JanJi

19Agu06

Touching story from India (dari milist gak tau sumbernya dari mana nih….)

istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran: berapa lama lagi kamu
baca koran itu?tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang
untuk makan

Aku taruh Koran dan melihat anak perempuanku satu2nya,namanya Sindu
ketakutan,air matanya banjir didepannya ada semangkuk nasi berisi nasi
susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice) Sindu anak yang manis dan
termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun Dia sangat tidak suka
makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno ,mereka percaya sekali
kalau makan curd rice ada “cooling effect” . Aku mengambil mangkok dan
berkata Sindu sayang,demi ayah ,maukah kamu makan beberapa sendok curd
rice ini? Kalau tidak ,nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.Aku bisa
merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku

Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan boleh
ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa Sendok tapi
semuanya akan saya habiskan ,tapi saya akan minta ..agak ragu2 sejenak
akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya

Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?aku menjawab oh pasti
sayang.Sindu tanya sekali lagi betul nih ayah ? yah pasti sambil
menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda
setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama,istriku menepuk
tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji kata
istriku

Aku sedikit khawatir dan berkata: Sindu jangan minta komputer atau
barang2 lain yang mahal yah,karena ayah saat ini tidak punya uang

Sindu menjawab : jangan khawatir ,Sindu tidak minta barang2 mahal kok

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita
,dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu

Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk
makan sesuatu yang tidak disukainya Setelah Sindu melewati
penderitaannya ,dia mendekatiku dengan mata penuh harap
Dan semua perhatian (aku ,istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya
Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotaki

n pada hari Minggu
Istriku spontan berkata permintaan gila , anak perempuan dibotakin,tidak
mungkin Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia
terlalu banyak nonton TV Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan
kita
Aku coba membujuk: Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami
semua akan sedih melihatmu botak
Tapi Sindu tetap dengan pilihannya,tidak ada ‘yah, tak ada keinginan
lain kata Sindu Aku coba memohon kepada Sindu : tolonglah kenapa kamu
tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami
Sindu dengan menangis berkata : ayah sudah melihat bagaimana
menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah
berjanji untuk memenuhi permintaan saya kenapa ayah sekarang mau
menarik/menjilat ludah sendiri?Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran
moral ,bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun
yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala
)untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta ,harta/kekuasaannya
,bahkan nyawa anaknya sendiri Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi
permintaan anakku : janji kita harus ditepati Secara serentak istri dan
ibuku berkata : apakah aku sudah gila?
Tidak jawabku kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah
belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri

Sindu permintaanmu akan kami penuhi Dengan kepala botak, wajah Sindu
nampak bundar dan matanya besar dan bagus
Hari Senin ,aku mengantarnya ke sekolah ,sekilas aku melihat Sindu botak
berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku Sambil tersenyum
aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari
mobil sambil berteriak Sindu tolong tunggu saya Yang mengejutkanku
ternyata ,kepala anak laki2 itu botak.Aku berpikir mungkin”botak” model
jaman sekarang
Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan
berkata: anak anda ,Sindu benar2 hebat Anak laki2 yang jalan
bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya ,dia menderita kanker
leukemia Wanita itu berhenti sejenak ,nangis tersedu-sedu, bulan lalu
Harish tidak masuk sekolah,karena pengobatan chemo therapy kepalanya
menjadi botak jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut diejek/dihina
oleh teman2 sekelasnya nah Minggu lalu Sindu datang kerumah dan berjanji
kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi hanya saya
betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah
untuk anakku Harish Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan
mempunyai anak perempuan yang berhati mulia

Aku berdiri terpaku dan aku menangis malaikat kecilku tolong ajarkanku
tentang kasih

Iklan


No Responses Yet to “JanJi”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: