Khutbah Idul Adha 1431 H

18Nov10

http://images.detik.com/content/2010/11/17/157/SBY-Salat01.jpg

Shalat Id untuk Idul Adha 10 Dzulhijjah 1431 Hijriah kali ini berlangsung berbeda di Indonesia, seperti biasa masing-masing punya cara tersendiri yang diyakininya dalam menentukan 1 Dzulhijjah sebagai dasar penentukan kapan umat Muslim yang mengikuti prosesi Ibadah Haji akan melaksanakan wukuf di arafah tanggal 9 Dzulhijjah dan tentunya tanggal 10 Dzulhijjah bagi yang tidak mengikuti prosesi Ibadah Haji melaksanakan Shalat Id. Selama beberapa kali terjadi perbedaan penanggalan dalam pelaksanaan shalat Id, saya cenderung mengikuti pemerintah, dengan alasan sebagai ulil amri dan salah satu tulisan ilmiah yang bisa dijadikan dasar dalam penentuan tanggal artikel berjudul Memahami Perbedaan Idul Adha 1431 H.

Kali ini saya mengikut Shalat Id di sebuah kompleks perumahan di wilayah suburban dari salah satu kota besar di Indonesia.

Isi Khutbah Idul Adha kali ini dari khatib yang saya lupa persis nama beliau terkesan seperti khutbah-khutbah shalat hari raya lainnya, apalagi Hari Raya Idul Adha yang senantiasa mengingatkan kita kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS tentang kepatuhan kepada Allah SWT. Namun tetap ada beberapa point yang saya catat dari khutbah Shalat Id kali ini. Saya catat di sini selain  bermaksud mengambil hikmah khutbah tersebut, juga sedikit mempertanyakan legalitas dari pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh khatib.

Sang khatib mengajak kita, kalau sebagai bapak-bapak untuk menjadi Ibrahim-Ibrahim masa kini, ibu-ibunya menjadi Siti Hajar-Siti Hajar masa kini, dan pun anak mudanya menjadi Ismail-Ismail masa kini dengan mencontohi keteladanan dari orang-orang yang dimuliakan tersebut.

Dan point-point lain yang dikemukakan sang khatib adalah mengajak untuk kembali menggalakkan pasar tradisional ketimbang ke G**** dengan menyebutkan nama sebuah swalayan ternama dan sempat menyebutkan sebuah swalayan besar lainnya yang berasal dari Prancis yang tak beliau kenali nama persisnya. Katanya bagian dari kapitalisme, padahal sebagian besar di kompleks itu rumahnya gede-gede lho.

Satu lagi, beliau mengajak kita menjadi hewan seperti domba kambing, nah bagian ini saya agak kurang bagaimana begitu, kita diajak berperi kehewanan kali ya? Hmm..

Sisanya hal-hal lumrah yang sering diingatkan dalam setiap khutbah shalat Id menyambut Idul Qurban. Oh iya, awal khutbah sang khatib sempat salah menyebutkan jamaah shalat Id dengan jamaah Haji, alhamdulillah semoga itu bagian dari doanya bagi jamaah yang datang shalat Id. Amin.

Khutbah Idul Adha di Istiqlal oleh Prof. Halide

Masih ingat beberapa point penting yang disampaikan Prof. Dr. H. Halide, tokoh Sulsel yang juga Guru Besar Universitas Hasanuddin, yang seringnya ceramah tanpa teks itu sebagai Khatib Shalat Id di Masjid Istiqlal Jakarta di hadapan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan direlay di sebagian besar stasiun TV lokal Indonesia?

Point pentingnya yang disampaikan Prof Halide juga sebagai Rektor Universitas Fajar (Unifa) Makassar yang selalu berapi-api dalam menyampaikan khutbah dengan aksen Makassar yang kental terkait juga dengan bidang keilmuan di mana beliau adalah guru besarnya yaitu ekonomi adalah menyangkut tentang utang.  Katanya seorang yang mati syahid akan terhambat masuk surga karena utang-utangnya, makanya segeralah dilunasi selama masih di dunia, termasuk utang negara.

Halide mengingatkan para pengambil keputusan di negeri ini tidak mudah menebar janji. Jika tidak ditepati, katanya, ini akan merusak karakter dan solidaritas bangsa. Hal ini sebenarnya menyinggung pemerintahan Indonesia apatah lagi di depan seorang Presiden Republik Indonesia untuk introspeksi dalam menjalankan pemerintahan.

Walaupun demikian masih kurang greget seperti khutbah jumat dari beliau yang saya pernah dengarkan untuk mengkritisi kebijakan yang salah dan yang tidak sesuai prinsip Islam terutama dalam bermuamalah. Setelah saya membaca wawancara beliau di sebuah media lokal Makassar, memang ternyata diingatkan oleh panitia untuk tidak terlalu keras mengkritik pemerintah di khutbahnya seperti yang biasa dilakukan.

Bagaimana khutbah Idul Adha di tempat anda?

*Sumber Foto : detikfoto

About these ads


14 Responses to “Khutbah Idul Adha 1431 H”

  1. bagus artikelnya

  2. klu di kompleks BKN Makassar tdk ada yg menarik khutbahx, hehehe :D

  3. Kalau keras saja masih tidak digubris, apalagi kalau “tidak terlalu” keras…

  4. 4 bloggeramin

    Kutbah kenapa gambarnya kok sholat berjama’ah ya…Salam kenal aja.

  5. @bloggeramin : oh iya ya, hahaha…. pengennya fotonya Prof. Halide tapi ngak dapat :((

  6. di tempatku khutbahnya keren, seperti biasa, aman dan yang menarik jumlah sapi dan kambingnya.

  7. 7 halmar halide

    Ingin koreksi aja. Beliau tidak lagi menjadi Rektor sejak 1 Oktober 2010.
    thx,
    halmar halide

    • 8 zola

      Tolong sampaikan salam Bapak saya (Drs. H. Ali Akbar, eks-KBTU KBRI Riyadh) pada Pak Halide. Kami bangga pernah kenal beliau beserta Ibu. Saya juga ingat sempat “dimarahi” beliau pada saat kabur shalat taraweh (maklum, badungnya anak SD).

  8. @halmar halide : terima kasih kunjungan dan koreksinya :)

  9. Haaah? beliau mengajak agar menjadi hewan seperti domba kambing??
    Saya rasa ada poin2 yang dilupakan ama Bang Arul. :lol:

    Saya sholat ied di Bandung, di Masjid Istiqomah. Ada bukunya, dan khutbahnya persis seperti yang ada di buku. Intinya sama, menceritakan kembali pengorbanan Nabi Ibrahim, Siti Hajjar, dan Nabi Ismail. Harus meneladinya, dengan mengambil nilai2 yang bisa diterapkan di masa sekarang. :)

  10. 11 sibair

    Seperti biasa saya terkantuk kantuk saat mendengarkan kotbah XD

  11. khutbah ini sangat mekesankan mohon ijin mengkopi untuk belajar berkhutbah suatu saat nanti terimakasih

  12. memang ternyata diingatkan oleh panitia untuk tidak terlalu keras mengkritik pemerintah di khutbahnya seperti yang biasa dilakukan.

    ya iyalah, hehehe… malah biasanya, kalo khutbah dihadapan pejabat, pake teks loh para khatib itu. disensor dulu kali yak?

  13. Ass..
    salam knl semuanya…
    artikelnya menarik..
    jadi belajar agam lagi…


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.839 pengikut lainnya.