Bayang-bayang ORde Baru

11Sep05

Mahasiswa sebagai bagian dari sejarah perubah zaman (agent of change) telah menjadi sebuah dilema, ketika harus memerankan fungsinya sebagai social control padahal mereka belum bisa mengontrol diri masing-masing, ketika mereka diharapkan kekuatan dari mereka untuk membangun negara (iron stock) dan juga penggerak kekuatan moral bangsa (moral force) tetapi moral mahasiswa juga masih ditelantarkan. Keadaan ini terlihat akhir-akhir ini lagi marak anarki dari gerakan yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa.

Seperti yang terjadi di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar pertikaian antara FISIP dan Fakultas Teknik yang mencoreng eksistensi mahasiswa, dan tak lepas pikiran kita juga dari kampus ini juga 2 tahun lalu juga terjadi di kampus yang sama pertikaian antara Fakultas MIPA dan Fakultas Teknik yang disebabkan oleh Mahasiswa baru di satu Fakultas tersebut.

Memang di sisi lain kita mengakui pertikaian antara kumpulan mahasiswa satu dengan kumpulan mahasiswa lain merupakan suatu kekuatan bagi mereka untuk bersatu ataupun meningkatkan kebanggaan atau kumpulan itu baik itu karena satu fakultas atau satu jurusan, karena dengan trigger dari luar atau ancaman dari eksternal bisa memicu persatuan di antara mereka. Tetapi perlu diketahui cara itu tidak selamanya benar untuk dijalankan.

Kejadian-kejadian tersebut sebetulnya bermuara dari sistem organisasi kampus yang tidak relevan dan tidak adanya konsistensi dalam mengatur keberadaan organisasi di lingkungan kampus. Awal dari sebuah perubahan diawali tidak lepas dari peran orde baru yang mengeluarkan keputusan Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) tahun 1980 dimana organisasi kampus hanya bergerak di bidang keprofesian masing-masing sehingga yang aktif dari himpunan-himpunan mahasiswa jurusan sedangkan organisasi tingkat fakultas dan universitas dimatikan geraknya untuk mencegah mahasiswa mengganggu jalannya pemerintahan sebagai alasan kuat mereka.

Walaupun akhir keputusan itu dicabut pada tahun 1998 di mana terjadi sebuah perubahan yang dilakukan oleh mahasiswa yang sering kita sebut sebagia awal dari reformasi. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bisa terbentuk lagi yang tetap menyuarakan suara mahasiswa untuk tetap kritis dan menjadi oposisi pemerintah.

Kemudian di beberapa universitas terbentuknya Badan Eksekutif baik itu di masing-masing Fakultas ataupun di Universitasnya langsung, tetapi itu sesuai dengan karakteristik masing-masing Universitas seperti di Unhas tidak ada BEM yang menwadahi satu Universitas hanya berupa BEM di tingkat Fakultas, atau cuman beberapa fakultas saja yang mau bergabung untuk membentuk BEM se-universitas. Itulah salah satu penyebab terjadinya pertikaian antar Fakultas karena terdorong oleh kebanggaan masing-masing Fakultas yang menganggap mereka sendiri baik sedangkan Fakultas lain dianggap rendah.

Inilah salah satu yang menyebabkan pertikaian di antara Fakultas/jurusan itu, seandainya ada satu wadah di dalam universitas itu misalnya BEM se-universitas yang fungsionarisnya dari semua jurusan/fakultas setidaknya mewakili aspirasi masing-masing jurusan/fakultas jadi tidak sampai terjadi pertikaian antara Fakultas atau Jurusan yang tidak diinginkan. Ketika dalam satu komunitas mahasiswa mampu bekerja sama dalam melaksanakan suatu kegiatan yang elemennya dari berbagai jurusan, alangkah indahnya sebuah kerja sama, sehingga BEM itu nantinya menjadi tolok punggung keberhasilan dalam menyamakan ataupun menyatukan pendapat dari mahasiswa-mahasiswa semua jurusan.

Mungkin saja dari beberapa universitas masih trauma atau masih mempertahankan kebanggaan fakultas atau jurusan masing-masing sehingga dengan keluarnya keputusan tentang NKK/BKK dicabut mereka masih menggunakan cara lama atau semi lama sehingga masih mempertahankan arogansi komunitas mahasiswa masing-masing tersebut.

Peran dari pihak birokrat juga harus mewadahi untuk membuat persatuan organisasi di antara mahasiswa-mahasiswanya, peran serta ini akan menumbuhkan jiwa kebersamaan dalam satu lingkup institusinya. Walaupun cara ini tidak sepenuhnya bisa menghindari aksi anarki dari mahasiswa tetapi setidaknya sudah menghindari konflik internal institusi tersebut.

Peningkatan kesadaran dari masing-masing individu yang benar-benar diperlukan dan peningkatan kompetensi mereka dalam bidang masing-masing, sehingga mahasiswa menginterpretasikan peran dan fungsinya yang sesungguhnya dan dapat mengaplikasinya dan tidak sekedar kata dan aksi anarkis

Iklan


One Response to “Bayang-bayang ORde Baru”

  1. Di sini ada cerita
    Tentang cinta
    Tentang air mata
    Tentang tetesan darah

    Disini ada cerita
    Tentang kesetiaan
    Juga pengkhianatan

    Disini ada cerita
    Tentang mimpi yang indah
    Tentang negeri penuh bunga
    Cinta dan gelak tawa

    Disini ada cerita
    Tentang sebuah negeri tanpa senjata
    Tanpa tentara
    Tanpa penjara
    Tanpa darah dan air mata

    Disini ada cerita tentang kami yang tersisa
    Yang bertahan walau terluka
    Yang tak lari walau sendiri
    Yang terus melawan ditengah ketakutan!

    Kami ada disini
    http://www.pena-98.com
    http://www.adiannapitupulu.blogspot.com

    (Give your comment to change our future)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: