Strategi elit politik menuju PilPres RI 2009

26Mei07

Terkait tulisanku sebelumnya Maling teriak maling (konflik SBY vs Amien Rais) analisis beberapa tokoh termasuk saya (wkwkwkwk …. sok jadi tokoh…) isu-isu dana nonbudjeter DKP ini menjadi bahan konsumsi kampanye-kampanye terselubung calon-calon presiden RI (pengennya ikut juga … tapi masih 23 tahun bo…. umurku), apakah itu black campaign atau kampanye diri sendiri.

beberapa analisis saya terkait konflik ini :

1. Isu ini dikeluarkan untuk menandingi isu tentang penandatanganan kesepakatan dengan Singapura terkait perjanjian ekstadisi dan latihan militer, yang umum mengetahui kalo Singapura adalah anak dari Amerika Serikat dan Israel. Maybe bukan hanya isu Singapura aja menjadi tertutupi, namun isu-isu lain seperti IPDN, kritik terkait resuffle kabinet, dan masalah-masalah nasional lainnya malah tidak terurus.

2. Isu ini untuk menjegal beberapa calon-calon yang terutama menerima Dana Nonbudjeter Bulog untuk tidak diterima masyarakat lagi untuk menjadi pemimpin kami. Lah wong benar-benar memanfaatkan duit negara untuk kepentingan pribadi dan golongan (tidak sesuai Pancasila red), mungkin saja itu SBY-JK, Amien Rais, Mega-Hasyim,Wiranto-Gus Sholah,Hamzah Haz-Agum Gumelar.
3.  Isu ini juga malah menguntungkan buat Amien Rais sebagai tokoh yang lebih dulu mengakui menerima Dana Nonbudjeter DKP ini, sehingga orang-orang menjadi simpati dan mendukung langkah dari Amien Rais ini. Namun saya menganggap hal itu adalah Pahlawan Kesiangan (memakai istilah Pak Amien Rais sendiri ketika masa reformasi dulu, kalo gak salah loh…) koq nyadarnya sekarang Pak!!!

4. Isu ini juga berdampak positif bagi SBY. Mengapa? karena dengan adanya isu ini SBy dalam keadaan tertekan seperti kejadian waktu masih menjabat Menkopolkam seakan-akan SBY berada dalam kondisi teraniaya oleh Mega waktu itu sehingga akhirnya banyak simpati dan memberikan dukungan kepada SBY  untuk dipilih menjadi Presiden RI. Apalagi dengan wajah SBY (kata ibu2 sih tampan) yang memberikan pembelaan dalam pidatonya itu seperti tertindas oleh isu Dana Kampanye itu.

5. isu ini menggoyangkan jalannya Pemerintahan RI sekarang, buktinya SBY aja sampai kalut dan akhirnya “curhat” kepada rakyat Indonesia tentang kisahnya ini.

6.  Isu ini akan melanggengkan JK, kalau memang SBY nanti bermasalah dengan Dana Nonbudjeter DKP, minimal JK sedikit agak tidak bermasalah karena SBYkan Presidennya

7. Isu ini akan menjadikan SBY jatuh pamor oleh masyarakat gara-gara tidak tahan menahan emosinya melihat ungkapan dari Amien Rais. dan saat ini para politisi lagi mengkritik habis-habisan SBY gara-gara hal tersebut. Yah bagian dari rencana Pemilu Presiden RI 2009, untuk melanggengkan calon mereka.

(analisisnya sampe di situ aja dulu, maaf gak dalam karena saya bukan mahasiswa ilmu politik)

Iklan


22 Responses to “Strategi elit politik menuju PilPres RI 2009”

  1. PERTAMAX!
    lasswell said “politics is who gets what, when and how,”
    sampe ada yg rela di bilang “pahlawan kesiangan”, mencari2 emosi ibu2 lewat wajah tampan dan cerita memelasnya,, ato yg sedikit radikal “minta tolong” para bawahan spy trs vote buat dy (soeharto,red)..

    “(analisisnya sampe di situ aja dulu, maaf gak dalam karena saya bukan mahasiswa ilmu politik)”

    duh! jd ngrasa nih,,, saya kayanya blom bgitu peka soal politik negara,,
    masih harus banyak belajar nih nampaknya!

  2. politik they dont care people, they only care them self… tidak ada lawan tidak ada kawan yg ada kepentingan… bs***t lah… siapapun presidennya gua ga perduli sama aja kok siapa sih yg bener2 perduli sama rakyatnya…

  3. 3 anung

    berattttt deh mbahas politik 😀

  4. 9ragehime :: sama belajar memahami arti politik….

    Evy :: nah itu pemimpin yang benar-benar mampu memberikan kontribusi nyatanya yang dibutuhkan skrg ini.. saya belum melihat ada pemimpin bangsa yang bisa memberikan itu….

    anung :: mang berat… tapi harus kita pahami juga kalo ndak kita ntar malah terjerumus….

  5. 5 klikharry

    KEEMPAX
    Aneh nih sama yang namanya amien,…. kok ndak dari dulu dikasi taunya
    mungkin kemaren lupa ngasi tau soalnya uangnya msih banyak ya?
    berhubung uang di pak amien udah abis baru berani ngomong ya?

  6. Mas, ada bocoran dana non-bujeter dari departemen lain gak ?
    Jangan-jangan masih ada yang belum diekspos. Kalo ada makin seru aja pergulatan menuju Pilpres 2009. Lanjuts analisisnya, sip 🙂

  7. klikharry :: hehehe benar banget harry….

    cakmoki :: kayaknya sih masih ada … dan kayaknya pahlawan-pahlawan kesiangan akan banyak muncul lagi…..

  8. Ayo Rul!!
    Anda harus menyalonkan jadi presiden. Aku siap jadi menterimu hahahaha

  9. Ok… kita rancang sekarang aja….. kita bersiap jadi Pemimpin negara ini…
    siapa lagi nih mendaftar menjadi calon menteriku…. hehehhee :p

  10. 10 Ocha

    yup….. tuch para tokoh politik selalu bikin para rakyat pada bingung,,,,,
    gmn yach?! rakyatnya disuruh damai,,,,, tapi beliau2 yang ada diatas malah berselisih terang2an…..?!
    gmn nech rul?!

  11. yach saya setuju rul. Kalau hanya ngomng ngalor ngidul buat desas-desus itu gak gentlemen, cuman meresahkan rakyat.

    Kalau punya bukti ya bawa saja ke pengadilan, biar kita bisa lihat secara fair

  12. Ocha :: iya… gak tau diri tuh pemimpin kita….. tapi maybe mereka lagi berpolitik dan memainkan manjemen konflik mereka persiapan buat PEMILU 2009… kali…. yah ada 2 saja cara mereka untuk memenangkan PEMILU tersebut…. hehehehe 🙂

    achedy :: iya…. pemimpin tuh sering bilang …”ada bukti” bukti apa? bukti kalo omongannya tok yg banyak .. heeheheh 🙂

  13. apapun itu tapi dua jempol buat amien rais ma PAN , bukan karena keberaniannya mengakui tapi Psy War yang mereka luncurkan sangat efektif , baru aja ngliat berita td pagi kalo PAN ( soetrisno bachir ) mempersilahkan presiden untuk mengganti kadernya di kabinet ( ada 2 ) jika dianggap bersebrangan dengan pemerintah . nah lum slese Psy War dari amien rais , soetriso bachir datang . keren !

  14. ini bukan main keren2an…. tapi siapa sih yang punya idealisme? saya rasa amien rais suah jauh dari idealismenya dulu…. sebagai kaum reformis…
    seandainya dia masih punya idealisme dia bisa gunakan ketika menjadi ketua MPR… trus koq sekarang baru muncul suaranya? apa karena persiapan untuk mencalonkan diri menjadi capres lagi???

    halah… politik2 namanya juga politik…. semuanya hanya karena alasan politik….

    pizz 🙂

  15. 15 SAPTO RAHARJANTO

    Seribu pahlawan bisa lahir dan mati dalam satu hari di negeri ini. Tetapi tak seorang pun ada yang peduli di tanah air kita ini….Dulu dalam kegelapan, seekor kunang-kunang pun bisa menjadi bintang. Sekarang bintang-bintang yang lahir malah dipadamkan.
    (Pramoedya Ananta Toer)

    DAN,… INILAH KEWAJIBAN KAUM INTELEKTUAL BAGI REPUBLIK
    *Oleh: Sapto Raharjanto

    Membicarakan sosok yang satu ini, memang takkan ada habisnya,…seorang yang tanpa basa-basi,..meledak-ledak,..tak merunduk,..serupa api Membakar, berperadu seperti alu dan beras,..dan kemarahan itu terutama sekali ditujukan kepada kolonialisme, feodalisme, kelaliman penguasa, dan terutama kepada sang korup…ya bung Pramoedya Ananta Toer,..sosok yang tak ada habisnya,..dan sosok yang akan selalu dikenang di dalam dunia sastra republik ini, ya dunia sastra untuk sebuah perlawanan terhadap kesewenang-wenangan,…….
    Apabila kita coba telaah mengenai konsepsi-konsepsi pemikiran dari bung Pram ini, maka akan tersirat berbagai harapan bagi kaum intelektual Indonesia, agar bisa menjadi kaum yang mengabdikan keilmuannya untuk kemanusiaan, keadilan serta nilai-nilai kebenaran yang kian hari, kian surut di republik ini. Dimana si bung mengatakan “Dan bagi saya, keindahan itu terletak pada kemanusiaan, yaitu perjuangan untuk kemanusiaan, pembebasan terhadap penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa”.
    Karena disisi lain, tugas kaum intelektual pastilah memiliki sebuah kewajiban sosial yang wajib untuk dilaksanakan, terutama bagi kesejahteraan dan nilai-nilai kemanusiaan, karena atas keringat dan usaha rakyat maka kelompok kelas menengah di Indonesia ini bisa menikmati fasilitas pendidikan yang kemudian menjadikan mereka sebagai kelompok masyarakat yang dianggap terpandang dan memiliki kelebihan daripada masyarakat awam,..lalu dimanakah tanggung jawab sosial kelas menengah ini,…seperti ungkapan bung Pram Aku menulis, bicara, berbuat, tidak pernah khusus untuk diri sendiri, langsung atau tidak, tak ada seorang seniman berseni untuk diri sendiri, masturbasi. Ada faal social didalamnya, makin dikembangkan faal social itu semakin baik. Tak ada orang makan untuk makan.
    Ada sebuah tanggungjawab sosial yang harus diperhatikan oleh kaum-kaum intelektual di Indonesia, karena kelompok kelas menengah di Indonesia memiliki kecenderungan untuk berdiri di dua sisi, yaitu mereka bisa terus berada di garis untuk mengabdikan kemampuan intelektualnya bagi nilai-nilai kemanusiaan atau mereka akan mengabdikan kemampuan intelektual mereka untuk kepentingan individu mereka.
    Di satu pihak dengan munculnya efek industrialisasi, yang begitu banyak menyerap kaum intelektual ini menjadi tenaga-tenaga ahli untuk menjalankan perputaran roda-roda industrialisasi, dimana didalam dunia yang sangat dituntut untuk memiliki profesionalisme dan loyalitas yang tinggi kepada sang majikan tempat mereka mengabdikan ilmunya tersebut, terkadang nilai-nilai kemanusiaan harus mengalami suatu proses pengebirian dan cenderung membuat manusia, khususnya kaum-kaum intelektual menjadi teralienasi dari sebuah nilai-nilai sosial….bung Pram mengungkapkan Bangsa Indonesia adalah”een natie van koelies, en een koeli onder de naties”(bangsa yang terdiri dari kuli, kuli di antara bangsa-bangsa). Kuli ini sebenarnya terbagai atas dua golongan: yang meneteskan keringat dan yang tidak. Yang tidak bisa dinamai priyayi. Apakah para ahli dan sarjana itu dating ke desa sebagai yang tidak berkeringat menengok yang berkeringat??…Bukankah sebelum pertanian dapat ditingkatkan jadi industri, sebelum dihapusnya pembatasan tanah sampai 2-3 ha, tani masih tetap golongan yang berkeringat dan berkedudukan setinggi lutut berbanding yang tidak berkeringat??..selama keadaan tani masih tetap sebagai penyembah tanah, kedudukan sosialnya tetap seperti jaman batu, dan kolonial.
    Ketika para intelektual telah melupakan kewajiban sosialnya, maka diibaratkan republik ini akan kehilangan roh, kehilangan induk ataupun kehilangan sutradara dari sebuah lakon perubahan sosial, karena sang sutradara telah diambil alih oleh sebuah kekuatan besar yang telah membelokkan sebuah kewajiban sosial dari kaum intelektual Indonesia yang harusnya bertanggung jawab sepenuhnya kepada kemanusiaan, keadilan dan kebenaran menjadi sebuah tanggung jawab sosial kepada mesin-mesin industrialisasi,…maka bung Pram pun mengutarakan dalam sejarah umat manusia selalu bisa ditemukan bangsa-bangsa besar yang jatuh menukik jadi bangsa kelas kambing, bangsa yang mengadabkan umat manusia jatuh jadi bangsa penggembala, bahkan bangsa Indonesia yang pernah merajai lautan bisa jadi bangsa kuli selama tigaratus limapuluh tahun atau bahkan seterusnya, bangsa Indian yang merajai perairan tanpa tepi, bisa tersorong masuk dalam reservat para pendatang dan punah,…sekarang tinggal bagaimana kaum intelektual Indonesia memilih,..mau di bawa kemana bangsa ini????…..
    Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah……..Menulis adalah bekerja untuk keabadian

    *Penulis Adalah
    Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember, Jawa Timur, Indonesia
    Ketua Biro Penerbitan Centre Of Local Economic and Politic Studies (CoLEPS) Jember, Alamat: Jln Kalimantan X No 81 Jember 68121, Email: Sapto_11@yahoo.com085257250742

  16. hehehe.. wah niat banget nulisnya…terima kasih ngoment segitu banyak….:)

  17. 17 angky

    (Di)Hilang(Kan)nya Sebuah Rasa Kebangsaan
    Angky B. Putrantyo*

    Di sadari atau tidak, Indonesia hari ini mulai berusaha menghilangkan arti penting sebuah bangsa. Para pendiri ini republik ini bercita-cita mendirikan bangsa yang berdaulat atas dasar Pancasila bukan ideologi lain! Proses panjang yang berdarah-darah dalam menegakkan republik ini tidak lagi dipelajari dengan baik dan benar, kepentingan politis dan kepentingan-kepentingan golongan lain—baik itu agama atau yang lain—seakan-akan lebih penting dari pada rasa kebangsaan.
    Indonesia hari ini, mulai tidak sadar(mungkin sengaja untuk tidak sadar) bahwa kesalahan-kesalahan di masa lalu kembali diulangi. Ada beberapa hal yang mudah dirasakan bahwa ada usaha-usaha untuk menghilangkan rasa kebangsaan tersebut. Beberapa hal diantaranya adalah: pertama, dibubarkannya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Sebagian golongan yang mengaku rakyat Indonesia bangga akan hasil tersebut (mereka merasa dirinya paling benar), namun mereka lupa bahwa orang-orang yang selama rezim Orde Baru dianggap sebagai tapol adalah anak-anak bangsa yang turut serta menegakkan Pancasila.
    Mereka-mereka yang di stigma legal sebagai PKI, adalah orang-orang yang pernah mempertahankan Pancasila, turut berjuang menegakkan keutuhan bangsa. Bahkan seharusnya kita bertanya kepada mereka-mereka yang tidak menginginkan rekonsiliasi itu. Apakah mereka pernah memperjuangkan Pancasila?
    Kedua, Indonesia hari ini berupaya melakukan pembelengguan akal pikir generasi muda dengan cara membredel buku-buku pelajaran sejarah. Indonesia hari ini lupa bahwa bangsa ini punya sejarah gelap, sejarah yang berdarah, sejarah pembantaian yang dilakukan oleh bangsa sendiri. Sudah seharusnya generasi muda tahu semua itu. Sudah saatnya generasi muda belajar dari kelampauan untuk mengkonstuk hari ini dan masa depan yang mapan.
    Seharusnya kita sadar, bahwa realitas yang ada saat ini adalah usaha-usaha pembelokan sejarah dan memutar balikkan fakta. Pemberedelan buku-buku pelajaran tersebut tidak memiliki landasan yang fundamental, hanya karena penulisan G 30 S tanpa embel-embel PKI saja tentu bukan alasan yang substansial. Apabila kita mau sedikit cermat dan bijaksana, Sejarawan Hilmar Farid dalam wawancara sebuah media massa mengatakan bahwa para pemimpin dan pelaku peristiwa pada bulan September 1965 menamakan dirinya gerakan 30 September dan bukan G30S/PKI. Istilah G30S/PKI adalah produk politik Orde Baru sebagai salah satu proses Genoside dan berhasil meracuni cara berfikir bangsa ini.
    Berjalannya ide-ide kebangsaan hanya akan berhasil apabila ada kerjasama yang baik antar elemen di masyarakat. Kerjasama tersebut berawal dari diri kita masing-masing yang harus belajar sadar bahwa mereka-mereka yang di-stigma PKI adalah anak-anak bangsa. Mau belajar dengan rendah hati untuk saling memaafkan agar tidak ada lagi konflik yang dapat menghancurkan bangsa ini atau bahkan menghilangkan arti penting kebangsaan.

    *Penulis adalah Ketua Biro Penelitian&Pengembangan
    Center of Local Economic and Politic Studies (CoLEPS) Jember
    alamat: Jln Brantas No 65 Jember 68121.
    e-mail: angky_coleps@yahoo.co.id, angky_sinyo@plasa.com
    Hp: 081808941899

  18. Ok.. salam kenal angky, ntar ta cerna dulu, soalnya panjang bgt….okeh, ntar kita diskusi lagi…. 🙂

  19. 19 widarto

    Kepemimpinan Kaum Muda*

    Di saat kondisi rakyat semakin sulit seperti ini, kaum muda tidak perlu berdebat persoalan yang tua atau yang muda yang memimpin. Saya sadar betul bahwa perubahan memang mutlak juga dilakukan melalui dua jalan: pertama melalui perubahan struktur dan kedua secara kultur. artinya, perubahan di tingkat civil society tanpa ada perubahan ditingkat elit memang juga sama dengan bohong. Tapi, berdebat persoalan umur untuk memimpin negeri ini sama dengan kasus kuota 30% perempuan dalam parlemen. Menurut saya, yang perlu dilakukan kaum muda adalah menunjukkan kemampuannya dan melakukan gerakan konkrit untuk rakyat sehingga rakyat dapat mempercayai dan dapat dipercaya kaum muda untuk memimpin.
    Siapkan dirimu untuk Indonesia Kita!!!!!!

  20. 20 Goris Mewu

    Dunia politik adalah dunia yang bebas, mau masuk silahkan gak juga silahkan, jangan dipaksa, gak semau orang mau, yang mau juga belum tentu mampu, kalo mau maksa diri ya silahkan, resiko tanggung sendiri. Mau perempuan ato laki, gak penting, yang penting orangnya mau dan gak dipaksa dengan kuota. Gak sehat pake kuota, nanti orang jawa minta kuota, batak minta kuota, banci minta kuota. Jangan bilang perempuan harus masuk dpr, gak semua perempuan suka politik, sama laki juga gak semua suka politik, yang mau masuk ya silahkan pilih jalannya sendiri, masuk ke partai dulu, mau jadi calon jadi ya sumbang partai lebih besar, ato bikin partai sendiri. Mau jadi caleg ya usaha dong, jangan berlindung dibalik kuota, pingin jadi caleg tapi mau enak sendiri. Jangan bilang perempuan berkualitas gak boleh masuk dpr, siapa yang bilang gak boleh??? Boleh, tuh buktinya khofifah, ratu hemas, marissa haque, mooryati yang punya mustika ratu, mereka terpilih karena kualitas, bukan maksa dengan kuota. Kayaknya kuota hanya trik para aktifis feminis untuk masuk dpr tanpa usaha, eh ternyata sudah jadi caleg mereka tetap gak kepilih, rakyat sudah tahu siapa mereka. Setelah gak kepilih, ribut lagi, bialng rakyat kita patriarchy dll. Sebenarnya, perempuan gak berkualitas mau masuk dpr juga silahkan, bukan cuma laki2 gak berkualitas aja yang boleh, tapi ya harus berkorban untuk partai. Masak mau jadi caleg jadi tapi gak mau invest, ngaco deh. Banyak laki2 gak berkualotas jadi anggota dpr karena punya duit, usaha namanya, ato bikin partai. laki2 jahat juga bisa asal punya duit, ato didukung orang2 berduit. Banyak jalan yang bisa ditempuh perempuan jadi anggota dpr, seperti para laki2, gak dengan kuota. Jadi gentle gitu, gak minta dispensasi dengan kuota. Perempuan yang ambisi di politik seperti nursyahbani dkk dari aktivis feminis, ya usaha sendiri, masuk partai atao bikin partai, cari isu populer tentang kesejahteraan (semua rakyat, jangan cuma urusan perempuan aja, contoh hillary clinton, meski perempuan, dia mau jadi capres untuk rakyat amerika, bukan capres untuk perempuan amerika). Udah gak jamanya usung isu gender untuk politik, yang jelas bangsa ini ada laki dan perempuan, bukan satu jenis. Angkatlah isu kesejahteraan, kemandirian, pendidikan, kesehatan, harga murah, penghasilan layak, jangan naikkan bbm dan gas, bela rakyat jangan kapitalis, dll. Banyak isu yang bisa naikkan popularitas tanpa mendikotomikan perempuan laki. Kalo akhlak, pendidikan, kesehatan, ekonomi bisa diperbaiki, kahidupan akan tumbuh sinergi, karena bagaimanapun Tuhan ciptakan laki-perempuan (entah kaum feminis gak percaya Tuhan kali ya). Kekerasan akibat akhlak buruk, akhlak buruk bisa jadi karena pendidikan rendah, ekonomi buruk, bisa juga karena dikondisikan oleh media dengan tayangan2 buruk yang herannya justru dibela para kativis feminis. Jadi lucu ya, mereka mau masuk dpr dengan mendompleng kuota, tapi bukan untuk perjuangkan perempuan (karena eksploitasi seksual perempuan sering mereka bela, katanya hak berekspresi), tapi untuk memuluskan agenda gerakan mereka yang dibiayai sponsor mereka di luar negeri. Ada indikasi ada agenda terselubung untuk kepentingan asing di negeri kita lewat jargon2 gender, jelas sebenarnya apa sasarannya. wallahu a’lam.

  21. Politik di indonesia hanya kepentingan pribadi belaka, jargon2 atas nama rakyat hanya rayuan gombal para elit politik. Sekarang saatnya rakyat memanfaatkan ketamakan kekuasaan para elit politik. Dengan musim kampanye saat ini pasti para elit berlaku dermawan dan ramah, saatnya rakyat memanfaatkan ke dermawanannya. Segala bentuk pemberian dari elit mana pun rakyat mesti menerima tanpa terbebani oleh keinginan mereka karena mereka pun bila berhasil tanpa merasa dosa melupakan janji2nya saat kampanye. Sekali lagi pilih lah sesuai hati nurani tanpa rasa terbebani atas pemberian apapun dari elit politik saat rakyat “ngerjain” para elit politik, karena kita pun sering “dikerjain” mereka

  22. Sabtu, 30 Agustus 2008 10:14

    KOMENTAR FANS MARISSA HAQUE Kapanlagi.com – Artis papan atas Marissa Haque mengatakan bahwa dirinya gelisah dunia entertainment yang selalu menyorot artis dari sisi popularitas saja. Sudah saatnya artis yang memang berlatar akademis tidak hanya disorot keartisannya. Marissa menunjuk Baim, mantan vokalis Ada Band dan Artika Sari Devi yang yang keduanya lulusan sarjana S-2 hukum.

    “Selalu saja kami disorot dari sisi artis. Saya jarang dimintai pendapat tentang hal lain di luar keartisan. Bagi publik, hal itu juga membuat image artis tidak cerdas. Saya ingin jadi akademisi negarawati sejati,” kata Marissa Haque, saat berbincang dengan KapanLagi.com di Hotel Grand Mercure Yogyakarta, Jumat (29/8).

    Wanita kelahiran Balikpapan 15 Oktober 1962 ini mengatakan bahwa dirinya 2-3 pekan lagi lulus sarjana S3 dari IPB jurusan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Selain itu, Marissa juga sedang kuliah magister S2 di MM UGM jurusan Human Resources and Organization. Selain di UGM, Marissa juga mengambil jurusan S2 Magister Humaniora di Unika Atmajaya Jakarta dengan spesialisasi pengajaran untuk anak tuna rungu.

    Pada kesempatan di Yogyakarta ini Marissa terpilih sebagai Duta batik Adiningrat dan batik Ningrat. Batik Adiningrat beralamat di Malioboro 73, dan batik Ningrat di Jalan Maliboro 23 ini merupakan gerai bisnis retail batik Pertiwi Group. Penandantanganan Marissa dipilih sebagai Duta batik Adiningrat dan Batik Ningrat MOU Marissa sebagai duta batik tersebut dimulai sejak 1 Agustus kemarin, dengan kurun waktu 1 tahun lamanya.

    “Saya sangat bersyukur bisa menjadi duta batik, karena saya mencintai karya Indonesia. Apalagi melihat perkembangan batik yang berjalan begitu pesat. Rancangan dari batik pun beraneka ragam dan pakaiannya sudah menjadi suatu rancangan yang modern,” ujar Marissa yang juga Ketua bidang Lembaga Keuangan Mikro Syariah Partai PPP ini.

    Saat di Hotel Grand Mercure Yogyakarta kemarin, Marissa juga panjang lebar bertutur tentang batik, lingkungan, hukum, dan persoalan politik.

    Hilman Hakim, Manager Operasional Pertiwi Grup mengatakan, setahun penuh Pertiwi Grup akan memakai jasa Marissa sebagai media promosi produk batiknya. Marissa adalah publik figur cerdas. Ia juga tak terimbas isu dari perkawinannya dengan Ikang Fawzi. (kpl/tia)

    Lihat Foto Marissa Haque di Yogyakarta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: