Terpaku pada Laptop

27Mar07

Terpaku pada sebuah benda yang sering kita sebut dengan LAPTOP, itulah kita. Kali ini ini tulisanku terkaitan dengan tulisan sebelumnya, masalah penganggaran pembelian laptop oleh DPR RI untuk seluruh anggotanya berjumlah 550 orang, dengan pembahasan perspektif berbeda dengan point of view ku. Yah tetap dalam kerangka pemikiran rakyat biasa.

Ini kutipan berita dari Metro TV setidaknya menjadi wacana awal kita untuk membahas ini.

Metrotvnews.com, Jakarta: Setelah menuai berbagai protes, pimpinan DPR akhirnya memutuskan membatalkan pengadan laptop bagi 550 anggota DPR. Sebelumnya, Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR menganggarkan dana sebesar Rp 12,1 miliar untuk membeli 550 komputer jinjing dewan. Bahkan, sedianya, penawaran tender untuk hal tersebut akan dilakukan mulai hari ini.

Pembatalan penyediaan laptop untuk 550 anggota dewan disampaikan Ketua DPR Agung Laksono seusai memimpin rapat darurat pimpinan DPR, Selasa (27/3) siang. Menurut Agung, keputusan pembatalan pembelian laptop ini dilakukan setelah pimpinan dewan mendapatkan laporan dari pimpinan BURT mengenai banyaknya protes keras dari publik, terutama dari kalangan dalam anggota DPR. Agung juga menambahkan bahwa setelah diputuskannya pembatalan pengadaan laptop ini, ia akan memanggil semua pimpinan fraksi untuk membicarakan mengenai langkah-langkah yang akan diambil untuk meningkatkan kinerja anggota dewan.

Sejak tersiar kabar rencana pembelian laptop tersebut, penolakan terus berdatangan dari sejumlah kalangan masyarakat, termasuk anggota dewan dari berbagai fraksi. Bahkan, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan secara resmi menolak pengadaan laptop bagi anggota DPR, khususnya bagi 109 anggota Fraksi PDI-P DPR. Penolakan dinyatakan melalui surat resmi yang disampaikan Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat PDIP Pramono Anung kepada Wakil Ketua DPR Zaenal Ma`arif di Gedung Nusantara III DPR/MPR, sebelum rapat pimpinan dimulai. Pramono menegaskan, bila ada anggota Fraksi PDIP yang menerima laptop, maka akan dijatuhi sanksi berat.

Sebelumnya, berbagai kalangan juga menyampaikan keberatannya atas rencana BURT DPR tersebut. Salah satunya datang dari Teten Masduki, Ketua Indonesian Corruption Watch (ICW). Menurut Teten, hal itu merupakan pemborosan dan tidak perlu serta sangat memalukan. Menurut Teten, dengan gaji yang diterima anggota dewan sekarang, sebenarnya mereka mampu untuk membeli sendiri laptop. Artinya tidak perlu mendapat fasilitas dari negara. “Memalukan bila semuanya harus ditanggung negara. Yang bikin prihatin masyarakat untuk mendapatkan sarana publik begitu susah, mereka yang menjadi decision maker dengan seenaknya menggunakan fasilitas negara,” ujar Teten, kesal.(DEN)

Anyway….. akhirnya kembali lagi dibatalkan sudah menjadi skenario politik tingkat atas yang dirancang para politikus negeri ini untuk mengalihkan isu-isu kenegaraan (liat tulisanku sebelumnya). Penganggaran pembelian Laptop menjadi isu sentral di negeri ini padahal isu lain tidak tergarap oleh kita dengan baik.

Seperti Halnya Isu kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) beberapa saat lalu menjadi booming dan sekelompok masyarakat akhirnya sempat turun ke jalan untuk memprotes kenaikan itu. Tapi alhamdulillah akhirnya dibatalkan juga.

Teman-teman apa yang terjadi di negara ini? kita sudah terkonspirasi dalam manajemen isu oleh media, kita tidak lagi melihat apakah Tommy benar-benar korupsi, dengan pengambilan uangnya dari lembaga negara, apakah kita tidak melihat isu Resolusi yang dijatuhkan PBB ke Iran, di mana dan ternyata Indonesia mendukung resolusi itu?

Dan apakah kita terlena dengan isu yang “hanya” Rp. 21 Milyar itu ketimbang isu-isu yang membawa trilyunan uang negara untuk di korupsi dan lain-lain. Seperti kata Pak Budhi Kurniawan (dosen Fisika MIPA UI) ketika saya menjadi moderatornya di Simposium “Ristek Untuk Negeriku” yang diadakan oleh BEM ITS bahwa bangsa ini terlalu mudah melupakan isu-isu yang sebenarnya pantas untuk disikapi. Nyah seperti inilah cerminan bangsa kita. Seperti Contoh dulu ketika isu kenaikan TDL itu digulirkan itu diimbangi dengan isu Pulau Ambalat dan isu lainnya, dan ternyata hal itu tidak tergarap dan tidak tersikapi oleh kita sampai sekarang.

Kita hanya dan selalu menjadikan isu-isu kontemporer dan kasuistik saja, pergerakan kita.

Setidaknya kita mulai berfikir untuk menjadi bangsa yang sadar akan kekurangan bangsa ini sehingga kita bisa memberikan yang terbaik untuk negeri ini.

Hiduplah Indonesia Raya…..

 

Iklan


2 Responses to “Terpaku pada Laptop”

  1. ga usah tlalu serius rul, bapak-ibu di DPR itu kan lagi masa pertumbuhan, lagi lucu2nya… karyawan swasta naek gaji, pengen naek gaji juga… tukul punya laptop, pengen punya laptop juga… coba kapan hari kita ke gedung DPR makan permen lolipop, paling mereka juga bakal minta konsumsi lolipop tiap hari… huehehehe 😀

  2. gak serius amat sih.. tapi…. mereka itu kayak gak perhatian gitu loh…. hikz…. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: