Soft Skill, Tidak harus lewat pelatihan saja

04Jan07

Terinspirasi buat tulisan ini dikarenakan percakapan seorang teman dengan seorang Dosen yang mengelola tentang Soft Skill mahasiswa di Kampusku.

Pemikiran konservatif tentang kemampuan mahasiswa terutama mahasiswa ITS setelah luls adalah secara intelektualiatas mereka bagus dan pandai tetapi untuk kecakapan komunikasi dengan kata lain soft skill masih kurang.

Akhirnya pemikiran konservatif itu dilanjutkan dengan bahwa mereka butuh pelatihan soft skill sehingga bisa terlatih dengan baik. Dan akhirnya disepakati diberikan pelatihan-pelatihan soft skill baik itu berupa pelatihan untuk menghadapi dunia kerja, wawancara, presentasi, sampai ke tataran spiritual.

Tapi ternyata pelatihan-pelatihan itu hanya sesaat hanya beberapa jam, dan memang memberikan efek perubahan yang nyata dan betul-betul terkagumkan oleh pelatihan soft skill tersebut. Namun efeknya pun ternyata hanya berfungsi untuk beberapa hari dan beberapa minggu. Apalagi jika orang-orang yang berpandangan opportunis yang hanya memandang mengikuti pelatihan menambah CV dan sertifikat yang dapat dipakai kerja.

Percuma………………..

Soft skill itu bukan dari pemberian materinya yang baik, bukan dari kemampuan begitu setelah pelatihan langusng di isi feedback “pelatihan yang mengesankan” tetapi soft skill itu dilatih dalam waktu yang lama, bukan dalam waktu singkat.

Demikian halnya setiap pelaksanaan LKMM (Latihan Keterampilan Manajemen Mahsiswa) perlu adanya KPP (Kegiatan Pasca Pelatihan) untuk melatih soft skill itu tetap terpatri dalam diri pribadi atau organisasi.

Soft skill bukan sesuatu yang mudah untuk mengubah motivasi dan mengubah cara pandang. namun sekali lagi butuh latihan dan waktu yang cukup untuk berlatih.

Terkait dengan soft skill mahasiswa, yang katanya masih belum produktif kemampuan soft skillnya ketika mereka menjadi fresh graduated, yang saya menyimpulkan bahwa pelatihan itu tidak cukup.

Kenapa tidak lewat jalur pengajaran.

Di Kampus untuk ukuran normal kita berkuliah selama 4 tahun, dan waktu itu serasa cukup untuk memberikan ilmu-ilmu soft skill, tetapi tidak mungkin kita mengikuti semua pelatihan dalam 4 tahun kan.

Sekali lagi lewat pengajaran. Pengajaran selama ini memang ada beberapa sudah mencoba melatih soft skill terutama lewat presentasi Tugas AKhir. Tetapi itu hanya sesaat, butuh kontinuitas seperti halnya pembangunan dan jiwa butuh kereguleran. Selama ini pola pengajaran dosen yang terkesan satu arah dan hanya untuk memberikan pengetahuan tanpa umpan balik.

Nah di sini, pengajaran sebagai  sarana yang tepat untuk melatih soft skill mahasiswa setiap hari malah setiap saat, jika setiap proses belajar mengajar mekanisme pelatihan soft skill kepada mahasiswa diterapkan juga.

Pola kebijakan institusi yang hanya menggembar-gemborkan hanya lewat pelatihan untuk dilatih soft skill saya rasa kurang tepat, dosen-dosen juga harus diingatkan bahwa kemampuan soft skill mahasiswa setiap mengajar harus dilatih bukan hanya satu arah saja.

Dan satu lagi, kadang pihak insititusi selalu menyalahkan mahasiswa yang tidak memiliki kemampuan soft skill yang baik karena jarang mengikuti pelatihan. Namun di balik itu pelatihan sesungguhnya untyuk soft skill ada di ORGANISASI.

Benar. itulah yang harus disadari oleh semua orang, pembangunan karakter, pembelajaran karakter, berkomunikasi dengan baik, teknik bernegosiasi, presntasi, dan banyak hal-hal lain kita dapatkan sebagai pembelajaran buat kita untuk meningkatkan soft skill.

Tapi apakah organisasi di kampus mendapat ruang yang cukup untuk meningkatkan kemampuan soft skill mahasiswa?

silahkan di jawab dengan keadaan kekinian kampus anda.

Iklan


8 Responses to “Soft Skill, Tidak harus lewat pelatihan saja”

  1. 1 Siva Zainuddin

    o.. ya sebelumnya saya mo kenalan dulu ma mas Arul..
    Saya mhs T.Inf UNISSULA,
    memang benar yang dipaparkan oeh mas Arul sendiri… soft skill tidak dapat dicapai dengan waktu yang singkat, kita emang butuh waktu untuk terus berlatih. . sehingga bener-bener mempunyai soft skill yang matang …
    mas Arul aktivis di BEM apa organisasi-oragnisasi riset, atau aktif dikeduanya?

  2. Siva, saya aktif di BEM dua tahun tapi sekarang sudah lengser
    sekarang saya mau menyelesaikan studi saya.. dan saya sekarang menjadi salah satu asisten lab..

  3. 3 arif

    Saya yakin Arul termasuk orang yang benar-benar ingin soft skill ini menjadi bagian dari pembelajaran karakter dan sebagainya. Pengalaman saya yang paling berat adalah ketika melakukan internalisasi dari apa yang kura tahu trus naik menjadi hal itu kita yakini baik sehingga harus kita jalani dengan senang hati setiap harinya.
    Dosen sekalipun ketika mengajarkan materi kepada mahasiswa mungkin masih banyak yang belum menerapkan soft skill seperti komunikasi empatik. Jadi kuncinya adalah mentraining diri untuk terbiasa meredam ego dan menjadikannya tenaga untuk menjalani hal-hal baik dengan penuh keyakinan, maka itu akan mempercepat internalisasi karakter untuk kita

  4. Saya setuju dengan pendapat anda, dan mungkin jika anda2 ingin mencari pelatihan softskill yang tidak sekedar teori dengan waktu yang singkat tetapi melainkan pelatihan berorientasikan praktek langsung softskill, silahkan kunjungi

    htttp://www.softladders.com

    untuk saat ini kami sudah dan sedang melakukan training di Universitas Indonesia

  5. Setuju, bahwa kita bisa kita kembangkan sendiri dimanapun kita berada

  6. 6 uresambo

    Softskill memang bisa dipelajari sendiri, tapi hasilnya juga mungkin ala kadarnya.
    Mengikuti training softkill tidak ada salahnya, dengan teori yang didapat, akan membuat kita lebih efektif dalam upaya mengembangkan softskill setelah training di lingkungan kerja / organisasi.

    Sepertinya, tidak perlu skeptis mahasiswa yang berniat mengikuti training softskill, itu sangat baik, dengan awarness yang di dapat setelah training, ia akan mulai menata dan merencanakan peningkatan softskillnya di lingkungan kerja nya

    Belajar dari orang yang kompeten dan memiliki pengalaman di bidang ini dalam training, lebih murah daripada mendapatkan pelajaran pahit di pecat dari perusahaan karena kurang berlatih dalam etika kerja (salah satu item softskill)

  7. 7 ainun

    melatiih softskill dalam pembeajaran bisa juga dengan menggunakan cooperatif learning atau juga presentasi “berkelompok” atau problem solving. bagaimana seorang guru yang memfasilitasi siswanya utk bisa bekerja sama, mampu mengambil keputusan, mampu mengkomunikasikan, jujur dalam mengambil data, dan lain sebagainya….karena semuanya berproses tak bisa instan….


  1. 1 Kemampuan berkomunikasi berkurang « Insan Perubahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: