Buble Information Marketing PTS Konglomerat, Bentuk Penipuan Baru

12Feb08
Judulnya postinganku persis sama dengan sebuah artikel opini website ITS yang ditulis oleh Pak Prof. Probo Rektor ITS, terhadap rangking perguruan tinggi yang dikeluarkan oleh Globe Asia di sini berikut kutipan langsungnya :

11 Februari 2008 23:59:43

Majalah Globe Asia, sebuah majalah baru dengan positioning untuk eksekutif bisnis yang diterbitkan oleh kelompok Lippo, pada edisi Pebruari 2008 membuat pemeringkatan PTN dan PTS. Hasilnya adalah cukup mengagetkan, dimana UPH (Universitas Pelita Harapan) , yang juga dimiliki oleh kelompok Lippo, mengalahkan ranking PTN – PTN terkemuka maupun PTS-PTS terkemuka di Indonesia.
Rektorat, ITS Online – Sebagai contoh, total score UPH (356) “diposisikan” mengalahkan 5 besar PTN seperti UGM (338), ITB (296), IPB (283), UNAIR (279), dan ITS (258). UPH juga “diposisikan” mengalahkan PTS terkemuka seperti TRISAKTI (263), ATMAJAYA (243), UNPAR (230), dan PETRA (151).Sebagai seorang akreditor Perguruan Tinggi yang telah bertahun-tahun mengakreditasi kebanyakan PTN maupun PTS, termasuk pernah mengakreditasi UPH dan Perguruan Tinggi lain sebagaimana yang disebutkan diatas, maka saya merasa aneh dengan “pemosisian” ranking oleh Globe Asia tersebut. Keanehan pertama, Globe Asia menggunakan kriteria-kriteria yang meskipun “mirip” dengan lembaga pemeringkat Internasional, tetapi memberi “bobot” yang berbeda. Sebagai contoh, fasilitas kampus diberi bobot 16%, sementara kualitas staff akademik (Dosen) hanya dibobot 9%. Lebih parah lagi, kualitas riset hanya dibobot 7%. Keanehan kedua adalah sub kriteria dari fasilitas kampus misalnya tidak memasukkan kapasitas bandwidth sebagaimana standar akreditasi yang ada. Keanehan ketiga adalah sistem membandingkan yang tidak berbasis kaidah logis dasar “apple to apple” (kesederajatan).Bila kita menilik standar akreditasi, maka ada akreditasi dalam negeri (DIKTI), regional asia (Asia University Network, AUN), maupun sistem akreditasi pemeringkatan dunia (THES, Jiao Tong, Webbo). Akreditasi dalam negeri, regional, maupun dunia menggunakan kriteria-kriteria dan KPI (Key Performance Indicator) yang “logis secara akademis”. Artinya adalah bahwa kriteria tersebut(meskipun bervariasi) adalah memang benar-benar akan menunjukkan “jaminan mutu” dari input, proses, sarana pendukung, hingga outcome produknya. Tidak ada dari kriteria dan sub kriteria yang hanya menunjukkan keunggulan “kemewahan lifestyle” sebagaimana yang ingin ditonjolkan dalam hasil Globe Asia Ranking. Demikian juga halnya dengan membandingkan antara Universitas dengan Institut yang nature kriterianya pasti berbeda, misalnya di Institut teknik manapun tidak ada yang mempunyai Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran sebagaimana sub kriteria ranking yang dibuat Globe Asia.Dengan demikian, maka ranking yang dilakukan Globe Asia akan menjadi suatu bentuk “penipuan” informasi yang bersifat “buble” kepada publik, khususnya orang tua mahasiswa dari kalangan eksekutif sebagai target pasar majalah tersebut. Penipuan ini menjadi meluas ketika dirilis secara “tidak kritis” oleh koran Suara Pembaruan, 29 Januari 2008.Mungkin fenomena seperti ini adalah akibat dari komersialisasi pendidikan di Indonesia. Pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi, telah menjadi komoditas yang “empuk” untuk menaikkan status sosial pemilik hingga meraup keuntungan yang besar. Ditangan para pesulap bisnis, maka pendidikan juga dikelola dengan image “Lifestyle” (gaya hidup), bukan dengan image “Qualistyle” (gaya kualitas). Mereka menyusun ranking sesuai dengan “Strength” yang dimilikinya, sekaligus menyembunyikan “Weakness” yang seharusnya menjadi kriteria akreditasi. Akibatnya adalah bahwa segala cara akan dilakukan yang penting target meraih mahasiswa selama periode marketing setiap awal tahun (Pebruari sampai Juli) mampu dicapai dengan memuaskan.Buble informasi yang dilakukan Globe Asia untuk menaikkan citra UPH tersebut secara langsung akan mengganggu citra beberapa PTN maupun PTS yang dikelola dengan kaidah jaminan mutu yang baik. Sebagai gambaran, sistem Webbo Rank (Juli 2007) yang merupakan sistem akreditasi dunia pada penekanan kriteria kerapihan manajemen data menempatkan PTS terkenal di kawasan Timur, yaitu Universitas Petra dalam ranking ke 49 Se Asia Tenggara, UGM dan ITB adalah ranking ke-12 dan 13. Dalam Webbo rank Juli 2007 itu tidak ada kelas ranking UPH, padahal webbo rank adalah sistem dunia yang dianggap “paling sederhana”.Oleh karena itu, maka sudah saatnya pemerintah sebagai regulator bersama-sama dengan masyarakat untuk secara aktif mengawasi pola komersialisasi pendidikan yang dampaknya menggunakan cara – cara tidak “fair” dalam rangka merekrut mahasiswa. Hasil kerja dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) yang membuat 15 standar penilaian antara lain : tata kelola kepemimpinan, fasilitas lab, alumni, jumlah Guru Besar (tidak perlu harus expert asing), rasio Dosen dengan Mahasiswa, prestasi Mahasiswa, hingga rasio antara jumlah peminat dengan yang diterima adalah merupakan kriteria yang sangat lengkap untuk menunjukkan daya saing suatu Perguruan Tinggi.Daya saing pendidikan tinggi sebagaimana yang diamanatkan dalam konsep strategis HELTS DIKTI (Higher Education Long Term Strategy) haruslah dicapai dengan sistem penjaminan mutu yang benar, sehingga hasilnya bisa dilihat salah satunya dengan kriteria akreditasi yang logis secara akademis, bukan logis secara pendekatan bisnis.“BUBLE INFORMATION” MARKETING “PTS KONGLOMERAT”
SUATU BENTUK PENIPUAN BARU
Prof.Ir. Priyo Suprobo, MS., PhD
Rektor ITS dan Tim Akreditasi PT-DIKTI
e-mail : rektor@its.ac.id
Wah betul-betul baru paham tentang penilaian perguruan tinggi dari tulisan Rektor saya ini. Saya jadi mempertanyakan sistem rangking oleh Globe Asia untuk yang lain apakah valid?
Kadang memang status peringkat menjadi incaran pihak tertentu mendapatkan pangsa pasarnya. Dan penilaian selalu menjadi hal yang selalu dipertanyakan. Apakah ini berlaku juga untuk blog?Pengen ngoment, bisa di sini juga di artikelnya langsung di sini
————–
Tulisan-tulisan terkait (update):
——–
NB : Postingan ini hanya untuk memberikan pembanding aja atas peringkat perguruan tinggi yang dikeluarkan oleh Globe Asia, kalo masalah lain masih status tidak banyak ngomong, hehehe maklum masih mahasiswa aktif dan emang ngak tau 😀
Pengennya sih kapan-kapan nulis juga tentang BHP, Komersialisasi pendidikan, dll tentang kampus (di otak udah ada sih), tapi nanti ajalah 😀
Iklan


48 Responses to “Buble Information Marketing PTS Konglomerat, Bentuk Penipuan Baru”

  1. Lho…
    Pada kemana negh, nyang pada sukak ngaku mahasiswa ???
    Kok ndak pada mencak-mencak…???

  2. Lho, petromaxxx ya, tadi….???

  3. Info palsu begetoo mah udah biasa.
    Apapun digelembungin, kecuali pajak….

    Sebaeknya ndak usah di ekspos, soale ntar justru gede kepala….
    Lagian, itu emang kampusnya orang berduit kok, nyang kalok sekolah sibuk berdandan…

  4. Eh, iya.
    Kalok tugas KOPERTIS ngapain segh ???

    Cuman akreditasi doank, yak ???
    Perlu turut campur tuh !!!

  5. Iya .. abang aja kaget .. melihat UPH itu dibawah UI .. weleh2, apa ya hebatnya UPH itu sampai bisa ngalahin universitas2 lainnya, bahwa sekelas UGM yang nota bene nya sudah ada sejak jaman dulu.

  6. udah udah… gak usah ribut…. mereka pengen buat sensasi baru aja koj… iar namanya melejit…. lah emang majalah baru toh….

  7. mereka bertujuan membangun image secara instant menggunakan media terbitan sendiri. celakanya ini dijadikan sumber oleh media lain tanpa melakukan cross-check dengan badan akreditasi lain..

    hal-hal semacam ini kerap kali terjadi dalam penentuan rating TV dan radio. ada sebuah radio baru di surabaya, yang belum juga siaran. tapi di laporan sebuah lembaga survey internasional, radio tersebut sudah berada di 10 besar radio dengan rating tertinggi. tujuannya? cari muka ke pemasang iklan!!!

    orang tua harus waspada!

  8. Hmm… Itu aja yg ngeluarinnya dari kalangan dalam sendiri. Ya pasti mati2an ngebela… :mrgreen:

  9. peringkat PT seringkali “menyesatkan” jugak, mas aRul. kasihan PT yang digarap serius tapi ukuran2 dan indikator yang dipakai dalam penentuan peringkat itu sering ndak valid. payah juga, yak. tentu saja hanya PT yang kebetulan dapat beringkat hebawah yang akan “panen” berkah, hiks. tapi saya kira masyarakat juga makin cerdas, kok, sehingga bisa memebdakan PT yang kredibel dan yang tidak dengan melihat kualitas output dan outcome-nya.

  10. ada nepotisme kali bro… :mrgreen:

  11. 11 mahma mahendra

    rektor ITS ngomong komersialisasi pendidikan??????

  12. wah jadi baru ngerti sekarang, jadi kita jangan percaya begitu saja dengan pemeringkatan seperti itu, karena semuanya bisa aja di rekayasa, tergantung yang buat.

  13. 13 Regina Walujo

    FYI l:
    UPH itu yang mendirikan dan juga sahamnya oleh JAMES T. RIYADI
    Grup bisnisnya saat ini juga menguasai majalah GLOBE ASIA dan juga CAMPUS ASIA, dan telah membeli saham surat kabar SUARA PEMBARUAN.

    Jadi, ya …nggak heran lah itu jadi corongnya untuk memuja diri sendiri…hehehehe

  14. @ semua : maaf baru balas, sengaja kan saya cuman mau melihat komentar2 teman2 🙂
    @ mbelgedez [1] : iyah ada koq mahasiswanya 😀 rata2 sekarang mahasiswa juga disibukkan dengan isu BHP di beberapa Kampus, yang katanya sih juga terkait komersialisasi pendidikan bang 😀
    @ mbelgedez [2] : he eh 😀
    @ mbelgedez [3] : saya rasa tetap perlu disebarkan bang tulisan ini sebagai pembanding, biarkan masyarakat menilai yang benar seperti apa. Kalo dari satu sisi saja, saya rasa nanti orang mudah percaya 🙂
    @ mbelgedez [4] : mungkin harus turun tangan pak *secara saya tidak tau fungsi kopertis secara detil*
    @ erander : iyah bang, saya baru baca blog pak wir salah satu dosen di UPH, profesornya aja baru 30 yang benar2 berasal dari UPH cuman 7.
    @ alfaroby : seperti jawaban saya di mbelgedez [3] 🙂
    @ det : iyah, suara pembaharuan aja sampe mengutiip globe asia, semua kita harus waspada dan mencoba mencari pembandingnya, supaya kita juga paham keadaan sebenarnya.
    @ adit : yah seperti itu mungkin yang terjadi 😀
    @ Sawali Tuhusetya : iyah pak, beberapa kampus sebenarnya sudah berbenah diri, dan memang sih pemeringkatan menjadi salah satu indikator keberhasilan, atau sebagai pemicu untuk berkembang.
    Tapi walau masyarakat cukup cerdas, namun ada-ada saja juga yang masih percaya dengan informasi instant, jadi tetap perlu pencerdasan lagi pak.
    @ Abeeayang™ : no comment kalo itu, hikz hikz 😀
    @ mahma mahendra : nah itu saya juga heran, makanya nih artikelnya saya publish di sini, supaya suatu saat bisa mengingatkan beliau, di komentarku pun di artikel aslinya saya berujar “Harapan kita semoga kampus its tidak dikomersilkan :D” hehehe
    @ tan : iyah sama2 nih baru paham, yah setidaknya kita cari pembanding yang wajar. Jika terjadi perbedaan mencolok berarti ada yang tidak beres seperti yang dikemukakan rektor saya di atas 🙂

  15. @ regina walujo : wah terima kasih atas informasi tambahannya. mungkin juga sih salah satu sebabnya karena kepemilikan saham itu yah 🙂

  16. lagian kok kayaknya menurut saya rada kurang kerjaan bikin peringkat. mo cari duit aja deh…. padahal kalo lulusannya terbukti berperan positif di masyarakat, otomatis timbul banyak minat. apalagi kalo didukung publikasi berbagai hasil riset umpamanya.. *barangkali*

  17. Kriterianya dan proporsi kriteria itu yang sering berbeda. Saya lebih percaya pada pemeringkatan THES atau Jao Tong dan Webbo yang disebutin Pak Probo diatas. Biasanya mereka memberikan nilai lebih pada riset ilmu pengetahuan karena memang universitas seharusnya menuju pada universitas riset dan bukan sekedar ngajar atau praktek.

    Selain konflik kepentingan (Globe Asia punya pendiri UPH), Globe jg memberikan nilai lebih pada fasilitas kampus dan nilai ala kadarnya pada riset. Berarti universitas kaya modal tapi miskin riset bisa masuk urutan atas dong… 😉

  18. @ sitijenang : iyah juga sih, tapi publikasi lewat pemeringkatan jadi salah satu cara kampus mengaet calon mahasiswa loh, jadi wajar mungkin mereka menggunakan cara itu, jikalau cara lain seperti publikasi riset masih kurang 🙂

    @ Pyrrho : Nah itu siapa yang miliki, yang seenaknya aja nentuin kriteria. yah pemilik modal menang lagi dong, wah semua bidang diembat juga yah, ngak ekonomi eh pendidikan juga.
    bahkan kampus negeri juga sudah disusupi cara-cara komersil itu. Tapi moga-moga bermanfaat bagi mahasiswa dan negara deh 🙂

  19. Salam sejahtera teman-teman,
    saya dosen tetap UPH, tentunya mau tahu dong tanggapanku ada di sini.

    Seru juga ya, di satu sisi kita semua prihatin dengan kondisi pendidikan kita. Bagaimana guru atau dosen terpaksa nyambi untuk bisa hidup lebih baik. Sehingga ada yang sangat bangga dengan istilah dosen terbang. Sedangkan di tempat lain, yang tidak memungkinkan untuk itu, terpaksalah rame-rame demo menuntut anggaran pendidikan 20% yang nggak turun-turun.

    Di sisi lain, ada yang punya duit lebih, lalu sedikit memikirkan dan menyumbang dana serta usaha bagi perbaikan pendidikan di Indonesia koq menuai protes. Satu yang jelas, dosen atau guru yang digaji disana harus punya komitmen utama untuk di sana, disiplin 5 hari kerja per minggu, masuk tit dari pukul 7.00 – 15.30, absen pakai scan sidik jari. Melayani murid adalah utama, tiap tahun di check kegiatan ilmiahnya, berapa paper dibuat, dll. Jika memang belum kelihatan, ya maklum kuantitasnya masih belum sebanding dengan yang besar-besar dan yang lama-lama.

    Jika yang lama-lama, dan besar-besar memang merasa besar dan terbak di negeri ini, mengapa kondisi kita masih seperti ini. Mana dampaknya bagi bangsa ini.

    Terus terang saya tidak mau berpanjang lebar, kita memang bangsa yang senangnya memberi tanggapan seperti di atas, kita merasa bahwa kita paling besar. Itu khan kesannya seperti negara Malaysia, dulunya begitu, sekarang koq jadi demikian beda. Lalu untuk itu semua kita bilang, malaysia tidak tahu diri, gimana gitu. Pokoknya pada miring semua. Jadi jika ada PT baru, swasta lagi, lalu bilang dengan PD. Semuanya yang hidup di PT yang sudah lama dan merasa mapan, pasti kebakaran jenggot.

    Harusnya kalau memang meragukan, bilang seperti ini: “Ha, ha, ha, UPH, ngomongnya begitu, jadi tunjukkan sekarang bagaimana dampakmu bagi bangsa ini. Kamu merasa kuat dan terbaik, ayo bersama-sama dengan kami PT yang sudah senior untuk membangun negeri ini. Berani nggak.”

    Gitu lho. Salam semua ya. Peace 😆

  20. Saya rasa permasalahan ini muncul berkaitan dengan kecermatan membaca informasi. Selama kita dapat bersikap kritis terhadap informasi yang kita baca, mudah-mudahan kita tidak akan terjebak dengan ‘propaganda’ yang diupayakan oleh pihak-pihak tertentu, terutama yang bermodal.

  21. @wir

    Harusnya kalau memang meragukan, bilang seperti ini: “Ha, ha, ha, UPH, ngomongnya begitu, jadi tunjukkan sekarang bagaimana dampakmu bagi bangsa ini. Kamu merasa kuat dan terbaik, ayo bersama-sama dengan kami PT yang sudah senior untuk membangun negeri ini. Berani nggak.”

    seperti ini yang bikin intelektualitas bangsa ini terus merosot karena sekolah berbasis duit. siapa yang punya duit bisa mendapatkan fasilitas. padahal fasilitas belum tentu menjamin kualitas intelektual. lulusan PT berbasis duit ini nantinya akan membangun konglomerasi dengan komunitasnya sendiri, kemudian menjadikan lulusan PTN yang berkualitas sebagai babu mereka!

    INI BAHAYA!!!

  22. @ Pak Wiryanto :

    Bapak sepertinya kurang tepat menanggapi tulisan ini. Ini bukan soal mempermasalahkan apa yang terjadi di UPH atau perkembangan UPH selama satu dekade terakhir. UPH memang pesat pertumbuhannya, tapi bukan soal itu masalah utamanya.

    Yang disorot adalah pemeringkatan universitas di Indonesia, dimana Globe Asia memberikan kriteria yang berbeda dibandingkan beberapa institusi pemeringkatan lainnya. Sekarang ini universitas [luar] sedang bergerak ke arah universitas riset dan penelitian, maka seharusnya disitulah porsi terbesar dlm penentuan pemeringkatan. Universitas riset adalah hal yang harus dijalani oleh universitas dan bukan hanya sekedar ngajar atau praktek belaka.

    Modal memang penting, karena riset juga butuh modal. Tapi modal bukanlah segalanya dalam membangun universitas berbasis riset.

    Saya juga sudah membaca kriteria dari Globe Asia, dan saya sependapat dengan Pak Probo bahwa kriterianya itu kurang tepat. Apa alasan dibalik kriteria itu, saya tidak mengerti. Mungkin saja ada pertimbangannya sendiri, atau mungkin saja demi kepentingan tertentu yang menguntungkan “mereka”. Bisa saja kan ?

    Kalau dilihat pemeringkatan universitas di Webbo dan Jao Tong, kriterianya lebih jelas disertai dengan penjelasan. Proporsi terbesar diberikan pada manajemen data/universitas dan riset serta dosen yang berkualitas, dan bukan pada fasilitas kampus.

    Sekali lagi masalahnya bukan universitas senior atau universitas swasta pemula. Yang disorot adalah pemeringkatan universitas yang bukan berbasis riset dan lebih berbasis bisnis. Ini yang menurut tulisan Pak Probo diatas adalah “buble information”. Seharusnya yang dikomentarin juga adalah pemeringkatan itu.

  23. @ pak Wir: terima kasih tanggapannya, tapi menanggapi koment bapak senada yang dijelaskan pyrrho 🙂
    @ dewi : iya mbak, seperti itulah, kita kadang perlu mencari pembanding (bechmarking) untuk mengetahui kebenaran suatu informasi.
    @ det : yupZ, seperti itu yang dikhawatirkan….
    @ Pyrrho : sependapat penjelasannya, *salut sama penjelasannya, saya mungkin ndak sanggup memberi penjelasan seperti bang pyrrho 😀 *

  24. to Pyrrho

    Pemeringkatan, ada apa dengannya, apakah itu menyalahi hukum. Menipu ? Kalau demikian memang patut untuk ditindak-lanjuti. Bagian mana yang menipu, cari bukti dan fakta yang mendukung. Ajukan ke pengadilan. Selesai.

    Terus terang, saya juga pengin tahu ! Sebagai orang yang hidup di “ranah ilmiah” dan juga orang yang “takut akan Tuhan”, menipu adalah berdosa. Adanya kritik dari pak Rektor ITS adalah sangat baik. Itu dapat menjadi pengingat kalau memang ada sesuatu yang salah, sehingga semuanya itu dapat diluruskan lagi. Bagaimanapun wilayah pendidikan adalah wilayah idealisme, yang harus kita tegakkan bersama. Adanya idealisme itulah maka saya perlu menanggapi, bukan karena kebetulan saya di dalamnya. Nggak ada sama sekali, keuntungan materiil yang saya dapat. Bahkan kalau sampai salah omong, banyak ruginya ke saya. Iya khan. :). Hanya saja, saya dengan keyakinan yang saya peroleh selama ini, masih melihat adanya suatu idealisme pada institusi yang sekarang sedang menjadi sorotan ini, maka tentunya saya perlu mengungkapkan sebagai bahan pemikiran bersama menyikapi hal-hal yang cukup menggelitik ini.

    Kritik-kritik seperti itulah yang seharusnya ada, berkaitan dengan dinamika pendidikan kita. Kritis dan menjadi bahan pemikiran bersama. Minimal menjadi bahan pemikiran jika ada orang yang akan melakukan ulang perbuatan yang dikritik tersebut. Bahkan dalam penulisan atau penelitian ilmiah, kritik diperlukan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Kritik yang membangun dan bukan destruktif.

    Tentang diragukannya PTS tersebut dibanding PT yang lebih lama dan besar, jelas saya kira itu pendapat mayoritas.

    Dan saya tidak bisa menyalahkan. Tetapi adalah juga fakta bahwa Indonesia sebagai negara yang lebih besar dan lebih lama merdekanya, katakanlah dibanding Singapore atau Malaysia, ternyata dalam hal kemajuan dan kesejahteraan, kalah jauh. Apakah pembaca yang budiman pada blog ini dapat memahaminya ?

    Memang sih secara umum, sesuatu yang lebih besar lama dan lain-lain mestinya akan lebih unggul dibanding yang masih muda dan kecil. Bahkan ibarat “bayinya saja, saya yang nggendong”. Seperti Goliath dan David. Dalam kehidupan sehari-hari juga demikian, orang kemarin sore, koq sekarang sudah di atas ya. 😦

    Mempunyai kebesaran hati, adalah tidak gampang.Kadang-kadang hal tersebut ditindak lanjuti secara negatif, hasilnya adalah timbulnya rasa iri dan bukannya menjadi pemicu untuk berupaya lebih. Ingat kebesaran hati tidak mesti sebanding dengan bertambahnya titel, bertambahnya pengetahuan, tapi itu merupakan suatu wisdom, hasil pengendapan diri.

    Kebesaran hati hanya didapat jika manusia mengetahui keterbatasannya, bahwa dia hanya setitik kecil di dunia ini, dan waktunyapun terbatas, dan bahwa dunia tidak tergantung padanya, tetapi bahkan dianya sendiri bisa terikat di dunia itu. Kata kunci adalah “diri sendiri – sesama – Tuhannya”. .

    Kembali ke pemeringkatan.

    Ibarat anak kemarin sore yang berkoar, bahwa “lebih dirinya lebih baik dari yang sudah berkecipung lama di dunia tersebut”.

    Mungkin seperti itulah yang terjadi. Para politisi negeri ini khan juga demikian, “bisa apa orang tersebut, belum pernah mengelola pemerintahan”, misalnya. Akibat ketidak percayaan itu, ya beginilah negeri ini. Dipimpin oleh orang yang berpengalaman memerintah terus sebelumnya sampai akhirnya jatuh. Mohon direnungkan hal ini.

    Apakah pemeringkatan tersebut tidak patut. Dimana yang tidak patutnya.

    Tetapi kalau ke-tidak-patutan itu semua adalah akibat perbedaan persepsi, dalam pikiran kita, dalam pikiran Bapak yang menelorkan keraguan ini. Ya jelas susah. Mungkin cara berpikir beliau, bahwa PT yang hebat adalah yang seperti yang dipimpinnya, atau apa begitu. Ya, bisa saja. Nggak ada yang salah.

    Jika sayapun mempunyai pendapat, bahwa institusi ilmiah yang hebat adalah institusi yang mampu memberi solusi ilmiah permasalahan yang ada didekatnya, tidak hanya dalam tataran berpikir tapi solusi nyata yang tuntas. Jadi kalau belum bisa maka jangan jumawa mengatakan bahwa institusi itu hebat. Bagaimana hayo ? Nggak ada yang salah khan.

    Kalau setuju, lha masalah khan udah ada. Itu lho “lumpur itu”, yang sudah menunggu lama untuk diselesaikan. Itu lebih dekat daripada yang di Jkt ini. Jika itu bisa membuktikan, baru hebat itu.

    Tapi itu khan persepsi saya, yang mungkin berbeda dengan yang lainnnya. Personal begitu.

    Banyak yang menembak keraguan tadi dengan “jumlah riset atau sebangsanya”.

    Ya, kalau itu memang saya setuju. Karena bagaimanapun itu ditentukan juga oleh jumlah dan waktu dari para peneliti, yang jelas sangat beda. Kami di sini memang secara kuantitas masih kecil, tahun-tahun pertama yaitu ketika pak rektor tersebut mem-visitasi ke kami, memang fokusnya masih pada tahap pengajaran. Itu memang saya akui. Tapi sekarang setelah LPPM-nya di pimpin oleh Prof. Harianto Hardjasaputra, sudah mulai ada kemajuan. Kita sekarang, di sini (UPH maksudnya) selalu dikejar-kejar tentang hal tersebut (penelitian dan pernik-perniknya). Jadi sekarang itu jelas sudah kami pikirkan.

    Dalam kaca mata berpikir saya, dalam kerangka waktu yang saya lihat, dan hasilnya. Saya mempunyai keyakinan, bahwa PTS tersebut jelas sangat unggul dibanding PT yang lain, dan saya yakin, jika kinerja-nya bisa seperti itu terus maka suatu saat orang dapat menilainya dengan tenang. Seperti halnya kita bisa menilai dengan tenang penuh kebesaran hati bahwa Singapore yang kecil ternyata lebih makmur dibanding kita yang besar dan katanya kaya raya ini.

    Tentang sinisme duit. Bahwa itu semua karena duit.

    Mohon direnungi dengan baik. Bahwa PTS tersebut ada karena budi baik dan visi yang luhur dari orang yang kebetulan mendapat rejeki lebih, dan sama sekali bukan duit rakyat secara langsung. Itu khan jelas beda dengan PTN yang sebelumnya memang itu milik negara yang jelas ada subsidi. Adakah yang salah dengan PTS tersebut.

    Berkaitan dengan duit, silahkan anda lacak kegiatan si pemilik atau pendiri PTS tersebut, apakah itu untuk memperkaya koceknya juga. Mungkin ya , mungkin tidak. Tapi yang jelas beliau mempunya visi untuk membangun suatu institusi pendidikan dasar yang disebut LH sebanyak 1000 buah, sekarang baru jadi dua yaitu di sumatera , salah satunya di NIAS. Muridnya pertama hanya 50, sekarang udah lima tahun, udah sampai 1500, kebanyakan yang jadi murid adalah orang-orang kurang mampu.

    Apakah anda semua sudah melihat ke situ.

    Terus terang, saya hanya seorang guru, duitnya aja jelas nggak bisa dibandingin dengan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar Gatot Subroto. Meskipun demikian saya mempunyai cita-cita luhur seperti yang dipunyai oleh pendiri PTS tersebut. Jadi karena belum bisa membantu secara materi maka tugas saya jika pikiran saya membantu.

    Terus terang saya tidak terima dengan orang-orang yang menuduh tentang duit itu. Coba tanya diri sendiri, sudah apa, yang anda sumbangkan untuk negeri ini. Jika memang sudah punya komitmen yang sebesar orang-orang tadi. Silahkan anda mencibir. Jika belum, bantu saja dengan doa.

  25. @wir: sampeyan baca sendiri lah di internet, banyak sekali informasi tentang pertanyaan anda ini, bahwa pemeringkatan oleh globe asia, grup uph sendiri, itu menyimpang dari point2 akreditasi yang lazim digunakan. mudah sekali menaik-turunkan peringkat, seolah ilmiah, tapi ternyata ada permainan di dalamnya..

    Bagaimanapun wilayah pendidikan adalah wilayah idealisme, yang harus kita tegakkan bersama

    sayangnya, idealisme ini mudah sekali terbeli oleh duit, pak! apakah bapak tidak bisa merasakannya??????

  26. waduh rame banget ni jadinya, gara-gara postingan cerdik seorang rektor.

    Pemeringkatan, ada apa dengannya, apakah itu menyalahi hukum. Menipu ? Kalau demikian memang patut untuk ditindak-lanjuti. Bagian mana yang menipu, cari bukti dan fakta yang mendukung. Ajukan ke pengadilan. Selesai.

    Mana mungkin lah pak masalah “ini” sampe dibawa2 ke pengadilan, memang secara hukum memang tidak menyalahi, tapi

    sampeyan baca sendiri lah di internet, banyak sekali informasi tentang pertanyaan anda ini, bahwa pemeringkatan oleh globe asia, grup uph sendiri, itu menyimpang dari point2 akreditasi yang lazim digunakan. mudah sekali menaik-turunkan peringkat, seolah ilmiah, tapi ternyata ada permainan di dalamnya..

    tapi secara norma sosial, gara-gara “kasus pemeringkatan ini” malah banyak menimbulkan kontroversi kan? di blog bang arul ini aja sudah berkali-kali unda baca hal-hal yang berujung kepada debat kontroversi. Jadi permasalahannya dimana? Apa bukan gara-gara globe asia yang bikin suatu sistem yang sangat berbeda dari umum? dan kebetulan aja UPH itu jadi peringkat atas, pasti cuman kebetulan kan? 😈 Orang Globe Asia tuh cuman mau bikin peringkat dengan parameter dia sendiri kok. Tapi dari akibat “kelakuan” itu, malah bikin banyak kontroversi yang berkembang, jadi daripada bikin banyak kontroversi, kenapa enggak bikin peringkat dengan parameter umum yang sudah banyak dilakukan dan dapat diterima akal?
    Jadi, bapak lebih milih mana? Yang banyak manfaatnya atau yang banyak mudharat-nya (keburukannya) ?
    Toh walau bagaimana unda gk begitu peduliin masalah peringkat-peringkat kayak ginian, yang penting kan kita bisa sama-sama maju dan berbuat lebih baik buat negara ini? Iya kan?

  27. @ wir : panjang banget, terima kasih komentarnya. Memang pandangan berbeda antar satu dengan yang lain, tapi setidaknya sekali lagi saya katakan ini sebagai pembanding saja.

    Masalah pemeringkatan ini yang dipersoalkan pak, ketika ini dipublish di media, masyrakat tentunya akan menggunakan media sebagai referensinya. nah bagaimana jika yang di beritakan itu agak menyimpang? atau menggunakan parameter lain? makanya perlu ada pembanding.

    @ det : nah yang dikatakan sebagai permainan itu, yang saya abstain 😀
    @ anakrimba :

    di blog bang arul ini aja sudah berkali-kali unda baca hal-hal yang berujung kepada debat kontroversi.

    saya rasa ini sebagai pembanding doang, tapi ndak tau kalo sampai debat.
    Untuk pemeringkatan yang parameter umum, mungkin kita melihat pemeringkatan oleh DIKTI, Weebo, dll sebagai salah satu cara membandingkan. sekali lagi ini membandingkan saja.
    Nah solusinya juga sih, di bagian pemeringkatan dijelaskan pula parameter2 yang digunakan, jadi masyarakat paham.
    BUkannya mau peduli atau tidak peduli, tapi tetap saja adanya peringkat oleh badan atau media, menjadi landasan berfikir masyarakat, nah bagaimana jika informasi yang diberikan tidak sesuai? yah ini yang perlu diluruskan.

  28. 28 Legacy

    Salam buat semua,

    Saya cari2 artikel ttg Globe Asia, nemunya malah di sini, dan setelah baca2 tertarik ngomen juga.
    Menanggapi komentar Pak Wir, sepertinya bijaksana, tetapi terkesan munafik sekali.
    Mengapa Anda menulis gini:
    “Dalam kehidupan sehari-hari juga demikian, orang kemarin sore, koq sekarang sudah di atas ya.”
    sebetulnya gak begitu, saya ngerti potensi UPH dengan modal gedenya dapat berkembang jadi univ yang gede, tapi untuk saat ini saya rasa belum tepat menjadi peringkat pertama. Sekarang Anda yang mengidolakan uang, karena Anda menyetujui pemeringkatan Globe Asia, jika Anda telusuri lebih lanjut, mereka berdasar pada fasilitas yang mewah untuk mendapat poin yang tertinggi, jelas itu univ mana pun bakal mikir dua kali, karena itu bukan tujuan utama mereka. Tapi skrg agak jelas lah, nyata bahwa UPH memang memprioritaskan fasilitas yang mewah ketimbang risetnya, ngaca dong Pak… Hahaha…
    Saya sudah baca komen Pak Wir di blog-nya, dan mengejutkan saya. Lihat saja semua alasan pendukung Pak Wir di sana, sangat bias dan melenceng dari persoalan, seolah2 pengen “ngeles”. Malah artikel rektornya dimunculin. Dan tau gak, rektornya ngomong layaknya pendeta! Bukan layaknya seorang ilmuwan, saya jadi geleng2 nih, apa ini bakal jadi research university? Saya tidak menyalahkan pendeta, tapi mbok ya jangan munafik jadi orang…
    Dan saya juga menyarankan saudara2 untuk berkunjung ke blognya Pak Wir tuh… liat2 komennya dan postingan narsisnya. Kalau lagi narsis lupa ma Tuhan, dia… Liat aja kalo lagi ngomongin tentang hasil karyanya, kayaknya hasilnya sendiri aja, tapi kalo lagi nyeramahin orang baru d…
    Akhir kata, saya cuma ingin ngomong, kita harus tetep berpikiran jernih, kalo emang kita pengen masuk ke univ yg berkualitas, jgn ngacu pada pemeringkatan Globe Asia, tp klo cm ingin nikmati fasilitas ya monggo, karena emang itu tujuan pemeringkatannya. Jangan terbuai oleh alasan pembenar yang tidak beralasan.
    Semoga jaya terus pendidikan indonesia.
    Wassalam.

  29. Seorang dosen pernah cerita bahwa pemeringkatan semacam itu memang seringkali bias. Jangankan berdasar pemeringkatan yang dibikin sama organisasi antah berantah. Bahkan, ketika BAN yang melakukan pun menurutnya seringkali dipaksakan. Mereka melakukan pengamatan pada sebuah perguruan tinggi hanya dalam waktu beberapa jam. Padahal seharusnya kalau perlu tim akreditasi itu ikut sit ini di kelas mengikuti proses belajar mengajar sehingga benar-benar bisa membandingkan kualitas tiap perguruan tinggi. CMIIW. :mrgreen:

    lam knal…

  30. Yah…. namanya juga orang ‘jualan’, bukannya PTS-PTS sekarang fungsinya sudah berubah? Yang utama bukan lagi sebagai pencetak lulusan2 atau manusia2 unggul tetapi sebagai pencetak uang buat keuntungan. Jadinya ya tak heran muncul kasus2 seperti ini.
    Kriteria pembobotanpun sudah dimelencengkan di mana bobot2 tertentu yang menjadi kekuatan suatu PTS ‘yang ingin dipasarkan’ diberi bobot lebih, walaupun kriteria tersebut kurang lazim sebagai pengukuran PTS unggulan, nah hasilnya tentu saja berbeda dari hasil pengukuran kualitas PT yang baku dan lazim.

    Parahnya, masyarakat kita cepat percaya kepada sesuatu yang dipublikasikan, dan seringkali tidak memandang kredibilitas dari sumber yang menghasilkan informasi tersebut. Apalagi kalau sumber tersebut sudah menggunakan nama “Asia” dan berbahasa Inggris, wah masyarakat kita cepat sekali terbius. Mudah2an di masa mendatang ada edukasi masyarakat mengenai hal ini, agar masyarakat dan konsumen tidak mudah tertipu oleh berbagai publikasi yang berasal dari fihak2 yang kurang kredibel.

  31. @ Legacy :
    Kalo dari saya sendiri melihat jawaban pak Wir, menyajikan apa-apa saja yang telah diraih UPH, sehingga bisa masuk dalam peringkat oleh globe asia, namun sistem pemeringkatan ini yang blum disinggung oleh pak wir.
    tapi soal blog sih memang tergantung orangnya mas, saya aja juga beberapa ada postingan narsis koq, hehehe 😀

    @ Wennyaulia : yah juga sih, sistem penilaian selalu mendapat perhatian, seandainya jelas mungkin orang-orang paham.
    Nah yang jadi persoalan ini orang-orang yang melihat publisitas dari suatu rangking ini yang blum tau bagus tidaknya sistem pemeringkatannya, tapi hanya melihat peringkat langsung.

    @ Yari NK : saya sependapat sama pak yari seperti yang saya sebutkan di komentar2 saya.
    Memang peringkat kadang menyesatkan makanya perlu pembanding yang setara sehingga orang tidak melihat satu sistem tapi melihat sistem2 pemeringkatan yang lain

  32. @ Pak Wiryanto :

    Hehehehe… saya mantan dosen, pak. Tapi sekarang lebih tertarik jadi peneliti independen. 🙂

    Saya hanya menyorot soal pemeringkatan universitas saja. Tidak ada yang salah dengan pemeringkatan itu. Setiap institusi/lembaga, apapun dan siapapun, bisa membuat ranking universitas menurut kriterianya sendiri. Saya sendiri secara pribadi bisa membuat ranking universitas di Indonesia berdasarkan kriteria pribadi saya.

    Tapi yang disorot bukanlah hal itu saja. Ada hal-hal yang sepertinya telah menjadi kesepakatan tidak tertulis dalam membuat kriteria pemeringkatan universitas. Setiap lembaga yang berkecimpung di bidang pemeringkatan universitas itu seakan punya “kewajiban” untuk mengikuti kriteria-kriteria itu. Dan dari situlah mereka membangun integritas dan kredibilitas lembaganya sebagai lembaga yang kredibel dan berintegritas dalam memberikan pemeringkatan universitas. Dengan syarat-syarat khusus dan kriteria yang tepat.

    Webbo dan Jao Tong dibangun atas dasar kepercayaan publik akan kriteria pemeringkatannya yang kredibel dan berintegritas. Mereka punya standar yang ketat lengkap dengan penjelasan atas setiap kriteria dan setiap peringkat yg mereka buat secara berkala.

    Globe Asia ? Saya tidak pernah mendengarnya sebagai institusi yang kredibel dlm memberikan pemeringkatan universitas. Dan ketika kriteria yang mereka buat justru sedikit “melenceng” dari hal umum yang ada dlm pemeringkatan universitas, maka pertanyaan selanjutnya adalah : “ada apa dibalik ini ?”. Yang jadi sasaran tembak bukanlah UPH, tapi Globe Asia yang memberikan ranking universitas.

    Tolong dibedakan disini antara UPH sebagai akibat sampingan hasil pemeringkatan Globe Asia dan Globe Asia sendiri sebagai pemain utama dalam sistem ranking universitas itu. Orang tentunya lalu bertanya, kenapa Globe Asia memberikan kriteria yang “berbeda” ? Apakah kriteria itu demi suatu tujuan tertentu ? Apakah ada kepentingan lain disini ? Bisa saja berandai-andai, tapi bisa saja menjadi pertanyaan juga : Apakah pemeringkatan universitas versi Globe Asia itu kredibel ?

    Pembandingnya adalah sistem lain yang telah diakui dalam sistem ranking universitas di dunia. Kesimpulannya, seperti yang dikemukakan di artikel diatas, sistem itu (Globe Asia) tidak kredibel. Karena ada beberapa kenyataan dan informasi yang “dipelesetkan” serta kriteria yang “melenceng” dari sistem ranking universitas yang diakui secara umum.

    Lalu, kalau informasi itu (ranking ala Globe Asia) menguntungkan pihak tertentu (UPH), apakah ini bukan “buble information” ? Iya, kalau menurut saya. Suatu informasi yang digelembungkan dan akhirnya menguntungkan pihak tertentu. Apakah “buble information” adalah suatu penipuan ? Saya tidak tahu, karena saya bukan ahli hukum. 🙂

    Saya tidak mempersoalkan UPH-nya sendiri. Walaupun lulusan universitas negeri (UI) saya juga punya kenalan beberapa dosen di Psikologi UPH. Dan saya salut dengan kerja keras mereka dalam membangun Psikologi UPH.

    Tidak perlu menjadi terlalu defensif disini, pak. Kerja keras anda dan rekan dosen lain dalam membangun UPH tidak menjadi sia-sia dengan artikel ini, juga dengan pemeringkatan universitas yang cenderung buble seperti Globe Asia. Anda di UPH tidak terpengaruh, tapi publik sebagai pemakai informasi perlu tahu bahwa mereka butuh informasi yang tepat dan benar, serta bukan hasil buble information.

  33. 33 Abdul Hakim, ST

    Jangan terlalu khawatir pak kita alumni ITS siap bersaing dengan mereka – mereka yang lulusan PTS. KIta buktikan saja di lingkunga kerja siapa yang lebih hebat. Sudah terbukti pak di tempat saya bekerja mereka yang lulusan PTS terlalu manja dan banyak menuntut mungkin disebabkan budaya mereka bahwa penfdidikan itu dianggap sebagai lifestyle saja.
    vivat ITS

  34. 34 MuMu

    Saya ikutan kasi comment dari segi mahasiswa deh.. (Yah, mantan mahasiswa deh.. baru aja lulus) Hehehe..
    Beberapa bulan lalu BEM dari UPH mampir ke kampus saya untuk melakukan studi banding. Kebetulan saya juga ikut menjamu mereka. Please read my notes below..
    (Ini point of view saya! Jadi silahkan dikomentari tapi jangan disalahkan! Saya yang ngalamin!) Hehehe..

    Dari segi kemahasiswaan, UPH masih banyak tertinggal dari kebanyakan universitas di Indonesia. Mengapa saya katakan tertinggal, mungkin karena memang mereka baru aja “lahir” dan pengalaman adalah salah satu hal yang tak dapat mereka beli (atau belum? Hehehe..).
    Soal apa ketertinggalannya, saya rasa tak perlu disebutkan (Lagipula mereka kan telah berniat belajar tuk mengejar hal tersebut). Jadi cukup saya dan kawan” mahasiswa UPH yang tahu. Hehehe..

    Sebelum studi banding kemahasiswaan tersebut, UPH pun telah mengundang Tim Administrasi kampus saya untuk studi banding (dengan segala akomodasi dan transportasi ditanggung! Gila!). Dan saya pun mendapat wawasan (kalo gak boleh dibilang cerita) dari salah satu anggota tim yang berangkat tersebut. Fasilitas Aministrasi di UPH sangat gila! Hebat! Keren! (Apalagi seperti kata Pak Dosen UPH di atas, pake scan jari! Entah apa maksudnya hal tersebut diceritakan, mungkin beliau dulu sebelum nyari duit di UPH gak pernah ngalamin. Udik bgt! Hahaha..)
    Namun cukup sampai di situ kehebatannya.. Secara SDM, sistem dan yang lainnya.. Administrasi UPH cukup bermimpi dulu untuk masuk jajaran Universitas terbaik di Indonesia.
    Itu dari cerita loh yah.. saya gak ikut ngalamin..

    Sebelum studi banding administrasi, UPH juga mengundang Tim Basket Kampus saya untuk bertanding di Kampus mereka (secara tim kampus saya terbaik di Indonesia. Hehehe..) Dan kalau anda menebak pasti dibayarin juga.. Yup! Tidak salah.. Segalanya ditanggung oleh UPH. (Hotel, pesawat, dll)
    GILA!

    Sungguh besar biaya yang dikeluarkan untuk mengejar ketertinggalan..
    Salut untuk kemauan belajar.. Walau saya tidak yakin apakah pantas.. (It’s all about money..) Hehehe..
    Jadi dari tiga variabel “cerita” di atas, mungkin dapat dianalisa seberapa valid hasil rating GlobeAsia Magz.
    Silahkan dikomentarin sendiri.. (Karna saya gak tau gmn ngenilai kualitas suatu univ)

    Saya tidak ingin menyalahkan UPH (isu ini ttg rating dari GlobeAsia kan?).. apalagi mahasiswanya.. (Hey, apa salah tuk kuliah di tempat dengan fasilitas bagus? Mumpung ada duit.. Hahaha..)

    Bagi PTN, jangan pongah.. Masuk situ susah.. Kualitas TOP dah!
    Dengan segala hormat pada mereka yang kuliah di PTN karena otaknya mumpuni, sebagian besar dari kita tahu berapa yang harus dibayar tuk diterima di Kedokteran Unair (seharga ambulan dan isinya menurut teman yang ngalamin), HI UI (Kijang Krista). dst..

    Bagi PTS yang laen, buktikan komentar pongah Abdul Hakim, ST adalah komentar picik yang lupa bahwa mungkin dia bisa masuk kerjaan karna dia lulusan ITS (salut buat Ikatan Alumni ITS..). Picik karena berpikir bahwa PTN adalah yang terbaik.. Di atas langit masih ada langit bung! Picik karena menganggap isu ini adalah masalah persaingan lulusan PTS dan PTN.

    Bagi Globe Asia.. What a cheap idea that you got to raise your copies circulation..
    Semoga oplah majalah anda serendah ide tersebut..
    Bagi James Riady, Lippo maupun konglomerasi Riady family yang laen..
    You are full of s@%t.. Takkan lupa pada taktik kotormu dalam berbisnis.. (Saya dulu mahasiswa keuangan, so.. taktik “jual mahal beli murah” anda adalah bahan diskusi saya, dosen maupun kawan”)

    Bagi Pak WIr.. Anda itu siapa toh? Orang yang penuh dengan kosa kata pembelaan (Walau sepertinya jadi kosa kata pemujaan pada diri sendiri dan kampusnya)
    Buka hati anda pak! Kalo gak punya, yah buka mata lah.. Hehehe..

    Untuk yang lain.. Ucapkan selamat datang pada kebebasan informasi..

    Sebelum berkomentar, jangan munafik.. Tidak ada kampus yang “bersih”..
    Kalo ada yg tersinggung dengan kata” saya. Maaf.. Saya hanya tidak suka orang membuka luka orang laen namun tak sadar pada lukanya sendiri yang mungkin lebih parah.. Saling mengobati donk mestinya..
    Beri Solusi..

    Well, yang penting.. Kalo ada yang pengen masuk UPH..
    Itu pilihan bung!

  35. 35 MuMu

    Ma’ap lupa..
    Gak trbyasa pake nama asli..
    Tapi rasanya kali ini perlu untuk validitas (atau formalitas? entahlah..)
    Saya Alumni Universitas Surabaya
    (PTS, barangkali ada yang tidak tahu.. Tapi maaf kawan, mohon institusi saya tidak ikut dibawa kontroversi)
    Hehehe..

    Regards,
    Arthur Malonda

  36. @ Semua (Pyrrho, Abdul Hakim, Arthur Molanda) : terima kasih komentarnya.
    semoga menjadi pembelajaran kita topik ini dan kita masing-masing bisa memberikan sisi obyektif dari sebuah penilaian..

  37. 37 annastacy

    Mohon direnungi dengan baik. Bahwa PTS tersebut ada karena budi baik dan visi yang luhur dari orang yang kebetulan mendapat rejeki lebih, dan sama sekali bukan duit rakyat secara langsung. Itu khan jelas beda dengan PTN yang sebelumnya memang itu milik negara yang jelas ada subsidi. Adakah yang salah dengan PTS tersebut.
    ,
    @wiryanto : ingat pak UPH, SILOAM, dan lembaga2 filantropi yang didirikan Pak Mochtar itu untuk siapa? apakah untuk rakyat miskin? sebenarnya itu hanya upaya busuk dari para konglomerat untuk melakukan ekspansi bisnis berkedok amal. Atau bisa saja mereka melakukan itu untuk menebus dosa , karena telah mengembat trilyunan dana BLBI milik bangsa ini. Ah jangan bangga dech pak jadi orang UPH, anda hanya seorang antek2 neokolonialisme yang berdiri diatas darah bangsa ini.

  38. 38 annastacy

    Kompas, memuat sebuah artikel yang mengkritisi hasil rating dari Majalah Globe Asia yang menempatkan Universitas Pelita Harapan sebagai universitas swasta yang terbaik di Indonesia dan universitas kedua terbaik di Indonesia.. Hasil rating tersebut patut dicurigai karena Globe Asia dan UPH merupakan saudara kandung dalam lingkup Bisnis Lippo Group. Jadi hasil, standar dari Globe Asia memiliki 2 kecacatan pertama cacat alat ukur dan cacat objektifitas..Globe Asia sebenarnya tidak hanya sekali ini saja melakukan rating yang menimbulkan tanda tanya. Beberapa bulan yang lalu, sekitar Oktober Globe Asia mengeluarkan rating tokoh Filantropi 2007 di Indonesia yang menempatkan Mochtar Riady sebagai nomor 2 terbaik dalam filantropi dengan bukti2 berbagai pendidian institusi seperti Siloam dan UPH.. Mereka mungkin lupa Filantropi yang dilakukan saat ini apakah bisa menjangkau semua lapisan masyarakat… “Filantropi” yang dilakukan grup Lippo bukanlah Filantropi karena Siloam dan UPH saat ini menjadi entitas bisnis yang menghasilkan laba dan hanya bisa diakses oleh segelintir masyarakat semata. Yang kontroversial adalah menempatkan Abu Rizal Bakrie yang kotor dengan peristiwa Lapindo menjadi tokoh Filantropis Indonesia 2007. Kedua kejadian ini, menjadikan kita harus waspada dengan media massa yang menjadi bagian konglomerasi, Saat ini tidak hanya Lippo yang bergerak dalam bisnis media.. Pemberitaan peristiwa kematian Suharto juga menjadi sebuah tanda dari media televisi yang alpa terhadap masa lalu, dengan frame yang hampir serupa dengan menampilkan Suharto adalah tokoh yang layak untuk dimaafkan, dan Soeharto adalah Bapak Pembangunan. dengan menghilangkan peristiwa HAM, dan KKN yang menghancurkan Indonesia….

  39. I have read those article. Saya lihat ITS dipaksakan ikut penilaian dalam kriteria universitas secara umum, dimana adanya fakultas kedokteran salah satunya dijadikan ukuran penilaian. Padahal jelas-jelas ITS udah memposisikan dirinya sebagai Institut Teknologi yang gak bakalan masuk di kriteria itu. Jadi malas bacanya karena sudah terlihat tidak mutu, apalagi setelah melihat iklan full page salah satu PTS afiliate-nya Lippo Group dibeberapa halaman secara mencolok. Akhirnya saya simpulkan dengan bodoh-bodohan ini cuma siasat marketing yang kasar dan tidak smart sama sekali.

  40. 40 paksi ITS cuk

    haha.. ITS peringkat 8 ??
    mungkin mereka gtau siapa yg tahun lalu runner up abu robocon ya??
    dan satu2nya yg pernah juara 1 se dunia kontes robot di Jepang??
    apa mungkin ga pernah dengar?? kasian..
    jangankan dunia, di Indonesia aja ga ada yg nyaingin..

    victory!

  41. salam kenal

  42. 42 indon

    nggak usah banyak bicara, kerjakan saja sesuatu yang berguna

  43. 43 Yustika Rofianto

    Ada Rangking salah? Tidak ada rangking salah juga? Kecenderungan bangsa kita (termasuk saya) adalah mudah berkomentar. Its not bad. Setidaknya jadi counter ballance. Timbul peertanyaan saya yang naif bahkan cenderung dungu, :
    1. Apakah pengaruh rangking terhadap kemajuan bangsa ini?
    2. Apakah birokrat yang “ndanjuki” juga ditelisik alumninya?
    3. Apakah mengurangi point atau bahkan menambah point kalau terbukti ternyata para birokrat yang ndanjuki melakukan white collar crime?

  44. 44 Yustika Rofianto

    Ada Rangking salah!!! Tidak ada rangking salah juga!!!Kecenderungan bangsa kita (termasuk saya) adalah mudah berkomentar. Its not bad. Setidaknya jadi counter ballance. Timbul peertanyaan saya yang naif bahkan cenderung dungu, :
    1. Apakah pengaruh rangking terhadap kemajuan bangsa ini?
    2. Apakah birokrat yang “ndancuki” juga ditelisik alumninya?
    3. Apakah mengurangi point atau bahkan menambah point kalau terbukti ternyata para birokrat yang ndancuki melakukan white collar crime?
    Kita cukup tahulah mana PTN/PTS yang bermutu/berkwalitas. (barang mahal belum tentu baik). Pintar tapi kere yo gak iso kuliah, sugih tapi goblok yo podo ae. Jadi ayolah kita bareng2 ciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi negara ini, khususnya lapangan pekerjaan. Masih banyak kok alumni PTN/PTS (baik rangking maupun non rangking)yang terpaksa kerja dengan melacurkan diri dari disiplin ilmunya. Apakah kita masih mempersoalkan rangking? Di dunia ini cuma ada dua sisi : ada baik ada buruk, baik tercipta karena ada buruk sebagai komparasinya. Bagi yang buruk segera perbaiki, bagi yang sudah merasa baik juga tetap dipertahankan dan ditingkatkan.
    Nyiyire cangkemku dewe: Yang membedakan PTN/PTS adalah proses seleksi calon mahasiswa, bagi PTS khususnya jangan asal masukin semua calon mahasiswa. Kalau mau cari uang buka usaha lain aja jangan lahan pendidikan.


  1. 1 suatu kepatutan « The works of Wiryanto Dewobroto
  2. 2 adakah yang (berani) peduli pendidikan di sini « The works of Wiryanto Dewobroto
  3. 3 Komersialisasi Pendidikan VS Knowledge Economy | DuniaAnda.com
  4. 4 Komersialisasi Pendidikan VS Knowledge Economy « Komarudin02’s Weblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: