Wartawan itu tanpa perasaan yah?

16Sep08

Kemaren kita dihebohkan dengan pemberitaan tentang kasus pembagian zakat yang menyebabkan 21 orang meninggal dunia hanya untuk mendapatkan amplop sebesar Rp. 30.000,-. ironi sekali. Namun ada hal ironi juga yang saya lihat, coba perhatikan screenshot berikut ini :

Salah satu foto pemberitaan tragedi pembagian zakat di pasuruan

Kalo misalnya kasus nih, seorang wartawan seenaknya aja moto, cari angle yang tepat, semakin menderita semakin bagus, trus di depannya itu udah ada menghadapi kesusahan butuh bantuan gitu, apa mereka ngak bergerak membantu yakz? Saya koq liatnya di tivi juga gitu, pas ibu-ibu antri dan sudah berdesak-desakan dan ingin keluar dari kerumunan manusia-manusia, tetap aja tuh camera-camera merekam aktivitas itu.

Emang wartawan ngak berperasaan yah? Atau memang job descriptionnya seperti itu? Mohon pencerahannya.



125 Responses to “Wartawan itu tanpa perasaan yah?”

  1. iya ya, mungkin dah kebal perasaan kali…

  2. Kalo wartawannya ga ambil gambar
    kita yang ga disana ga bisa ngerasakan emosinya
    tapi kalo tahu korbannya pasti 21 orang
    pasti wartawannya pilih nolong,

  3. klo nggak da yg ngrekam….. kita nggak tau beritanya …..

    klo diposisi wartawan… pastilah hatinya akan berkecamuk …..

    tp, profesi inilah yg kadang menjadikan seseorang mempunyai ketegaran …🙂

  4. lho itu kan tugas jurnalisme?
    ga tau deh, saya ga punya pengetahuan tentang itu, tapi saya rasa tiap orang punya “jalan” masing-masing. sama halnya dengan wartawan perang ato wartawan yg menang lomba foto interansional. bisa aja saat ini dia motret tp kemudian ikut ngebantu objeknya?

  5. Oh ya Mas… aku juga baru denger berita itu lho tadi pagi… dari guruku… duh tragis banget yach… hanya karena uang itu aja sampe ada yang meninggal… kok bisa sampe kaya gitu ya…???

  6. The same reason hal ini dipost di blog. Agar dunia mengerti, apa adanya.
    Alasan kenapa nggak nolong, ya sama dengan kenapa anda nggak nolong. Karena mereka nggak bisa nolong.

    Maksudku, coba bayangkan kita di sana, dari penggambaran dan fotonya wartawan, apa yang bakal kita lakukan?
    Kalau aku mungkin tidak ada, karena memang tidak bisa berbuat apa2, satu2nya yang bisa dilakukan ya, mengabadikan, agar hal ini nggak terjadi lagi.

  7. 7 jleph

    bukannya emang job desc reporter ky gt y mas?
    any kind of news harus mereka liput,,

  8. kayaknya seluruh blogger, postingnya sama nih pagi ini. semua tentang pasuruan. memang tragis.

  9. 9 agunk agriiza

    Iah. gila. di tv sampe ada ibu2 yang kayaknya (maaf) mau mati kejepit2.. malah dizooooommmm ke wajah ibu itu yg udah megap2 cari nafas sambil merem2 … sadis wartawan euy. demi bayaran yg gede bwt videonya itu sampe ga mw nolong ..

  10. Kita ambil saja hikmahnya dan berdoa di dalam doa kita buat orang2 miskin tersebut. Semoga almarhumah ( cos cew semua yg meninggal) dilapangkan jalannya. Dan saya yakin hisabnya di akhirat nanti akan cepat karena apa yg dia punyai hanyalah sedikit.

    Mengenai wartawan, saya rasa sudah menjadi kewajibannya untuk memotret. Dan itu merupakan hasil karya anak bangsa. Semoga kita selalu dapat bersyukur atas apa yang terjadi. Amin

  11. hm….kalau ak niyh, kak aRuL… kalau lihat pemberitaan televisi emang serem banget. miris banget. demi uang yang ga seberapa, nyawa harus melayang…. lebih dari itu, ini menunjukan umat Muslim di negeri ini makin miskiiiiin… apa harus demikian keadaannya?

    semoga kita semua mampu mengatasi keadaan yang seperti ini…juga dengan mengambil gambar tersebut! agar anak cucu, penerus bangsa ini, bisa belajar dari kegagalan2 terdahulu…

    tapi………kalau ak yang meliput kejadian itu… yaa..tetep musti ambil gambar, kak!
    apalagi wartawan senior, Kak..kayanya… makin bagus angle fotonya..makin gede bayarannya…😀 kalau salah mohon dikoreksi…

  12. ada juga kok wartawan yang ikut nolongin, tadi di salah satu surat kabar terbitan jatim. Jadi mungkin gak semua wartawan begitu. Mereka masih punya sisi kemanusiaannya.🙂

  13. makanya jadilah wartawan rul, trus apa yg km lakukan? ga ngeshoot dipecat, ngeshoot dihajar opini. modiar kw, mending blogger dapat komentar

  14. giana ya
    kadang emang miris juga🙂

  15. wartawan juga manusia, deadline adalah segalanya, targedi ini adalah tragedi nasional yang patut kita sesali bersama, nggak perlu menyalahkan siapapun, ini semua adalah kehendakNya..

  16. Namanya wartawan ya gitu mas … kalo wartawannya pada nolong semua … kita tidak akan dapat foto dari peristiwa tersebut donk ???

    BTW baru kali ini loh kampung halamanku terkenal, sampai2 menggemparkan indonesia … hehehe … ^-^

  17. kalo nggak dipoto kan kasihan kita gak dapet berita. kale aja habis moto langsung nulungin😀 *lagi berbaik sangkah sayah*

  18. Haruskah profesionalisme mengabaikan hati nurani?

  19. huehueheu
    dah kebal kale mas😀

  20. kagak gerti juga sih yach mas, dan apa patut kita persalahkan wartawan? ini bisa melebar kemana2 jadinya klo kita mencari sebuah sasaran untuk disalahkan

  21. jadi inget kasus seorang wartawan yang meliput kelaparan di afrika..
    foto yg dia ambil memuat seorang anak kelaparan dan burung pemakan bangkai CMIIW..
    nah foto ini menang penghargaan (pulitzer?), tapi kemudian muncul pertanyaan, kenapa si wartawan itu ngebiarin anak itu menderita gitu aja? terus gimana nasib anak tsb?
    si wartawan itu tampak merasa bersalah dan setelah beberapa bulan di memilih bunuh diri karena merasa bersalah

    kalo gak salah si ada cerita seperi itu..

    gw sendiri setuju dengan apa yg dikatakan dyhary, profesionalisme tidak semestinya mengebaikan hati nurani..tapi kita sendiri gak bisa men-judge gitu wartawan itu seperti gitu aja, seperti yg mitch albom tulis di buku meniti bianglala

    “ambil satu cerita, lihatlah dari dua sisi”

    gw bukan wartawan, jadi komen gw mungkin gak bakal ngehasilin apa2…hehe maaf kalo kepanjangan 😀

  22. oh ya, ternyata gw menemukan cerita tentang foto anak di afrika itu..

    disini
    http://thesedays.digitalboedaja.com/?p=71

  23. ini pertanyaan dari aspek moral, dari aspek hukumnya pun sangat sering diperdebatkan. Bagaimana kalau seorang wartawan foto melihat momen pembunuhan ? Secara hukum dia wajib menggalkan terjadinya pembunuhan, minimal melapor ke polisi. Tapi dengan begitu momennya hilang dong…

    aku juga nulis tentang tragedi yang sangat memilukan itu :

    http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/09/16/21-perempuan-tewas-rebutan-zakat-di-pasuruan/

  24. Bagaimanapun wartawan harus mengambil gambar. Setelah dirasa cukup baru setelah itu membantu.

  25. Kamu akan mengerti perasaan si foto jurnalis itu kalau udah pernah tahu bagaimana rasanya memotret human interest di balik viewfinder.

  26. aduh, saya kebetulan wartawan neh… agak2 ga bisa terima juga kalo dibilang wartawan ga ada perasaan. justru karena punya perasaan, kita bisa menghadirkan foto dan berita yang bermanfaat buat pembaca/pemirsa.

    trus emgnya kita ga bisa mengambil gambar, apalagi mencatat bahan berita, sambil menolong? saat tsunami di aceh, jurnalis justru termasuk kelompok pertama yang memberikan pertolongan. tp kan ga mungkin foto dan berita saat wartawan nolongin itu yang ditonjolin. ntar malah dituduh ngebanggain diri sendiri?

    justru di saat para pembaca/penonton bisa menikmati hasil pekerjaan jurnalistik itu, sambil makan kentang goreng di ruang tamu, ato makan soto betawi sambil saat buka puasa, para wartawan masih bermandi peluh entah di mana, mengumpulkan informasi yang mungkin berharga untuk anda.

    trus kira2 adil ngga, kalo masih dikatain juga kita ga punya perasaan?

    no offence, ya bos… cuma berbagi. cmiiw.

  27. Mungkin karena jobdesc nya sih. Jadi inget wartawan foto yang moto momen kelaparan di ethopia dulu. Akhirnya malah jadi bunuh diri.

  28. wartawan koran Surya dan beberapa yg lain di lokasi, langsung membantu setelah ngambil gambar seperlunya, sebagian dari mereka sampai menangis karena harus memilih antara kata hati dan tuntutan pekerjaan

  29. kadangkala tuntutan tugas mengharuskan ia melakukannya, bang….bukankah masyarakat lain juga perlu berita? yang jelas masih ada kok wartawan yang mangsih punyak sisi kemanusiaannya (dengan membantu misalnya)

  30. Pedang bermata ganda………🙄

  31. waduh .. repot juga ya mas .. abis .. foto seperti itu yang laku sama redaksi ..🙂

  32. 32 aminhers

    tragedi kemanusiaan, sangat ironis
    salam
    sukses slalu, ngak pulkam ?

  33. Jadi inget soal wartawan yang menang award photo anak kelaparan dan burung pemakan bangkai ( di situ si burung lagi nunggu si anak meninggal biar bisa di santap😦 ) di luar

    Selepas itu katanya langsung bunuh diri

    ada2 aja, bener2 dunia yang aneh

  34. Aneh juga ….
    terkadang semua itu bagai sembilu yan mengiris hati ….
    puluhan manusia itu tewas terinjak -injak , wajah-wajah tanpa dosa itu … nenek nenek itu … anak anak kecil itu … nyawa mereka lenyap karena uang yang puluhan ribu ,terasa aneh ketika beberapa orang di meja meja redaksi kantor berita sibuk menyajikan gambar-gambar terbaik untuk ditayangkan , gambar yang menampakkan kemanusiaan itu begitu murah harganya , apakah sebuah kebaikan jika kemirisan itu hanya sebagai tontonan , apakah itu hanya untuk pemanis rating saja , rating demi para orang -orang kaya itu , orang yang saban hari hidup dengan memvisualisaskan kepedihan kaum pribumi ….

    tak tahu juga harus berkata apa , tampaknya tak ada lagi yang namanya akal budi , kini akl budi itu cuma sampah , jika tak percaya ? tanyakan saja ke orang -orang media yang berlagak sebagai penyampai kebenaran itu ? tanyakan pada mereka apakah kepedihan itu menjadi indah untuk divisualisasikan ? kemana nuraninya ? kemana kemanusiaannya ? kemana ia ketika orang-orang miskin itu mati satu persatu ? pastinya sekarang ia menjadi sangat bangga, karena bidikannya telah menjadi headline dan pembicaran dimana-mana , menjadi pemanis karirnya , karir untuk mengabdi kepada tuan …. tuan yang selaku menuntut adanya kekacauan baru ….

    Ahhh … sedih rasanya ,tampaknya kini uang selalu lebih berharga dibanding kemanusian ….Uang yang jika ia berbicara maka kebenaran akan diam …

  35. Saya ingat cerita tentang Eddie Adams, seorang wartawan perang Vietnam yang mengambil foto [lihat di sini], tentang pemberontak vietkong yang akan ditembak kepalanya oleh seorang kepala polisi. Bagi dia, apa yang ingin dia jepret saat itu bukanlah adegan yang akhirnya terjadi ketika ia memencet shutter tustelnya…

    ‘I saw a man walk into my camera viewfinder from the left. He took a pistol out of his holster and raised it. I had no idea he would shoot. It was common to hold a pistol to the head of prisoners during questioning. So I prepared to make that picture – the threat, the interrogation. But it didn’t happen. The man just pulled a pistol out of his holster, raised it to the VC’s head and shot him in the temple. I made a picture at the same time.’

  36. ndak kok mas, mereka abis moto itu , trus bantu bantu kok…

  37. @Muda Bentara:

    Kalau akhirnya semua wartawan meninggalkan tugasnya dan menolong korban tanpa liputan foto-video, bisa jadi berita mereka kemudian (yang cuma tulisan) dianggap melebih-lebihkan atau cuma bualan. Kritik dan pesannya malah nggak nyampe secara efektif. Meski terkesan tak berperasaan, tapi rekaman foto-video bisa (meski tidak selalu) jadi bukti otentik tak terbantahkan bahwa suatu tragedi pernah terjadi.

    Ya, para pekerja dan pemilik usaha media pasti menikmati keuntungan finansial dari situ, tapi di sisi lain visualisasi tragedi adalah alat yang ampuh untuk menanamkan pesan ke benak masyarakat dan mendorong perubahan yang diinginkan. Lihat foto atau rekaman penderitaan rakyat sipil yang menjadi korban opresi militer atau penjajah asing (PD II? Vietnam? Palestina? Irak?), dan coba katakan pada diri anda sendiri bahwa itu semua diambil hanya untuk menggemukkan perut buncit si wartawan atau pemilik media.

    NB: Setahu saya, uang yang didapatkan kantor-kantor berita seperti Reuters, AP, atau AFP dari liputan berita ‘beneran’ (sosial-politik) itu nggak signifikan untuk menutup ongkos operasional mereka. Biasanya mereka melakukan subsidi silang dari lisensi berita, data, dan analisis ekonomi-finansial (pasar saham, bursa efek) yang mereka punya ke pelaku bisnis.

  38. Saya sedih banget waktu denger berita ini … mungkin sifat riya sang pemberi sedekah yang tidak melalui amil zakat telah menelan korban.

    *sok tahu*

  39. http://www.surya.co.id/web/Berita-Utama/Wartawan-Surya-Ikut-Gotong-Korban.html

    Silakan baca itu.

  40. setuju mas, tapi kalu ituh profesi ya gimana lagi, harusnya kode etik wartawan harus di pertegas lagi, aq juga mau posting ituh, tapi ga’ tega, sedih banget klau diinget2 lagi.

  41. eh, ada wartawan yang ngumpat2 ituh.

  42. perdebatan seperti ini akan sangat panjang.
    perang batin di dalam diri reporter yang ada di sana juga pasti sangat hebat. dan tindakan apapun yang diambil memang pada akhirnya akan mengundang pro kontra.
    lepas dari pro kontra dan perdebatan yang akan sangat melelahkan itu, judul yang Anda pakai terlalu menggeneralisasi. better remember, generalization is the root of all evil.

  43. 43 Fauzansigma

    Smga dgn kejadian yg diabadikan tmen2 wrtawan,publik mjd sadar,bhwasanya ada ketidakbenaran yg tjd pd saat itu. Sbnrnya qt jg hrus trm ksh dgn tmen2 wrtwn,kalo ga ada mrk yg liput berita ini,qt kan ga ada yg tau apa yg tjd sbnrnya. Bgmn pnderitaan mrk yg meminta2 itu yg riil dilapngn. Trm ksh tmen2 wrtwn, itu sbnrnya adlh wujud kepedulian tmen2 wrtwn thdp pndritaan mrk,gt kan..

  44. @arya:

    You’d better remember, not all generalization is evil😉

    And for that matter, not all evil’s roots are generalizations, too😆

  45. @catshade
    bila itu pola pikir Anda, terserah. tapi (juga melihat dari kalimat kedua Anda) bagaimana mungkin membangun argumen yang baik bila cara berpikir Anda masih penuh fallacy?

  46. *mikir* kalo kondisinya chaos kayak gitu, mo nolong juga gimana caranya yak?

  47. Once again,

    BAD NEWS IS A GOOD NEWS….

  48. saya rasa sih itu sudah tugas mereka untuk meliput. lalu, kalau ga ada wartawan, kita tau beritanya dari siapa dong?

  49. DASAR WARTAWAN!!

    mengejar materi saja…..

    dia senang kalau mendapat moment yang bagus…..

    gak peduli dengan keadaan sekitar,,,,…

    *MAaf bagi seseorang yang kerja wartawan,…..*

  50. susah mas..
    namanya juga dilema..
    disisi lain wartwan nyangking kamera..
    nah disisi lain gitu mau nolongin,, ntar kamera nya di maling gimana..
    *halah,, wakakaka😆

    kembali ke kebijaksaan hati masing-masing,,🙂

  51. Selalu ada dilema, bukan?
    Mungkin wartawan tsb ambil gambar dulu,
    baru kasih bantuan….
    positive thinking ajah🙂

  52. ya neh,wartawan mang segitunya,,,,,terlebih lagi kalo kataku si punya uang untuk zakat neh juga bersalah karena memakai tempat yang tidak memungkinkan dan tidak ada aparat yang membantu gitu

  53. itulah resiko profesi jurnalis..
    mesti menampilkan berita jujur tapi hati miris..
    semoga menemukan kedamaian abadi

  54. Astaghfirullah……………….

  55. ya klo menurut Ndutz, kalo nggak gitu, gmn kita bisa tau liputannya? kan ada prinsip gak ada skrinsyut adalah hoax nah lho???

  56. Mungkin kalo wartawan ditanya pertanyaan seperti ini, dia bakal bingung jawabnya… mana yg harus dipilih antara tuntutan profesi atau rasa kemanusiaan…
    tapi saya juga percaya kalo masih banyak wartawan yg punya rasa kemanusiaan kok…

  57. tugas wartawan adalah mewartakan. kalo dia lupa tugasnya, maka Anda tidak akan tahu betapa mengerikannya kejadian di pasuruan. kejadian di pasuruan adalah akibat dari kecerobohan dan keserakahan, terlepas wartawan membantu atau tidak.

  58. saya rasa terlalu ekstrim men-judge seseorang di mana kita sama sekali belum pernah ngerasain berasa di posisi mereka.
    kita hanya tahu dari gambar dan dengan gambar tersebut kita mulai berasumsi *dengan bumbu bumbu emosi*
    kenapa gag nolong?
    kita tidak tahu keadaan di sana seperti apa, apa ada kemungkinan celah untuk menolong dengan ribuan massa dan wartawan yang hanya beberapa. Mengkomando ribuan orang saya rasa bukan hal yang mudah. terlebih toh kita juga tidak tahu kan, apa sesudah memotret *itu tugas jurnalis* kemudian mereka menolong tapi sudah terlambat.
    Lalu dengan tidak menolong di sebut tidak punya perasaan?
    kembali lagi semua hanya asumsi dan judgement kita.
    Coba baca lagi seperti yang di link sama mas Jagoo Indonesia.
    Dan justru justifikasi justifikasi negatif akan semakin memelintir dan memperkeruh suasana.

  59. gw sering jadi gak tega ngeliatnya dan akhirnya memilih… ganti channel

  60. wagh…saya no comment aja asrul..

  61. Lha….. yang paling “kurang ajar” bukan wartawannya dong, tapi itu yang bagi-bagi zakat. Udah tahu ada ribut2 di luar (yang disebabkan oleh pembagian zakat yang dilakukan olehnya), kok nggak keluar ikut mbantu mereka yang berdesak2an?? Apa waktu itu dia nggak ada di tempat ya?? Wah…. pokoknya yang waktu itu ada di dekat situ dan tidak ikut menolong dan menganggur pula, lebih “tidak punya perasaan” lagi. Huehehe…..😀

  62. apalah arti satu orang wartawan di ramainya kerumunan seperti itu, terutama yg bawa kamera rekam, bisa-bisa juga akan jadi korban, belum lagi barang bawaan yang berat.

    mungkin yg jadi pikiran wartawan adalah kesalamat properti perusahaannya. Lankah yang lebih baik adalah memberitahukan kepada hal layak ramai agar peristiwa serupa ini tak terulang lagi, dan sebagai bahan pikiran pemerintah yg ikut jadi tahu tentang berita bersangkutan, betapa susahnya hidup rakyat. Itu lebih baik.

    Wartawan Xpresi Riau Pos, Riau Pos Group, Jawa Pos News Network.

  63. 63 sufimuda

    mmm…yang jelas rakyat kita masih miskin
    Menjalang pemilu 2009 semua hal bisa di politisir…
    Kemarin padi, sekarang zakat besok??
    Tapi cara beramal H. Sokhan perlu diperbaiki tahun depan agar tidak membawa mudhorat
    Salam Damai

  64. @ Catshade
    Iya juga mas, ada benarnya juga .tapi tentunya objek yang anda gambarkan itu (palestina,irak,afganistan,vietnam) berbeda kondisi real nya , yang terjadi di tempat itu adalah sebuah tragedi yang namanya perperangan , pmbunuhan umat manusia , dan dalam konteks peperangan , pihak media selalu menjadi bagian yang tak tersentuh , mereka tidak terlibat langsung , akan tetapi dalam tragedi yang digambarkan oleh daenk aRul ini merupakan hal yang berbeda , dalam hal ini si peliput media itu bukan sebagai bagian yang tidak terlibat , akan tetapi ia merupakan bagian yang juga hadir disitu untuk mencari sesuatu , coba anda perhatikan ! bidaikan yang diambil oleh si wartawan itu dalam lingkup apa, dalam posisi yang bagaimana ? bukankah mereka disaat kejadian itu dengan sibukknya mencari posisi yang strategis untuk membidik gambar ? lalu apakah pemburuan gambar itu menjadi baik jika hanya menafikkan manusi-manusia yang nafas nya sedanng megap-megap ituh ? dan ini sangat berbeda dengan kondisi perang ,

    jika disaat perang para wartawan membidik gambar untuk menciptakan opini umum bahwa inilah kejadian yang sebenarnya , sebuah perperangan yang belum reda itu , lalu apakah kejadian pembagian zakat itu kondisinya sama seperti perang ? jika perang adalah sesuatu yang telah diduga dan direncanakan, maka apakah kematian orang-orang kurang mampu itu merupakan sesuatu yang direncanakan ? apakh saat kejadian itu wartawan nya menganggap bahwa hal itu menjadi berkelanjtan ? dan mereka hanya mengambil gambar saja ? tentunya tidak bos , kindisi yang terjadi pada saat itu adalah kejadian spontan, tanpa ada yang bisa menduga … dan solusi yang harus dilakukan juga bersifat aksi spontan , bukan aksi lanjutan seperti dalam konteks perang …lau apakah mendokumentasikan keadan yang sebenarnya bisa disebut sebagai upaya pertolongan ? tentunya mereka-mereka itu telah meninggal duluan sebelum gambar itu ditayangkan .

    dan tentang ongkos operasional yang tidak tertutupi , saya pikir setiap jenis usaha itu selalu mempunyai nilai untung rugi , terlepas dari segi mana orang-orang melihat hal itu , tapi tentunya yang dicari adalah bukan untungnya saja secara langsung , dunia media yang dibekingi kapitalisme telah menciptakan kultur baru dalam pandangan masyarakat ,dan yang berdiri dibelakang media itu adalah perwujudan dari perluasan opini , dan yang dilakukan reuters, AP,AFP,NEWS Corp , semuanya bertujuan untuk membumikan opini itu untuk menjadi hidup , dan siapa yang bisa menafikkan jika berita berita yang dihadirkan oleh mereka mereka itu merupakan hasil dari sortiran pihak pemilik modal ? apakah sebuah ungkapan keprihatinan jika sesuatu itu disampaikan secara tidak brimbang ?

    apakah sebuah kebaikan jika mereka selalu memanipulasi berita tentang kematian orang-orang irak, palestina,afganistan ? dan sekarang media telah menjadi media yang ampuh untuk bisa menguasai dunia , dan dalih terhadap kekurangan biaya operasional tidak hanya dilihat secara ksat mata saja , tetapi juga dengan kejelian , kejelian bahwa bukan uang yang mereka incar , tetapi opini-opini penipuan itu , opini yang selalu menguntungkan para Judaisme yang berdiri dibelakang media yang katanya “baik-baik” itu …

    terkadang saya harus mengakui juga sebuah survey yang mentyebutkan bahwa MEDIA menjadi penyumbang ketiga kesengsaraan umat manusia di dunia , setelah PENGUASA dan PENGUSAHA ……

  65. duh, sempet juga q berpikiran kayak gitu. tapi yang berhak ngejawab adalah para wartawan yang pada saat kejadian ada di lokasi…

  66. saya rasa bukan perasaan yang mereka matikan dalam peliputan tapi juga demi kita yang butuh berita untuk mengetahui kondisi sebenarnya tanpa adanya manipulasi, saya rasa para wartawan juga termakan buah simalakama, ada yang ingin membantu tapi ada juga demi tuntutan profesi.
    sisi nurani kemanusiaan bukan menjadi alasan dari profesi, seperti halnya kita saat dijalan raya lalu melihat adanya pengemis yang meminta sumbangan kepada kita, dari sisi kemanusiaan kita ingin membantu tapi dari segi ke depannya, kita malah menjerumuskan mereka dalam kemalasan..
    antara tuntutan dan kemanusiaan, bagaimana kita menyikapinya, saya sendiri juga masih banyak belajar untuk berbagi dab ber-profesi, bagiamana dengan daeng aRuL?

  67. dilematis juga barangkali
    disatu sisi wartawan kan harus bekerja profesional juga, gambar dimana justru disitulah yang menjadi mata pencahariannya
    semakin bagus take gambarnya semakin laku kan?

  68. Tugas wartawan Foto di Lapangan adalah memang mengabadikan Peristiwa,
    semakin detail semakin bagus “Memang”.
    Namun, dalam hal tayang adalah Hak Redaktur…
    Pada kasus ini Foto orang yang berdesakkan cukup mewakili sebenarnya!
    Dan, sekarang media kita cenderung “beropini” artinya tidak betul-betul independen lagi, baik cetak maupun TV.

  69. tuntutan kerjaan kali kang

  70. 70 @dee

    Tau nggak yang paling berbahagia dengan musibah memilukan & memalukan ini ?,….. ya, betul…… PARA POLITISI kita….hmmmm dapet bahan kampanye segar nih…..

  71. udah tugasnya Mas.. *positive thinking, abis ngambil gambar, trus ikut nolongin*

  72. Saya seorang wartawa. Ketika membaca tulisan anda ini, banyak perasaan yang muncul seketika. Mulai geram, gerah, kesal dan sedih. Tapi saya hanya menganggap anda tidak memiliki pengetahuan tentang jurnalisme dan bagaimana sistem dan kode etik seorang wartawan.

    Jika wartawan tidak mengambil angle atau sisi menarik anda mungkin tidak membaca atau menonton peristiwa tersebut karena berita tidak menarik tidak akan dimuat oleh pimpinan media massa.

    Wartawan sama dengan profesi yang anda geluti saat ini. Wartawan sama seperti guru, polisi, jaksa, presiden, petani, pedagang mahasiswa dan sebagainya. Jika wartawan menyiarkan berita bagus maka ia dielus-elus, jika guru, polisi, jaksa, presiden, pedagang, petani dan sebaginya berhasil dan berprestasi semua orang akan menyanjung-nyanjung. Tapi sedikit saja melakukan kesalahan maka ia akan dihujat banyak orang.

    Begitu juga dengan profesi wartawan, ia memiliki tugas dan tanggung jawab yang mulia dipundaknya. Ia menginformasikan peristiwa-peristiwa penting, informasi, pendidikan, dan hiburan kepada masyarakat luas.

    Coba bayangkan. jika peristiwa Tsunami di Aceh (maaf masyarakat Aceh) tidak diliput oleh wartawan, korban-korban yang berserakan tidak diliput wartawan, maka seluruh dunia tidak akan tahu. Tidak akan mengalir bantuan sebesar itu.

    Jangan lecehkan profesi wartawan.

  73. Klo diliat dari sudut ambilnya, kelihatannya si wartawan sedang motret sambil manjat entah pagar ato pohon.. Mungkin ketika dia poto2pun, Ibu2 itu baru hanya berdesak2an, belum jatuh seperti itu.. Lalu ditengah2 asik2nya motret, tiba2 mulai ada yang berjatuhan. Dan dalam situasi seperti itu, menolong secara langsung sepertinya memang sulit.. Itu yang saya asumsikan. Selain itu, kemarin saya baca di Jawa Pos, wartawan itu mbantu koq. Setelah jatuh korban pertama kalau ndak salah, jadi ndak bener kalo mereka dikatakan cuman moto aja.

    Belum baca semua commentnya sih, tapi baca comment #72, koq saya jadi merasa geram, gerah, kesal, dan sedih juga..

    kode etik wartawan?
    lebih besar kah daripada kode etik manusia?

    apa memastikan bahwa dunia tahu peristiwa yang terjadi di Pasuruan itu lebih baik dari nyawa seseorang? Apa Anda masih bisa bilang gitu kalau Anda yang sedang terinjak2, lalu seorang wartawan lebih milih moto Anda dibandingkan datang menolong..

    Ya, tapi Anda wartawannya, pastinya Anda lebih tahu.

  74. 74 syukriy

    Namanya juga WARTAWAN = orang yang mewartakan. Jadi bukan Dewa Penolong.😦
    Dengan adanya foto-foto yang sangat mengenaskan ini, kita jadi tahu betapa besar dampak dari kemiskinan.
    Saya setuju dengan pendapat #73. Wartawan juga mestinya punya nurani, bukan cuma jadi robot dan perpanjangan tangat kapitalis yang mengaung-agungkan demokrasi. Kapitalis itu menghalalkan segala cara. Nah, kalau wartawan juga begitu, apa jadinya kemanusiaan di muka bumi ini?

  75. Kalo saya baca tautan situs harian Surya yang diberikan si Jagoo Indonesia [di sini], rasanya sudah jelas diceritakan di situ bahwa para wartawan segera menolong para ibu setelah sebelumnya sempat meliput seperlunya.

    Saya mengalami semua itu. Saya sempat bingung memilih antara mengambil gamar peristiwa yang tentu nilai jurnalistiknya sangat tinggi dan menolong para perempuan itu keluar dari desak-desakan yang mematikan itu. Tetapi pilihan kedua lah yang akhirnya saya ambil. Setelah berhenti memotret dan mengantongi kamera serta bloknot, saya putuskan menarik korban yang tertindih, hingga menggendong mereka yang terjepit….Rekan-rekan wartawan lain pun berbuat serupa. Kegiatan memotret dan wawancara segera dihentikan untuk melakukan tugas lain, menolong orang.

    Jadi saya tidak mengerti, kenapa masih ada komentator yang mengutuk para wartawan karena mengabaikan kemanusiaan mereka dan memilih menjalankan tugas. Kalau mereka bisa melakukan keduanya (seperti yang diberitakan di harian Surya itu), kenapa harus memilih salah satu?

    @arya:

    Buset, serius sekali anda menanggapi celetukan saya (harusnya kedua smiley itu bisa jadi penanda nonverbal untuk anda). Ah, tapi bagaimana mungkin membangun diskusi yang baik bila anda hanya menuduh dan tidak mengkoreksi di mana sesatnya pemikiran saya?😉 Stop, jangan dijawab lagi, nanti pembicaraan kita malah dicap OT sama si arul.

    @Muda Bentara:

    Saya ingin sekali menanggapi anda, tapi saya nyerah deh kalo argumen anda sudah dilandaskan pada kepercayaan akan CORPORATION IS EVIL dan Konspirasi Yahudi ™.

  76. ahahaha…saya wartawan lho rul. menurut saya kamu salah pilih judul. begini, jurnalis itu memang tugasnya mencari berita. tahukah kamu berapa besar resiko yang diambil jurnalis ketika meliput perang, bencana alam, sampai krenek menek seperti konser? apakah apabila mereka mati di tengah tugas, mereka akan dijadikan berita? belum tentu.

    bukannya membela kaum wartawan, tapi saya sendiri tahu medan jurnaslis seperti apa. dan biasanya kalau ada kejadian tersebut, memang mereka menomorsatukan tugas mereka, dalam arti segera ambil berita, setelah itu menolong. sehingga ada yang bisa diceritakan dari kejadian tersebut. tapi tak jarang pula yang tidak mempedulikan pekerjaan, dan langsung menolong.

    coba ditelaah, apabila tidak ada yang mengabadikan kejadian tersebut, kira-kira masyarakat akan tahu dari mana berita tersebut? dan yang saya tahu, banyak rekan seprofesi saya yang lebih mementingkan berita ketimbang nyawa mereka. coba lihat yang desak-desakan. mereka terus mendorong-dorong tanpa mempedulikan kiri kanan. mana yang lebih tidak berperasaan? apakah mereka disalahkan juga?

    jangan menggeneralisasi sesuatu hanya dari opini pribadi.🙂

  77. Ass.wr.wb,
    Masih banyak cara lain yg lebih baik dan lebih utama untuk beribadah.
    Cara begini adalah egoisme.
    InsyaAllah lain kali agar lebih baik dan lebih lancar.

    Wassalam.

  78. Comment # 73. apa anda pikir wartawan tidak memiliki hati nurani? tidak memiliki perasaan. Anda salah besar. Wartawan juga manusia. Akan tetapi jika kami tidak bekerja apa anda bisa mengetahui peristiwa tersebut?

    Saya katakan, wartawan seperti profesi yang lain juga. Ibarat polisi, dimana semua orang menghujat akan tetapi semua orang juga butuh keamaan. Begitu juga dengan wartawan, anda boleh bilang wartawan tidak memiliki hati nurani, tidak berperasaan tapi anda selalu menanti-nanti berita yang disampaikan wartawan.

    Soal kapitalis (comment #74) itu soal beda. Tapi saya rasa anda juga butuh wartawan (informasi)?

  79. 79 marwan

    aluw..
    thanks banget dah berkunjung di blog gue,,
    hummm
    yaah memang job desc mereka seperti itu…
    bahkan didalam peperangan pun, jika ada yang minta tolong, mereka hanya bisa ngeliput..
    yaah tapi g semuanya, mungkin ada yang benar2 menjadi wartawan yang baik…

    g cuman itu mas.. kisah nyata : dalam pemilihan bupati, wartawan mengancam salah satu calon nya jika tidak memberikan uang sebesar yg dia minta, bsk pasti ada berita yang macem2 tentang tuh calon…
    tp g semua wartawan seperti itu…
    yaah ada yg hitam, ada yg putih,,,^_^

  80. @ Catshade
    “CORPORATION IS EVIL dan Konspirasi Yahudi ™.” ?

    kalau tentang AP ,REUTERS , AFP, News corp …. itu iya ….lantas dalam konteks tragedi zakat itu ???

  81. kurang ngerti kerja wartawan aku🙂

  82. Aku pernah nonton liputan di MetroTV ttg dibalik hati para wartawan. Waktu itu pas ngeliput bencana alam tsunami Aceh.
    Pada saat itu seorang kamerawan atau photografer (lupa aku), melihat seorang yang hanyut di arus yang deras bersama puing² gitu. Dan dia ingin sekali menolong orang itu, sampai akhirnya tidak bisa. Karena beberapa saat kemudian orang itu sudah tidak nampak lagi terseret arus sungai yang deras.
    Tentu saja sebagai wartawan hatinya akan sangat berkecamuk.
    Wartawan juga manusia khan???

  83. 83 batuhapur

    maksudnya saat kejadian tersebut apa memang wartawan lebih mementingkan rekam peristiwa ?? daripada menolong orang yang didepan matanya langsung udah meregang nyawa????

    itu sebuah pertanyaan yang wajar…. tidak punya perasaan

    kita sama sama bisa menjawab pertanyaan tersebut bila di pada posisi yang sama dengan wartawan, apapun status kita. bukan ahanya polisi, tentara, paramedis, dokter yang menolong orang.. siapapun, bahkan orang jahat sekalipun akan menolong.

    dan kesimpulan gw saat ini.. wartawan yang ada saat itu tidak punya hati nurani….seandainya dia menolong, mungkin satu nyawa tertolong , walaupun dia tidak dapat rekaman gambar yang bagus….tapi perbuatannya itu lebih mulia.

    sungguh terlalu…

  84. Kita sendiri sudah berbuat apa?
    ah sudahlah, hanya butuh perenungan sejenak kok semuanya itu, selanjutnya silahkan beraksi untuk memberi yang terbaik pada negeri ini.

  85. Ada Kok mas yang punya perasaan tenyata. dia adalah wartawan Harian Surya. Lupa nmanya. Tapi kata dia dia langsung meninggalkan kamera dan langsung terjun menolong . Sempat dia sambil meneteskan airmat. padahal wajahnya macho-macho serem. hhahaha bercanda.

  86. waow… komennya banyak amat🙂

    Ada yang lebih ekstrem dari wartawan kompas lho..

    Peringatan: yang hatinya lemah jangan dibuka.

    beberapa saat setelah tuh wartawan ngambil fotonya, objek yang ada difoto meninggal dunia.

    peringatan : bukan untuk yang hatinya lemah.

    tapi lihat dari hasil fotonya, gara2x kejadian tersebut & luasnya publikasi. bantuan internasional langsung mengalir ke lokasi.

    setelah jurnalisnya dapat penghargaan pulitzer, beberapa bulan setelahnya dia bunuh diri gara-gara depresi berat.

    ini berita lengkapnya :
    http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,981431,00.html

    idealnya jurnalis foto harus seperti tidak ada ditempat kejadian & tidak boleh mengganggu kejadian tersebut.

    Memang berat……

  87. Mungkin dia mau membantu, tapi repot kameranya ditaruh di mana?
    Hehehe…

  88. yang jelas motifnya ya cari duit dengan jalan mengabadikan momen yang seharusnya dia ikut nolong😦 gimana lagi

  89. Makin rame aja yah …

  90. maaf saya sengaja tidak membaca seluruh komen demi menjaga independensi komentar. menurut saya yang dilakukan wartawan tersebut sudah benar. tugas wartawan adalah meliput kejadian secara profesional. profesional artinya lebih mementingkan pekerjaan daripada emosi pribadi karena dibayar untuk itu.

    kalo ada pernyataan: wartawan tanpa perasaan, menurut saya salah. wartawan juga manusia dan sudah barang tentu berperasaan.

    dalam kasus ini, lebih baik wartawan tetap berada di lokasi sambil terus meliput daripada masuk ke kerumunan orang yang sedang antri tersebut karena malah bisa menambah ruwet keadaan. pada situasi tersebut semua orang harus segera keluar dari kerumunan, bukan masuk!

    coba bayangkan seandainya wartawan itu ikut masuk ke kerumuman dengan tujuan menolong, maka ada beberapa kemungkinan jelek..

    1.ikut kehabisan nafas dan akhirnya mati
    2.kalo toh gak mati, dia akan kembali ke kantor dengan tangan hampa karena tidak meliput (sibuk menolong dan akhirnya sibuk membebaskan diri). akibatnya bisa fatal. kehilangan pekerjaan. artinya anak istri mereka akan kehilangan nafkah!

    hikmah dari liputan wartawan ini adalah kita menjadi tahu detail kejadiannya sehingga di kemudian hari bisa mengantisipasi. hikmah lain kita juga jadi tahu ternyata di pasuruan ada orang kaya yang dermawan. di daerah lain, orang kaya malah sibuk memperkaya diri tanpa peduli sekitar! (bukan berarti semua orang kaya begitu, mungkin menyumbang lewat yayasan)

    akhir kata, semoga kejadian tersebut tidak terulang lagi dan rakyat kita semakin kaya sehingga tidak perlu berebut duit begitu😉

  91. kalo tentang wartawan, dari dulu ku udah sering heran
    lagi ada musibah bukannya coba nolong malah nyuting/motret
    liputan tentang kegiatan ilegal bukannya laporin ke polisi malah rahasiain identitas pelaku
    kesadaran memperbaiki/menolong malah kalah sama “kode etik jurnalisme” ********
    padahal predikatnya sebagai “manusia” seharusnya lebih diutamakan daripada sebagai “wartawan”
    —–
    @aAng : saya edit komentarnya

  92. 92 fallenopique

    apakah anda akan tetap ngeblog seandainya tak ada seorangpun yang membaca/menengok blog anda?

    @ fallenopique :
    kalo ditanya seperti itu, sejak ngeblog dari awal selama 1,5 tahun, yg mengomentari blog sy tidak ada lho.
    -aRuL-

  93. hal itu tentu saja “DEMI sesuwap naSI” mas arul…

  94. Sepertinya mengatakan wartawan tanpa perasaan, tidak tepat juga ya. Mempunyai perasaan tidak harus ditunjukkan dengan cara meletakkan kamera lalu ikuta ‘terjun’ menolong begitu saja. Kondisi di tempat kejadian belum tentu segampang itu. Bahkan kalau misalnya wartawan yang hadir di sana beramai-ramai menolong dengan menuju ke satu titik lokasi, mungkin malah akan memperburuk keadaan.

    Beberapa berita yang menyebutkan bahwa wartawan juga menolong ‘setelah jatuh korban’, setidaknya membuktikan bahwa mereka juga tetaplah manusia. Salam untuk semua Anda yang berprofesi sebagai wartawan.

  95. Profesi jgn sampai mengalahkan rasa kemanusiaan.

  96. hehe.. ada yg sampe posting, coba pas diberita tipi didenger deskripsi dari naratornya, yang seolah-olah menyalahkan panitia pembagian yg melakukan pembiaran, padahal yg nyuting malah asik cari lokasi yg strategis menyuting orang-orang yg megap-megap…😐

  97. wartawan punya perasaan kok,mreka hanya menjalankan tugas,kalu nda gituh kita nda tau kejadianya…..meski terkadang menjadi sebuah dilematik..

    ~makasih sudah singgah diharumhutan~

  98. Wartawan dulu itu daeng lebih mendahulukan
    1. Kemanusian
    2. Tata bahasa untuk berita
    3. Uang

    Klo wartawan sekarang lenih mendahulukan
    1. Uang
    2. Kemanusiaan
    3. Tata bahasa untuk berita

    Hallla sok tau ku di
    hati2ki di borongi wartawan nanti klo pulang huahahahaha pissss

  99. Serba salah memang, karena wartawan melihatnya dai sudut pandang apakah segala suatu layak menjadi berita apa tidak. Memang sekarang saya melihat tayangan sering vulgar…terutama untuk hal yang bersifat kekerasan, kawatirnya jika yang meilhat anak-anak belum cukup umur, yang menganggap hal tsb adalah wajar.

  100. 100 ourkami

    klo kata TV sih yg nolong wartawan, tapi emang sempet kepikiran juga ya kenapa harus ditolong waktu korbannya tambah banyak kenapa gak dari awal nolong toh mereka juga dateng meliput gak sendiriankan pastinya berdua jadi yang satu meliput yg satu nolong hehehe ngehayalnya sih kaya gitu tapi gak tau juga klo ada diposisi wartawan.
    lam kenal ya ourkami.wordpress.com

  101. 101 fahmi_baraja

    klo menurut aq malah..

    perasaan seorang wartawan itu jauh lebih miris dari pada yang kita bayangkan…

    bisa kita bayangkan gimana perasaan seorang yang ngambil gambar, sementara didepannya banyak korban yang berjatuhan.

    bisa kita bayangkan juga, gimana psikologis seorang wartawan yang berada di medan perang, dimana disetiap jalan pasti ada korban berjatuhan.. sementara dia sendiri tidak bisa berbuat apa2 selain memotret..

    mungkin yang bisa dilakukannya untuk menebus itu semua adalah mencari cara untuk mengambil foto terbaik supaya orang yang melihat foto terenyuh, atau masuk ke dalam emosi situasi dimana dia mengambil gambar.

  102. berbagai manusia memiliki kepentingan masing-masing terkadang mareka terpaksa “memakan” sesamanya sendiri…

  103. Memang tidak menggunakan perasaan, tetapi bukan berarti wartawan itu tidak punya perasaan. Wartawan itu mudah stres. Itu sebabnya wartawan mula digembleng habis-habisan. Misalnya disuruh menginap di kamar mayat, atau ngebeat di rumah sakit umum di mana ada banyak orang miskin butuh bantuan. Wartawan bukan superhero, tetapi ia bisa melihat ribuan ketidakadilan dalam sehari. Dan apa yang bisa dilakukannya adalah memberitakan. Pertolongan kecil yang diberikan itu tidak lebih penting dari perubahan yang bisa terjadi setelah berita itu tersiar. Yah, memang ada banyak juga wartawan yang “tak berperasaan” tetapi sebaiknya berprasangkabaik sajalah. Dan kutipan Mas Catshade ini menurut saya sangat baik:

    Ya, para pekerja dan pemilik usaha media pasti menikmati keuntungan finansial dari situ, tapi di sisi lain visualisasi tragedi adalah alat yang ampuh untuk menanamkan pesan ke benak masyarakat dan mendorong perubahan yang diinginkan.

  104. tentu saja pada harus dibedakan antara perasaan dan profesionalisme…
    saat menjalankan tugasnya, wartawan ya harus bertugas sebagai pencari berita. Saat pembagian Zakat di Pasuruan tersebutm wartawan tentu saja bukan sebagai petugas keamanan yang harus mengamankan atau petugas medis. Tugas utamanya secara profesional tentu saja mendapatkan angle berita yang baek.
    Bahkan saat ada seorang yang hendak bunuh diri sekali pun, wartawan akan memilih mengarahkan kameranya kepada si korban dibandingkan membantunya agar tak bunuh diri.
    Lantas apakah wartawan tak punya perasaan? Saya yakin, sebagian wartawan ketika merasa sudah cukup mendapatkan data dan informasi akan tergerak juga untuk membantu. Bayangkan ketika semua wartawan saat itu tak mengabadikan sama sekali kejadian itu karena sibuk membantu, maka masyarakat juga tak ‘merasakan’ kejadian itu. Profesionalisme itu juga untuk berbagi perasaan…

  105. Saya baca di SINDO yang memberitahu kejadian kepada polisi justru dari pihak wartawan. Karena panitia juga kebingungan.
    yang disalahkan bukan ZAKAT nya tapi caranya. Kalau lebih bagus H. Suchon mendata warga yang miskin itu lalu dibagikan sendiri ke rumah masing2. Lebih aman dan tidak demonsgtratif..

  106. saiah tidak kuat melihat dan mendengar beritanya..terlalu…menyedihkan…

    begini ya,,wajah asli bangsa kita???

    begitu banyaknya rakyat yang menderita,,,sementara tikus2 itu tidur nyenyak di istananya…

  107. profesionalisme kerja lebih diperlukan barangkali..

    inget film spiderman ga ?? waktu mj nya mo nikah ama orang.. si peter parker nya malah kaget trus diem aja… trus bosnya malah bentak² sambil bilang ke dia “take a picture… take a picture idiot…”

    barangkali seperti itu juga dilema seorang wartawan… kalo gak kerja anak+ istri bisa gak makan… kalo kerja, justru bisa jadi penilaian dan image buruk bagi dirinya dan rekan seprofesinya…

    anyway.. turut berduka atas kejadian ini…

    yang mo ikutan jadi caleg.. liat ntuh… jangan cuma nonton aja.. ajang cari simpati sono…. ( nyindir mode +on )
    hahahahhhh

  108. namanya demi kejar tayang🙂

  109. ya kalau ada kaya gitu dah mulai panas ngshoot dulu baru nolong kale yee. kaau ndak ya waktu ramai ya di shoot dulukan gak masalah. tapi kaau nunggu heboh and banyak korban itu namanya makan mayat orang lain untuk sebuah berita.

  110. itulah kenapa ada kode etik jurnalistik.. yang kadang sering diabaikan oleh para jurnalis yang penting dia dapet headlines dulu.. someone’s suffering often becomes other’s commodity …😦

    coba deh mampir ke negeri si bau kelek ini – seperti itu adlah kejadiaan cukup lumrah.. sayangnya..

  111. BAD news is always good news😦

  112. aku juga posting tentang tragedi ini lhooo mas !!!
    smoga gak terulang kjadian seperti ini

  113. 113 ariefdj™

    ..sependapat ama komen mas HMcahyo di 111.. malah sering banget terjadi, jika oknum wartawan ‘nemukan’ sesuatu yang gak sesuai aturan, mereka akan ‘konfirmasi’ dan mudah ditangkap bahwa motifnya tentulah bukan untuk memperbaiki..

  114. y ini mas wartawan….:)
    cari momen…:)

    cm klo mau bantuin y gimana?susah jg,mungkin dr publikasi ini salah satunya..

    jd inget foto yg menang pulitzer award tahun 1994,fotonya kevin carter…:)

  115. 115 galihyonk

    Hm,, hal ironis sekali memang mas aRuL…😦

  116. hhahahahaha…
    kayaknya memang si wartawan lebih cenderung pengen mendapatkan hasil foto yang terbaik deh. mungkin mereka berpikir motretnya cuman bentar lalu bisa bantu tlong…. mungkin

  117. sip….ini nih yg selama ini jadi polemik, mana saat buat nolong mana saat buat nyari brita, cthnya aja waktu pesawat jatuh yg diatasnya juga ada wartawan TV, dengan ngidupin kamera dia skalian bisa nolong menerangi jalan keluar bagi penumpang lain….waktu bankai kapal yg kebakar dulu, kapalnya udah mau tenggelam masih sempat2nya ngerekam berita, padahal udh sakratul maut tuh kondisi….jadi intinya dimana, kapan dan mau siapa saja mesti bisa memposisikan diri masing2 sesuai dengan lakon yang dia pilih, kita kagak bisa nyalahin begitu saja…..sip

  118. kalau saya jadi wartawannya saya pasti bawa tuh kamera sambil nolongin ibu itu.. coba dibayangkan, “uang dan headline berita” atau “nyawa 1 orang saja yang bisa diselamatkan”
    kalau mereka bilang mereka penyampai berita tetapi merka hanya bisa menatap tanpa berbuat apa2 jelas mereka gak punya hati nurani.. buat apa banyak orang tau kalau orang itu terinjak2 sampai meninggal? kenapa tidak buat cerita dalam hidup kita sendiri, bahwa kita sudah menyelamatkan orang(minimal 1org) yang bisa kita tarik dari kerumunan itu?
    saya tau ada wartawan yang di aceh yan gikut membantu juga, memang setiap orang ada tugasnya.. tapi kalau masalahnya nyawa itu tugas semua orang, siapapun yang bisa berbuat harus bertindak, jgn hanya merekam dengan alasan supaya kejadian itu tidak terulang..

  119. Dilematis juga seh…
    hanya menambahkan saja, wartawan adalah pencari berita. Wartawan juga manusia. Profesionalitas dan rasa kemanusiaan ada di hati mereka.

  120. secara tidak langsung berarti harga nyawa tuh 30ribu ya mas??

  121. tuh akibat dari biang kerok kapitalisme di Indonesia. banyak orang yang amat sekali miskin yach.😦

  122. Dosen saya dulu pernah ngajarin gini :
    Kalau ada orang mo bunuh diri lompat dari gedung 25 lantai dan tidak ada seorang pun disekitarmu, apa yg kmu lakukan sebagai fotografer atau kameraman?
    Jawabnya : kamu ambil gambar proses jatuhnya dia, ambil gambar setelah dia jatuh….baru nelpon ambulans…
    prinsipnya : persitiwa itu harus terjadi dulu, baru bisa jadi berita.
    yang terjadi di lapangan sesungguhnya, para wartawan yang ngeliat persitiwa tersebut akan mendokumentasikan dulu peristiwanya, baru nolongin. kasusu tragedi zakat juga gitu. Kameramannya ambil gambar dulu, baru nolongin…lha, proses mereka nolongin kan gak mungkin terekam? hehehe….salam kenal y bos…

  123. pada intinya, saya setuju ama komen no.2 diatas.

    inget gak kecelakaan pesawat bbrp tahun yg lalu, kalo ga salah Lion Air di salah satu Lanud Jateng? Waktu itu kondisi lapangan bener2 kacau balau berantakan. ada salah satu kameramen yg kebetulan jadi korban di pesawat tsb. lalu dia menyelamatkan kameranya dan meliput korban2 laen.

    suerem bener deh! bener2 liputan from the spot. luka kameramen itu emang ga parah, dan itulah yg sempet mengundang tanda tanya bbrp pihak: mengapa dia lbh pilih sibuk menyuting para korban laen dengan kameranya, instead of helping them?

    tanggapannya ya more or less:
    “klo nggak da yg ngrekam….. kita nggak tau beritanya ….. klo diposisi wartawan… pastilah hatinya akan berkecamuk …..” -> ngutip dr komennya afwan auliyar diatas..

  124. yah… semoga kejadian ini tidak akan pernah terulang lagi

  125. sangad sedihh ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: