Apakah kita memang sudah lupa budaya?

04Jul07

Rul, bahasa makassarnya panggilan buat orang apa,kalo orang malukunya bilang “nyong” apa?

Sesaat ku baca smsnya, “whaTz… … apa yah? koq lupa” keluhku dalam hati, dengan perasaan memang lagi setengah sadar karena terima smsnya dalam setengah perjalanan tidurku. Akhirnya ku tidur kembali tanpa memikirkan sms yang masuk itu. Padahal sms-sms sebelumnya saya paksakan untuk saya balas walau dalam keadaan tertidur pulas.

Bangun ku tanya Dayat, anak Makassar juga yang satu kost denganku, wah dia juga agak bingung, tapi akhirnya keluar kata “Ces, kayaknya” jawabnya. Yah memang kayaknya pantas untuk “ces” untuk menandakan kita lagi memanggil orang dengan akrab bagi bahasa Makassar.

Akhirnya smsnya saya balas juga setelah sms hampir 3 jam ku biarkan sms itu tidak ku balas.

Maaf mbak, baru balas hpku ketinggalan. Waduh lupa tuh, kayaknya “ces” deh. Maaf ya.

Apakah memang kita sudah mulai melupakan budaya? dengan hanya ditanyakan sebuah ungkapan yang sering kita ucapkan malah kita tidak tau secara langsung arti kata yang kita inginkan.

Sebuah paradigma sosial di masyarakat yang terjadi di saya dan masyarakat juga pada umumnya, budaya-budaya yang dulu ada sekarang akan terkikis oleh budaya baru yang semakin mendarah daging di dalam tubuh kita. Yang akan melupakan sejarah dan kebiasaan-kebiasaan lazim kita. Dan tergantikan oleh budaya-budaya yang menghinggapi kita.

Budaya yang saya maksudkan di sini selain bahasa, adat istiadat, kebiasaan, tingkah laku, dan atau idiologis juga bisa termasuk budaya dalam artian luas dari budaya.

Memang budaya baru yang kita terima tidak patut dipersalahkan telah menggantikan budaya lama kita. Dan memang kita tidak patut menjudge bahwa budaya baru itu adalah tidak benar dan tidak sesuai, karena budaya baru itu barang kali akan memperbaiki budaya lama kita yang tidak sesuai dengan norma ataupun aturan yang ada. Pun demikian budaya yang lama kita tidak mesti untuk ditinggalkan.

Budaya yang baru kita terima itu harusnya kita filter mana yang sesuai dengan jati diri kita mana yang harus kita buang tentunya, yang tidak sesuai dengan karakter kita, dan malah akan menghancurkan diri kita.

Dan tidak serta merta menggeser kebudayaan yang kita miliki saat ini. Setidaknya ada sinkronisasi budaya yang kita terapkan dalam berkehidupan. Kenapa akhirnya orang Makassar dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari, kenapa orang batak terlihat ciri khasnya, kenapa orang aceh, dengan logatnya masih terlihat. Itulah mereka mampu meninggikan kharisma budaya mereka di antara orang-orang yang tidak mengenal budaya mereka. Dan pada akhirnya orang disekitarnya mengetahui bahwa itulah orang Makassar, itulah orang Batak, itulah orang Aceh.

Tapi bukan stigma negatif tentang ciri khas kesukuan yang kita harus pertahankan. seperti yang diceritakan di beberapa blog juga.

Sebuah langkah taktis untuk tetap menjaga budaya kita agar tidak punah setidaknya buat diri kita antara lain :

  1. Sering-seringnya budaya kita dipakai, baik itu dengan teman yang satu budaya ataukah dengan yang berbeda budaya.

  2. Sering-sering pula kita mengajarkan budaya kita kepada orang lain, karena mau tidak mau kita akan membawa kebanggaan diri kita, bahwa budaya kita diketahui orang.

  3. Selalu membandingkan budaya, bukan berarti menbandingkan dalam artian negatif, tapi dengan membandingkan bahwa ada kelemahan dan kelebihan di masing-masing budaya. Nah yang lebihnya itu yang harus kita ambil dan kurangnya kita buang.
  4. Belajar menghargai budaya orang lain karena budaya kita belum tentu paling mulia.

Dan pada akhirnya kita harus menyadari bahwa kita tidak boleh melupakan budaya dari bahasa ibu kita, dari nenek moyang kita.

cerita penulis yang merasa semakin melupakan arti budaya sendiri

Iklan


4 Responses to “Apakah kita memang sudah lupa budaya?”

  1. 1 btyop

    betul2, karena keragaman budaya juga merupakan kekayaan negeri ini bukan? ^_^

  2. Mungkin mksdnya NYONG dlm basa Maluku d atas itu, sapaan akrab y?.. klo d mks kan ada CESS, CIKA..hemm..apalagi di’?..kykny msh byk deh.. 🙂

  3. hehehehe…tadi jg pas baca isi smsnya sy bingung apa yah???tapi pas baca ‘ces’…oooo baru nyadar oh iy yah itu…menurut sy emang kadang sulit mendeskripsikan yg mana bwt panggilan, jd wajar aja kl bingung jwbnya..bahkan ada bahasa pergaulan dlm suatu budaya palagi makassar yg sy sendiri gk tau artinya tapi tetap dipake…hufff emang bahasa itu complicated…plg kl udah ngmg ttg budaya

  4. :: btyop ::
    iya… perbedaan itu indah dan ketika banyak dan heterogen itu juga merupakan heritage bangsa ini.

    :: deen ::
    iya…. baru sadar……CIKA juga termasuk, ba cika….. banyak… dan kebetulan saya bukan ahli sastra jadi ndak bisa mengartikan… sperti kata fitrasani

    :: fitrasani ::
    iya complicated sama aja ketika kita mau mempelajari bhs inggris atau bhs arab yg complicated….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: