CASHFLOW LANGIT

24Agu06

Zainab berkata:
Kalian dikawinkan oleh keluarga kalian, sementara aku dikawinkan oleh
Allah SWT dari atas langit yang tujuh
(HR. Bukhari)

Mawar tak berkuncup, ia masih saja memainkan pena yang melekat di
jemari
lentiknya. Putih bersih sebersih kertas yang ingin ia tulis oleh
ungkapan hatinya. Mawar tak berkuncup meski sedikit saja. Ia masih
digalau keraguan yang bersemayam lama dihatinya, hatinya tak lagi
berdamai dengan kenyataan yang menerpa dirinya. Mawar merunduk sedih,
begitu lama ia masih saja memainkan pena yang melekat di jemari
lentiknya. Ada apa dengan Mawar?

Di PT. Astra Internasional, di ruangan ber-AC tak membuat Mawar
menguncup mekar. Tugas-tugas kantorpun dikerjakan dengan setengah hati.
Padahal hari belumlah beranjak dzuhur tapi berkali-kali ia
memperhatikan
Masjid yang terlihat
di kaca dekat meja kerjanya. Mawar yang menjabat Assisten Manajer di
kantornya itu mempermainkan pena, mencoret-coret kertas folio yang
menumpuk di meja kerjanya. Entah sudah berapa kertas yang bergulung
lecek membulat di
bak sampah itu. Kenapa Mawar tak memekarkan kuncupnya?

Di rumahnya pun Mawar terlihat jelas oleh Ibunya tampak tak berkuncup
seperti biasanya. Tapi Ibunya tak memberanikan diri untuk bertanya
padanya. Ibu hanya tersenyum tulus sambil membelai rambut Mawar yang
menjuntai panjang
menutupi dadanya yang mendatar. 23 tahun dia telah membesarkan Mawar,
anaknya yang paling dibanggakan. Lalu siapakah kini yang merenggut
ketakkuncupan anaknya itu?

Saya bukan siapa-siapa dan bukan pula apa- apa. Saya lahir dari
keluarga
yang serba kekurangan, Bapak saya yang sejak 2 tahun lalu pensiun sudah
tidak bisa lagi membiayai anak- anaknya sekolah…

Saya memang masih kerja di perusahaan swasta dengan gaji yang habis
untuk kebutuhan orangtua dan adik-adik saya, tapi sejak krisis moneter
mulai ada perampingan di perusahaan tersebut dan kemungkinan saya salah
satu orang yang akan dirumahkan. Hanya tinggal menunggu waktu saja

Saya berkeinginan menikahi kamu bukan karena apa-apa, bukan karena
pekerjaanmu, kekayaanmu, kecantikanmu atau apalah namanya. Saya hanya
merasa kamu lah wanita yang mampu membantu saya bersama-sama mengarungi
samudra kehidupan ini. Berdua lebih baik dari sendiri

Kata-kata itu kembali terngiang dari sudut lamunan Mawar, perkataan
Gilang yang mengungkapkan kondisi diri dan Keluarganya begitu merasuki
relung batinnya. Membimbangi sekaligus menyesakkan Airmata menggenang
di
kelopak mata bening Mawar, tumpah jatuh ke pipinya yang merona. Mawar
tak kuasa menahan tangis yang kian menderas sederas hujan sore tadi.
Mawar membiarkan kuncupnya tak merekah begitu saja. Mawar mengapa
menangis?

Mawar jadi kian rajin mendekat dengan Tuhan- Nya. Berlama-lama di
sajadah yang dibelinya 1 tahun yang lalu saat menyambut Hari Raya Iedul
Fitri. Rajin pula ke toko buku mencari buku-buku tentang pernikahan,
tentang penyejuk hatinya yang terlihat gersang. Rajin pula menemui guru
ngajinya yang dulu pernah membimbing dirinya mengenalkan Islam dengan
begitu sederhana tapi dahsyat. Tapi Mawar tetap belum berkuncup,
apalagi
memekar.

Mawar menerima pinangan Gilang, karena memang tak layaklah untuk tidak
menerimanya. Gilang yang sholeh,  bersahaja, rajin mengisi pengajian di
mana-mana, rajin sholat berjamaah di Masjid rumahnya, rajin memimpin
demo ketika masih kuliah. Tak merokok, pacaran apalagi main perempuan.
Gilang yang sederhana, apa adanya dan sangat low profile. Lalu kenapa
Mawar belum menguncupkan dirinya? Hanya Mawar yang tahu persis.
Ungkapkanlah Mawar..

Saya percaya bahwa selama saya bersama Allah maka segala urusan saya
akan diurus oleh- Nya, maka saya tak pernah khawatir terhadap episode
yang sedang, akan dan nanti dilalui oleh saya Ungkap Gilang saat Mawar
mengungkapkan keraguannya untuk menerima Gilang menjadi pasangan
hidupnya. Mawar ketika itu hanya menunduk dan tanpa menguncupkan
dirinya. Raut mukanya kian meredam.
Mawar tahu itu, tapi hatinya berbicara lain. Hanya saja Mawar tak
sanggup untuk menolak pinangan Gilang bersama keluarganya itu. Mawar
hanya mengangguk dan menangis begitu saja. Tangis haru ataukah
sendu?Mawar jawablah.

2 minggu sebelum hari pernikahannya, Mawar mendapat kabar bahwa Gilang
di PHK. Kekhawatirannya tertunai sudah. Adakah niat suci mampu meredam
realitas hidup? Mawar bertanya dalam hatinya. Mawar meneguhkan diri
dengan
janji Allah lewat firman-NyaAn-

Nur: 32yang ia tempel di dinding
kamarnya. Mawar sekuat jiwa melepas pasrah pada segala realitas yang
ditakdirkan untuk dirinya pun untuk Gilang suaminya nanti.

Mawar, kau pasti kecewa melihat saya yang sudah tak bekerja lagi. Tapi
percayalah saya bukan lelaki yang bertopang dagu. Kau adalah tanggung
jawab saya, gajimu, uangmu adalah milikmu seluruh. Aku tak akan
menganggu itu,
tapi uang saya, jerih payah saya adalah uang kamu juga. Percayalah,
Allah telah memberikan rezeki sesuai porsinya sesuai kadarnya dan
sesuai
kehendak-Nya Gilang berucap, usai menunaikan sholat Maghrib bersama
Mawar yang
telah menjadi suaminya 2 hari yang lalu.

Mawar hanya terdiam, menggenangkan airmata di kelopak mata jernihnya
sambil mencium punggung telapak tangan  Gilang, suaminya kini. Gilang
seperti membaca batin Mawar. Dikecupnya penuh haru ubun-ubun Mawar
persis
seperti yang Gilang lakukan di malam pertama itu. Kidung mesra
menyelimuti mereka berdua.
Sejenak saja.

Mawar meminta kepada Gilang untuk tinggal dirumah orangtua Mawar,
karena
Mawar lebih nyaman disana. Lebih luas, tidak sumpek dan selalu bersih.
Tapi Gilang bersikeras untuk tinggal di rumah orangtuanya saja. Mawar
kecewa tapi
tak berani untuk diungkapkan. Mawar pendam disudut hatinya, mendekam
hari demi hari. Bulan demi bulan. Sampai akhirnya terbacalah oleh
Gilang
kekecewaan Mawar dengan pilihannya.

Mawar, ada banyak ketidaknyamanan yang justru membentuk kepribadian
kita
menjadi struggle, kokoh. Apakah saya merasa nyaman di rumah ini? tidak,
tidak sama sekali Mawar..tapi dari ketidaknyamanan inilah saya menjadi
seperti
ini sekarang, membentuk saya agar tak mudah menyerah, mensyukuri apa
yang ada, tidak
meratapi keadaan dan berusaha keluar dari ketidaknyamanan ini.
Bagaimana
caranya? Ya dengan menjalani rasanya tidak nyaman ini. Mawar mau kan
memahami ini?menjalani ini dan belajar dari ketidaknyamanan ini?. Insya
Allah tidak akan lama, karena kita harus punya rumah sendiri, untuk
kita, untuk anak-anak kita…membentuk keluarga yang sakinah
mawaddah warahmah.. Gilang berujar dengan nada harap. Gilang sebenarnya
juga terlalu risih jika harus tinggal dirumah mertuanya. Meringsek di
ketiak keluarga Mawar, dimana harga diri kelelakiannya? Mau ditaruh
dimana wajahnya ini? Gilang bersikukuh. Dan satu hal lagi, Gilang ingin
Mawar mematuhi keinginan baiknya itu. Karena ketaatan seorang istri
setelah Allah dan Rasul-Nya adalah kepada suaminya barulah kemudian
kepada kedua orangtuanya.

Mawar belum mau mengerti itu, Mawar merindui rumahnya yang sudah 3
bulan
ini tak ditinggalinya. Dan baru 2 kali  mengunjunginya dan itupun tidak
menginap. Mawar kasihan dengan Ayah dan Ibunya. Mereka sudah tidak
punya
tempat berlabuh lagi. Selain itu tempat tinggalnya kini sangat jauh
dari
tempat Mawar bekerja. Sehingga membuat Mawar harus berangkat lebih pagi
dan pulang cukup malam. Kenapa Gilang tak memahami itu, kenapa justru
dia yang harus
memahami ketidaknyamanan ini? Mawar bertanya keras di dalam hatinya.
Mawar tak berani mengungkapkannya dihadapan Gilang. Hanya diam yang
merayap.
Ada sesuatu yang membuat hatinya luruh. Sikap Gilang setiap waktu yang
tidak berhenti untuk mengatakan Mawar sayangku, aku mencintaimusepenuh
hati. Sungguh. Itu dilakukan Gilang saat ingin tidur dan saat Mawar
berangkat kerja. Tapi Mawar tak mengekspresikan ungkapan Gilang itu
dengan sebagaimanamestinya. Mawar masih saja tak berkuncup. Hanya
mulutnya saja yang mengembang, senyum memanis.

Sudah 11 bulan waktu berjalan. Gilang sudah mulai mendapatkan
penghasilan lewat Bisnis yang digeluti bersama 4 orang temannya. Bisnis
advertising & Event Organizer. Gilang tahu kalau Mawar belum bisa
menerima dirinya sepenuhnya jika belum bekerja formal, kerja kantoran.
Gilang sudah menjelaskan kepada Mawar bahwa bisnis
sudah menjadi pilihan hidupnya. Gilang sudah enggan untuk kerja di
kantoran. Gilang ingin jadi bos, ingin punya karyawan yang menjalankan
bisnisnya. Berkat bisnis advertising & EO ini Gilang bisa beli Motor
walau masih kreditan.
Motor Honda Karisma dibelinya untuk memudahkan dirinya untuk keliling
ke
Perusahaan-perusahaan yang membutuhkan
jasanya dan mengantarkan Mawar ke bus kota sehingga Mawar tak perlu
lagi
berangkat terlalu pagi dan pulang pun tak perlu khawatir, karena
arjunanya akan setia menunggu di tepi jalan dekat bus yang ditumpangi
Mawar berhenti.

3 bulan lagi Gilang bersama 4 temannya itu akan mendapatkan proyek
senilai 590 Juta untuk mengadakan Pameran Automotive di Jakarta.
Lumayanlah bagi hasilnya buat DP rumah di daerah Bintaro Tangerang.
Sementara aktivitas
dakwahnya masih bisa Gilang jalani tanpa kesulitan yang berarti. Gilang
punya kebebasan waktu dan bisa jadi dalam beberapa tahun lagi Gilang
sudah pula bebas finansial.

Mawar yang tengah hamil 6 bulan mulai berkuncup. Mawar pun dipromosikan
menjadi Manajer di kantornya itu. Mawar perlahan-lahan kuncupnya mekar
jadi bunga. Semerbak harum menghiasi keluarga besarnya. Mengharumi
Gilang… Annikahu miftahul Rizki Ucap Mawar meyakinkan diri.
Merekahlah
sudah.
Tetap carilah dahulu Kerajaan ALLAH dan Kebenarannya maka semuanya itu
akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu
janganlah khawatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai
kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari

Source: Unknown (..)

Iklan


No Responses Yet to “CASHFLOW LANGIT”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: