perkantoran, atau kampus.

Nah Polisi Tidur itu hampir sama dengan UU Pornografi (sekarang masih berupa RUU), sama-sama untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan. Jadi tidak ada istilah menolak RUU Pornografi kan?

Nah sekarang bagaimana mengatur polisi tidur itu tidak terlalu tinggi dan mengatur jarak dengan polisi tidur yang lain sehingga tidak merusak kendaraan. Demikian halnya dengan RUU Pornografi, bagaimana memberikan sumbang saran atas perumusan RUU ini, sehingga bisa berguna bagi bangsa dan negara.

Bagaimana dengan anda?

Iklan


38 Responses to “UU Pornografi dan Polisi Tidur”

  1. eh fotonya diambil di wikipedia.org 😀

  2. saya dari tadi melototin gambar “polisi tidur”
    hihihi, itu gambar jajan apaan sih ? *maklum suasana lebaran, semuanya nampak seperti jajan* 😆

  3. saya masih punya pendirian yang sama .. negoro telek…
    kakean ngatur.. sing ga perlu perlu..

    btw.. selamat lebaran… mohon maaf untuk komen komen yang ga berkenan

  4. asalkan tdk sampai membatasi kreativitas para pekerja seni, RUU pornografi setuju saja langsung diketok palunya, mas aRul biar ndak jadi kontroversi berkepanjangan.

  5. kemiskinan sama pornografi bahaya mana yaa?

  6. mesakne sing motore ceper.. mak “jlek” mesinnya kena…

  7. terserah DPR aje deh

  8. polisi tidur nya jangan dibikin tingi2 kasihan yang punya mobil ceper…

  9. #4 kreativitas tetap ada batasnya…… disinilah peran orang2 yang mampu menafsirkan isi perintah suci dari Yang Maha untuk membuat umatnya merasa tentram dan tetap dalam koridor yang sesuai……

  10. Sahkan undang-undang ini

  11. Maunya sih polisi tidur gak sekedar “mengatur jarak dengan polisi tidur yang lain sehingga tidak merusak kendaraan”, tapi juga bisa membangun kesadaran buat yang ngelewatinnya. Yah sapa tau nanti2 klo orang dah sadar, gak perlu bikin polisi tidur lagi. Kan biaya pembuatan jalan bisa dihemat..

  12. 12 Aisyah

    Tentang UU Pornografi, kayaknya musti dialog yang lebih panjang lagi daripada mengaambil keputusan buru-buru untuk mensahkan. Kalo sampai keputusan yang diambil itu tidak mewakili aspirasi dari seluruh komponen bangsa yang multikultur (sepihak saja), maka itu sama saja kita berbuat aniaya pada saudara sebangsa kita sendiri.

    Pertanyaannya, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pornografi? pornoaksi? batasan-batasannya apa saja? jika secara definisi telah ada kesepakatan tentang batasan-batasannya maka persoalan ini lebih clear. hal lainnya yang perlu diperhatikan juga, bahwa bangsa initerdiri dari berbagai etnis, berbagai keyakinan sehingga jangan mengangkat isu dari teks keagamaan. Itu tidk bisa dijadikan hukum positif, karena akan menyinggung penganut agama atau etnik yang lain.

    yang paling pentuing adalah memperbaiki moral bangsa. lalu apakah moral bangsa akan sehat dengan pemberlakuan UU seperti ini? Kalo pada dasarnya kepala kita yang porno duluan lalu melihat segala sesuatunya itu porno, maka hati2! antara objektivisme dan subjektivisme itu selalu berlawanan.

    yang paling banyak menjadi korban dari isu ini adalah permpuan. bagaimana tidak, sesuatu yang pornio pasti dialamatkan ke perempuan. padahal perempuan berbuat seperti itu selalu datangnya dari hegemoni laki-laki dan kekuasaaan. so? harus dipikir masak-masak untuk mencari jalan keluar untuk semua

  13. no commnet… 😀
    yang penting rakyat hidup makmur sejahtera

  14. waduh… klo masalah RUU pornografi ma yang aksi itu sebenernya si empu pembuat-NYA saja yang kurang tegas… mungkin yang buat juga gk berani klo tindakan itu ditiadakan… takutnya ada dampak bagi dia gitu…? (itu cuma kemungkinan lho..!!!), tapi kita sebagai warga biasa cuman dituntut untuk mmbersihkan diri sendiri dari hal2 yang berbau gituan sambil memperkuat iman saja..??? he..he..he..

  15. oh ya mas… maaf ngerepoti… maksudnya feed itu apa seh..?? bingung…

  16. @Aisyah:

    hal lainnya yang perlu diperhatikan juga, bahwa bangsa initerdiri dari berbagai etnis, berbagai keyakinan sehingga jangan mengangkat isu dari teks keagamaan.

    CMIIW, tapi bukannya RUU pornografi ini tidak melarang masalah menyoal kultur? 😕 Kalau mau pakai kemben atau pakaian yang agak terbuka dengan motif kultural rasanya tidak apa-apa, deh…

  17. # 2 cakmoki :
    hahaha, cak moki ada2 aja 😀
    sampean makan apa aja sampe koq mikir jajan mulu 😀

    # 3 nothing :
    kalo negara ngak ngatur, gimana mo teratur bangsanya bro…. seperti halnya polisi tidur, itu beguna mencegah aksi balap2an yang ngak benar, emang butuh aturan yang jelas..
    tinggal bagaimana kita bisa sama2 mengantarkan peraturan itu bisa bermanfaat.
    Maaf lahir batin jg.

    # 4 Sawali Tuhusetya :
    tapi kalo porno itu bagi sy bukan suatu kreativitas lho pak 😀
    kita berharap segera diketok semoga sama2 memberikan kelegaan bagi semua pihak 🙂

    # 5 andyQ :
    prspektifnya apa dulu.
    tidak selamanya seperti itu.
    pemikiran sempit sih kalo kita miskin cara mencari duit lewat pornografi, kan masih banyak sisi kehidupan bisa menghasilkan kemapanan 🙂

    # 6 ndop :
    nah itu mesti diatur ketinggiannya bro… 🙂

    # 7 Singal :
    tapi masyarakat juga perlu mengawasi kebijakan DPR lho 🙂

    # 8 sandi :
    iyah itu, sama2 diatur ketinggiannya.. btw motor diceperin emang buat apa yakz? 😀

    # 9 Anang :
    iyap nang, sepertinya kreativitas selalu ada dimana2, tapi kalo porno dibilang kreativitas sy anggap malah kreativitasnya kurang 😀 hehehe

    # 10 sibermedik :
    sip pak dokter 🙂

    # 11 o c H e :
    kalo menunggu sadar sih kayanya ndak bisa. karena biar bagaimanapun ke depan tetap aja yg melanggar, makanya dbuat aturan ini. Yah semoga aturannya bisa lifetimenya untuk selamanya… dan harapan kesadaran juga ada di situ 🙂

    # 12 Aisyah :
    Tapi kalo berkepanjangan juga ngak baik lho, bisa jadi ini menjadi konsumsi politik masih2 parpol.

    Pertanyaannya, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pornografi? pornoaksi? batasan-batasannya apa saja? jika secara definisi telah ada kesepakatan tentang batasan-batasannya maka persoalan ini lebih clear. hal lainnya yang perlu diperhatikan juga, bahwa bangsa initerdiri dari berbagai etnis, berbagai keyakinan sehingga jangan mengangkat isu dari teks keagamaan. Itu tidk bisa dijadikan hukum positif, karena akan menyinggung penganut agama atau etnik yang lain.

    Definisinya sudah jelas di RUU itu, emang bukan menggunakan teks keagamaan, tapi berupa norma di masyarakat, saya rasa RUU ini sudah mengakomodir pemikiran seperti itu. Cuman kadang2 orang menanggap itu sebagai isu keagamaan yang seperti sy bilang di posting lalu sy bahwa orang yang memperdebatkan RUU ini jangan membawa namanya gosip.

    yang paling pentuing adalah memperbaiki moral bangsa. lalu apakah moral bangsa akan sehat dengan pemberlakuan UU seperti ini? Kalo pada dasarnya kepala kita yang porno duluan lalu melihat segala sesuatunya itu porno, maka hati2! antara objektivisme dan subjektivisme itu selalu berlawanan.

    memperbaiki moral tentunya harus melalui banyak sarana, salah satunya lewat UU ini. seandainya masyaarakat bisa teratur sendiri saya ras UU ini tidak dperlukan. tapi karena ndak bisa sadar yah direncanakanlah penerbitan UU ini.

    yang paling banyak menjadi korban dari isu ini adalah permpuan. bagaimana tidak, sesuatu yang pornio pasti dialamatkan ke perempuan. padahal perempuan berbuat seperti itu selalu datangnya dari hegemoni laki-laki dan kekuasaaan. so? harus dipikir masak-masak untuk mencari jalan keluar untuk semua

    wah kalo berdebat masalah siapa yang duluan bisa panjang… yang perlu dilihat bagi saya adalah semua sisi dari laki2nya dan wanita2nya.
    demikian dengan kekuasaan. nah maka dari itulah UU Pornografi ini dibuat.
    So gimana? anda setuju adanya UU ini?

    # 13 kuro :
    dengan adanya UU ini setidaknya moral dan akhlak bangsa lebih baik, dan memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya..
    termasuk kesejahteraan sex yang didapatkan dari keluarganya bukan dari “tempat jajan” yang lain.

    # 14 napi :
    yah emang ada kurang tegas dari pembuatnya, tapi yah tetap beralasan mencari aspirasi.
    Kalo memang aspirasi rakyat udah seharusnya, dan bisa dijelaskan seluk beluknya ke masyarakat, bisa jadi diketok.

    # 15 Nafi’ Abdul Hakim :
    feed itu adalah kumpulan tulisan/komentar yang bisa dilihat dalam satu halaman biasanya memepermudah kita membacanya dan mengawasinya (CMIIW)

    # 16 Xaliber von Reginhild :
    iyah sudah, ada aturan dalam RUU ini, amat sangat disayangkan kalo beberapa orang sudah menganggap aturan ini mengekang.

  18. 18 magnificool

    paling malas dengan polisi tidur, gara-gara itu sepeda shino masuk kubangan X3=3

  19. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, sangat tidak sempurna, tidak sempurna, cukup sempurna, mendekati sempurna, dan sempurna dari lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  20. 20 rotyyu

    Justru hal paling susah adalah bagaimana mengatur dan menjadikan UU ini bisa berguna dan mengayomi seluruh kepentingan rakyat Indonesia, apalagi bangsa ini kan terdiri dari ribuan suku bangsa di berbagai daerah dengan adat dan kebudayaan berbeda.
    Jika UU ini memang harus ada, pembahasannnya harus melibatkan semua elemen masyarakat yang ada, supaya benar2 bisa berfungsi bukan jadi seperti UUD yang lain, Ujung-ujungya Duit

  21. makasih lho Mas… Napi ma Nafi’ itu sama lho Mas…

  22. 22 semprululoh

    belakangan ini saya sudah betul2 berniat dan bersemangat tinggi mau ikutan nyoblos tahun depan, setelah sekian lama golput segolput-golputnya

    gara2 berita2 ruu pornografi, mentah semua niat dan semangat tersebut krn fraksi-fraksi idamanku ternyata TIDAK MENOLAK RUU PORNOGRAFI.
    Sekarang jadi ragu2 lagi utk ikut nyoblos, tapi yang pasti saya tidak akan pernah nyoblos partai2 yg bisanya ragu2 dan cuman diam saja , apalagi yg jelas2 mendukung ruu pornografi. ih, najis! tidur lagi aja ah

  23. Apakah Tanda Polisi tidur seperti itu? jadi Piktor (pikiran kotor) nih. 🙂
    Yang perlu aku Tolak adalah pikiran kotor yang ada dalam benakku sendiri, Supaya ngliat Tanda polisi tidur tidak berinterprestasi macem2 mas.

  24. Sampe detik inih sayah belom tau apa ingsi dari UU Pornogarfi ituh….

    ***jangan-jangan Blog sayah terkena UU P, ituh, Rul….***
    🙄

  25. Biasanya sih ada juga kendaraan yang tidak menghiraukan polisi tidur.
    Langsung di Trabas..!!

    Jadi, mungkin ada tuh ntar orang-orang yang “nggak ngurus” ada dan tidak adanya UU ini.

    Tapi saya yakin UU ini untuk kebaikan bersama. Mereka yang masih kontra alasannya cuma 2. Pertama, kurang informasi/sosialisasi ttg UU-nya dan yang kedua “Ada udang di balik batu”.. Nah yang ke-2 nih yang bahaya.. (BEWARE..!!!)

  26. eamng polisi indonesia pada tidur semua, mkanya ga’ aman2. DPR juga plin-plan ga’ disah2kan UU-nya. eh bener kata ndop, kalu polisi tidurnya gendut alias tinggi, ntar motore gasrok, ra iso jalan. kabur.

  27. 27 ariefdj™

    Sampai sejauh ini, alasan orang-orang yang menolak RUU Pornographi ini pada gak relevan dengan substansi-nya.. Malah, yang terbnayak, di-kaitkan ama seni lah, kemiskinan lah..
    Kalo alasannya seni, apa iya karya seni itu kudu banget ber-porno jaya ?.. gak bisa apah meng-eksploitasi yang laen..
    Kalo alasane kemiskinan, kalo gitu, di-legalkan ajah narkoba, petani boleh nanam opium dan ganja, terus di-ekspor keluar, wah kemiskinan jadi jauh deh..
    Mestinya orang2 itu sadar, bahwa yang kudu dilindungi adalah anak-anak generasi penerus…dan jangan paranoid dulu… Jadi inget UU Sisdiknas beberapa tahun lalu, heboh duluan karena khawatir semua warga negara yang jadi pelajar, mempunyai hak yang sama dalam mendapatkan pelajaran yang relevan.. hi hi.. aneh..

  28. sebagai wanita, saya merasa terlindungi dgn ruu tsb.
    *ingat blog ndoro*

  29. Pornografi itu kenikmatan
    jadi banyak orang yang koar-koar
    jerit-jerit seolah negara ini punya emaknya
    ketika kenikmatan itu dibatasi
    dengan adanya UU.

  30. 30 fredddy pontoh

    Kalau bicara tentang RUU pornografi, bikin pusing. Menurut saya yang hrs dipikirkan bagaimana caranya memberantas penjualan2 vcd dan dvd porno yg dikuasai oleh para pedagang kaki lima (PKL) dan para pembajaknya. Inilah yg hrs terlebih dahulu diberantas, karena inilah faktor utama yg merusak moral bangsa. Kalau RUU pornografi adalah pelengkap saja yg kenomor sekian yg tdk penting2 banget. Pornografi tdk dpt diberantas, tapi hanya dpt dibatasi dgn cara berantas para PKL tersebut dan hukum para pembajak2 dan pembuat2 film2 porno dgn hukuman yg berat, jgn ada kompromi, dan para aparat pemerintah yg berwenang tidak mau menerima upeti atau uang damai atau uang keamanan utk melindungi para penjahat2 porno. Kiranya tulisan ini dpt mengilhami para pejabat pemerintah kita dlm memikirkan langkah2 yg akurat dlm membuat undang2 agar jangan ada yg dirugikan.

  31. Hmm.. setuju-setuju aja.

    Cuma seringkali biasanya ditentang dengan bahasa kurang lebih seperti ini :

    “Ngapain sich ngurusin hal gak penting, urusin kemiskinan sana”

    Menurut saya sich… pengaturan tentang pornografi itu PENTING. Setau saya di Indonesia belum ada pengaturan umur dalam hal akses konten dari suatu media. Konsepnya kan standar mental berkembang seiring usia.

    Masalah kemiskinan… saya kira pemerintah sudah punya program untuk masalah itu dan pmerintah TIDAK mungkin HANYA mengurusi RUU ini. Hanya saja publikasinya gak seluas dan sekeras media mempublikasikan mengenai RUU ini…

    Terlihat jelas di media bahwa pemerintah seakan-akan hanya mengurusi RUU ini. Padahal kan banyak ngurusi yang lain, terlepas dari tindakan korupsi yang ada.

    Dan saya setuju untuk komentar #27 . Generasi penerus harus dilindungi…

  32. antipornogarfi adalah harga mati. yang perlu dirembug adalah bagaimana menyadarkan seluruh elemen bangsa ini agar tak melanggar aturan Allah.
    kalau ditanya, pentingkah sebuah sebutan ‘adzab neraka’ bagi mereka…???? gimana dong njawabnya…..
    ada yang mengaitkan dengan kemiskinan. Rasulullah sas dulu pernah bilang begini, Aku tak khatair akan kemiskinan yang kalian alami, tapi yang aku khawatirkan adalah ketika pintu kekayaan itu sudah dibuka lebar-lebar…..
    bener kata beliau. kemiskinan bisa jadi alat rem bagi hasrat maksiat. tapi kekayaan sudah terbukti bikin binasa banyak bangsa dan manusia.
    maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat (keadaan akhir) orang-orang yang mendustakan itu….”

  33. 33 mirza

    analogi yang mengesankan…..

    menunjukkan capabilitas dr penulis ny….

    🙂

  34. RISIH DAN SANGAT MENGGANGGU KENYAMANAN DALAM PERJALANAN, MEMANG SAYA SERING MENGGAGAS PEMBUATAN POLISI TIDUR TAPI DIKOMFROMIKAN DULU DENGAN WARGA (KAMPUNG).
    MASALAHNYA KESELAMATAN PEJALAN KAKI YANG SERING TERJADI KECELAKAAN, UTAMANYA DIDEPAN PINTU PAGAR SEKOLAH DAN TEMPAT BERMAIN/KONSENTRASI ANAK2 JARAKNYA 5-10 M SEBELAH KIRI DAN SEBELAH KANAN CUKUP HANYA 2 SAJA.
    TIDAK SEMENA2 MENTANG2 KUASA KAMPUNG HANTAM KROMO SAJA DENGAN MEMBANGUN POLISI TIDUR SESUAI KEMAMPUANNYA TANPA PEDULI, ITU YANG TIDAK BENAR.

  35. Sebenarnya yang harus diatur dan kalau perlu dilarang itu adalah INDUSTRI PORNOGRAFI, karena dari situlah sumber kerusakan moral kita! Tapi RUU Pornografi yang ini JUSTRU ‘MELOLOSKAN” INDUSTRI PORNOGRAFI dan malahan “menyasar” ke ranah pribadi/privat!
    makanya, RUU Pornografi yang ngaco, ngawur dan idiot ini (soalnya dibuat dan disusun serta digagas oleh ORANG-ORANG IDIOT DAN DUNGU, untuk ORANG IDIOT DAN DUNGU dan hanya bisa dipahami oleh orang-orang idiot dan dungu!
    Jadi, RUU ini harus di-drop sambil menyusun yang baru samasekali secara CERDAS, TEGAS DAN SPESIFIK, jangan ngelantur seperti RUU IDIOT ini!

  36. 36 dwipangga

    udah jelas indonesia negara SETAN boro boro ngurusin parnografi…????
    ngurus makannya anak aja susah…
    mau yang parno apa kaga terserah…???

  37. 37 Ardian

    Bagi yang menolak pornografi, yg penting UU Pornografi gol dulu aja, mengenai pasal2 yg blm d spakati di selesaikan sambil jalan.

    kebanyakan debat keburu pornografi makin parah…………..

    orang yg pro pornografi makin senang aja liat kita debat ndak karuan…

  38. We are a gaggle of voluntders and starting a new scheme in
    our community. Your web site provided us with useful
    info to work on. Youu have performed an impressive actvity andd our entire group shuall be thankful
    to you.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: