Pilkada Sulsel, Mengkambinghitamkan rakyat!

27Des07

Mode On : Prihatin

Kalau kawan-kawan sering melihat berita di TV atau di koran sudah tahu tentunya ada apa dengan Pilkada Sulsel 2007 kali ini untuk menentukan Gubernur Sulawesi Selatan 2008-2013. Seperti yang diketahui ada 3 pasangan calon Pilkada Sulsel 2007 kali ini yaitu :

  1. Amin Syam – Mansyur Ramly (Asmara)
  2. Aziz Qahhar Mudzakkar – Mubly Handaling
  3. Syahrul Yasin Limpo – Agus Arifin Nu’mang (Sayang)

Dari susunan tersebut terlihat seperti mempertandingkan tiga kerajaan besar di Sulsel ini, yaitu Kerajaan Bone yang diwakili oleh no 1 secara Amin Syam berasal dari Bone dan di beberapa tempat basis orang Bugis beliau menang. Kerajaan Luwu yang diwakili no 2, secara Aziz berasal dari Palopo, dan terbukti di basis itu dia menang. Terakhir Kerajaan Gowa, diwakili oleh Syahrul, dan memang beliau memenangkan pilkada di tempatnya.
Sebuah hal yang mungkin terjadi di beberapa tempat selisih suara yang sangat kecil bisa menimbulkan riak seperti terjadi juga di Maluku Selatan yang akhirnya keputusan KPUD Maluku Selatan berbeda dengan KPU Pusat. Demikian terjadi di Sulsel, selisih suara tipis. Sebelum KPUD mengumumkan saja, masing2 kandidat masih menganggap dirinya pemenang.
Dan pada akhirnya Pasangan Sayang dinyatakan sebagai pemenang oleh Pihak KPUD Sulsel. Namun pasangan Asmara mengajukan gugatan kepada KPUD kepada MA, dan akhirnya MA memenangkan gugatan itu dengan mengulang Pilkada di 4 Kabupaten yaitu Gowa, Bantaeng, Toraja, dan Bone (Bisa dicatat di MURI sebagai hasil keputusan MA pertama untuk pilkada ulang). Tentu saja pihak Sayang tidak bisa menerima begitu saja, karena sudah ditetapkan sebagai pemenang Pilkada Sulsel oleh KPUD Sulsel itu.
Rakyat bergolak
Akhirnya bergolaklah Sulsel dalam aksi demo, di beberapa tempat yang saya sempat ketahui di Kabupaten Gowa, Makassar, Toraja, dan juga ada Kota Palopo menentang keputusan MA. Alih-alih Wapres Jusuf Kalla (JK) memperkeruh suasana dengan komentarnya untuk mendukung keputusan MA. Walaupun akhirnya JK mencoba menengahi dengan mengundang Amin dan Syahrul membicarakan masalah ini secara mereka berdua adalah orang dekat dengan JK.
Dari Pihak MA sendiri disarankan KPUD untuk melakukan PK terhadap kasus ini. KPUD sendiri sudah menyerahkan hasil pilkada kepada DPRD dan menyatakan sekarang di tangan DPRD sendiri yang memutuskan akan mengesahkan atau tidak hasil tersebut. MK sendiri menyatakan tidak bisa ikut campur permasalahan ini karena tidak memiliki wewenang.
Terakhir hari Rabu ini ada sekitar 500 PNS melakukan demo menolak keputusan MA tersebut.
Rakyat Dikambinghitamkan
Suatu dilema tersendiri karena masing-masing calon memiliki massa yang cukup banyak dan siap untuk digerakkan. Jikalau Akhirnya Syahrul menjadi Gubernur, nyah lah pendukung Amin Syam yang berontak. Demikian sebaliknya. Ditambah lagi dari kedua pihak ini masing-masing ngotot untuk menang. Mengendalikan massa kedua pihak harus dilakukan oleh mereka juga. dengan mudahnya mereka menggerakkan pendukung-pendukungnya untuk melakukan demo menentang dan mendukung.
Sekali lagi rakyat di posisi tidak enak, diatur oleh pemegang kekuasaan, dimanfaatkan menjadi kambing hitam oleh pesta persaingan oleh petinggi-petinggi itu.
Ah seandainya kandidat-kandidat itu bersikap legowo dan saling percaya, kan sama-sama ingin membangun Sulawesi Parasanganta lebih baik lagi, kenapa harus berselisih dan mengorbankan rakyat untuk melakukan demo.
Sikap ingin menang menjadi lakon yang sangat ingin dimainkan dalam pentas kali ini dengan membawa semboyan Khas orang Sulsel Siri na Pacce sebagai harga diri masyarakat Sulsel.
Kasihan rakyat, sudah seharusnya mencari kerja malah melakukan demo, PNS yang seharusnya berada di kantor dan dituntut netralitasnya akhirnya ternyata melakukan aksi juga.
Bijak dan dewasa
Terus terang ketika ada aksi menyangkut pilkada saya tidak bisa menjamin aksi itu murni, kecuali aksi pilkada damai atau permintaan komitmen kepada calon-calon. Kalau sudah merujuk kepada salah satu calon tentunya sudah ditunggangi (halah mana ada sekarang aksi yang tidak ditunggangi, kata orang-orang yang tidak pernah aksi).
Sikap pemimpin dan rakyatnya juga harusnya dituntut untuk berfikir dewasa dan bijak. Mengikuti aturan-aturan pemilihan bukan malah melakukan tindakan-tindakan tidak jujur, sehingga kejadian ini tentunya tidak terjadi (Halah saya juga blum yakin diri ini bisa bijak dan dewasa).

PS :

  • berita-berita dari berbagai sumber TV, koran, media Online
  • Lagi mikir Pilkada Jatim Tahun depan mengusung beberapa calon terutama Soekarwo sebagai Sekdaprov saat ini dan Soenarjo, Wakil Gubernur saat ini apakah akan terulang kejadian di Sulsel itu. moga jadi pelajaran aja.
  • ditulis sambil membaca berita Benazir Bhutto tewas
  • logo dari sini

UPDATE! tulisan terkait :

About these ads


45 Responses to “Pilkada Sulsel, Mengkambinghitamkan rakyat!”

  1. asal ntar program yang dilontarkan pas kampanye di realisasikan aja…. :)
    btw sy ndak milih loh, lagi di luar sulsel :D

  2. Jdi rakyatnya sendiri harus bagaimana mas?

  3. @ praditya : harus bijak dan dewasa juga….
    kalo misalnya mo demo, jangan karena dibayar…
    menunggu keputusan dari pihak berwenang, jangan asal main hakim sendiri.
    intinya bijak dan dewasa :D

  4. Nyang sayah denger, semua itu emang “Grand Design” untuk memecah Indon.

    Kelak, semua Provinsi di Indon berstatus negara bagian….

  5. Saya sih masih mending alam demokrasi kita masih berpegang pada hukum tidak sperti negara Islam Pakistan dimana bukan hukum yan bicara tapi BOM …

  6. iye daeng
    memang kita masih sulit untuk belajar menjadi pecundang terhormat…walaupun banyak yang sudah memberi contoh.
    siri dan pesse mungkin dijadikan tameng yang salah tempat kayaknya..

    turut sedih, berapa banyak duit dan enegri lagi yang bakal terkuras hanya untuk hal-hal yang sesungguhnya tak penuh menyentuh hajat hidup rakyat kebanyakan – yang sayangnya selalu menjadi obyek dan korban sekaligus…

  7. @ mbelgedez : wah dari mana tuh berita? apa benar? :D
    @ kurtubi : tapi alam demokrasi yang disusupi dengan sikap yang blum dewasa. emang sih masih mending dibanding dengan pakistan itu.
    @ daeng rusle’ : ah masih banyak dibutuhkan buat kegiatan2 yang lebih bermanfaat ketimbang memikirkan pilkada yang saling menjatuhkan itu.

  8. iye, bolehji.
    Link-mi saja daeng…
    dgn senang hati…walaupun tulisanku koddala begitu..he2

  9. sa ikut2an me link tulisanta juga daeng ya :)

  10. @ daengrusle : leh tulisanku lebih konddala2 lagi… :D, terima kasih atas linknya juga :)

  11. 11 Anang

    bingung… konddala2 itu apa hehehehe….

  12. @ Anang : kondala itu, yah mangsudnya apa yah? aduh… bingung juga ngartiin dalam bahasa Indonesia…. apa daeng rusle artinya itu?

  13. duh! indonesia…. :roll:

  14. @ cK : duh gimana tuh…. :D

  15. Anang said:
    bingung… konddala2 itu apa hehehehe….

    Mbel said;
    Koddala artinya KOpi Darat LAma-lama…..
    :lol:

  16. @ Mbel : ngakak guling2….. hahaha… :lol:
    bisa aja abang ini… :D

    kondala itu bisa diartikan apa yah?mungkin tidak bagus yang diinginkan, betul ngak daeng rusle? :D

  17. Daripada Rakyat yang baku hantam, bagusnya para calon gubernur itu main sut-sutan aja, atau diundi pakai koin susah amat………………………………., gitu aja kok repot (Gus Dur yang bilang loh).

  18. kandala sama koddala beda tipis auja he…he.,..he 120x

  19. otonomi daerah akan berjalan bagus jika dipimpin seorang komandan yang paham *halah aspirasi rakyatnya. kalo nggak, bahkan kalo sampe gubernur terpilih menjadi neo-borjuis, otonomi daerah hanya nikin rakyat sengsara.

  20. @ da3nklimpo : hehe, gitu aja koq repot, tapi yah gitu2 mempengaruhi rakyat juga… :)
    @ da3nklimpo lagi : iyah…. itu ada ulasannya panyingkul.com kan? :D
    @ Sawali Tuhusetya : iyah pak, begitulah negeri ini, kayakya menjadi orang penting itu untuk mencari kekayaan dan popularitas aja..

  21. Seandainya dari pihak-pihak yang ‘mengendalikan’ rakyat itu terpilih menjadi ‘penguasa’, apakah rakyat kembali ‘dikendalikan’? :P
    Belum terpilih saja sudah bisa ‘mengendalikan’, bagaimana jika sudah terpilih? :roll:

  22. @ rozenesia : namanya juga pengaruh, banyak cara dilakukan untuk memberikan pengaruh itu, yah kita tau sendiri seperti apa itu caranya.
    Terpilih? blum bisa menjamin, tapi biasanya seperti itu, karena menggunakan pengaruhnya itu…. :D

  23. Wah.. namanya juga politik mas. Tapi apa ga menghabiskan biaya ya pilkada ulang gitu ? Mending buat yang lain padahal.

  24. @ Gyl : iyah habis biaya, itu dibahas disalah satu link terkait oleh daeng rusle.
    nah itu pemikiran ingin berkuasa jadi hal yng lebig tinggi, menghabiskan uang berapapun asal memegang tampuk pemerintahan kali yah… :D

  25. siapapun yang menang, tetep cintai seluruh nya..gak perlu atas nama sapa..

  26. rul, emang saat ini masih ada ya kerajaan2 itu di sana? trus kira2 apa berdampak secara prikologi terhadap para pemilik suara? orang bone pilih wakil dari bone, dsb gtu?

    pilkada di mana-mana tidak luput dari permainan uang, diakui atau tidak. pemilihan kepala desa aja pake duit, apalagi pilihan bupati, apalagi pilihan gubernur, apalagi pilihan presiden??? secara resmi mungkin tidak, tapi tetap ada yang bermain uang

    sistem kita memang sudah korup seperti itu.. mau ngrubah? kan katanya kalo mau ngrubah sistem harus masuk dulu ke sistem itu. nah pas udah masuk, jadi ikut kebawa arus deh..

    akhir kata, siapapun yang terpilih, semoga bisa membawa perubahan positif kepada seluruh rakyat.. aamiin..

  27. @ andi bagus : iyah2… moga2 :D
    @ deteksi : kerajaan secar eksplisit sudah tidak berpengaruh, tetapi tetap ada semacam kehormatan adat gitu.
    Secara normal kita berfikir rakyat sudah berpengatahuan jadi bisa memilih yang tepat,tapi buktinya dari hasil pilkada di daerah basis kerajaan Gowa, Syahrul menang, di basis kerajaan Bone/bugis amin menang, di basis kerajaan Luwu, Aziz menang.

    Iyah itu, saya nda tau model pake duitnya seperti apa sehingga terhindar dari usut KPK atau lembaga peradilan lain.

    merubah sistem? wekz revolusi sekalian, katanya sih harus lewat itu kalo emang merubah sistem secara menyeluruh. Tapi setiap orang memiliki perbedaan padangan. ada yang mengatakan cukup dengan bertahap sistem akan berubah.

    Amin semoga deh yg terpilih bisa mengangkat sulsel dan Indonesia pada umumnya.

  28. 28 nieznaniez

    Vote Mas Arul buat jadi gubernur !!

  29. @ NIez : ah bisa aja kamu, thx banget…. :D kamu gimana? mo jadi gubernur mana? hehehe :D

  30. Rakyat memang sudah sering menjadi komuditas politik. Sayangnya mereka masih belum sadar juga kalau sekedar dijadikan komuditas.

  31. @ imcw : jadi komoditas politik tingkat tinggi, siap digerakkan kapan saja.

  32. trekbek : meluncur :)

  33. 33 mahma mahendra

    wah iya saya denger2 cerita dari temen2 aq yang disana pun demikian (halah… .) sekarang malah lagi rame. sekarang pertanyaanya adalah:
    1. benarkah SAYANG melakukan penggelembungan suara?
    2. klo benar haruskan dilakukan pilkada ulang di 4 daerah tersebut? apa g ada cara lain?

    klo ke-2 pertanyaan tersebut dijawab dengan jujur tanpa ada muatan politis maupun golongan, semua masalah akan terpecahkan(sok tau ya… .)

    oh iya saya punya teman yang bapaknya tuh TSK-nya si ASMARA. katanya beberapa hari yang lalu(saya lupa dia cerita kapan) setelah para pendukung SAYANG bersemo di DPRD(klo g salah lagi… .) mereka pindah berdemo di rumah teman saya ini dan menggedor2 pintu gitu. wah jadi ngeri… . sampai2 perempuan2 yang ada di rumah jadi trauma. kan kasian meraka gak tau apa2… .

    yah semoga aja semua cepat berakhir. dan kalau memang salah satu diantara 2 kandidat yang berkonflik tersebut telah terpilih menjadi pemenang. semoga tidak lupa dengan janji2nya dan tidak lupa pada para pemilihnya dan rakyatnya

  34. @ mahma :
    sebelum keputusan MA malah juga rame, demo mendukung ASMARA, trus setelah keputusan MA, yang sebaliknya.
    Nah itu yang kubilang di atas 2 pertanyaan itu jika dijawab dengan bijak dan dewasa tentunya akan memecahkan masalah.
    kalo temannya itu saya pasti tau, kenal soalnya, salam yah.
    Yah kejadian2 di Sulsel itu sudah separah itu, mau gimana sudah saling serang, apalagi jika mereka membawa kesukuan, weah bisa rame banget itu.
    Yah sama2 berharap saja, semoga semuanya pada dewasa dan bijak (halah saya aja blum tentu bisa koq… :D)

  35. demokrasi itu memang riskan menjadi demo-crazy… :(

  36. @ suandana : dan mungkin saja itu sudah terjadi sekarang :)

  37. Bukankah itu yang selalu dilakukan para politisi di manapun dia berada?? Memecah belah ummat?? Memang ada politisi yang tidak memecah belah ummat? :mrgreen: Hal ini bukan saja berlaku di Sulawesi Selatan tetapi juga di seluruh dunia.
    Politisi ya politisi, kalau bukan memecah belah ummat ya bukan politisi namanya. :mrgreen:

  38. itulah yang namanya politik, politik bikin sakit hati dan kemungkinan besar terkena stroke, mampus tuh politikus,

    jaya cuman sebenar, merana slamanya

  39. 39 nia

    masalahnya di media ga pernah dijelasin sejelas-jelasnya alasan kenapa gugatan subsider pihak ASMARA dikabulkan (gugatan primernya itu asmara lgsg dimenangkan sbg gub&wagub sulsel).
    padahal MA itu membuat keputusan berdasarkan bukti2 kecurangan dan saksi2 kuat yg diajukan oleh pihak ASMARA.

    di lain pihak, dalam media disebutkan kalau demonstrasi yang dilakukan oleh pendukung SAYANG tidak anarkis padahal saya & keluarga mengalami sendiri bgmn anarkisnya mereka.
    dari sini bisa kita lihat kalau media juga ternyata berpihak pada salah satu calon.

    kalau media bisa bersikap netral dengan memberikan informasi sebenar-benarnya mungkin pertanyaan dari mahma diatas bisa terjawab.

  40. @ dodot : mungkin seperti itu yang selalu terjadi di negara kita.
    @ nia : saya hanya melihat pilkada ini bukan dari 2 kubu yang bersaing tersebut, tapi bagaimana seorang rakyat biasa saja yang juga tidak ikut milih krn lagi di luar sulsel memandang pilkada ini.
    terkait kurang proposionalnya berita2 saya juga melihat hal itu, saya rasa, kedua belah pihak punya kekuatan mempengaruhi massa.
    bagi kami sebagai rakyat biasa, janganlah rakyat diadu domba, tapi mereka bisa bijak dan dewasa mengendalikan rakyat.
    Saya turut prihatin dengan saudara atas kejadian yang menimpa anda, nah itu yang saya maksud ketidakberdayaan pembesar untuk mengendalikan dengan bijak.
    Maaf saya tidak bermaksud mendukung siapapun, Saya hanya inginkan jika semua bijak dan dewasa mengendalikan massa tanpa mengkambinghitamkan rakyat pasti semuanya akan tenang.

  41. 41 rahman

    aku yakin pak amin main duit dimahkamah agung n ada indikasi kerjasama dgn wapres jk soalnya wapres jk ada hubungan keluarga dgn manyur ramli pasangan pak amin n juga pak amin tidak ngotot lagi jadi gubernur karena dorongan istri tercinta dlm arti istri pak amin yg ingin maju

  42. 42 rahman

    n aku pnya usul bagaimana klo pendukung asmara kita hitung brp jumlahnya, pendukung sayang juga & taklupa asis kahar siapa yg terbanyak itulah pemenangnya

  43. Sayang yang melakukan penggelembungan suara??? Di mana-mana setahu saya yang melakukan penggelembungan adalah orang yang sedang memegang kekuasaan (incumbent).
    Bagaimana jika dalam Pilkada ulang nanti salah satu pasangan sudah tidak mau maju lagi pada Pilkada ulang tsb. MA aja yg jadi pesertanya… Iya…, MA Agung kan semboyannya Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar…


  1. 1 daengrusle.com » Blog Archive » Pilkada Sulsel, Benazir Bhutto dan Aqidah Kekuasaan
  2. 2 Trackback Sejagad Untuk Akhir Tahun | Blog Shares Everything

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.834 pengikut lainnya.