Jika Esok Tak Pernah Datang

29Agu06

Oleh: Bayu Gawtama

Setiap bangun tidur dan membuka mata, yang terucap adalah kalimat syukur
bahwa Allah masih mengizinkan diri ini kembali melihat fajar. Merasai
hembusan angin pagi yang menerobos celah jendela, dan menjumpai semua yang
semalam terlihat sebelum mata terpejam masih seperti sedia kala, tidak ada
yang berubah.

Kemudian melangkahlah dengan iringan doa di gerbang mungil menuju arena
perjuangan kehidupan. Dengan tuntunan-Nya lah diri ini tak melangkah ke
jalan yang salah, tak menjamah yang bukan hak, tak melihat yang dilarang,
tak memamah yang tak halal, tak mendengar yang batil, dan tak banyak
melakukan yang sia-sia. Karena setiap waktu yang terlewati pasti akan
ditagih tanggungjawabnya. Lantaran semua jalan yang dilalui akan dimintai
kesaksiannya atas diri ini. Dan sebab seluruh indera ini akan diminta bicara
tentang apa-apa yang pernah tercipta.

Hari ini, masih ada lalai terbuat. Masih juga lengah sehingga khilaf
tercipta. Meski segunung tausyiah pernah didengar, mulut ini masih terselip
berucap dusta, saringan telinga ini tetap tak mampu membendung suara-suara
melenakan, dan masih saja ada perbuatan yang salah, walau itu dalam bingkai
alpa. Padahal, di setiap terminal ruhiyah, sedikitnya lima kali sehari lidah
ini berucap, tangan ini tertengadah, dan mata menitikkan butir bening,
seraya memohon perlindungan dari Allah dijauhkan dari salah dan dosa.
Tetapi, masih juga langkah ini menuju arah yang sesat.

Setiap hari menangis, setiap hari meminta ampunan, setiap hari berbuat
salah. Hari ini mencipta dosa, esok sibuk bersujud, meluluhkan air mata,
menyusun kalimat doa, menganyam pinta semoga Allah menghapusnya dalam
sekejap. Detik ini berbuat salah, terlalu lama menghapusnya, bahkan kadang
lupa. Padahal, bisa saja sedetik kemudian diri ini tak lagi sempat memohon
ampunan. Lupakah bahwa waktu sangat cepat berlalu. Lupakah pula bahwa
menyesal di akhirat hanyalah kesiaan yang nyata?
Bagaimana jika hari esok tak pernah datang, padahal baru saja seharian ini
berenang di lautan dosa. Padahal belum sempat menghapus noda hari ini,
kemarin, sepekan yang lalu, setahun lalu, dan bertahun-tahun yang lalu.
Bagaimana jika Allah tak berkenan membukakan mata kita setelah sepanjang
malam terlelap? bagaimana jika perjumpaan dan canda riang bersama keluarga
semalam adalah yang terakhir kalinya. Ketika esok harinya ruh ini melihat
seluruh keluarga menangisi jasad diri yang terbujur kaku berkafan putih.

Bagaimana jika matahari esok terbit dari barat, tak seperti biasanya dari
timur? Padahal hari ini lupa menyebut nama-Nya. Padahal di hari ini, belum
sempat mengunjungi satu persatu keluarga, kerabat, sahabat, tetangga, dan
orang-orang yang pernah tersakiti oleh lidah dan tindakan kita. Sudah
terlalu lama tak mencium kaki orang tua mencari keridhaannya, walau tak
terhitung salah diri. Belum lagi sempat berderma, setelah derma kecil
beberapa tahun lalu yang sering kita banggakan.

Dan jika memang esok tak pernah datang. Sungguh celakalah diri ini.
Benar-benar celaka, bila belum sempat mencuci dosa sepanjang hidup. Bila
belum mendengar ungkapan maaf dari orang-orang yang pernah terzalimi, bila
belum menyisihkan harta yang menjadi hak orang lain, bila belum sempat
meminta ampun atas segala salah dan khilaf yang tercipta.

Maka, saat pagi ini Allah masih memperkenankan diri menikmati fajar,
mulaikan hari dengan kalimat, “terima kasih, Allah” (Gaw)

Iklan


No Responses Yet to “Jika Esok Tak Pernah Datang”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: