Kembalikan Wotu Padaku

05Jun08

KEMBALIKAN WOTU PADAKU
Oleh: Nawawi Sangkilat

A. PENDAHULUAN

Sebagai mana diketahui, pulau Sulawesi adalah salah satu pulau terbesar di gugusan kepulauan nusantara. Nama Sulawesi juga telah menjadi misteri tentang siapa yang pada awalnya memberikan nama pulau ini menjadi pulau Sulawesi. Akan tetapi besar dugaan bahwa orang yang bersejarah memberikan nama pulau ini sebagai Sulawesi yaitu Prof. Moh. Yamin sebagai ganti dari nama yang sebelumnya yaitu Celebes yang dikenal pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. Sebenarnya nama Celebes pada awalnya dikenalkan oleh seorang yang berkebangsaan Portugal yang bernama Antonio Calvao pada tahun 1563. Celebes oleh Antonio Calvao dimaksudkan sebagai ”ternama” atau tanah yang makmur yang terletak di garis Khatulistiwa. Celebes bagi orang Belanda menyebutnya dari kata Cele Besi yaitu Cele (Keris, badik atau kawali)`yang dibuat dari Bessi`(Bugis). Sebuah anekdot dalam masyarakat yang konon menurut cerita yang dituturkan oleh seorang Belanda yang bertanya kepada seseorang yang secara kebetulan seorang bugis. Orang Belanda bertanya tentang nama tempat atau pulau, akan tetapi disalahartikan oleh orang Bugis yang menurut sangkaannya orang Belanda tersebut menanyakan nama senjatanya, lalu dijawabnya sele (keris) bessi (besi). Terlepas atas kebenaran cerita tersebut tetapi kenyataannya pulau Sulawesi sejak dahulu adalah penghasil bessi (besi), sehingga tidaklah mengherankan Ussu dan sekitar danau Matana mengandung besi dan nikkel. Bessi Luwu atau senjata Luwu (keris atau kawali) sangat terkenal akan keampuhannya, bukan saja di Sulawesi tetapi juga di luar Sulawesi, sehingga seorang novelis terkemuka Kho Ping Ho (Asmaraman) menggambarkannya dalam cerita ”Badai di laut Selatan” di dalamnya diceritakan kehebatan atau keampuhan Keris Brojol Luwu yang kini telah menjadi pusaka kerajaan Airlangga.

B. PERIODE PEMERINTAHAN KERAJAAN LUWU
Kerajaan Luwu yang kita kenal sekarang telah memiliki sejarah yang sangat panjang sehingga dari sudut pandang geo politik, para ahli terkadang dibingungkan oleh kemashuran Luwu sebagai sebuah kerajaan terbesar dan tertua di Sulawesi. Bahkan menampakkan kesejajaran kronologis atau kemitraan horizontal dengan raksasa Majapahit. Dan dari sudut pandang ekonomi, sulit memahami bagaimana entitas politik ekonomi Luwu dapat memasuki kontak-kontak interregional dan internasional. Sementara dari sudut pandang letak geografisnya boleh dikatakan agak terpencil pada sebuah teluk yang jauh meletak membelah dua semenanjung selatan dan tenggara yang sempit dan runcing. Kedatuan Luwu yang pernah besar pada suatu masa di mata nasional maupun internasional. Kajian tentang Kedatuan Luwu terutama pada wilayah proto sejarahnya yang begitu lambat dan ketinggalan oleh daerah lain diperparah lagi oleh kurangnya dorongan pemerintah setempat dalam mensosialisasikan kebesaran Kedatuan Luwu, padahal dalam kitab yang ditulis oleh sastrawan terkemuka Empu Prapanca dalam bukunya Dasa wardana atau Nagara Kertagama yang ditulis pada tahun 1365 Kedatuan Luwu sudah terjabarkan dengan sangat baik di sini. Dalam periode –periode pemerintahan Kedatuan Luwu, pusat pemerintahan atau ibu kota disebut dengan Ware (pusat tanah Luwu) yang merupakan wilayah khusus dan istimewa sehingga itulah sebabnya Sawerigading juga bergelar Opunna Ware ( Rajanya Ware). Adapun periode pemerintahan Datu Luwu sebagai berikut;

Pada periode Pertama pusat Kerajaan Luwu (Ware Pertama) dimulai pada sekitar abad ke X hingga abad ke XIII, ketika itu Ware disekitar Ussu, yakni tempat asal mula turunnya Batara Guru ke permukaan bumi lengkap dengan istananya, kini daerah tersebut menjadi tabu untuk dimasuki oleh sembarang orang. Pada periode Kedua dimulai ketika memasuki awal abad ke XIV pusat kerajaan Luwu (Ware Kedua) dipindahkan oleh Datu Luwu Anakaji, ke Mancapai, dekat Lelewawu, disebelah selatan Danau Towuti yang kini berada di Propinsi Sulawesi Tenggara. Pada priode Ketiga pusat Kerajaan Luwu ( Ware Ketiga) dimulai pada sekitar abad ke XV, dipindahkan oleh Datu Luwu yang bernama Dewaraja ke Kamanre, ditepi sungai Noling, atau sekitar 50 kilometer sebelah selatan kota Palopo. Adapun strategi perpindahan ini dilakukan dengan maksud memperluas kerajaan kesebelah selatan, tetapi sayangnya usaha tersebut terhalang dengan adanya perlawanan yang keras dari kerajaan Bone, yang mengakibatkan Kedatuan Luwu kehilangan wilayah Cenrana, Wage dan Laletonro. Pada periode Ke empat pusat kerajaan Luwu ( Ware Keempat) pada sekitar abad ke XVI Ware dipindahkan ke Pao, di Pattimang Malangke. Dan pada periode ini agama Islam masuk ke Luwu, yang diperkenalkan oleh Dato Pattimang sekitar tahun 1603. Pada saat Ware perpusat di Pao telah terjadi peristiwa perebutan tahta yang menimbulkan pertikaian antara putra mahkota Patiraja dan adiknya yang bernama Patipasaung. Perang saudara tidak dapat terhindarkan, walaupun pada akhirnya dapat dipadamkan oleh Madika Bua, Madika Ponrang dan Makole Baebunta. Madika Bua telah berperan sebagai inisiator sekaligus ketua perdamaian. Perang saudara ini diakhiri dengan penyerahan kekuasaan kepada raja yang sah, Patipasaung, oleh kakaknya Patiraja. Pada Periode Kelima pusat kerajaan Luwu (Ware Kelima) dipusatkan di Palopo sampai dengan sekarang. Dan atas jasa-jasanya meredam perang saudara di Pao, tiga kerajaan pendukung yaitu Bua, Ponrang dan Baebunta diangkat statusnya menjadi Anak Tellue atau tiga kerajaan utama di Luwu.

C. WOTU YANG TERLUPAKAN

Pada kesempatan ini kami mencoba mengungkap secara sekilas keberadaan Wotu dalam percaturan perpolitikan pemerintahan Kedatuaan Luwu, yang terkadang dilupakan ataukah kemungkinan sengaja untuk dilupakan. Wotu yang kita kenal sekarang ini, merupakan sebuah wilayah pemukiman setingkat Kecamatan dan secara administratif berada dalam Kabupaten Luwu timur, terletak diujung utara Teluk Bone dan sebelah barat sungai Kalaena. Wotu di diami dua etnik yang besar yaitu Wotu dan bugis. Keunikan Wotu seperti juga didaerah Luwu yang lainnya, misalnya Baebunta yang berlaku dua bahasa pengantar, bahasa Wotu dituturkan pada umumnya orang Wotu ”asli” dan diduga merupakan grup linguistik Muna, Buton dan Kaili, dan bahasa Bugis.

Wotu yang kita diami sekarang ini adalah Wotu pada periode kedua, yaitu setelah runtuhnya dinasti Kedatuan Luwu pada periode Ware Petama sekitar akhir abad ke XIII. Letak Wotu sebelumnya berada disekitar Ussu di kaki Gunung Lampenai, disekitar tempat ini disebut sebagai lokasi Mulataue atau mulaitoe. Sebagaimana juga dipahami oleh banyak orang Luwu, bahwa Batara Guru mengajarkan bagaimana cara berladang dan bercocok taman yang baik di lokasi Mulaitoe oleh orang Wotu menyebutnya sebagai Bilassa Lamoa atau Kebun Dewata. Di sekitar wilayah inilah oleh Ian Caldwell yang merupakan Dosen Sejarah Indonesia di Universitas of Hull yang menulis Land of iron, The historical archaeology of Luwu and the Cenrana valley, menyebutkan bahwa di tempat inilah pusat istana Luwu yang dimiliki oleh Batara Guru yang pertama. Dalam La Galigo, tempat dimana pusat istana tersebut tidak disebutkan secara akurat.

Sebagaimana diketahui dalam tradisi, Luwu dianggap sebagai daerah tertua untuk pemukiman Bugis dan merupakan kerajaan Bugis tertua dan yang paling bergengsi. Beberapa sejarawan percaya bahwa mahkamah Luwu merupakan asal mula kebudayaan dan tradisi masyarakat elit Bugis (contohnya Prof. Kern 1939;9, Prof. Zainal Abidin.1983;249) Dalam penelitian terakhir olehss proyek The Origins of Complex Society in South Sulawesi (OXIS Proyek) meragukan tradisi ini karena hasil penggalian kramik dari Malangke (Pusat Istana Luwu sebelum kira-kira tahun 1620) daerah ini menunjukan suatu daerah yang tidak berpenghuni atau ditempati hingga sekitar tahun 1300. Periode kejayaan atau kemakmuran ini adalah abad ke XV dab XVI ( Bulbeck dan Caldwell 2000; 92). Luwu sebagai kerajaan yang tertua terletak pada kenyataan bahwa bagian awal dari LaGaligo terdapat di Luwu. Di Luwulah tempat dimana Batara Guru turun untuk mendirikan kerajaan yang pertama. Disini jugalah pohon raksasa Welenreng ditebang untuk membangun perahu-perahu Sawerigading (Pelras 1996; 59). Padahal, dua tempat di Luwu menyatakan bahwa disitulah bukit dimana Istana Batara Guru pernah berdiri. Menurut Ian Caldwell daerah yang pertama adalah Wotu. Indikasi lainnya dan lebih banyak dikenal adalah bukit Pensimewoni yang terletak ditikungan sungai Cerekang (cerrea). Jika ada anggapan seakan-akan membenarkan adanya pendapat bahwa letak Istana Batara Guru yang pertama berada di Cerekang menurut Ian Caldwell adalah hanyalah merupakan sebuah mitos atau tidak benar, karena pemukiman Bugis di Cerekang baru dimulai pada sekitar tahun 1450,berhubungan dengan naiknya peleburan besi dan produksi alat-alat senjata di Matano. Hal ini merupakan suatu godaan untuk beranggapan bahwa masyarakat Bugis di Cerekang telah secara nyata mengadopsi mitos istana Batara Guru dari tetangganya, Wotu yang lebih tua. Pendapat ini diperkuat dari hasil penelitian OXIS yang menyebutkan ” Tidak ada bukti apapun yang menunjukan penduduk masyarakat Bugis di Cerekang maupun Ussu sebelum pertengahan abad ke XV. Hal ini berarti bahwa identifikasi atas lokal atas Cerekang sebagai tempat istana Batara Guru lebih tepat berlaku dari abad ke XVI ke atas. Lokasi dari pusat istana Luwu disini dalam tradisi lisan secara nyata adalah penempatan kejadian pada waktu yang salah (anakronisme).

Ekspansi orang Bugis ke Ussu dan Cerekang berlangsung pada fase belakangan sejarah Luwu pra Islam, jika tidak setelah masuknya Islam ke Luwu. Tampinna, Cerekang dan Malili, pada mulanya didiami oleh penduduk non Bugis yaitu Wotu, Pamona, Topadoe dan Tolaki. Berdirinya Istana Batara Guru pertama di Wotu lama atau disekitar Bilassa Lamoa terpat permadian yang utama para bangsawan pada saat itu yaitu di Ussu atau orang Wotu menyebutnya tempat Minussu atau menyelam. Pelabuhan utamanya terletak di Pentomua serta tempat pemujaan yang paling utama berada disebelah selatan Wotu lama yaitu Serebessue (Tempat para bissu menari). Berdasarkan penelitian dari OXIS pengaruh Hindu hanya ada dua tempat di Luwu, yaitu Wotu dan Baebunta dengan ditemukannya kremasi mayat di tempat ini. Ketika runtuhnya Ware pada priode pertama Wotu lama pindah ke bagian barat yaitu Wotu yang ada sekarang, sebahagian yang lainnya pindah ke bagian utara yaitu Cerrea (hijrah atau pindah tempat) akan tetapi sangat disayangkan setelah datangnya orang Bugis di Cerea sekitar tahun 1450 nama Cerrea berobah menjadi Cerekeng. Akan tetapi walaupun demikian orang-orang yang ingin mengaburkan sejarah dan jejak Wotu di Cerrea mengalami kesulitan untuk mengganti nama pimpinan masyarakat adatnya yang tetap disebut sebagai Pua (nenek) Cerrea, mereka mengalami kesulitan mengganti dengan nama nene Cerekeng. Air bertuah yang di kramatkan sebagai air suci bagi orang Wotu yaitu Uwe Mami (air kami) sulit diterjemahkan dan diganti jadi nama Waeta. Sebenarnya jejak keberadaan Wotu pada sejarah Luwu purba sulit terbantahkan antara lain. Nama Gunung Lampenai adalah terjemahan dari kata Parangpanjang atau tempat pandebesi membuat senjata. Tampinna atau tempat membuat sarung senjata tau parang. Pentomua atau pelabuhan tempat dimana pertemuan antara dua komunitas, Serrebessue dan sebagainya.

Sebagaimana diketahui bahasa Wotu juga merupakan identitas orang Wotu,keunikan Wotu seperti yang dicatat oleh Bulbeck dan Prasetyo (1999) yaitu iklimnya yang memusim dari pada daerah Luwu lainnya. Perbedaan geografi budaya ini telah menarik perhatian beberapa sarjana. Kembali ke bahasa Wotu sebagai identitas orang Wotu ini, telah membentuk mata rantai pola segi tiga hubungan dengan kedua ujung semenanjung selatan dan tenggara Sulawesi yang memungkinkannya masuk dalam jaringan niaga teluk Bone. Dengan demikian, isolasi bahasa seperti pandangan sekarang justru bisa berarti sebaliknya, ini menunjukan bahwa Wotu telah menjadi akses kuna bagi para pedagang lintas semenanjung selatan, tenggara dan tengah. Kepopuleran bahasa Wotu memberi kita sebuah horizon yang agak jelas tentang tentang Wotu ddaan bukti-bukti arkeologis dan legenda Wotu yang tua, sehingga Bulbeck n Prasetyo menduga bahwa mungkin sejak tahun 1200-an orang Wotu telah aktif berniaga memperdangangkan produk-produk dari kedalaman jauh di Sulawesi Tengah dan lembah-lembah Danau Poso. Jejak tersebut bahkan terekam dalam teks I La Galigo, bahwa orang Wotu di sungai Pewusoi sekitar Gunung Lampenai, membuat kapal-kapal Kedatuan Luwu.

Konsep-konsep kepemimpinan di Luwu cukup mendapat perhatian bila di hubungkan dengan konsep kepemimpinan tradisional, Pua (Cerrea), Makole (Baebunta) dan Macoa (Wotu). Dari tradisi lisan Wotu, kita mendapat informasi bahwa Macoa Bawalipu dalam mewnjalankan pemerintahannya membawahi tiga macoa yang lain, yaitu Macoa Bentua yang menangani urusan dalam negeri, Macoa Mincara Oge yang mengurusi masalah ekonomi. Macoa Palemba Oge yang bertugas dalam hubungan dengan Macoa Bawalipu dan Datu Luwu di Palopo. Di bawah Macoa tersebut terdapat sejumlah jabatan yang menangani bidang tertentu. Ada tiga orang bergelar Oragi, yaitu Oragi Bawa Lipu, Oragi Datu, dan Oragi Ala. Dibawahnya terdapat enam orang bergelar Anre Guru antara lain antara lain Anre Guru Oli Tau, Anre Guru Tomengkeni, Anre Guru Pawawa, Anre Guru Lara, dan Anre Guru Ranra. Selanjutnya ada jabatan Angkuru atau sanro sebagai penasihat, dan ada dua lagi bergelar paramata, yaitu Paramata Tarompo (Rompo) dan Pramata Lewonu (lihat Mas’ud Rahman et.al 1999). Selanjutnya dalam silsilah orang Wotu diceritakan bahwa Macoa Bawa Lipu yang pertama di Wotu bernama Bau Jala, Bau Jala mempunyai tiga orang saudara kandung yaitu Bau Cina di Palopo, Bau Leko di Palu dan Bau Kuna di Buton. (lihat Salombe dkk 1987, sande dkk.1991).

D. PENUTUP
Kepercayaan terhadap Sawerigading yang selalu berpusat di Ware telah dipercayai di seluruh wilayah Kedatuan Luwu, juga sebagaimana halnya juga dipercayai oleh orang Wotu sebagai salah satu komunitas yang sangat besar pengaruhnnya, tidak hanya di Luwu tetapi sampai di Sulawesi Tengah. Dari perspektif sejarah dan antropologi, menarik untuk diperhatikan bahwa Wotu, dari segi geografi budaya berbeda dengan domain Luwu lainnya. Legenda Wotu tidak terlepas dari epik I La Galigo yang selalu diacu oleh hampir setiap pusat-pusat pemukiman kuno, yang mungkin sekali menjadi populer berkat transfer kultural elit kerajaan dan pedagang bugis selama gelombang migrasi Bugis keseluruh pesisir Teluk Bone, namun harus di garis bawahi bahwa orang Wotu mempunyai latar sejarah yang jelas terlepas dari dinasti Luwu. Pendekatan sosio-linguistik jelas memberi petunjuk bahwa orang Wotu mungkin berasal dari pusat-pusat niaga di bagian lain pesisir teluk Bone, telah mengokupasi sungai Kalaena dan Wotu sebelum terbentuknya Dinasti Luwu.

Wotu, 1 Mei 2008.

Nawawi. Sang Kilat.
nskilat@yahoo.com

—————————————-

Makalahnya ini disampaikan di seminar di Wotu beberapa waktu lalu. Tulisan ini sebenarnya dari komentar di postingan saya di sini, karena sayang hanya berupa komentar makanya saya buat postingan aja, supaya banyak yang baca, siapa tau bisa jadi referensi.

Nawawi Sangkilat, yang saya kenal berdasarkan om Google, beliau anggota DPRD Sulteng, salah satu deklarator Deklarasi Malino, orang Wotu yang berdomisili di Palu, oia dia teman bapak saya :D. (Maaf Om, mungkin sedikit yang saya tau tentang Om, maklum sudah besar, lama tidak ketemu dan kita ketemu waktu kecil saja itupun saya sudah lupa, saya harus belajar banyak dari Om nih…. ).

Iklan


44 Responses to “Kembalikan Wotu Padaku”

  1. Wah baru tau banyak lagi tentang sejarah Wotu lagi, terima kasih Om 😀
    btw saya masih OFF, blum sempat membalas komentar2 teman2 maupun blogwalking, maaf 🙂 *posting kalo sempat2 aja 😀 *

  2. belum tuntas membaca semuanya mas aRul. mudah2an sempat kebaca lain kali. tapi sekelas dapat saya pahami bahwa legenda wotu dengan segala pernak-perniknya memiliki nilai2 kearifan lokal yang layak diapresiasi oleh pembaca. semoga legenda semacam itu terus hidup dari generasi ke generasi sehingga tidak tertelan oleh gelombang peradaban.

  3. oo mas arul jadi dari sulawesi??

  4. mungkin ini yang bikin males baca sejarah!
    panjang dan melelahkan, bisa dipersingkat?

    *duh ini justifikasi atas kemalasan saya*

  5. senangnya bisa komentar…:D

  6. Walah, saya kira ini kamu yg nulis rul..
    yg fokus skripsinya..
    panjang betoooll…

  7. sampeyan kok bisa tahu yang kaya’ gitu yaah Mas.

  8. ho oh om arul kepanjangan…
    bisa di tulis dalam bentuk komik??
    gambar nya yang lucu-lucu ya..

    • 9 musly anwar

      untuk dapatkan komik ttb wotu bisa hub saya….di kumpulan cerita rakyat luwu timur, Musly anwar dkk..trims 😀

  9. mohon doanya untuk kelancaran acara kopdar besok

  10. HIkz……..
    Jadi inget pelajaran sejarah dulu
    😦

  11. Ajakan simpatik buat semua blogger Indonesia :

    Ayo kita berikan suara dukungan (vote secara online) buat tiga obyek wisata nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, Gunung Krakatau, dan Danau Toba; yang sedang bersaing dalam pemilihan TUJUH KEAJAIBAN ALAM. Lomba sedunia ini diikuti 77 obyek wisata dari berbagai negara, termasuk Niagara Falls, AS.

    Sejumlah pemerintah secara aktif memobiliasi warganya memberikan vote, demi memenangkan lomba ini. Soalnya, selain nilai prestisenya tinggi, menang dalam lomba ini akan reputasi negara dan menghidupka industri pariwisata nasional.

    Untuk sementara ini urutan teratas diduduki obyek wisata dari Vietnam, sedangkan Filipina mampu menempatkan 3 obyek wisatanya di deretan 10 besar. Sedangkan ketiga obyek wisata kita masih terseok-seok di papan tengah.

    Info selengkapnya, silakan klik link di bawah ini :

    http://tobadreams.wordpress.com/2008/06/06/dukung-danau-toba-agar-masuk-tujuh-keajaiban-alam/

    terima kasih

  12. wahhh tulisanya bagus2 mas
    salam kenal

  13. 14 Safruddin Azis

    om Nawawi? yang mana itu? Saya sering ke Palu, sapa tau bisa ketemu he he

  14. wuihh…pnjg amaaattt..hehe g selesai aQ bcnya..kpn2 Qlnjut lg..hbs udh tgh lmlm sich…hehe…

  15. jadi dulu palopo sempat jadi pusat kerajaan RuL.. wah pasti Arul juga keturunan raja nih jangan2… kembalikan arul menjadi raja di kerajaan palopo!! 😀

  16. masa’ sih orang Wotu mempunyai latar sejarah yang jelas terlepas dari dinasti Luwu? kalau ukuranx linguistik, org2 bastem, rongkong, belopa dan (mungkin juga) Wajo punya bahasa yg beda juga dengan bahasa Luwu asli (bahasa To Ware), tapi masih mengaku turunan Luwu koq.

  17. senang mampir disini….

    Barter banner yuk, “Banner Exchange”
    Buat blogger lainnya juga boleh ikut.
    Berikut infonya : http://www.resep.web.id/kirim-resep/banner-exchange

  18. Duh .. panjang banget ini postingan, ntar balik lagi deh 🙂

  19. Jah….sungguh Ndutz musti bolak balik scrollup scrolldown soalnyah gak paham2 😦

  20. Aku taunya sawerigading nama perusahaan(kontraktor)yg kerja sama ma INCO…
    Yang jelas, kalo ke palopo ya pasti melewati wotu….hehe

  21. mas aRuL and Nawawi Sangkilat itu saudaraan.??
    keturunan raja.?
    kok bisa hebat gitu yah..?? 🙂

  22. mmm…jd kangen sama sulawesi hiks 😦

  23. sangat menarik mas! baru baca separo sudah dibawa ke era majapahit, airlangga dan ke mana-mana, apalagi menyebut asmaraman Kho Ping Hooo… Asyik tenan! selamat menunaikan kewajiban, saya tunggu kabar akhirnya…! 😀

  24. 25 galihyonk

    Hm,,
    masa-masa kerajaan,,,
    indonesia memang kaya dengan jenis kerajaan.. heHE,,

  25. uh waduuuh panjaaaaang beth yaaaah….sy pusiiiing hehehe.. 😉

  26. hu um, panjang….
    comment dlu baru baca hihihi

  27. meni lonk pisan euyyyyy.. ^:mrgreen:^

  28. Sejarah=post panjang. 😆
    *CTRL+S*

    BTW, semoga sidangnya sukses.

  29. Wotu, banyak yg sebut kaya tradisi…sayangnya ke daerah luwu bagian utara paling jauh hanya sampe Bone-Bone. Someday….mau kesana ah…

  30. 31 dhany

    ahli sejarah yo mas arul…

  31. 32 idop

    oke banget ……. gw jd bs belajar bhs wotu donk….
    thanks

  32. 33 yuliete

    hm,,,mengesankan….pengen ksana,nanti,mudah-mudahan ada langkah,ku cinta sulawesi..walaupun lum pernah ksono tapi sgala sesuatu tentang sulsel trutama wotu serasa memenggilku kesana.

  33. 34 Rury

    Lam kenal Kak Arul, kebetulan saya masih sodara Kak Nawawi (Sepupu 1x) thanks jadi bisa baca tentang Wotu, Bapak Asli Wotu, mama Makassar skrang saya tinggal di P.Batam.

  34. 35 Rury

    Kak Arul Ngerti bahasa Wotu? ” Musani Mabahsa to Wotu ka ranga?

  35. 36 ikbal

    intinya gini wotu tuhh bukan orang bugis dan bukan dari sejarah bugis…. lihat aja bahasanya beda banget dengan bahasa bugis

  36. sejarah asal usul to manurung harus di ulas dengan benar,jangan di ubah,kami sekeluarga tahu yang sebenarnya karna pusaka kerajan masih ada di orang tua kami,tapi kami tidak pernah menggunakan gelar

  37. 38 Arie Tomalatta

    bua ua simbau komik,,anu ada waktu ta,, apalg ma tabba ba ito wotu jago mogambbaara,,

  38. 39 musly anwar

    saya bangga trelahir diwotu, didekat sungai sintomu,dekat serre bissue,dekat bubun datu,pohon malilue,tana bangkalae….yau ito wotu rangga !! wotu ontonna Luwu !!

  39. 40 skal nhono

    Tolong di bahas jg dong untuk asal usul orang rongkong, seko, rampi, sama bastem. Kok ga pernah di sebut2 dlm sejarah.

  40. 41 jelajah samudra biru

    Kenapa pale itu Rongkong, Rampi, Seko, lain2 bahasa’ny. Na tidak pernah bang juga di ungkit2. Na di palopo ada itu persatuan’ny orang2 Rongkong.

  41. 42 sawerigading

    wotu tdk bisa dipisahkan dari dinasti kedatuan luwu… wotu adalah bagian dari luwu.. diluwu itu ada 12 anak suku termasuk didalamnya suku wotu..

  42. Link exchange is nothing else but it is just placing the other
    person’s blog link on your page at appropriate place and other person will also do similar
    in favor of you.


  1. 1 Kembalikan Wotu Padaku « Wotu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: