Mencari Kader yang Terbaik untuk Negeriku

13Jun07

Asruldin Azis*)

Pertumbuhan bangsa Indonesia jikalau berada dalam titik yang tertinggi saat ini dapat diketahui dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia bahwa jumlah penduduk Indonesia 205,1 juta penduduk pada tahun 2000 menjadi 273,2 juta penduduk pada tahun 2025. Perkembangan ini tentunya harus disertai dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang baik pula. Konsekuensi yang harus diemban bangsa ini sejalan dengan perkembangan global yang sungguh sangat cepat.

Dinamika dunia yang membawa bangsa ini sampai pada kondisi terbawa pengaruh dunia, yang disertai berbagai polemik kebangsaan dan kehidupan dalam negeri sendiri mempengaruhi tatanan kehidupan bangsa. Kita akan semakin hari semakin didoktrinasi oleh kepentingan global yang senantiasa mementingkan segolongan orang.

Kondisi faktual inilah yang harus kita sadari bersama sehingga kita harus bergerak dari titik sebagai bangsa yang hanya penurut ke posisi negara strategis yang siap menjadi ujung tombak negara-negara berkembang saat ini.

Kita pernah memiliki Soekarno yang senantiasa menguncang dunia dengan retorika nasionalismenya mengapa sekarang kita seakan-akan kehilangan figuritas beliau? Tantangan ini yang harus dipersiapkan oleh generasi-generasi baru bangsa ini.

Generasi-generasi mudalah yang patut kita asah menjadi kader-kader yang siap bertempur di medan global bangsa ini. Jiwa-jiwa yang tidak akan pernah lelah dalam berjuang dan mendukung kebenaran karena memiliki semangat dan idealisme yang kuat dalam dirinya.

Peran generasi muda biasanya dimulai dari bangku pendidikan tinggi, yang senantiasa ditempa dengan ilmu-ilmu kemasyarakatan. Kita sebagai generasi muda adalah kader-kader yang sudah harus siap menghadapi perkembangan bangsa ini. Mulai saat inilah, saat kita harus menetapkan jati diri, menggugah perasaan sebagai moral force, agent of change, social control, dan iron stock, sangat dibutuhkan partisipasi dalam melanjutkan cita-cita luhur bangsa ini.

Persoalan-persoalan kebangsaan akan senantiasa muncul dalam paradigma jiwa muda yang terlemahkan oleh semangat-semangat yang sudah menurun. Yang biasanya generasi muda dengan heroiknya memberikan tuntutan ke pemerintah dan lembaga lainnya untuk melakukan perbaikan kinerja dan menuntut kebenaran untuk ditegakkan, berkebalikan dengan situasi sekarang yang jiwa-jiwa itu tertimbun dalam hati mereka saja untuk bergerak dan menuntut serta pada akhirnya memberikan solusi konkrit terhadap permasalahan bangsa.

Kondisi pembelajaran dalam lembaga formal yang seperti kuliah dan sekolah lebih banyak menuntut peran sebagai komunitas terpelajar tetapi belum disertai dengan intelektualitas yang tinggi untuk peka dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. Jikalau kita menilik generasi muda di perguruan tinggi, perkuliahan yang semakin dinamis dan membutuhkan waktu ektra untuk lebih mendalam ilmu pengetahuan yang digelutinya. Serta kondisi terkini mahasiswa dituntut untuk segera lulus dan menyelesaikan studinya sehingga ilmu yang didapat belum bisa maksimal. Memang benar untuk lebih mendapatkan ilmu sesungguhnya dengan segera lulus dan merasakan sendiri dunia luar akademik sehingga semakin banyak tempaan ilmu dan diri dalam menghadapi dunia kerja maupun kehidupan nyata bangsa ini.

Namun hal yang diingat bahwa perlu persiapan yang matang untuk menantang hidup. Perlunya nilai-nilai softskill yang matang juga, yang tidak hanya melalui pelatihan dan seminar tetapi juga sebenarnya dapat disinergikan dengan perkuliahan.

Sekarang bagaimana kita bisa menghadapi perkembangan zaman yang senantiasa berubah setiap saat dengan generasi muda berada di garda terdepan bangsa ini,bukan selalu menyalahkan sistem yang ada. Sinergisitas kehidupan antara kompetensi akademik dan kemampuan manajerial dan kepemimpinan menjadi titik tolak kita untuk mempersiapkan kader bangsa yang dapat berdaya saing global.

Mata rantai keberhasilan bangsa ada di tangan generasi muda, jadi untuk memakmurkan bangsa harus senantiasa meningkatkan kemampuan generasi mudanya.

Asruldin Azis akrab dipanggil Arul
Mahasiswa Teknik Elektro FTI – ITS

Ini merupakan tulisan saya di salah satu majalah kampus -Canvas-punya BEM FTI, namun tulisan yg saya sajikan ini blum diedit oleh editor. Sebenarnya tulisaku ini sudah lama cuman baru saya posting.

Iklan


11 Responses to “Mencari Kader yang Terbaik untuk Negeriku”

  1. Masalahnya justru sebenarnya setelah lulus itu rul. Sering idealisme membangun bangsa itu luntur tatkala disekitar kita telah bergelimang harta. Jika sudah demikian jiwa idealis bisa menjadi kapitalis.

  2. makanya perlu penjagaan idealisme itu,
    idealisme itu kayak semangat, kadang naik, kadang turun.
    nah yang sekarang kita lakukan adalah menjauhi segala sesuatu yg membuat idealisme itu luntur, tetap berada di jalan benar sehingga idealisme itu tidak bisa tergantikan dengan apapun.

  3. hhhhmmm…. seandai-nya saja ada banyak orang seprti mas asrul 🙂

  4. Idealisme yg baik itu spt apa sih? Ideal untuk siapa? Untuk diri sendiri? utk kekasih? utk keluarga? utk bangsa dan negara? Menurut saya standard ideal bagi setiap individu itu sangat relatif. Memang ideal yg terbaik itu adalah ideal yg baik utk diri sendiri dan juga utk masyarakat. Tapi seperti halnya teori2 yg lain, pada prakteknya terkadang kita sendiri susah menentukan mana idealisme yg baik utk kita, apalagi utk masyarakat dan negara! Menurut saya, cara yg paling aman (meskipun belum tentu 100% aman) adalah kita mencari apa yg ideal utk diri kita sendiri, setelah kita mendapatkannya baru insha Allah kita bisa memikirkan apa yg ideal utk masyarakat dan negara. Lha, bagaimana kita memikirkan sesuatu yg ideal buat masyarakat dan negara kalau kita sendiri gagal menemukan apa yg ideal buat diri kita! Ya nggak?

  5. Alex Budiyanto :: Terima kasih mas Alex, senang berkenalan dengan anda 🙂
    Yani YK :: dari pengertian saya, idealisme adalah mempertahankan kebenaran yang ada…. kalo ideal berdasarkan individu itu namanya egois….
    Nah yang ideal itu adalah sekali lagi yang benar menurut agama ataupun aturan.
    Coba aja jika melanggar aturan itu sudah melanggar idealismenya..

    nah untuk prakteknya memang kembali ke orangnya sih…. 🙂

  6. hehehehe…. wah kalo benar menurut agama dan peraturan itu namanya bukan idealisme lagi… tapi itu namanya hukum dan norma :). Kalau kata idealisme itu sendiri menurut definisi memang sesuatu yg dipandang benar menurut seorang individu atau kelompok atau dengan kata lain adalah sesuatu yang ideal menurut pembentukan fikiran kita. Nah untuk mengetahui lebih lanjut tentang idealisme ini silahkan cari di Wikipedia dengan topik: Idealism (tentunya yg ada dlm bahasa Inggris). Nah, memang dalam sehari-hari kita gampang mengucapkan suatu kata, tapi kita kurang mengetahui makna kata itu lebih dalam lagi. Sayapun juga sering begitu :).

  7. Sebelumnya selamat sudah menjadi komentator yang ke-1000 di blog ini…
    kalo idealisme berlandaskan hukum dan agama kan gak masalah..
    itu juga idealisme, karena kebenaran biasanya ditentukan lewat hukum atau norma…
    Idealisme berpihak pada kebenaran…
    bukan untuk dibenar-benarkan
    atau disalah-salahkan

  8. Wah, asik juga udah merayakan komentar ke-1000. Sementara anda sudah merayakan komentar ke-1000, saya baru saja merayakan komentar di blog saya yg pertama, yaitu dari anda! Hahahaha…. Sepertinya blog saya harus dipromosikan lewat search engine nih… tapi nanti saja kalau udah banyak biar agak percaya diri gitu! Anyway…. terima kasih untuk komentarnya…. komentar anda yg terakhir di blog ini juga anda tulis di blog saya…. dan juga udah saya jawab di blog saya. O iya, omong2 komentator ke-1000 dapet souvenir apa nih? LOL.

  9. kalo souvenir sih gak ada…. cuman saya pasang blog anda di pengumuman… jadi orang bisa melihat dan blog anda tentunya bisa terkenal, okeh…
    Wah selamt buat diriku deh.. menjadi komentator pertama di blog anda…. 🙂

  10. 10 blo'on

    yah, idealisme hari gini paling bisa dibeli dengan beberapa lembar uang bergambar soekarno-malahan parahnya uang receh juga bisa tuh beli yang namanya idealisme. hampir semua organisasi pergerakan kebih banyak ber’onani ketimbang melepas sifat elitis, pragmatis’nya buat bicara banyak tentang nasib petani, buruh, dan kaum miskin kota. hari ini mereka nggak punya kawan, pak! nggak tahu mesti bagaimana melihat semua harga2 bahan pokok menjadi mahal, sementara yang menyebut dirinya idealis malah sibuk bikin proposal dan nunggu pencairan dana.

  11. :: blo’on ::
    yah memang pandanga sebagian orang seperti itu.. coba blo’on masuk ke dalam sistemnya terus rubah itu kalo memang tidak memiliki idealisme.
    ayo rubah paradigma itu menjadi sikap idealisme yang kokoh… 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: