Bahasa Wotu dan Eksistensinya

10Feb08

 

Wotu berada di tengah (klik untuk memperbesar)

Jika anda mengetahui bahwa Wotu adalah nama sebuah daerah berupa kecamatan yang ada di Kabupaten Luwu Timur, Propinsi Sulawesi Selatan, ternyata memiliki bahasa tersendiri dalam berkomunikasi dengan warga lainnya, yaitu Bahasa Wotu.

Wotu merupakan daerah yang di dalam Cerita La Galigo (La Galigo adalah epik terpanjang dunia. Ianya wujud sebelum epik Mahabharata. Ianya mengandungi sebahagian besar puisi ditulis dalam bahasa bugis lama-Wikipedia), menjadi pusat turunnya Tomanurung, Orang pertama di Kerajaan Luwu, yang pada akhirnya pusat pemerintahan Kerajaan Luwu berpindah ke Kota Palopo. Di Wotu sendiri ada Macoa Bawalipu, atau Saudara Tua Raja Luwu yang tinggal di Wotu.

Orang-orang memperkirakan bahwa Bahasa Wotu merupakan cikal bakal dari bahasa-bahasa yang ada di Nusantara ini, seperti bahasa bugis dan bahasa-bahasa lainnya yang berada di daerah sekitar Asia Tenggara. Bahasa Wotu memang beberapa ada kemiripan dengan Bahasa Bugis, Makassar, Bahasa Toraja, ataupun bahasa Tomona di Daerah Sulawesi Tengah, maupun bahasa di beberapa daerah lain karena kedekatan geografis daerah dan asal-usul bahasa-bahasa mereka juga diceritakan oleh orang-orang tua berasal dari Wotu.

Update : seperti yang saya tulis di posting saya di sini bahwa kemiripan bahasa Tagalog dan bahasa-bahasa di Philipina dengan Bahasa Wotu juga ada, seperti kata untuk menyebutkan ayah= ama dan ibu-ina.

Seperti kita melihat bahasa Wotu dianalogikan dengan keadaan seperti hidung dalam bahasa Wotu adalah ango, untuk menyebutkan angka satu, dua, tiga, dan empat itu menggunakan ango, karena ketika berbicara hanya sampai 4 lubang hidung yang ada. Berikut beberapa angka dalam bahasa Wotu :

Satu : sango
Dua : duango
Tiga : taloango
Empat : patango
Lima : alima
Enam :ana
Tujuh : pitu
Delapan :walu
Sembilan : sassio
Sepuluh : sapuluh
seribu : sangsou
seratus : satu

Itu beberapa sejarah munculkan kata-kata dalam bahasa Wotu yang bisa menjadi salah satu alasan bahwa Bahasa Wotu merupakan bahasa asli yang langsung dari orang yang pertama menggunakan bahasa.

Kemiripan bahasa terlihat dari beberapa kata, seperti angka tiga yang di beberapa daerah menggunakan kata Tellu, Tallu, Talo yang dipakai di Jawa, Sunda, bahasa Tagalog, dan sekitarnya. Atau Tujuh dengan kata pitu.

Beberapa bukti keaslian bahasa ini juga adalah tidak adanya huruf mati dalam setiap kata dalam Bahasa Wotu ini, bisa dilihat di Kamus Bahasa Wotu Singkat di bagian bawah. Jika ingin mengetahui lebih dalam ada buku Morfologi dan Sintaksis Bahasa Wotu dikarang oleh JS Sande (saya juga belum baca 😀 ).

Orang Wotu beranggapan bahwa jika dia orang Wotu berarti dia tau berbahasa Wotu. Memang begitulah idealnya namun sebagian juga ternyata sudah berevolusi dengan bahasa Indonesia, sehingga lambat laun bahasa ini akan menghilang jika tidak dilestarikan.

Barangkali keadaan yang memaksa kita untuk tidak lagi menguasai bahasa itu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Asimilasi kita dengan bahasa-bahasa lain sehingga melupakan identitas bahasa ibu kita.

Kita bisa merasakan bahwa perlunya bahasa daerah ketika sedang keluar dari daerah asal, sehingga kita baru mengingat kembali perlunya mengetahui bahasa dan sejarah daerah kita kembali. Jadi teringat Lagu “Makassar Bisa Tonji” yang berisi kritikan terhadap orang yang sudah melupakan bahasa asli Makassarnya karena berlogat 😀

Kamus Bahasa Wotu (sebagian besar bersumber dari Rijal, saudara sepupu saya :D)

=Keluarga=
Ayah : ama
Ibu : ina
Siapa : sema
Om/tante : uwak
Sepupu sekali : topisa
Sepupu dua kali : topenrua
Cucu : anopu
orang tua : tumattua

=arti=
Dibakar api : kande api
berjalan : molanga
buang air besar : tottai/mojamba
jalan : dala
jatuh: boto
Kulit : uli
Nama : sanga
mengatakan : motae
adik : andri
menikah : siala
kakak : kaka
bulan : ula
duduk : tumongko
Turungnga : sungai
lari : cere
jelek : kadake
baik : kaballo
bersamalah= suranga ta
laut : tasi
berkerut : si kapurru
pantat : tambe
kepala : ba
tangan : jari
manis : macanni
kaki : aje
sepotong : sapale
Turun : mono
mendengkur : manggoro
Bertemu : siruntu/sintomu
Naik : mene
Timba : Pattenru
Perahu : lemba
mencuri : minnau
Ikan : bete
Tidur : maturu
bangun : tumongko
rokok : tole
rumah : wanua
bersama : suranga
baju : badu
celana : sularra
memanjat : mennea
kelapa : kaluku
melawan : mangewa
lawan : bali
teman : ranga
terbang : molao
sama panjang : sumanrate
orang : ito
potong ayam : sumbele manu
jauh : marido
menangis : tomangi/karra
sekumpulan : sipuluanna
dibuang : ibana
tenda : semba
parang : ambera
rambut :luwa
kurang ajar : kurayya
gila : ombe
durian : tampia
pisang : punti
air : uwe
air panas : pinane
panas : mapane
jangan : billi
sayur : buaju
aku : iyau
tiang : patotto
memasukkan : palopo
dingin : madingngi
membeli : mangali
menjual : mobalu
di dalam : ilara
di luar : isalua
diam : makko
beras : barra
merah : maeja
hitam : maeta
kuning : maunni
gunung : bulu
hidung : ango
gula merah : golla eja
perempuan : bawine
laki2 : muwane
besar : oge
kecil : bacici
anak2 : ngana2
patah : pale/polo
sumur : bubung
berbaris : barisi
tiga ekor : tallu mba
hujan : uda
bambu : salolo
kuburan : kaburru
tidak tau : edo sani
Allah ta ala : Pungga Taala
tertua : macoa
pertemuan : pentomua
sagu : tabaro
tidak mau : cia
marah : cai
kebun : bilassa
hidup : tuwo
bantal guling : kanggulu
kelambu : boco
pasar : posarra
pipis : tole
tersangkut : sappe
mandi : mandriu
ikan kering : bete kossi
sarung : lipa

= Dialog =
Mau pergi mana ? : Mai pasi?
Siapa namamu? : Sema sangata/sangamu?
Kabar baik : Kareba Kaballo ba.
Saya mau mandi : iyau melu mandriu
Jangan mau diganggu orang : Edo melo lagarrui itoe
Tidak juga kamu : Edo dua io
Turun ke sungai : mono turungnga
Jangan ribut : billi marea
sampai pada waktu : anularatteme wattu u

Bias Bahasa (terinspirasi postingan teman saya di sini)

Dalam bahasa Wotu juga dikenal kata yang berhomofon yaitu tole yang artinya bisa buang air kecil (pipis) atau merokok, tergantung konteks kalimatnya. Jadi ketika kita ngomong “mipa tole” ada 2 kemungkinan pergi (lagi) merokok atau pergi (lagi) buang air kecil 😀

Ketika orang Wotu berkata “edo sani” bukan berarti menyebutkan pasangan Edo dan Sani, tapi mengatakan bahwa tidak tau. Bagaimana jika kata itu dikatakan kepada orang-orang yang tidak tahu berbahasa Wotu.

Kalau orang Wotu berada di antara orang Minang, trus dia berkata “uda untuk mengatakan hujan, ternyata bukan untuk memanggil paman dalam artian berbahasa Padang. 😀

Kata Marido dalam bahasa wotu adalah jauh, sedang dalam bahasa Arab : sakit (bagi wanita) 😀

Demikianlah bahasa ibu, bahasa yang harus tetap dipertahankan untuk tidak hanya menjadi catatan sejarah, tapi merupakan identitas yang maha luhur.

Asruldin Azis : Wija To Luwu
Lahir di Palopo, Orangtua dua-duanya dari Wotu.

Sumber peta : http://www.welt-atlas.de/
Sumber inspirasi : dari orang tua, saudara-saudara dan keluarga lainnya.

Iklan


65 Responses to “Bahasa Wotu dan Eksistensinya”

  1. Postingan mas aRul ini sangat menarik seandainya dijadikan sebagai bahan penelitian untuk penyusunan skripsi atau tesis. keberadaan bahasa wotu jelas makin memperkaya khasanah budaya bangsa. betapa negeri multibahasa yang terbentang dari sabang-sampai merauke ini memiliki kekhasan budaya lintasdaerah, tanpa harus kehilangan jatidirinya sebagai bangsa. dalam komteks ini keberadaan bahasa indonesia sebagai bahasa nasional juga semakin penting untuk menjembatani kepentingan komunikasi antarwarga bangsa yang berbeda-beda suku dan bahasanya itu.
    *sejenak merenungkan makna sumpah pemuda*

  2. @ Sawali Tuhusetya : wah pak, saya hanya mahasiswa teknik elektro ko pak, blum menjadi mahasiswa sastra elektro 😀
    yah memang banyak sekali hubungan dan keterkaitan yang kita tidak sangka. padahal itu saya dapat dari cerita-cerita turun temurun dari orang tua-tua dan keluarga.
    Bahasa Indonesia juga sangat kaya akan makna…. dan sumber semuanya harus digali juga.

  3. 3 UdYne

    Wah salut neh sama postingannya…
    Saya bangga jadi org Wotu
    Klo baca kamusnya, semuanya masih familiar sy dengar, tapi kadang utk menyebutnya agak susah, mungkin krn conversation pake bahasa Wotu kurang.
    Yg paling berkesan seh, bilangan dalam bahasa Wotu yg menggunakan hidung/ango (soalnya Bpk sering mengulang2 menyebutnya, sambil menunjuk hidung)..
    Thanks

  4. @ Udyne : hehehe 😀
    iyah bilangan itu sering dibilang bapak sambil tunjuk hidung 😀
    yah memang bahasa untuk selalu diucapkan jadinya harus selalu digunakan supaya tidak kehilangan identitas bahasa kita.

    *anyway yg koment di atas ini kembarku 😀 hehehe 😀 *

  5. 5 telurasinbrebes

    owwwwwwww…berarti asalmuh, palopo artinyah….. ❓
    trus kapa nih, siala?
    biar bisa, palopo :mrgreen:
    *kande api* 😆

  6. ini toh oleh-oleh dari kampung halaman? :mrgreen:

    *tetep nagih oleh-oleh*

  7. Kareba Kaballo ba Rul? Edo melo lagarrui itoe…
    ooiii…oiii..billi marea!
    bisa kaan..

  8. @ telurasinbrebes : wakakak emoticonnya ngak berhasil yah? yah udah ta perbaiki 😀
    nikahnya ntar aja kalo dah lulus 😀
    hhehe hebat pintar2 🙂
    @ cK : hehehe salah satunya, masih banyak salah2 yang lain 😀
    @ fauzan sigma : kaballo ba…. hehe pintar2 😀

  9. Bahasa Wotu memang beberapa ada kemiripan dengan Bahasa Bugis, Makassar, Bahasa Toraja, ataupun bahasa Tomona di Daerah Sulawesi Tengah, maupun…

    Berarti mas aRuL bisa berkomunikasi dengan masyarakat Wotu?

  10. @ Edi PSW : sayakan orang wotu juga pak, secara bapak ibu dari sana semua 😀 kebetulan lahirnya di kota Palopo, ibukota Luwu Raya 😀

  11. 11 Moerz, anaknyaCHIWygdiadopsiADIT&NIEZ

    saya perlu kursus nih…

    hehehe….

  12. @ Moerz : *wah ternyata terjadi hal2 banyak di blogsphere yah* 😀
    okeh sy juga masih butuh belajar banyak koq 🙂

  13. 13 antarpulau

    “…………….Beberapa bukti keaslian bahasa ini juga adalah tidak adanya huruf mati dalam setiap kata dalam Bahasa Wotu ini…………”
    ______________________
    bener-bener unik……
    pas aku baca, eh bener… gak ada huruf mati’na……
    mungkin ini adalah satu isyarat »» bahwa bahasa wotu ini tidak ada akan mati…..

    *semoga* :mrgreen:

  14. 14 mahma mahendra

    no comen lah… .

    pertahankan budaya bangsa.

    eh iya saya juga baru tau tu klo la galigo adalah kisah sastra terpanjang di dunia. jadi penasaran seberapa panjangnya. mahabharata dulu di tipi aja gak abis2 gimana klo la galigo di pilemin yah?

  15. @ antarpulau : iyah… hehehe…. mungkin keunikan bahasa-bahasa lama seperti itu…. kayak bahasa jepang 😀

    @ mahma mahendra : iyah… iyah.. itu aja sering ditampilkan di luar negeri, namun paling bagian2 tertentu babnya.
    epic itu skrg ada di perpus belanda.

  16. 16 nicoustic

    pantes aja mas, Anda dihadiahi pejabat setempat,,,,lha pembahasannya aja selengkap gini.

  17. @ nicoustic : he eh, tapi ini tempat lain loh…. yang dulu itu bukan dari sini, tapi memang satu daerah sih 😀

  18. wah makasih xD ngebantu dalam tugas sosial
    hehe *di kasih tau bang Gun

  19. @ zazi : he hehe okeh2…. 🙂

  20. *berasa lagi di ruang kuliah* 😀

    tapi tulisan ini bagus. serius. coba deh lo ngelamar jadi guru… 😆

  21. Sempat curiga ini skripsi, tapi terbantahkan di komen nomor 2… 😆

  22. *lirik komen zazi*

    Zaz, traktir lagi ntar yo!

  23. ternyata banyak sekali ya bahasa di Indonesia 😀

  24. @ tukangkopi : he eh….
    weleh2… bidang saya sekarang jauh dari namanya guru pak.. sy hanya seorang mahasiswa teknik elektro yg blum lulus2 😀
    tapi semoga bisa jadi pembelajaran buat saya dan semua orang 🙂

    @ Goenawan Lee : he eh…. iyah2… sy mah mahasiswa elektro 😀
    weh ada traktiran apa nih?

    @ Hedwiq™ : iyah banyak banget loh, beda2 dan bervariasi 🙂

  25. wah..postingan yang sungguh panjang tapi sangat bermanfaat…
    Salam kenal warga makassar… 🙂

  26. 26 fetro

    asyik benar nih, kadang sulit juga mencari referensi bahasa daerah tertentu

  27. wah, ini postingan layak dijadikan karya ilmiah yang berguna untuk melestarikan budaya mas arul. senada dengan pak sawali, saya berharap skali ada peneliti yang mau mengangkatnya sebagai tesis atau skripsi minimal.. membacanya asyik sekali mas.. coba kalo epiknya disadur dalam prosa, boleh jadi saya akan dibawa ke masa lalu daerah sampean… SAYA SUKA POSTINGAN BEGINIAN.. SERIUS..

  28. @ maruria : terima kasih mas maruria, salam kenal juga.
    @ fetro : iyah moga-mogatetap terlestarikan sampai semua generasi berikutnya dapat. saya takutnya malah terputus di saya bahasa ibu saya ini 🙂
    makanya saya abadikan dalam postingan semoga saya selalu mengingatnya.
    @ gempur : wah wah pak, saya sebenarnya tidak berharap lebih seperti itu, cuman mencoba memperhatikan kebudayaan yang ada agar tetap dipertahankan.
    Nah epik La Galigo itu ada di Belanda sana, saya sebenarnya berharap ada orang yang mengartikan karena banyak filosofi hidup di sana.
    terima kasih pak atas apresiasinya 🙂

  29. @ maruria : terima kasih mas maruria, salam kenal juga.
    @ fetro : iyah moga-mogatetap terlestarikan sampai semua generasi berikutnya dapat. saya takutnya malah terputus di saya bahasa ibu saya ini 🙂
    makanya saya abadikan dalam postingan semoga saya selalu mengingatnya.
    @ gempur : wah wah pak, saya sebenarnya tidak berharap lebih seperti itu, cuman mencoba memperhatikan kebudayaan yang ada agar tetap dipertahankan.
    Nah epik La Galigo itu ada di Belanda sana, saya sebenarnya berharap ada orang yang mengartikan karena banyak filosofi hidup di sana.
    terima kasih pak atas apresiasinya 🙂

  30. wah sama dong ama bahasa minang, permasalahannya tempat perbauran semua bahasa daerah adalah di ibukoita propinsi, nah ketika penduduk ibukota ke daerah, ketika itulah bikin tertaw, karena mereka tidak mengerti dengan bahasa daerah mereka sendiri, dodot sering ginian, mikir lama jawabnya kagak tau

  31. @ dodot : iyah juga sih… kadang melupakan bahasa sendiri atau sudah bercampur baur dengan bahasa sendiri.
    pernah itu hari, sy padahal dari surabaya teman2ku ngomong “loh koq logatnya logat makassar, ”
    emang sih karena 3 tahun lebih di skul jadinya tercampur baur tuh bahasa.
    😀

  32. Dijaman sekarang, sulit menemukan anak-anak muda yang dapat berbahasa daerah dengan tepat . Mereka lebih fasih berbahasa inggris atau indonesia. Mungkin begitulah dampak dari kemajuan yang ada. Bersyukur masih ada orang-orang yang peduli untuk melestarikan bahasa daerah.

    Saya pernah baca berita di salah satu media, yang mengabarkan bahwa bahasa daerah satu persatu mulai punah karena penutur-nya makin lama makin sedikit. Seperti seleksi alam.

  33. @ erander : nah itu yang saya khawatirkan bang, adanya kepunahan terhadap bahasa. makanya tulisan ini muncul 🙂

  34. 34 yosepin

    walau saya bukan dari sulawesi tetapi saya tertarik dengan budaya di sana, saat ini sedikit sekal anak muda yang tau akan i la galigo dan saya ingin i la galigo tetap di kenal di indonesia. saat ini saya sedang membuat tugas akhir(TA), saya bermaksud membuat ilustrasi dari epik tersebut pada kain. saya butuh konsultasi dengan orang-orang yang tau cerita-cerita nya walau saya juga sudah ada bukunya tetapi ingin tau dari orang-orang yang tau tentang i la galigo serta nasehat yang terkandung di dalamnya. saat ini pengetahuan yang saya punya rasanya masih sangat minim untuk menunjang tugas akhir saya ini, jadi saya mohon bantuan dari saudara-saudara. terimaksaih banyak.

  35. 35 yosepin

    ohya sekarang saya sedang kuliah di bandung, di itb, di mohon balasannya ke email saya tentang i la galigo dan yang berkaitan tentang itu apapun itu untuk membantu refrensi llustrasi yang akan saya buat.
    terimakasih.

  36. @ yosefin : secara saya tidak tau siapa yang bisa diajak referensi karena saya dapatnya dari buku2 coba ke blognya pak armin to putiri di http://armintoputiri.blogspot.com/ kayaknya beliau punya banyak referensi.
    kalo naskah i lagaligo soendiri itu blum ada yang menerjemahkan namun hanya cerita sepotong2 yang diketahui..

  37. 37 Nawawi Sang Kilat

    KEMBALIKAN WOTU PADAKU
    Oleh: Nawawi Sangkilat

    A. PENDAHULUAN
    Sebagai mana diketahui, pulau Sulawesi adalah salah satu pulau terbesar digugusan kepulauan nusantara. Nama Sulawesi juga telah menjadi misteri tentang siapa yang pada awalnya memberikan nama pulau ini menjadi pulau Sulawesi. Akan tetapi besar dugaan bahwa orang yang bersejarah memberikan nama pulau ini sebagai Sulawesi yaitu Prof.Moh.Yamin sebagai ganti dari nama yang sebelumnya yaitu Celebes yang dikenal pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. Sebenarnya nama Celebes pada awalnya dikenalkan oleh seorang yang berkebangsaan Portugal yang bernama Antonio Calvao pada tahun 1563 .Celebes oleh Antonio Calvao dimaksudkan sebagai ” ternama” atau tanah yang makmur yang terletak digaris Khatulistiwa. Celebes bagi orang Belanda menyebutnya dari kata Cele Besi yaitu Cele ( Keris,badik atau kawali)`yang dibuat dari Bessi`( Bugis). Sebuah anekdot dalam masyarakat yang konon menurut cerita yang dituturkan oleh seorang Belanda yang bertanya kepada seseorang yang secara kebetulan seorang bugis .Orang Belanda bertanya tentang nama tempat atau pulau, akan tetapi disalah artikan oleh orang Bugis yang menurut sangkaannya orang Belanda tersebut menanyakan nama senjatanya, lalu dijawabnya sele (keris) bessi (besi). Terlepas atas kebenaran cerita tersebut tetapi kenyataannya pulau Sulawesi sejak dahulu adalah penghasil bessi (besi), sehingga tidaklah mengherankan Ussu dan sekitar danau Matana mengandung besi dan nikkel. Bessi Luwu atau senjata Luwu (keris atau kawali) sangat terkenal akan keampuhannya, bukan saja di Sulawesi tetapi juga diluar Sulawesi, sehingga seorang novelis terkemuka Kho Ping Ho (Asmaraman) menggambarkannya dalam cerita ” Badai di laut Selatan”didalamnya diceritakan kehebatan atau keampuhan Keris Brojol Luwu yang kini telah menjadi pusaka kerajaan Airlangga.

    B. PERIODE PEMERINTAHAN KERAJAAN LUWU
    Kerajaan Luwu yang kita kenal sekarang telah memiliki sejarah yang sangat panjang sehingga dari sudut pandang geo politik, para ahli terkadang dibingungkan oleh kemashuran Luwu sebagai sebuah kerajaan terbesar dan tertua di Sulawesi. Bahkan menampakkan kesejajaran kronologis atau kemitraan horizontal dengan raksasa Majapahit. Dan dari sudut pandang ekonomi ,sulit memahami bagaimana entitas politik ekonomi Luwu dapat memasuki kontak-kontak interregional dan internasional. Sementara dari sudut pandang letak geografisnya boleh dikatakan agak terpencil pada sebuah teluk yang jauh meletak membelah dua semenanjung selatan dan tenggara yang sempit dan runcing. Kedatuan Luwu yang pernah besar pada suatu masa dimata nasional maupun internasional. Kajian tentang Kedatuan Luwu terutama pada wilayah proto sejarahnya yang begitu lambat dan ketinggalan oleh daerah lain diperparah lagi oleh kurangnya dorongan pemerintah setempat dalam mensosialisasikan kebesaran Kedatuan Luwu, padahal dalam kitab yang ditulis oleh sastrawan terkemuka Empu Prapanca dalam bukunya Dasa wardana atau Nagara Kertagama yang ditulis pada tahun 1365 Kedatuan Luwu sudah terjabarkan dengan sangat baik disini. Dalam periode –periode pemerintahan Kedatuan Luwu ,pusat pemerintahan atau ibu kota disebut dengan Ware ( pusat tanah Luwu) yang merupakan wilayah khusus dan istimewa sehingga itulah sebabnya Sawerigading juga bergelar Opunna Ware ( Rajanya Ware). Adapun periode pemerintahan Datu Luwu sebagai berikut;
    Pada periode Pertama pusat Kerajaan Luwu (Ware Pertama) dimulai pada sekitar abad ke X hingga abad ke XIII, ketika itu Ware disekitar Ussu, yakni tempat asal mula turunnya Batara Guru kepermukaan bumi lengkap dengan istananya, kini daerah tersebut menjadi tabu untuk dimasuki oleh sembarang orang. Pada periode Kedua dimulai ketika memasuki awal abad ke XIV pusat kerajaan Luwu (Ware Kedua) dipindahkan oleh Datu Luwu Anakaji, ke Mancapai, dekat Lelewawu, disebelah selatan Danau Towuti yang kini berada di Propinsi Sulawesi Tenggara. Pada priode Ketiga pusat Kerajaan Luwu ( Ware Ketiga) dimulai pada sekitar abad ke XV, dipindahkan oleh Datu Luwu yang bernama Dewaraja ke Kamanre, ditepi sungai Noling, atau sekitar 50 kilometer sebelah selatan kota Palopo. Adapun strategi perpindahan ini dilakukan dengan maksud memperluas kerajaan kesebelah selatan, tetapi sayangnya usaha tersebut terhalang dengan adanya perlawanan yang keras dari kerajaan Bone, yang mengakibatkan Kedatuan Luwu kehilangan wilayah Cenrana, Wage dan Laletonro. Pada periode Ke empat pusat kerajaan Luwu ( Ware Keempat) pada sekitar abad ke XVI Ware dipindahkan ke Pao, di Pattimang Malangke.Dan pada periode ini agama Islam masuk ke Luwu, yang diperkenalkan oleh Dato Pattimang sekitar tahun 1603. Pada saat Ware perpusat di Pao telah terjadi peristiwa perebutan tahta yang menimbulkan pertikaian antara putra mahkota Patiraja dan adiknya yang bernama Patipasaung. Perang saudara tidak dapat terhindarkan, walaupun pada akhirnya dapat dipadamkan oleh Madika Bua, Madika Ponrang dan Makole Baebunta. Madika Bua telah berperan sebagai inisiator sekaligus ketua perdamaian. Perang saudara ini diakhiri dengan penyerahan kekuasaan kepada raja yang sah ,Patipasaung, oleh kakaknya Patiraja. Pada Periode Kelima pusat kerajaan Luwu (Ware Kelima) dipusatkan di Palopo sampai dengan sekarang. Dan atas jasa-jasanya meredam perang saudara di Pao, tiga kerajaan pendukung yaitu Bua ,Ponrang dan Baebunta diangkat statusnya menjadi Anak Tellue atau tiga kerajaan utama di Luwu.

    C. WOTU YANG TERLUPAKAN
    Pada kesempatan ini kami mencoba mengungkap secara sekilas keberadaan Wotu dalam percaturan perpolitikan pemerintahan Kedatuaan Luwu, yang terkadang dilupakan ataukah kemungkinan sengaja untuk dilupakan. Wotu yang kita kenal sekarang ini, merupakan sebuah wilayah pemukiman setingkat Kecamatan dan secara administratif berada dalam Kabupaten Luwu timur ,terletak diujung utara Teluk Bone dan sebelah barat sungai Kalaena.Wotu didiami dua etnik yang besar yaitu Wotu dan bugis.Keunikan Wotu seperti juga didaerah Luwu yang lainnya,misalnya Baebunta yang berlaku dua bahasa pengantar, bahasa Wotu dituturkan pada umumnya orang Wotu ”asli” dan diduga merupakan grup linguistik Muna, Buton dan Kaili, dan bahasa Bugis.
    Wotu yang kita diami sekarang ini adalah Wotu pada periode kedua, yaitu setelah runtuhnya dinasti Kedatuan Luwu pada periode Ware Petama sekitar akhir abad ke XIII.Letak Wotu sebelumnya berada disekitar Ussu dikaki Gunung Lampenai, disekitar tempat ini disebut sebagai lokasi Mulataue atau mulaitoe. Sebagai mana juga dipahami oleh banyak orang Luwu, bahwa Batara Guru mengajarkan bagaimana cara berladang dan bercocok taman yang baik di lokasi Mulaitoe oleh orang Wotu menyebutnya sebagai Bilassa Lamoa atau Kebun Dewata.Disekitar wilayah inilah oleh Ian Caldwell yang merupakan Dosen Sejarah Indonesia di Universitas of Hull yang menulis Land of iron, The historical archaeology of Luwu and the Cenrana valley,menyebutkan bahwa ditempat inilah pusat istana Luwu yang dimiliki oleh Batara Guru yang pertama. Dalam La Galigo, tempat dimana pusat istana tersebut tidak disebutkan secara akurat.
    Sebagaimana diketahui dalam tradisi, Luwu dianggap sebagai daerah tertua untuk pemukiman Bugis dan merupakan kerajaan Bugis tertua dan yang paling bergengsi.Beberapa sejarawan percaya bahwa mahkamah Luwu merupakan asal mula kebudayaan dan tradisi masyarakat elit Bugis (contohnya Prof.Kern 1939;9, Prof. Zainal Abidin.1983;249) Dalam penelitian terakhir olehss proyek The Origins of Complex Society in South Sulawesi (OXIS Proyek) meragukan tradisi ini karena hasil penggalian kramik dari Malangke ( Pusat Istana Luwu sebelum kira-kira tahun 1620) daerah ini menunjukan suatu daerah yang tidak berpenghuni atau ditempati hingga sekitar tahun 1300.Priode kejayaan atau kemakmuran ini adalah abad ke XV dab XVI ( Bulbeck dan Caldwell 2000; 92). Luwu sebagai kerajaan yang tertua terletak pada kenyataan bahwa bagian awal dari LaGaligo terdapat di Luwu. Di Luwulah tempat dimana Batara Guru turun untuk mendirikan kerajaan yang pertama. Disini jugalah pohon raksasa Welenreng di tebang untuk membangun perahu-perahu Sawerigading (Pelras 1996; 59).Padahal, dua tempat di Luwu menyatakan bahwa disitulah bukit dimana Istana Batara Guru pernah berdiri. Menurut Ian Caldwell daerah yang pertama adalah Wotu. Indikasi lainnya dan lebih banyak dikenal adalah bukit Pensimewoni yang terletak ditikungan sungai Cerekang (cerrea). Jika ada anggapan seakan-akan membenarkan adanya pendapat bahwa letak Istana Batara Guru yang pertama berada di Cerekang menurut Ian Caldwell adalah hanyalah merupakan sebuah mitos atau tidak benar, karena pemukiman Bugis di Cerekang baru dimulai pada sekitar tahun 1450,berhubungan dengan naiknya peleburan besi dan produksi alat-alat senjata di Matano.Hal ini merupakan suatu godaan untuk beranggapan bahwa masyarakat Bugis di Cerekang telah secara nyata mengadopsi mitos istana Batara Guru dari tetangganya, Wotu yang lebih tua. Pendapat ini diperkuat dari hasil penelitian OXIS yang menyebutkan ” Tidak ada bukti apapun yang menunjukan penduduk masyarakat Bugis di Cerekang maupun Ussu sebelum pertengahan abad ke XV.Hal ini berarti bahwa identifikasi atas lokal atas Cerekang sebagai tempat istana Batara Guru lebih tepat berlaku dari abad ke XVI ke atas.Lokasi dari pusat istana Luwu disini dalam tradisi lisan secara nyata adalah penempatan kejadian pada waktu yang salah (anakronisme).
    Ekspansi orang Bugis ke Ussu dan Cerekang berlangsung pada fase belakangan sejarah Luwu pra Islam, jika tidak setelah masuknya Islam ke Luwu. Tampinna, Cerekang dan Malili, pada mulanya didiami oleh penduduk non Bugis yaitu Wotu, Pamona, Topadoe dan Tolaki.Berdirinya Istana Batara Guru pertama di Wotu lama atau disekitar Bilassa Lamoa terpat permadian yang utama para bangsawan pada saat itu yaitu di Ussu atau orang Wotu menyebutnya tempat Minussu atau menyelam. Pelabuhan utamanya terletak di Pentomua serta tempat pemujaan yang paling utama berada disebelah selatan Wotu lama yaitu Serebessue ( Tempat para bissu menari). Berdasarkan penelitian dari OXIS pengaruh Hindu hanya ada dua tempat di Luwu, yaitu Wotu dan Baebunta dengan ditemukannya kremasi mayat di tempat ini. Ketika runtuhnya Ware pada priode pertama Wotu lama pindah ke bagian barat yaitu Wotu yang ada sekarang, sebahagian yang lainnya pindah ke bagian utara yaitu Cerrea ( hijrah atau pindah tempat) akan tetapi sangat disayangkan setelah datangnya orang Bugis di Cerea sekitar tahun 1450 nama Cerrea berobah menjadi Cerekeng. Akan tetapi walaupun demikian orang-orang yang ingin mengaburkan sejarah dan jejak Wotu di Cerrea mengalami kesulitan untuk mengganti nama pimpinan masyarakat adatnya yang tetap disebut sebagai Pua (nenek) Cerrea, mereka mengalami kesulitan mengganti dengan nama nene Cerekeng. Air bertuah yang di kramatkan sebagai air suci bagi orang Wotu yaitu Uwe Mami (air kami) sulit diterjemahkan dan diganti jadi nama Waeta. Sebenarnya jejak keberadaan Wotu pada sejarah Luwu purba sulit terbantahkan antara lain. Nama Gunung Lampenai adalah terjemahan dari kata Parangpanjang atau tempat pandebesi membuat senjata. Tampinna atau tempat membuat sarung senjata tau parang. Pentomua atau pelabuhan tempat dimana pertemuan antara dua komunitas, Serrebessue dan sebagainya.
    Sebagaimana diketahui bahasa Wotu juga merupakan identitas orang Wotu,keunikan Wotu seperti yang dicatat oleh Bulbeck dan Prasetyo (1999) yaitu iklimnya yang memusim dari pada daerah Luwu lainnya. Perbedaan geografi budaya ini telah menarik perhatian beberapa sarjana. Kembali ke bahasa Wotu sebagai identitas orang Wotu ini, telah membentuk mata rantai pola segi tiga hubungan dengan kedua ujung semenanjung selatan dan tenggara Sulawesi yang memungkinkannya masuk dalam jaringan niaga teluk Bone. Dengan demikian , isolasi bahasa seperti pandangan sekarang justru bisa berarti sebaliknya, ini menunjukan bahwa Wotu telah menjadi akses kuna bagi para pedagang lintas semenanjung selatan,tenggara dan tengah. Kepopuleran bahasa Wotu memberi kita sebuah horizon yang agak jelas tentang tentang Wotu ddaan bukti-bukti arkeologis dan legenda Wotu yang tua, sehingga Bulbeck n Prasetyo menduga bahwa mungkin sejak tahun 1200-an orang Wotu telah aktif berniaga memperdangangkan produk-produk dari kedalaman jauh di Sulawesi Tengah dan lembah-lembah Danau Poso.Jejak tersebut bahkan terekam dalam teks I La Galigo, bahwa orang Wotu di sungai Pewusoi sekitar Gunung Lampenai, membuat kapal-kapal Kedatuan Luwu.
    Konsep-konsep kepemimpinan di Luwu cukup mendapat perhatian bila di hubungkan dengan konsep kepemimpinan tradisional, Pua (Cerrea), Makole (Baebunta) dan Macoa (Wotu). Dari tradisi lisan Wotu, kita mendapat informasi bahwa Macoa Bawalipu dalam mewnjalankan pemerintahannya membawahi tiga macoa yang lain, yaitu Macoa Bentua yang menangani urusan dalam negeri, Macoa Mincara Oge yang mengurusi masalah ekonomi. Macoa Palemba Oge yang bertugas dalam hubungan dengan Macoa Bawalipu dan Datu Luwu di Palopo. Di bawah Macoa tersebut terdapat sejumlah jabatan yang menangani bidang tertentu. Ada tiga orang bergelar Oragi, yaitu Oragi Bawa Lipu, Oragi Datu, dan Oragi Ala. Dibawahnya terdapat enam orang bergelar Anre Guru antara lain antara lain Anre Guru Oli Tau, Anre Guru Tomengkeni,Anre Guru Pawawa, Anre Guru Lara, dan Anre Guru Ranra. Selanjutnya ada jabatan Angkuru atau sanro sebagai penasihat, dan ada dua lagi bergelar paramata, yaitu Paramata Tarompo (Rompo) dan Pramata Lewonu( lihat Mas’ud Rahman et.al 1999).Selanjutnya dalam silsilah orang Wotu diceritakan bahwa Macoa Bawa Lipu yang pertama di Wotu bernama Bau Jala, Bau Jala mempunyai tiga orang saudara kandung yaitu Bau Cina di Palopo, Bau Leko di Palu dan Bau Kuna di Buton. (lihat Salombe dkk 1987, sande dkk.1991).

    D. PENUTUP
    Kepercayaan terhadap Sawerigading yang selalu berpusat di Ware telah dipercayai diseluruh wilayah Kedatuan Luwu, juga sebagaimana halnya juga dipercayai oleh orang Wotu sebagai salah satu komunitas yang sangat besar pengaruhnnya, tidak hanya di Luwu tetapi sampai di Sulawesi Tengah. Dari perspektif sejarah dan antropologi, menarik untuk diperhatikan bahwa Wotu, dari segi geografi budaya berbeda dengan domain Luwu lainnya. Legenda Wotu tidak terlepas dari epik I La Galigo yang selalu diacu oleh hampir setiap pusat-pusat pemukiman kuno, yang mungkin sekali menjadi populer berkat transfer kultural elit kerajaan dan pedagang bugis selama gelombang migrasi Bugis keseluruh pesisir Teluk Bone, namun harus di garis bawahi bahwa orang Wotu mempunyai latar sejarah yang jelas terlepas dari dinasti Luwu. Pendekatan sosio-linguistik jelas memberi petunjuk bahwa orang Wotu mungkin berasal dari pusat-pusat niaga di bagian lain pesisir teluk Bone, telah mengokupasi sungai Kalaena dan Wotu sebelum terbentuknya Dinasti Luwu.

    Wotu, 1 Mei 2008.

    Nawawi. Sang Kilat.
    nskilat@yahoo.com

  38. 38 sadat laope

    artikel tentang bahasa wotu anda cukup menarik, mungkin terlalu gegabah “Orang-orang memperkirakan bahwa Bahasa Wotu merupakan cikal bakal dari bahasa-bahasa yang ada di Nusantara ini, seperti bahasa bugis dan bahasa-bahasa lainnya yang berada di daerah sekitar Asia Tenggara “.
    Ada hasrat mengklaim,,
    semua orang bisa mengklaim..kalo hanya menggunakan ” orang -orang”
    “orang – orang ” itu siapa ?
    apakah anda termasuk dalam kategori “orang – orang’??

    ada tambahan :
    dalam pengucapan misalnya “ngana-ngana” menjadi “ngagana”
    Beras = Bae
    panggilan untuk balita laki – laki = antu
    panggilan untuk balita perempuan = inda
    sayur paku = buaju pau
    babi = bauw
    kelamin perempuan = puwi
    kelamin laki – laki = lasu
    gigi = bagga
    bersetubuh = sikejju
    cempedak = nanna
    rambutan = bulatto
    pinang = alosi
    telur = burau
    pembatas tanah\lahan = matakali
    gempa bumi : rowa
    lebaran = bukka
    kesejahteraan\kebahagiaan = lape
    jarum = posu ? ( berhubungan dengan menjahit)
    Bunuh diri\menusuk diri = Mentujo
    ungkapan keheranan = maga tako da..dalam percakapan sehari-hari menjadi “maatakoda”
    hilang = padda
    sakit = mongngo~ dicubit, dipukul , dll
    = maraa~demam,flu,kanker dll
    bacok = timbe
    = sitimbe ~saling bacok
    = itimbe ~ dibacok
    takut = eka
    dengar = rango
    hamil = tinnai
    hingusan = borro
    bisul = amba
    kerbau=bouw
    irit = ingki ?
    betul = tongnga…(saya belum menemukan lawan kata dari “tongnga”…)
    bernyanyi = moello
    Pamali = ambarrowa
    Diriku = Arouw
    Bukan = Balia
    kata – kata di atas hanya berdasarkan ingatan, ..
    selamat bekerja

    -sadat laope-
    sadataco@yahoo.com

  39. 39 alif qadri

    yau to wotu dua.
    uwaku pua macoa bawalipu
    yau sumbura ri desa bawalipu rio wotu suranga anriu fadil
    hidup wotu
    kembalikan wotuku padaku

  40. Waduh aku gak ngerti. wis pokoke nimbrung lah… 😀

  41. 41 idop

    syukur bgt ada kamus bhs Wotu, gw kan jd bisa belajar

    thanks om……

  42. 42 Harapan

    Saya penasaran. seandainya benar Batara Guru turun dari ‘suatu tempat’ ke Wotu pada abad X Masehi, apakah dia tahu bahwa d Timur Tengah -pada saat yang sama sedang terjadi Perang Salib?

    Apakah dia paham bahwa Muhammad telah wafat sktr 300 tahun yang lalu?

    Yang paling debatable, apakah dia memang ada? atau hanya merupakan karya sastra mengagumkan dari penduduk lokal?

  43. 43 kasimbandia

    Ada yang punya cerita lengkap mengenai wotu?…. bagi donk….Eh, jadi ingat masa kecil? sebelum tidur bapak selalu mendongeng… termasuk “Sumur Tua” di Wotu yang dengan siraman airnya mampu menjadikan Pelapa sagu jadi keris…

    Kasimbandia
    Bandar Lampung

  44. keren weeeeeeeeeeyyyyyyyyyy

    tambah kamus dikit

    boong = kararawo

  45. 45 nelly

    salut tuk om…..
    mau ikut pertahankan budaya wotu…!! saya malu mengaku orang wotu karna hanya sedikit bahasa wotu yang saya tau … semoga dengan adanya postingan om ini,,akan menambah pengetahuan saya tentang bahasa wotu dan eksistensinya.

  46. 46 geng

    kira2nya ini bahasa melayu kuno yah?

  47. 47 VAn WIw WOt

    sy pribadi bangga jadi orang Wotu… Wotu mempunyai ciri khas tersendiri.. I love Wotu.. ya massa nna rangau billi ta polinga Wotu..

  48. Saya menyimpan Ribuan Teks Kosa Kata Bahasa Wotu,mulai A-Z yang dikaji,diteliti dan dibuat oleh Amma Saya….M.Arsyad Duri….saya smntara menulis dan akan menerbitkan dalam sebuah Kamus…!!!

  49. Dalam bahasa wotu tidak ada “Alosi” tapi PANgana

  50. 50 ikho

    terima kasih dah memposting tentang bahasa wotu….saya orang palopo tapi tinggal di Kendari, sy juga mahasiwa S2 UGM jur.linguistik mendapat tugas untuk mendeskripsikan bahasa daerah saya,ketika mendapat buku struktur bahasa wotu di kepustakaan UGM sys tertatrik untuk menulis sistem fonologisnya….so thanks alot y

  51. smoga Wotu tetap eksisss

  52. betapa indahnya bangsa kita kita yang berbasis atas sabang sampaui meroke.yang begitu banyak dengan keragaman-keragaman budaya yang merampah.

    thanks atas info blognya.

  53. 53 mansyur abdi manaf

    saya ingin ralat cia = tidak mau seharusnya edo namelo,cia itu bahasa bugis.

  54. keren … bapak ku asli lampenai dekat bawalipu ( sekarang sma 1 wotu) bapak selalu mengembara sehingga aku kesulitan mencari sejati diriku dulu aku bingung apakah itu wotu sekarang aku bangga ….

    • adakah komunitas wotu di fb atau di jkt thanks (men
      yusuri diri kembali ke asal)

  55. 56 jafar sessu

    matabba salah conto bahasa wotumu,matabba sicampuru bhasa ugiii
    tabeleeeee…..

  56. Wah, mantep!!! Kebetulan sebentar kkn Unhas gel 85 bakalan bertandang ke WOTU untuk 1 bulan 1minggu. Infonya beneran mantab! (y)

  57. 58 mansyur abdy manaf

    saya ralat lagi,marah = maaditti

  58. 59 Syarif kaniyu

    Lantu makokoni iyau edo melo isanga ito palopo jia kampona itoe,,yauu ito wotu anaopuna kaniy,,

  59. 60 akkas

    sema ni ee, me rani wanuamu

  60. 61 pantoga

    saya orang WOLIO (Buton)bahasa wotu sangat mirip dengan bahasa wolio dan bahkan sama persis

    • 62 bagus

      betul yg dikatakan pantoga
      sy juga orang wolio (buton)


  1. 1 Kembalikan Wotu Padaku « Insan Perubahan
  2. 2 Bahasa Wotu dan Eksistensinya « Wotu
  3. 3 Kenapa Harus Malu Menggunakan Bahasa Daerah? « Wijasalawa's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: